
Mendengar namanya dipanggil, Abbi segera membalikkan badannya,
"Rianaa!!" seruku terkejut melihat teman kuliahku berdiri tidak jauh dari mobil Farel.
"Waaa,, kamu hamil Bi,, pantass gak pernah kelihatan dikampus,, aku kangen tauuu!" cerocosnya sambil menghampiriku dan langsung main cipika-cipiki.
"Kamu sibuk,, itu suamimu?" cerocos Riana.
"Gak kok, aku gak sibuk,. Dia bukan suamiku dia Kakak iparku kebetulan saja ketemu disini, kamu mau kemana?"
"Aku lagi cuci mata,, emm kalau kamu gak sibuk kamu temani aku ya,, aku sendirian nih!" pinta Riana.
"Boleh Aku mau!" ucapku sambil melepaskan cekalan
tangan Farel yang belum dilepaskannya sejak tadi.
"Maaf Kak,, aku mau jalan dulu sama temanku, Terimakasih buat tawaran tumpangannya" ucapku sambil langsung menggandeng tangan Riana. Mengambil kesempatan menjauh dari Farel.
"Bii!" panggil Farel dengan nada sedikit menekan.
"Kamu lupa kita masih ada urusan?" tanyanya sambil menatap tajam ke arahku.
"Tapi kan bisa ditunda sampai besok??" ucapku berusaha terus menghindarinya.
"Kamu siap dengan konsekuensinya??" bisiknya sambil membungkukkan badannya kearahku.
Tubuhku seketika menegang,, sumpah demi apapun aku hanya mau menghindari orang gila ini.
"Rii,, maaf aku kayaknya gak bisa temani kamu!" jawabku dengan menyesal.
"Yaahh,, Mass, Mas kaan baik hati dan tidak sombong,,. please jangan gitu dong kita sudah lama gak ketemu nii,, biarin Abbi nemenin aku ya Mas pleasee!" pinta Riana dengan wajah memelas.
Sementara aku menunduk menunggu jawaban Farel.
"Ya sudah,, Bi kamu pergi saja dengan temanmu,, Kakak jalan dulu" putusnya dengan nada berat.
"Puji Tuhan,,!" sorakku senang dan lega dalam hati.
"Waaa,, terima kasih Mass,, Mass memang baikk,, hati-hati dijalan ya Mas,, jangan sampai kesandung" cerocos Riana dengan senyum lebar.
Mengabaikan Farel yang berjalan masuk kedalam mobilnya, Riana segera menggapit lenganku dan mengajakku masuk kedalam Cafe EsCimo.
"Akhirnya Tuhan terima kasih aku bisa lolos dari Farel" ucapku dalam hati.
"Kabarmu gimana
Bii?" tanya Riana.
"Yaa begini lah Ri,, seperti yang kamu lihat" jawabku dengan santai.
"Kamu terlihat tertekan,, tidak seceria dulu Bi"
"Heh,, jadi Ibu rumah tangga ternyata ruwet,, banyak masalah, enakan jadi anak kuliahan yang hanya mikir pelajaran gak perlu mikir besok apa yang mau dimakan,,kkk" jawabku sambil terkekeh.
__ADS_1
"Kamu juga tinggal diperumahan ini Ri?"
"Nggak,, kebetulan aja aku lagi bosen,, jadi jalan kesini buat ngurangin penat,, stress itu kan paling enak diobati dengan makan banyak,, apalagi diperumahan sini food court nya terkenal banyak varian makanannya,, murah-murah lagi!!"
Kami berdua asik ngobrol ngalor- ngidul meluapkan rasa kangen, Sampai tidak sadar waktu sudah beranjak senja.
Meski enggan kami berdua akhirnya berpisah.
Turun dari taksi aku menenteng dua kresek barang belanjaan keperluan dapur, sambil melihat kearah carport yang kosong, menandakan Alex belum pulang.
Segera Aku bergegas mengambil kunci dari bawah keset, dan membuka pintu, langsung menata barang belanjaan dikulkas dan didapur, lalu segera mandi.
Tak berapa lama suara mobil Alex terdengar masuk dan berhenti dicarport rumah,, Karena pintu belum aku kunci aku tidak menyambut kedatangan suamiku seperti biasanya.
Aku ambil daster satin dengan model lengan bertali dan langsung memakainya.
Sambil menyisir rambutku, Aku dengar suara langkah kaki Alex masuk kedalam rumah dan sura pintu yang dikunci.
Waktu menunjukkan pukul 7 malam saatnya makan malam,, tapi akibat terlalu banyak jajan diluar bersama Riana membuat perutku terasa kenyang.
