I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Netijen


__ADS_3

Kak Seno tinggal dirumah selama beberapa hari semenjak acara lamaran yang mempermalukannya,


Kami bertiga mengira Kaka Seno akan berpisah dari istrinya melihat kelakuannya yang memalukan,, ditambah lagi Kakak iparku sudah ketahuan bohong tidak sedang mengandung anak Kak Seno.


Lagi dan lagi Kak Seno membuat keputusan yang mengejutkan kami,, dia memberi kesempatan pada Kak Shinta,, dan menjemput istrinya langsung dirumah mertuanya.


Sekali lagi Ayah dan Ibu hanya bisa mengelus dada dan menutup mata akan keputusan yang dibuat Kak Seno.


Hari berlalu begitu cepat,, berdua dengan Kak Alex,, dan terkadang dibantu oleh Tante Rissa akhirnya persiapan pernikahan kami berdua sudah 80% selesai.


Restauran MeiHwa, fitting baju dan jas pengantin, makeup, dekorasi, undangan dan juga souvernir pun siap.


Hari pernikahan tanpa terasa sudah didepan mata,, lusa akhirnya Abbi sah menyandang gelar Nyonya Alex Pratama Madya.


Mendekati hari H,, membuat Abbi semakin gelisah,, ada sedikit penyesalan muncul dihati karena keputusan menikah yang dia buat,,


Kali ini gadis mungil berlesung pipit itu tidak bisa mundur apalagi lari dari pernikahan ini.


"Aku mencintai Alex,, tapi perasaan dan pikiranku malam ini membuatku menyangsikan keputusanku sendiri." gumam Abbi sambil duduk melamun diatas tempat tidurnya.


"Lari??


Kabur??


Tidak mungkin lagi,, bagaimana perasaan Ayah dan Ibu kalau aku lari,,? kalau aku membatalkan pernikahan ini bagaimana denagn keluarga Alex yang menanggung malu karena aku kabur?,, Undangan sudah disebar,, banyak kehebohan terjadi mendengar kabar pernikahanku,, bukan karena aku selebritis,, tapi banyak yang tahu bahwa calon yang menikahiku anak seorang pengusaha besar"


Dikantor Ayah tak henti-hentinya mendapatkan ucapan selamat,, dan mengatakan Ayah sangat beruntung memiliki anak sepertiku yang pintar mencari calon suami.


Padahal Ayah dan lainnya tahu kalau sejak awal kami pun tidak tahu siapa Alex dan keluarganya.


Pagi tadi aku kepasar untuk belanja seperti biasanya,,


"Pagi,,!" Sapaku ramah pada beberapa Ibu-ibu yang mengerumuni mobil penjual sayur keliling.


"Pagi Nak Abbi,, mau belanja apa ni?" Tanya Ibu Ida ramah.

__ADS_1


"Biasa Bu, belanja sayur" jawabku ramah.


Abii memilih-milih sayur kangkung dari dalam keranjang plastik yang berjajar rapi didalam mobil box.


"Selamat yaa Abbi,, bentar lagi mau jadi nyonya gedongan" ucap seorang Ibu berdaster batik warna hijau.


"Makasih Bu" jawabku sambil tersenyum ramah.


"Kamu ini masih muda kok yaa buru-buru nikah,, jangan-jangan sudah mblendung duluan ya?" Ceplos seorang Ibu-ibu yang memang terkenal paling julid di komplek warga sini.


"Kalau aku mblendung duluan masalah buat Ibu?" Tanyaku dengan nada tidak senang.


"Itu kan memalukan nak,, ih amit-amit jabang bayi semoga anakku gak hamil duluan,, berakhlak baik,, berkelakuan baik,, amiiinn!" Dia mengelus perutnya yang buncit Sambil menatap sinis kearahku.


"Jangan sembarangan ngomong,, Nak Abbi itu gak hamil,, memang calon suaminya saja yang ngebet kawin,, aku kan ada disana" bela Bu Ida.


"Halah,, Bu Ida kan anteknya Bu Novia ya pasti mbelain Abbi lah,, lamaran aja baru dua Minggu yang lalu masa tau-tau sudah langsung nikah,, kalau gak ada apa-apa kan gak mungkin seburu- buru itu!" hina Bu Tati.


"Kalau pun saya hamil duluan kan saya hamil sama calon suami sendiri,, bukan sama suami ibu,, Kok Ibu yang kebakaran jenggot?? Hamil tidaknya saya juga gak ada hubungannya sama Bu Tati kan?" balas ku.


