I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Tamu Tak Diundang


__ADS_3

Hampir 2 Minggu Abbi pulang dirumah kedua orang tuanya,, tapi tidak sekalipun Alex menghubunginya.


Pagi ini,, langit mendung dan tak secerah biasanya,, Abbi terduduk sambil melamun didepan teras rumah menikmati sejuknya angin.


Mata Abi memanas,, setetes air mata kembali luruh tanpa bisa ditahannya.


Dengan cepat dia menghapus air matanya dan menarik napas dalam-dalam.


Ditengah kegalauannya,, Abbi dikejutkan dengan datangnya sebuah mobil yang cukup mewah masuk perlahan dan parkir dihalaman rumah.


Jantung Abbi berdebar,, perasan tidak enak segera menyergap hatinya.


Dengan kedua matanya dia melihat sosok pria tinggi besar berkulit kuning cenderung coklat turun dari mobil, dan menatapnya dengan dalam.


Abbi bergidik mendapat tatapan yang menurutnya aneh dari pria yang berjalan mendekat kearahnya.


"Lama gak jumpa ya Bii"


"Kak Farel,,??" aku menatapnya tak percaya..


Sumpah demi apapun aku ingin memaki dan mengusirnya,,


"Sabar... sabar..." ucapku dalam hati sambil menarik napas dalam-dalam.


"Kenapa Bii?? Gak suka aku datang kesini?" tanyanya sambil menatapku.


"Kak mau apa datang kesini?" tanyaku datar.


"Aku,, aku ada urusan di kota J,,, aku ingat kamu tinggal disini jadi sekalian mampir" ucapnya sambil tersenyum dan menyusul duduk dibangku panjang yang saat ini aku duduki.


"Ohh" jawabku.


"Kamu kenapa pulang? gak balik kekota J lagi? kamu berantem sama Alex?" tanyanya sambil melirik kearahku.


"Nggak aku gak berantem,, aku ijin sama Kak Alex menjaga Ibu,, kenapa Kak apa ada yang salah?" tanyaku dingin.


"Jangan bohong Bii.. aku tahu kamu bertengkar dengan Alex,"


"Nggak usah ngarang cerita yang nggak ada Kak!" tegurku.


"Siapa yang ngarang,, Kamu tahu Lisna sama Sonny kan? sepupu Alex,, mereka yang cerita,, kamu tahu sendiri Alex sangat dekat sama keluarga Sonny" ucapnya sambil menatapku.


"Ugghh ternyata dari mereka" keluhku dalam hati.


"Aku bertengkar atau tidak dengan suamiku itu tidak ada urusannya dengan Kak Farel"


"Tentu saja ada urusannya denganku!" debatnya.


"Kak aku gak mau pembicaraan ini berlanjut,, aku tidak mau orang tuaku kepikiran karena omong kosong mu,, lebih baik Kak pergi dari sini!" usirku.


"Tidak,, aku tidak akan pergi dari sini!" jawabnya dengan keras kepala.


"Apa maumu,,?? aku masih memberi mu muka karena kamu suami Kakak ipar ku.. aku gak tahu apa maksudmu kesini,, atau apa maksudmu mendekatiku,, tolong jaga jarak dengan ku!" ucap Abbi dengan menekan kemarahannya.


"Aku akan menemui Ayah sama Ibumu untuk membawamu pulang,, dan memberitahu mereka kalau kamu sebenarnya kabur dari rumah suamimu!" ucapnya sambil tersenyum mengancam ku.


"Kamu...!!"


Aku menarik napas sejenak,, meredakan marah yang sudah sampai diubun-ubun..


"Coba ada asbak di sampingku sudah ku lempar kepala orang sinting di sampingku ini dengan asbak." batinku.


"Tolong tinggalkan rumahku Kak!" usirku lalu berdiri dan berniat untuk masuk kedalam rumah.

__ADS_1


"Masuklah,, sebentar aku akan ketok pintu rumahmu,, aku memang mau ketemu orang tuamu untuk memberitahu keadaanmu yang sebenarnya!" ucapnya lagi-lagi sambil tersenyum.


Abbi menghentikan langkahnya.


"Apa maumu??"tanya Abbi kesal.


"Ikut denganku,, aku mau bicara sama kamu!" ucapnya dengan santai.


"Aku gak bisa, tidak pantas buatku yang sudah bersuami keluar berdua dengan suami orang!" tolakku.


"Aku hanya mau bicara sama kamu,, aku tidak menerima penolakan!" tegasnya.


Abbi mengembuskan napasnya dengan kasar.


"Aku tunggu kamu satu jam lagi direstoran Braveheart!" jawabnya sambil melenggang pergi menuju mobilnya.


"Brengs3kk!!" umpat Abbi dengan suara tertahan.


Abbi meremas daster pendek yang dia pakai dengan kuat sambil beberapa kali menarik napas panjang.


Rasa marah, takut serta bimbang menguasainya.


"Kalau aku pergi ini tidak betul,, tapi kalau aku gak pergi dan manusia brengs3k itu memberitahu Ayah sama Ibu,, ahhhh" Abi terlihat frustasi,, Dia tidak mampu membayangkan perasaan sedih kedua orangtuanya terutama Ibunya kalau sampai tahu tentang masalah rumah tangganya.


"Tidak.. Ibu tidak boleh tahu,, kalau sampai menambah pikiran ibu,, kesehatannya bisa memburuk,,"


Abbi bergegas masuk kedalam kamarnya,, meminum satu pil anti mual lalu berganti pakaian.