Aku keluar dari kamar demi untuk menyimpan makanan yang masih tersisa dimeja makan kedalam kulkas supaya bisa dihangatin lagi untuk sarapan besok pagi.
Selesai menaruh makanan kedalam kulkas, aku bersiap kembali kekamar,, tepat saat membalikan badan tanpa aku sadari tepat dibelakangku Alex berdiri sambil memandangku dengan tajam.
Jarak yang terlalu dekat membuatku bisa mencium aroma alkohol menguat dari hembusan nafasnya.
Tiba-tiba saja Alex mencengkram kuat kedua lenganku,
Alex menghiraukan suaraku, dia terus membawaku ke kamar,, dengan kesetanan dia menarik daster berlengan tali dengan kasar.
"Sraakk" bagian atas daster yang ku pakai robek.
"Mau apa kamu Kakk..!" seruku panik.
Aku berusaha kabur dengan menyeret tubuhku keujung tempat tidur.
Naas salah satu kakiku ditangkap dengan cepat dan diseret kembali ketepi tempat tidur.
"Kak aku mohon,, sadar Kak,, tolong Kak,," Aku mengiba.
Aku begitu panik, dan juga takut.
Seolah sedang kerasukan,, dia tak menggubris perkataanku,, mengabaikan air mata yang mulai menggenang dipelupuk mataku.
Dengan rakus dia menciumi seluruh tubuhku yang sudah polos tanpa sehelai benangpun menutup tubuhku.
Hentakan demi hentakan terus berayun, bukan kenikmatan yang kudapat tapi rasa sakit dan merasa dilecehkan oleh suamiku sendiri yang kurasakan.
perlakuannya membuat hati dan harga diri ini sudah hancur- sehancurnya.
Mataku menatap kosong kearah plafon rumah, ku abaikan tubuhku yang polos diatas tempat tidur, ku abaikan suhu kamar yang semakin dingin akibat AC yang menyala,, ku abaikan Alex yang terlentang dia sampingku dengan napasnya yang masih memburu.
Ku abaikan semua.
__ADS_1
Biarlah aku sakit, biarlah aku mati. Aku sudah terlalu lelah,, lelah dengan perlakuan macam binatang yang ku terima dari Alex, lelah dengan tekanan dari Farel dan juga keadaan kesehatan ibu, membayangkan betapa gelapnya masa depanku dan anakku,, semua beputar dikepalaku.
Lelaah..
Aku ingin menyerah.
Iya,, aku memilih menyerah.
Aku sudah tidak sanggup lagi, jangankan untuk berjalan menapaki hari esok,, untuk berdiri hari ini pun aku tidak sanggup lagi.
Aku terus menatap kosong tanpa berkedip keatas plafon rumah.
Aku merasakan selimut hangat menutupi tubuhku.
Alex suamiku menyelimutiku dan menatap kasihan kearahku.
Aku tetap diam dan menatap kosong tanpa kata, tak perduli dengan apa yang dilakukannya.
"Abii!!" panggilnya masih sambil menatapku.
Aku diam tidak menjawabnya.
Aku lelah,, lidahku juga kelu.
Diam dan menangis tanpa suara mengabaikan semua suara yang masuk ke telinga.
"Bii!" panggil Alex untuk kesekian kalinya dengan suara keras.
Aku lihat wajah Alex terlihat panik sekaligus gusar, melihat aku tidak merespon panggilannya, bahan tidak bergeming dari tempat aku terbaring.
"Jangan pura-pura kamu!!" bentaknya mulai kehilangan kesabaran.
*Plakkk,, plakkk* Alex menamparku dengan keras.
Tetap aku tidak bergeming.
Biarlah aku diam, selama ini aku sudah menjelaskan semuanya,, mencoba melawan semua perlakuannya, menyadarkan akan kesalahannya mulai dari cara halus sampai dengan cara yang kasar, semua sudah aku coba. Tapi semua sia-sia.
Kini saatnya aku diam, diam tak melawan, diam dan menerima semuanya.
Dan berharap aku benar-benar bisa diam dengan tenang untuk selamanya.
"Abigail Ariesta,, bangunn!!" teriaknya sambil mengguncang bahuku dengan pelan beberapa kali.
Aku merasakan Alex kemudian menopang tubuhku hingga duduk bersandar didadanya yang bidang.
*Puk.. puk* Alek menepuk pipiku,
"bangun Bii,, sadar!" panggilnya.
Tiba-tiba pandangan mataku gelap,, samar aku masih bisa mendengar suara Alex memanggil namaku.
Tapi aku memilih menyerah, dan menerima kegelapan yang pekat itu menguasaiku, hingga aku tidak bisa mendengar suara apapun lagi.
__ADS_1