I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Pulang


__ADS_3

Dari dalam kamarnya, Abbi melihat wajah sang kakak yang terlihat begitu serius menatap sesuatu,


hingga akhirnya Abbi berjalan mendekati Seno yang masih terpaku menatap foto didepannya


"Ada apa Kak?"


"Eh, enggak, gak ada" jawab Seno tergagap.


"Serius? Kak jangan bohong" Abbi menatap Seno dengan tatapan menyelidik.


"Ga ada apa-apa, memang apa yang aku sembunyikan?"


"Kamu sudah selesai berkemas?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


" Sudah Kak,, apa gak sebaiknya kita berangkat besok saja kak? ini sudah siang dan Kak juga belum istirahat " saranku.


"Gak bisa dek, mobil ini juga kakak sewa dan besok mobilnya sudah dipakai orang lain lagi"


"Oww"


Abbi kembali kekamar, mengambil tasnya dan menutup pintu kamar, lalu berjalan kedepan.


"Aku sudah siap Kak"


"Sini biar Kak bawain tasmu!" Seno meraih tas yang ku bawa.


"Terima kasih Kak" aku tersenyum hangat kearah Kakakku yang kembali perhatian, meski sekarang Kak Seno berubah lebih pendiam dan tidak jahil lagi seperti sebelum menikah dulu.


Aku kunci pintu rumah, dan menaruh kuncinya dibawah keset seperti biasa.


Sebelum melangkah kearah mobil ku buka ponselku,


"Tidak dibalas juga" gumamku melihat deretan pesan di ponselku.


"Bii!" panggil Kak Seno dari dalam mobil.


"Iya Kak!" cepat-cepat aku berjalan dan masuk kedalam mobil.


Kak Seno mulai melajukan mobilnya,


"Kita isi bensin dulu baru kita cari tempat buat makan siang ya?"


"Iya Kak"


Mobil keluar dari gerbang utama perumahan, lalu menuju SPBU yang tidak jauh dari gerbang utama, tepat saat mobil masuk kedalam area SPBU,


"Itu, mobil Kak Alex" ucapku dalam hati melihat mobil suamiku mengisi bahan bakar di baris ketiga pompa bahan bakar yang berderet lima baris.


Mobil Kak Seno berhenti dibaris ke dua, dan aku bisa melihat kesamping dimana mobil Kak Alex masih mengisi tangki mobilnya.


Baru saja Aku berniat turun dari mobil untuk pamit langsung,


"perempuan itu lagi" aku melihat Kak Alex membuka pintunya dan sekilas aku bisa melihat perempuan itu duduk didalam mobilnya.

__ADS_1


"Hhhh" Aku menarik napas ku dalam-dalam meredakan sesak di dadaku melihat pemandangan yang sungguh menyakitiku lagi.


"Dek, kamu lihat apaan sampai bengong begitu?" tegur Kak Seno yang ternyata sudah selesai mengisi bensin ya, dan lebih mengejutkan mobil Kak Alex juga sudah menghilang entah sejak kapan.


"Eh, tidak Kak tadi aku kira lihat teman lama, tapi aku salah lihat" bohongku.


"Oww," jawabnya sambil menyalakan mesin mobil.


"Kita mau makan dimana Dek?"


"Terserah Kakak saja" jawabku yang tidak berselera makan karena melihat suamiku yang sibuk pergi berduaan dengan perempuan yang disebutnya teman itu.


"Kok terserah Kakak? kamu kan lagi hamil biasanya ngidam apa gituu, biar Kaka bisa turutin" jawabnya sambil fokus nyetir.


"Usia kandunganku sudah mau masuk 9 bulan mana ada ngidam lagi Kak"


"Yeii siapa tahu!" jawabnya gak mu kalah.


"Iya juga sih, ya sudah lah kak makan dimana saja juga gak masalah kok buat aku"


"Emm, Kak, Ibu benar-benar gak apa-apa kak Kak?" tanyaku masih merasa heran dengan kedatangan Kak Seno yang tiba-tiba.


"Ibu baik Bi,, hanya kemari Ibu mendadak manja. Ibu merengek sama Ayah minta supaya Ayah jemput kamu katanya kangen dan pengen disuapin kamu Bi" jelas Kak Seno.


"Oww,, Kak Seno gak bohong kan?" aku masih merasa was-was dan perasaanku tidak enak mengingat kondisi Ibu.


"Enggak Bi" jawabnya singkat.


Untuk beberapa saat kami terdiam dan tenggelam dalam pikiran kami masing-masing.


"Hahhh" Kak Seno menarik napas dalam-dalam.


"Apanya yang bagaimana dek, Kakakmu sekarang ini sudah resmi jadi duda cerai" jawabnya.


"Gak apa-apa Kak, semua sudah terjadi, disesali sampai kapanpun juga tidak akan merubah keadaan" aku mencoba menghiburnya.


