
Dengan ekspresi datar, Ibu dan Ayah Seno masuk kerumah yang mereka tempati.
"Ibu, Ayah tumben datang kesini,, Kenapa tidak menelpon Kita saja supaya kami datang kerumah?" Ucap Shinta berbasa-basi.
"Sejak kapan kalian mau mengangkat telpon dari Ayah juga Ibu??" tanya Ibu dengan datar.
Shinta dan Seno hanya bisa tersenyum kecut.
"Ah,, Eh Maaf Ibu Shinta permisi dulu,, Ibu mau minum apa! tanyanya mengalihkan, tanpa bisa menjawab pertanyaan dari ibu mertuanya.
"Tidak perlu,, Ibu dan Ayah kesini bukan untuk minum" ketus Ibu.
"Ayah kesini untuk memberi tahu kalian, bulan depan rumah ini akan ditempati seorang penyewa,, seperti kesepakatan kita sebelum pernikahan kalian, ibu hanya memberi waktu kalian untuk menempati rumah ini selama 2 tahun" ucap Ayah.
"Tapi Ibu,, tolong beri kami waktu!" ucap Seno memohon.
"Bukannya tadi kamu sudah dengar apa kata Ayahmu ,, bulan depan Penyewa baru masuk untuk menempati rumah ini,, jadi kalian masih ada waktu 3 Minggu kan?" ucap Ibu.
"Tapi Bu..
"Kenapa?? Gak punya uang buat sewa rumah?? atau gak punya uang buat cicil rumah?? suka yang gratisan hasil warisan!??" sindir Ibu pada Shinta.
"Bukan Bu,, hanya kami belum mendapatkan tempat yang cocok,, tolong batalkan penyewa itu,, biarkan kami menempati rumah ini!" ucap Seno dengan memelas.
"Tidak masalah kalau kamu mau menempati rumah ini seterusnya,, tapi kamu yang bayar uang kuliah adikmu ,, bagaimana?" tanya Ibu.
"Memang biaya kuliah adek berapa Bu?"
"Hanya 7juta per-semester ?"
Seno kemudian melirik kearah istrinya,, dan melihat raut wajah Shinta yang menggelap karena tidak suka dengan keputusan dan pilihan yang diberikan mertuanya..
"Berikan kami waktu buat berpikir Bu" jawab Seno.
"Hmmm,, ingat awal bulan kalian suka tidak suka keluarlah dari rumah ini,, dan berusahalah sendiri,, Ibu dan ayahmu membutuhkan uang untuk tambahan biaya kuliah adikmu." ucap Ibu dengan tegas.
"Ibu memang pelit jadi,, kalau sudah tahu ibu pelit kalian mending segera cari tempat,,karena ibu bukan cuma pelit tapi juga jahat,, betul begitu kan!" tambah ibu lagi.
"Maaf Bu,, bukan maksud Shinta..
"Tidak perlu membela istrimu,,ibu belum terlalu tua sampai tidak bisa mendengar perdebatan kalian,," ketusnya.
"Kerja dua tahun,, anak belum punya tapi nyicil rumah aja gak mampu!! kalau otak hanya diisi buat belanja ala sosialita dan buat penuh isi ******,, mau sampai kapanpun kalian tidak akan punya apa-apa"
"Maaf Bu,," ucap Seno menundukkan kepalanya.
"Ayah sama Ibu yang penting sudah memberi tahu kalian,, Kami pulang,, !" ucap Ibu.
Setelah Ayah dan Ibunya pulang. Seno kembali berdebat dengan istrinya.
"Gak Mas.. Pokoknya aku gak mau keluar dari rumah ini Mas!" ucap Shinta.
__ADS_1
"Ya sudah gak mau keluar ya gak apa-apa,, nanti biar uang semesteran Abbi, Mas yang bayar,,"
"Yaa bayar saja tapi aku gak mau tahu jatah gaji dari Mas buat aku gak boleh berkurang sedikitpun!!" Jawab Shinta sambil memandang tajam wajah suaminya.
"Terus aku dapat uang dari mana? kalau kamu minta gaji utuh,, sedangkan aku harus bayar uang kuliah Abbi??"
"Itu urusan Mas,. pokoknya aku gak mau keluar dari rumah ini,, dan aku juga gak mau gajimu berkurang sedikitpun,, kalau Mas gak bisa memenuhinya kita cerai saja!" ketus Shinta.
"Jaga omonganmu!!" teriak Seno.
"Aku gak perduli!! kalau kamu jadi laki-laki tidak mampu menafkahi istri lebih layak lagi,, lebih baik aku cari yang lain yang lebih kaya dari kamu!" jawab Shinta.
"Kamuuuuu...!!" sambil mengangkat sebelah tangannya bersiap menampar istrinya.
"Apa mau memukulku,,?? tamparr Mass..!!! tamprrr!! berani kamu memukulku akan aku pastikan besok kita ketemu di pengadilan!!" Ancam Shinta.
Seno menurunkan tangannya, dia segera menyalakan motornya dan pergi menenangkan diri.
Selama pernikahannya dengan Shinta, untuk pertama kalinya dia kehilangan kesabaran menghadapinya.
