
Operasi Ibunya akhirnya selesai juga.
Mendapati Ibunya berhasil melewati Operasi besar ini, hati Abigail pun sedikit lega.
"Ayah, Abbi ijin keluar sebentar ya."
"Mau kemana?"
"Mau beli minum kopi Yah,, Abbi ngantuk,,. Ayah mau?"
"Boleh,, kopi hitam tanpa gula ya!"
"Siap Yah.."
Abbi segera melangkah keluar, tanpa sepengetahuan Ayahnya Abbi menghubungi Seno untuk memberinya pelajaran,
"Hallo Bii, ada apa telpon??" tanya Seno.
"Ada apa telpon!! kakak gak sadar hari ini hari apa!!' teriak Abbi.
"Jangan teriak Bii, telinga kakak ini masih normal!" kesal Seno.
"Bodoo amatt!!" ketus Abbi.
"Kamu telpon marah-marah memang salah kakak apa?"
"Hiiihhh" gemas sekaligus kesal menguasai hati Abigail.
"Kak,,! Kakak ini pura-pura lupa,,? lupa beneran? atau memang gak perduli sama Ibu?? hari ini Ibu operasi,, tapi Kakak dari kemarin sampai hari ini sama sekali tidak datang!! benar-benar keterlaluan ya Kakak ini!" semprot Abbi.
"Kakak kemarin baru pulang dari luar kota,, sore ini baru Kakak bisa datang ke rumah sakit,, kamu ini main nerocos saja!" omel Seno.
"Bodoo!! sudah tahu Ibu mau dioperasi bertaruh nyawa,, cuti kek,, ijin bentar kek,, memang Kakak ini,, ahhh sudahlah ngomong sama orang bebal dan bego kayak Kakak memang percuma!!" Marah Abbi.
"Kamuu... kamu sama sekali tidak sopan..
*klikk* Abbi mematikan telponnya, jengah dengan omelan Kakaknya yang dianggapnya tidak bermutu.
Sementara Seno yang telponnya dimatikan sepihak oleh adiknya menjadi kesal setengah mati.
Belum lagi reda rasa kesalnya , giliran Shinta yang menghubunginya.
"Hallo Mas,, kamu masih sibuk ya?"
" Iya Shin, ada apa lagi?"
"Mas nanti pulang cepat ya,, aku mau kasih kamu sesuatu!" rengek Shinta dengan manja.
"Hari ini aku tidak bisa pulang cepat Shin,, pulang dari kantor aku mau kerumah sakit,, Ibu operasi hari ini!"
"Lahh Mas besok aja ketempat Ibu,, toh disana ada Ayah juga adikmu"
"Gak bisaa Shin,, nanti kamu aku jemput ya kita kerumah sakit sama-sama"
"Gak bisa Mass,, makanya Mas pulang,, kalau gak kamu akan menyesal Mas!" ancam Shinta.
"Shin jangan mulai lagi,, pekerjaanku banyak,, aku gak mau kita bertengkar dan mengganggu pekerjaanku!"
"Itu salah Mas sendiri,, aku kan hanya minta Mas pulang,, Ya sudah kalau Mas lebih sayang keluarga Mas aku gugurkan saja kehamilanku sekarang!"
ancam Shinta dan mematikan ponselnya.
"Gugurkan kehamilan?? Shinta hamill,,?? iya Shinta hamill!" soraknya tanpa sadar.
__ADS_1
Dengan cepat Seno mengirim aman pada istrinya.
"Jangan ngambek, iya nanti Mas pulang cepat, kamu mau dibawain apa?"
Seketika mata Shinta berbinar melihat sms masuk dari suaminya.
Dia menggenggam testpack dengan 2 garis merah ditangannya dengan erat.
Senyum puas tampak menghiasi wajahnya yang cantik.
Sementara itu Abbi setelah selesai menelpon Kakaknya,, disepanjang jalan menuju ke kafe didekat rumah sakit dia berjalan cepat sambil terus menggerutu.
"Dasar Kakak bodoh, gak punya hati,, jadi anak sama sekali gak berbakti,, untung Kakakku bukan anakku,, kalau itu anakku sudah aku coret dia dari Kartu Keluarga."
Asik menggerutu Abbi tidak memperhatikan jalan didepannya,
*Dugghh,, Brughhh*
Abbi terjatuh karena menabrak sesuatu,,
Oww bukan sesuatu tapi seseorang,
Abi yang terjatuh dengan posisi terduduk pun langsung meluapkan kemarahannya,
"Kalau jalan lihat-lihat dong!!" ketus Abi sambil mendongakkan kepalanya.
"Yang harusnya lihat jalan itu siapa Bi?" tanya orang yang ditabraknya sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Abbi berdiri.