"Hmm"


"Tapi apa benar Kak Shinta selingkuh Kak?" Abi masih belum sepenuhnya percaya.


"Hmm, dia selingkuh. Kakak melihat sendiri dia dipeluk seseorang. Dia tega menggugat cerai tepat disaat Kakakmu ini digiring ke penjara padahal semua yang Kakak lakukan untuk dia dan keluarganya. Hhh Ini hasil kebodohan Kakak yang buta karena cinta dan tidak mendengarkan nasehat orang tua. Kakak layak mendapatkan semua ini" jawabnya tampak penuh penyesalan dan rasa bersalah.


"Sudahlah Kak semua sudah terjadi. Lupakan masa lalu dan jadikan pelajaran. Sudah waktunya Kak bangkit, move on Kak! move on" Aku mencoba menghibur juga menyemangatinya.


"Lagipula Kakakku ini masih muda, tampan dan aku yakin suatu saat nanti Kakak pasti punya karir yang bagus dengan masa depan yang cerah, saat itu aku yakin Kak Shinta akan menyesal sudah membuang Kakakku yang paling baik ini" tambahku sambil tersenyum.


"Hooh, Kakakmu ini memang tampan tiada tara,, waktunya move on,, dan bangkit. Adikku sayang bantu Kakakmu bangkit ya" jawabnya mulai tersenyum sambil fokus menyetir.


"Siapp komandan" jawabku.


"Kamu sendiri bagaimana?" tanyanya sambil melirik kearahku.


"Bagaimana apanya Kak?" tanyaku balik pura-pura bodoh.

__ADS_1


"Kamu bahagia sama Alex? keluarganya bagaimana apa mereka benar-benar menerimamu Dek?" lagi-lagi dia melirik kearahku.


"Baik, semuanya baik Kak" jawabku sambil mengalihkan pandanganku kearah jendela di sampingku.


"Deek!" panggilnya.


"Aku baik Ka, aku bahagia" jawabku sambil menekan semua sesak dan perasaanku.


"Kamu cerita saja Dek, selama ini kamu banyak membantu Kakak bodohmu ini,. sekarang gantian Kakak membantumu, meski tidak banyak tapi Kakak janji akan berusaha yang terbaik" ucapnya.


"Aku benar-benar baik-baik saja Kak, aku bahagia" jawabku meyakinkannya.


"Dek,, Kakak tahu kamu menyembunyikan sesuatu dari Kakak"


Mendengar ucapannya hati ini benar-benar tidak bisa menahan diri. Perasaan ku yang kuat mendadak melow melihat perhatian Kakakku yang tampan.


"Kak, biar aku bersandar di bahu Kakak ya, Abbi sedikit capek" ijinku lalu tanpa menunggu jawabannya aku menyandarkan kepalaku di bahu kekar Kakakku sambil memejamkan mata.


Tanpa aku sadari air mata ini meleleh dengan sendirinya.


"Dekk, maaf Kakak selama ini merepotkan kamu, tapi Kakak tidak tahu kamu kesusahan juga menderita dan menanggung semuanya sendiri" terdengar rasa bersalah keluar dari bibir Kakakku.


"Bukan salahmu Kak, memang sudah jalanku harus melalui ini semua"


"Ceritalah Dek,. siapa tahu itu bisa mengurangi bebanmu, dan kita bisa mendapatkan jalan keluarnya"


"Nanti ya Kak, ceritanya terlalu panjang" aku menghela napas panjang.


"Hmm"


Sesaat setelah keluar dari jalan tol, Kak Seno berhenti disebuah rumah makan dan mengajakku makan, selesai makan siang kami segera melanjutkan perjalanan.


Selama dalam perjalanan kami terus mengobrol hingga tanpa terasa sudah 4 jam perjalanan kami tempuh dan sebentar lagi sampai dirumah.


Entah kenapa saat mobil memasuki halaman rumah jantungku berdebar,


ada perasaan takut yang tidak bisa aku jelaskan dengan kata-kata.


"Kakk?" aku memanggil Kak Seno sambil menatap Kakakku.


"Kenapa? Sudah ayo masuk Ibu sudah menunggu" ucapnya dengan raut wajah biasa saja.


Akupun sedikit lega, lalu turun


"Ibuuu, Abi pulang!" seruku masih didpena pintu rumah yang tertutup.


"Eh Non sudah sampai ya, langsung masuk kekamar saja Non, Ibu sudah nunggu dari tadi" sahut Bibi.


"Iya Bik, Bibi sehat kan!?" tanyaku.


"Bibik sehat, sudah ayo Non masuk. kasihan Ibu sudah nunggu dari tadi malam nanyain Non Abbi terus" ucapnya.


"Iya Bik"

__ADS_1


Aku melangkah masu menuju kamar utama, seusai mengetuk pintu aku membuka pintu yang tidak terkunci dengan perlahan.


Betapa aku tidak percaya melihat kedalam kamar,,


__ADS_2