I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Terpaksa


__ADS_3

Mata Shinta membeliak berbinar, melihat seikat uang ditangan kekasih gelapnya.


"I.. ini untukku?" tanyanya memastikan.


"Hmm,, bukannya tadi kamu bilang mau mengurus perceraian,,?"


"Ta..tapi Mas,, ini banyak sekali,, aku gak bisa menerimanya" ucap Shinta sok jual mahal.


"Kamu yakin ga mau terima uang dariku?? atau kamu memang tidak mau bercerai dari suami kasarmu itu??" tanyanya dengan raut wajah tidak suka.


"Bukan begitu,, hanya saja Mas terlalu baik,, Mas sudah memberi banyak,," jawab Shinta sambil menunduk.


"Siapa bilang aku sudah memberi banyak,, apa yang aku beri belum seberapa dibanding dengan yang kamu berikan padaku" jawabnya dengan manis.


"Terimalah,, dan urus perceraian mu,, aku tidak sabar untuk hidup bersamamu" ucapnya lagi.


Shinta menatap manja kekasihnya,


"Terimakasih Mas" Shinta menerima seikat uang dari tangan pria itu.


"Aku antar kamu pulang?" tawarnya.


"Jangan Mas,, aku gak mau dia tahu,, aku takut dihajar lagi sama dia Mas" ucap Shinta memelas.


"Ya sudah,, hati-hati dijalan,, setelah sampai jangan lupa kabari aku ya!" sambil mengecup kening Shinta.


"Pasti Mas"


Shinta memeluk manja kekasihnya, lalu keluar dan menuju lobby.


Sampai di lobby, taksi yang dipesankan oleh hotel sudah menunggu.


Shinta dengan wajah sumringah, dan senyum cerah tersungging dibibirnya masuk kedalam taksi.


Mata Shinta berbinar cerah, duduk dikursi penumpang, dia membuka tasnya,, "10 juta" gumamnya sambil menggenggam uang pemberian prianya.


*drrtt.. drrt* hapenya berbunyi.


"Sayang hati-hati dijalan,, kalau kamu kekurangan biaya untuk mengurus perceraian mu kabari Mas ya,, Mas pasti langsung transfer"


Mata Shinta makin berbinar-binar ketika membaca pesan dari kekasih barunya.


"Iya Mas,, terima kasih sayang" balas Shinta.


"Ahh,, benar-benar aku ketiban durian runtuh" sorak Shinta dalam hati.


"Ditambah gaji dari Mas Seno,, 5juta,, total 15 juta,, mantap,, aku bisa senang-senang" pikirnya dengan sumringah.


Sampai di kost Shinta segera menyembunyikan uangnya kedalam koper miliknya.


Tekadnya sudah bulat,, setelah menerima gaji Seno,, dia akan pulang dan mengurus perceraiannya.


Dengan senyum cerah Shinta terus berandai menjadi istri seorang pengusaha kaya,, tinggal dirumah mewah,, punya mobil,, bisa shoping sesuka hati, bahkan jalan-jalan keluar negri.

__ADS_1


Membayangkan indahnya hidup bersama kekasih barunya membuat senyum dibibirnya terus mengembang,,, sampai tidak menyadari,, Seno berdiri didepan pintu dan menatapnya dengan tajam.


Sementara itu ditempat Abigail,,


Mood gadis mungil itu segera hancur membaca pesan dihapenya.


"Jangan lupa sayang aku menunggu jawabanmu,, jangan kecewakan aku" bunyi pesan yang dikirim Farel.


"Orang Gila!" umpat Abbi sambil menghapus dan mengabaikan pesan dari Farel.


"Bii.. !" panggil Ibu.


"Iya Bu,," jawabku sambil keluar dari kamar.


"Kamu sudah bersiap?"


"Iya Bu,, besok pagi Abbi pulang,, Ibu jaga kesehatan ya,, kalau bisa tolong pertimbangkan lagi keputusan Ibu,, jangan berhenti Kemoterapi ya Bu!" Mohonku.


"Maaf kan Ibu nak,, ini sudah jadi keputusan Ibu,, lagi pula ibu baik-baik saja tanpa Kemoterapi" jawabnya.


"Buu.. hiks.. hiks" Abbi menangis dan memeluk erat ibunya.


"Bu,, tolong Abbi Bu,, Abi tersiksa disana,, Alex berubah Bu,, tolong Abbi" jerit Abbi dalam hati.


"Ada apa,, kenapa menangis,, Ibu baik-baik saja,, jangan kuatir" ucap Ibu menyangka Abbi menangis karena menguatirkan kesehatannya,, meski itu memang salah satu yang menjadi kekuatiran terbesar Abbi selain kondisi rumah tangganya.