"Sudah Nak Abbi, laporin aja kepolisi fitnah Bu Tati itu sudah keterlaluan. itu bisa kena pasal fitnah dan pencemaran nama baik,,!" ucap seorang ibu lain mengompori.


"Ehh siapa yang fitnah tadi kan aku hanya menebak saja!!" elaknya.


"Menebak dengan cara ngomong seperti itu tujuannya apa Bu??" tanyaku sambil menatap tajam kearah nya.


"Yaa.. gimana pun kan aneh nikah buru-buru seperti itu kalau gak karena hamil memangnya karena apa lagi!! Atau kamu nikah cepat-cepat karena mau hartanya saja,, hati-hati ntar nikah baru satu bulan sudah diceraiin,, jadi janda,, kere lagii" masih berani mencibirku.


Abbi menghela napasnya,,


"Di lawan panjang urusannya,, gak dilawan panas juga ini telinga!" Pikir Abbi.


"Nikah cepat atau lambat itu urusan saya ya Bu..!! lagian kalau jadi janda bekas orang kaya kan tetap menarik,, nanti tinggal jadi pelakor,, terus aku rebut suami Bu Tati pastinya juga asik!! Kayaknya suami Bu Tati juga bosan punya istri mulutnya kayak kaleng rombeng ga bisa dijaga,," Jawabku asal.


"Kamu dasar anak kurang ajar,, berani kamu menghina ku!! Kamu nantangin aku!!" Marah Bu Tati.

__ADS_1


"Kan Ibu yang menghina saya duluan?!!? Makanya punya mulut dijaga!! Baru mau nikah kok malah ndoain orang buat diceraiin terus jadi janda!!"


Bu Tati terdiam dengan wajah marah.


"Iya Bu Tati gak seharusnya ngomong begitu,, lagian Bu Tati ini julid banget sih!" sahut seorang ibu-ibu lain.


"Iya Bu Tati,, tobat Bu,, belum kapok juga hampir digamparin orang gara-gara mulut julid!" timpal Ibu- berdaster hijau..


Bu Tati mendengus kesal mendengar beberapa Ibu-ibu yang memang geram sama kelakuannya memojokkannya langsung.


"Sudah Pak tolong hitung belanjaanku ya! Kelamaan disini kok rasanya mau muntah ada bau comberan busuk gak ketulungan" Ucapku sambil melirik tajam ke arah Bu Tati.


"Iya Neng,, sebentar" sambil memasukkan sayuran dan lainnya kedalam kresek sekaligus menghitung harganya.


"Semuanya 45 ribu Neng"


"Ini Pak" sambil menyerahkan selembar uang merah.


"Sudah Nak Abbi,, gak usah ngladenin Bu Tati,, tau sendiri kan dia itu orangnya kaya apa!" Bisik Bu Ida sabar.


"Orang model kayak ondel-ondel bengkak kalau gak dilawan malah bisa ngelunjak Bu!" Ucapku sengaja dengan suara keras.


"Heii gak usah sok ya,, mentang-mentang mau jadi menantunya orang kaya kamu bisa seenaknya menghina!!"


"Siapa yang sok kaya!? Bu kalau gak mau dihina ya jangan menghina,, kalau gak mau bermasalah ya jangan. Bikin masalah,, sejak awal biang rusuh dan onar di kampung ini ya cuma Bu Tati,, gak malu sama umur? Gak malu sama anak? Tobat Bu,, tobat!!?" Ocehku.


Dia terdiam tak bisa membalas,, namun mendengus kesal kearahku yang berani melawan omongannya.


"Ibu-Ibu, Abbi duluan ya,, takut demit daster kuning keluar taringnya" ucapku setelah menerima belanjaan dan juga uang kembalian sambil melirik kearah Bu Tati.


Mendengar ucapanku beberapa Ibu-ibu tersenyum lebar,, sedangkan Bu Tati semakin marah dengan muka yang merah padam.


Abbi langsung melangkah masuk kearah jalan menuju rumahnya yang berjarak sekitar 20 meteran dari pasar kecil tempat Abbi belanja.


"Aissshh, Orang sirik tanda tak mampu,, mereka hanya sirik makanya bergosip.. selama aku gak ganggu,, masa bodo sama omongan mereka" pikirku.

__ADS_1


__ADS_2