Celana jeans, kaos pol@ berkerah ditambah jaket jeans navy. Selesai berpakaian dan mengikat rambutnya Abbi menuju kamar Ibunya untuk meminta ijin keluar.


"Memangnya kamu mau kemana Bii?" tanya Ibu saat aku meminta ijin keluar.


"Abbi diundang teman SMA main kerumahnya Bu!" bohongku.


"Eng,, Gak usah Bu,, Abbi,, Abbi sudah telpon taksi,, biar Ayah temani Ibu saja dirumah" ucapku sedikit gugup.


"Tapi kami masih sering mual,muntah juga pingsan Ibu gak tenang kalau aku pergi sendiri!" ucap Ibu lagi dengan mata menatap cemas kearahku.


"Buu,, rumah teman Abbi juga gak terlalu jauh kok,, Abbi janji Abi cuma sebentar,, Lagian Abbi tadi sempat makan kue juga minum obat anti mual,, jadi ibu gak usah kuatir lagi ya!" ucapku sambil tersenyum menenangkannya.


Ibu hanya menatap pasrah melihatku keras kepala.


"Ya sudah hati-hati dijalan,, hape jangan dimatikan!" ucapnya


"Iya Bu,, pasti,, Abbi jalan dulu ya!" sambil mencium pipi Ibu.


Abbi berjalan keluar sambil memakai topi coklat berlogo NBA,,klub basket favoritnya lalu menuju arah jalan raya yang tidak jauh dari rumahnya.


Perasaan yang tidak nyaman disembunyikannya,, dengan wajah datar dan muram Abbi berdiri ditepi trotoar menunggu taksi.


Melihat taksi kosong Abbi melambaikan tangannya menghentikan taksi warna biru berlogo bangau terbang.


Denan enggan Abbi masuk kedalam taksi,


"Pak tolong antar ke Restauran Braveheart"


"Siap Mbak" jawabnya sambil tersenyum ramah.


Sekitar 15 menit perjalanan taksi yang ditumpangi perlahan berhenti disebuah restoran western.


"Terima kasih Pak,," ucapku sambil memberikan selembar uang merah hampir sesuai nominal argo yang tertera.


"Kembaliannya Mbak,,?!"

__ADS_1


"Buat Bapak saja,, terima kasih ya Pak" kemudian turun dari taksi.


"Bii..!" panggil Farel dari arah belakangnya.


Abbi menengok kearah suara,,


"Ikuti aku!" perintah Farel.


Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya,, Abbi melangkah mengikuti Farel dari belakang.


Sampai di parkiran basement restauran Braveheart,, Farel memegang tangan Abbi dan menyuruhnya masuk kedalam mobil miliknya.


"Kita mau kemana??" tanya Abbi dengan sedikit takut.


"Ikut saja" jawabnya.


Mobil segera melaju dengan kecepatan cukup kencang,, membelah jalanan kota J yang tidak sepadat jalanan ibu kota


Setengah jam perjalanan aku Samapi disebuah tempat yang tidak asing bagiku,,. tempat yang di pernah aku kunjungi bersama Yogi,, mantan kekasihku saat SMA.


Menatap nanar restauran berkonsep saung khas daerah didepan mataku,, dan hati ini pun tak lagi bisa dikendalikan untuk tidak mengenang masa yang berlalu.


"Ayo!" suara itu memyadarkanku dari lamunan masa lalu.


Abbi diam tak bergeming.


Dengan tidak sabar Farel segera meraih tangan Abbi dan menggandengnya.


Abbi menghempaskan tangan Farel dengan cukup keras.


"Kak,, jangan melewati batasmu!" tegurku dengan wajah tidak senang.


Farel diam dan menatapku.


"Ayo..!" ajaknya lagi.


Dengan terpaksa Abbi berjalan mengikuti langkah lebar pria gila didepannya.


Sebuah saung yang tersisa hanya tinggal saung diatas kolam pemancingan yang sedikit jauh dari saung yang berjajar rapi untuk pengunjung yang khusus datang untuk makan tanpa memancing.


"Ada saung lain?" tanyaku pada pelayan Saung.


"Semua penuh Mbak, biasa kalau weekend begini mau ruang VIP Indoor atau saung semuanya penuh.. tinggal saung no 24 yang kosong Mbak"


"Ya sudah kita ambil yang itu saja Mas!" sahut Farel cepat.


"Mari, Mas, Mbak" dan berjalan menyusuri jembatan kayu berlantai anyaman bambu.


"Alat pancing semua sudah disediakan sekalian umpan ada disini ya Mas!" ucap pelayan itu pada Farel.


"Kita langsung pesan saja" ucap farel.


"Kamu mau makan apa Bii?" tanya Farel dengan nada lembut.


"Gak ada,, aku sudah makan!" jawabku ketus.


"Oke biar aku yang pesankan buat kamu saja ya!" ucapnya mengabaikan jawaban Abbi.


Mengabaikan Farel yang memesan makanan,


Abbi memilih pergi dan duduk ditepi saung,, Sambil melamun dengan kaki menggantung diatas kolam Abbi terus melihat ikan-ikan yang berenang bebas dikolam pemancingan berukuran besar.


Tanpa disadari olehnya Farel sudah duduk disampingnya..

__ADS_1


*Grepp...


__ADS_2