"Iya Bu,,, Ibu harus selalu sehat ya" ucapku sambil menghapus air mataku.


Keesokan paginya travel yang dipesan Abbi datang menjemput.


Abbi menggigit bibirnya membayangkan suasana rumah tangganya.


3 Minggu Abbi dirumah kedua orang tuanya, tidak sekalipun Alex menghubunginya.


"Kak aku pulang"


Abbi mengirim pesan memberitahukan kepulangannya pada Alex.


Abbi menimang-nimang ponselnya, menunggu balasan dari Alex.


1menit


30 menit


1 jam berlalu tidak ada balasan dari suaminya.


Abbi menyerah, dia memasukan ponselnya, dan memejamkan mata.


Tertidur lelap hingga travel yang ditumpangi mengantarkannya sampai didepan rumah.


Abbi turun dari travel,, dan mencoba membuka pintu rumah.


Tapi ternyata pintunya terkunci.

__ADS_1


Gara-gara kunci cadangan hilang dan belum sepat diganti,, Akhirnya mereka sepakat setiap pergi sendiri kunci bisa disimpan dibawah keset.


Abbi membuka keset dibawah pintu,, tapi kunci juga tidak ada.


Karena terlalu capek dalam perjalanan,, Abbi duduk selonjor diteras rumah,, beberapa kali Abbi menghubungi Alex tapi tidak diangkat.


"Please angkat telponku Kak"ucap Abbi dalam hati.


"Kak aku sudah sampai dirumah kamu dimana?" sekali lagi Abbi mengirim pesan.


Tapi pesan yang dikirim hanya sekedar dibaca olehnya tanpa membalas.


Siang telah berganti sore,, Alex yang ditunggu belum juga menampakkan batang hidungnya.


Abbi mencoba menghubungi Alex untuk kesekian kalinya,, tapi sayang ponselnya mati karena lowbat.


Memakan cemilan yang sempat dibawanya dari rumah sebagai pengganjal perut,, Abbi terus duduk menunggu Alex.


Hingga larut malam Abbi duduk bersandar seperti gelandangan didepan rumahnya sendiri.


Tepat jam 11 malam mobil suaminya masuk dan parkir dicarport.


Tanpa memperdulikan Abbi,, Alex membuka pintu rumah dan masuk begitu saja.


Abbi menarik napas dalam-dalam,, mencoba bersabar menghadapi kelakuan suaminya.


"Kak,, kita harus bicara.. jangan diam begini Kak,,!" ucapku memohon.


Lagi-lagi Alex mengabaikan ucapanku,, dai langsung masuk kedalam ruang kerjanya dan menguncinya dari dalam.


Dengan gontai Abbi masuk kedalam kamarnya,,


"Sabar ya Nak,, sabarr,, Mama sayang kamu kita berjuang sama-sama ya,, anak Mama pasti kuat" ucapku sambil mengelus perutku yang sedikit menonjol.


Abbi lalu merapikan barangnya dan kemudian mandi dengan cepat lalu tidur sendiri dikamarnya yang besar.


Karena terlalu lelah, dan tidur kemalaman, keesokan harinya Abbi bangun kesiangan.


Dengan cepat Abbi keluar dari kamar untuk memasak sarapan.


Ternyata suaminya sedang duduk dimeja makan dan menikmati nasi kuning, dari boxnya Abbi hafal Alex beli ditempat langganan mereka berdua.


Nasi kuning favoritnya,, Abbi ingat saat masih rukun dengan suaminya satu kotak selalu mereka makan berdua karena porsinya yang besar.


Melihat Abbi berjalan kearahnya,, Alex yang baru makan setengah porsi langsung memasukan kotak nasi itu kedalam kresek dan membuangnya ditempat sampah tepat didepan mata istrinya.


Tanpa kata,, Alex kembali pergi meninggalkan Abbi. Tak perduli istrinya punya uang atau tidak,, lapar atau kenyang,, Alex tidak perduli.


Abbi hanya terdiam menatap nanar kotak makan yang dibuang suaminya ditempat sampah.


Dia pergi kedapur dan memasak nasi lalu menggoreng telur karena hanya itu yang tersisa di kulkasnya yang kosong.


Menahan tangis dan perih dihatinya dia makan beberapa suap.

__ADS_1


Selesai makan dia menutup dan mengunci semua pintu lalu masuk kedalam kamarnya,,


Seperti seorang tawanan rumah ada rasa takut yang besar membayangi Abbi karena tidak berapa lama ,, sesuai firasatnya kini terdengar suara mobil yang dia hafal berhenti didepan rumahnya.


__ADS_2