Mata Abbi segera membulat,
"Ko Ahui??"
"Hmm,, masih ingat rupanya!" sambil tersenyum membuat matanya yang sipit hampir seperti terpejam.
Abi menerima uluran tangan Ahui.
"Yeehh, cantik begini dikatain dukun!" omel Abbi.
"Kamu,, ngapain dirumah sakit? lagi jengukin siapa?" tanya Ahui.
"Itu Ibuku Ko,, dia sakit hari ini operasi"
" Owh,, Maaf,, ku gak
tahu,, sekarang gimana keadaannya?"
"Belum sadar Ko,, kan baru tadi pagi dioperasi"
"Sekarang kamu mau kemana?"
"Emm ke kafe Ko,, mau cari kopi!"
*krucuk.. krucuk* tiba-tiba perut Abbi yang kelaparan berbunyi cukup keras.
Maklum saja saking tegangnya dia dan Ayahnya sampai lupa belum sarapan, sementara sekarang sudah hampir jam 12 siang.
Muka Abbi seketika memerah karena malu.
Ahui pun tersenyum melihat Abbi,,
"Kebetulan aku juga aku mau pulang habis jenguk temanku,, emm boleh kan kalau aku temani kamu di cafe?"
Abbi menganggukkan kepalanya sambil menahan malu.
__ADS_1
"Ya sudah Ko ayokk!" ucapnya dan jalan lebih dulu.
Abbi dan Ahui sampai di cafe samping rumah sakit.
Tampak cafe begitu ramai dengan pengunjung, tapi untungnya Abbi dan Ahui masih mendapatkan meja.
"Mau pesan apa Mbak?" tanya seorang pelayan berseragam kaos warna hitam.
"1 Ice white coffee, sama 1 Black coffee medium tanpa gula, take away ya!"
"Bii kamu beli makan,, ayo temani aku makan siang sekalian!" ajak Ahui.
"Tapi Ko,,
"Aku yang traktir kamu, dan gak menerima penolakan , seperti kamu menolak cintaku waktu SMA dulu ya!" ucapnya tanpa malu-malu.
"Koo!!" aku melotot kearahnya.
"Mbak,, untuk black coffee nya take away,, tapi untuk ice white coffeenya tambah 1 lagi minum disini,, tambah 2 donut coklat, dua Double cheese burger, sama 2 french fries medium" ucap Ahui menambah pesanan Abbi sambil tersenyum lebar kearah ku.
"Ko,, itu kebanyakan!"
" Nggak lah,, aku kan tahu banget porsi makan seorang Abigail" sambil tersenyum menggodaku yang duduk didepannya.
Mukaku sekali lagi dibuat seperti kepiting rebus dengan ucapan Ahui.
"Oh ya Bi,, kamu ga pesan makanan untuk Ayahmu? itu kopi hitam yang kau pesan buat Ayahmu kan?"
"Hmm,, gak apa-apa Ko, lagian Ayah gak terlalu suka sama makanan manis."
"Kan ada tuna croissant atau meat croissant?? aku pesanin buat Ayahmu sekalian ya!"
"Jangan Ko,," tolakku merasa sungkan.
"Mbak tolong yang untuk take away tambahkan croissant meat juga tuna masing-masing 2 ya!" ucap Ahui.
Setelah mencatat semua pesanan Ahui, pelayan itupun segera pergi menyiapkan pesanan kami.
"Gimana kabarmu Bi?? hampir 3 tahun ya kita gak ketemu!"
"Aku baik Ko! kabarmu sendiri gimana?"
"Baik,, Aku dengar kamu menolakku karena kamu jadian sama Yogi anak dari Smansa ya?" tanyanya.
"Eh, itu,, ..
"Gak usah gugup begitu kalii Bi,, aku gak apa-apa kok,, lagian itu kan masa lalu, anggap saja kita sedang reunian..!" sambil tersenyum lebar.
"Emm, iya,, tali aku sudah putus kok sama dia"
"Waah ada kesempatan buat nembak kamu lagi dong!"
"Pukk" Abbi menepuk dengan keras lengan pria berkulit putih didepannya.
"Ha.. ha.. bercanda Bi,, tapi kalau serius aku juga terima Kok!"
" Yee,, Apaan sih Ko!"
Pesanan kami pun diantar,, dengan lahap aku memakan semua makanan yang dipesan Ahui hampir tanpa sisa.
"Kurang Bi ?? mau aku pesanin lagi?"
" Koo,, itu nawari atau ngeledek?"
__ADS_1
"Ha.., haa.. sensi banget sich Bii,, aku tulus nawarin Kok??" ucapnya selesai tertawa kecil.
Abbi pun menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil nyengir.