Kepalanya berdenyut,,, pusing memikirkan gaya hidup istrinya,, gaji 5 juta utuh semua dia berikan pada Shinta,, sementara dia hanya memegang bonus dari kantor yang tidak seberapa untuk kebutuhannya sendiri.
Selama 2 tahun ini, Shinta terus berfoya-foya, shoping dan makan di restauran dengan mengajak kedua orang tua mertuanya satu bulan empat kali atau kadang bisa lebih membuat dia tidak memiliki tabungan sepeserpun.
Seno terlalu cinta dan selalu menuruti keinginan istrinya.
Gaji yang dia berikan seutuhnya pada istrinya adalah bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang suami.
Tapi sayangnya ketidak tegasannya pada gaya hidup istrinya kali ini membuatnya terpojok.
Seno kembali teringat kejadian 4 bulan yang lalu,,
"Masss,, aku mau dong dibelikan anting-anting berlian ituu!" ucap Shinta saat bermalam Minggu bersamanya di PM swalayan.
Seno pun membelalakkan matanya,,
"5 juta,, Shin itu mahal sekali,, Mas gak punya uang segitu,,!"
"Aku gak mau tahu pokoknya aku mau anting berlian itu!" ketus Shinta dan langsung pergi meninggalkan suaminya.
Seno segera mengejar istrinya,, tapi sampai didepan mall,, dia tidak menemukan keberadaan Shinta.
Dia menuju parkiran motor dan pulang kerumah.
Ternyata Shinta sudah lebih dulu pulang kerumah yang mereka tempati dengan menggunakan taksi, dan sekarang sedang memasukan barangnya kedalam koper..
"Kamu mau kemana?" tanya Seno.
"Pulang,, pokoknya kalau Mas gak mau belikan anting itu aku gak mau pulang kesini lagi!"
"Shinn,, Mas benar-benar gak ada uang,, lagian kamu kan masih punya perhiasan,, Mas belum mampu membeli anting itu! please Mas mohon,, mengertilah,, Gimana kalau kamu menabung!? Mas yakin beberapa bulan lagi juga bisa terbeli!"
__ADS_1
"Aku maunya sekarang,, aku gak mau besok!"
"Tapii..
"Sudahlah Mas,, aku mau pulang,,!!" sambil menyeret kopernya.
"Shinn!!" panggil Seno.
Tapi istrinya benar-benar mengabaikannya.
Shinta yang merajuk kepadanya, memilih pergi dari rumah, dan pulang kerumah orang tuanya.
Seno hanya bisa bersabar menghadapi kelakuan istrinya.
Keesokan harinya sepulang kerja dia mampir kerumah mertuanya berharap Seno bisa membujuk Shinta dan membawanya pulang.
"Buu,, Shinta ada?"
"Shinta gak ada ,, dia pergi!" Jawab ibu Shinta dengan ketus.
"Owhh ya sudah Bu kalau begitu biar Seno tunggu sampai Shinta datang ya Bu,, Seno mau ajak dia pulang" ucap Seno bersabar.
"Gak usah ditunggu apalagi mau jemput Shinta kalau gak bisa membahagiakannya!! kalau kamu gak kuat ya sudah ceraikan saja istrimu,, masih banyak laki-laki yang bisa membahagiakan Shinta,, asal kamu tahu saja, kami menyesal merestui kalian!! kamu benar-benar tidak bisa di andalkan!" omel ibu mertuanya saat itu.
Mendengar ucapan mertuanya membuat Seno mengepalkan kedua tangannya menahan rasa sakit hati dan kekecewaan yang mendalam.
Baru dia sadari semua pengorbanan yang dilakukannya selama ini ternyata hanya di pandang sebelah mata,,.
Dia rela lembur demi mendapatkan uang tambahan karena Shinta memohon-mohon meminta kepadanya supaya merenovasi rumah yang ditempati orang tuanya agar lebih nyaman, dan bagus.
Kini rumah RSS milik keluarga istrinya di perkampungan padat penduduk itu pun sudah berubah menjadi rumah minimalis setara dengan tipe 42 yang lebih nyaman untuk dihuni.
Tapi ternyata semua yang sudah dia lakukan masih tidak memuaskan bagi keluarga istrinya.
Rasa lelah menyergap batinnya,, penyesalan selalu datang terlambat adalah benar adanya.
Tapi Seno malu mengakui pada ibu, dan ayahnya bahwa dia telah salah memilih pasangan.
Dia memilih bungkam demi harga dirinya.
Saat itu juga dengan nekat untuk pertama kalinya dia memberanikan diri berhutang di kantor tempatnya bekerja demi membelikan istrinya sepasang anting berlian.
Seno menghembuskan nafas panjangnya berkali-kali sambil memijit keningnya.
Hutang kantor baru saja lunas,,
Kini dia harus dihadapkan dengan masalah keuangan lagi,, biaya kuliah Abbi begitu besar,, tapi sang istri tidak mau menyisihkan gajinya sama sekali,,
Bersambung..
Readers cerita ini lebih ke slow story ya,, untuk menunjukkan karakter tokoh,, sekaligus dasar konflik yang nantinya berimbas besar pada kehidupan seorang Abbi dikemudian hari..
__ADS_1
Jadi mohon bersabar ya..
Terima kasih