I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Belum Ada Jalan Keluar


__ADS_3

"Ibumu belum tahu masalah ini Nak, tapi dia tahu masalah yang lainnya lagi" ucap Ayah.


"Masalah apa lagi Yah??" tanyaku dengan terkejut.


"Kakakmu digugat cerai istrinya" ucap Ayah lagi-lagi dengan suara berat.


"Cerai Yahh? Kak Shinta menggugat cerai Kak Seno? tanyaku memastikan.


"Iya Bii,, Ibumu sedih sekali melihat nasib pernikahan Kakakmu,, dan melihat Kakakmu terlihat tertekan dan sangat kusut"


"Apa rumah tangga mereka tidak bisa diperbaiki lagi Yah?? ehmm Kakak sekarang tinggal dimana Yah, apa Kakak pulang kerumah?" tanyaku.


"Sepertinya tidak bisa Bii,, Kakakmu sempat memergoki Shinta berjalan berdua degan laki-laki lain,, sekarang Kakakmu tinggal dirumah"


"Apa Kakakmu sama sekali tidak menghubungimu buat curhat atau meminta bantuanmu Bii?" tanyanya lagi memastikan.


"Tidak Ayah,, Kakak sama sekali tidak pernah menghubungi Abbi,, hanya sesekali kirim pesan itupun hanya saling bertukar kabar,,tidak lebih Yah" jujurku.


"Lalu kondisi Ibu gimana Ayah?" tanyaku dengan cemas.


"Berdoa Nak,, hanya itu yang Ayah bisa katakan" ucapnya dengan nada kesedihan terselip disana.


"Ayah,, apa tidak sebaiknya Abbi membantu Kak Seno Yah?? kalau sampai Kak Seno dibawa kekantor polisi dan Ibu tahu masalah ini bukannya malah membahayakan kesehatan Ibu, Yah?"


"Ayah tahu Bii, tapi cukup kamu membantu Kakakmu,, jangan lagi,,! kamu sendiri harus mempersiapkan biaya untuk kelahiran anakmu kan?" ucap Ayah.


"Tapi Yahh,,,


"Tidak apa-apa Nak,, biar Ayah yang menangani masalah Kakakmu,, emm ngomong-ngomong kapan kalian pulang,, Ibumu merindukanmu" ucap Ayah mengalihkan pembicaraan kami.


"Emm, mungkin Minggu depan ya Yah,, Abbi pengennya pulang terus ngadain acara ucapan syukur untuk 7 bulan kandungan Abbi" jawabku.


"Wahh,, gak kerasa ya Nak tahu-tahu sudah 7 bulan,,. kalau Ibumu tahu kamu mau pulang terus merayakan 7 bulan kehamilanmu dirumah pasti dia senang sekali" ucap Ayah terdengar antusias.


"Iya Ayah, Abbi usahakan ya,, takutnya Kak Alex gak bisa pulang karena pekerjaannya" ucapku.


"Iya Kami mengerti,, tidak apa-apa, yang penting kamu dan bayimu sehat, rumah tanggamu rukun, adem ayem itu sudah cukup buat Ayah juga Ibumu" ucapnya tulus.


Tenggorokan ku seketika tercekat mendengar ucapan tulusnya,,

__ADS_1


"I, iya Ayah,, kami, kami baik-baik saja,, iya kami baik-baik saja" jawabku sambil menahan rasa sesak didada.


"Ya sudah ya Nak, kamu istirahat yang banyak, ingat jangan pikirkan masalah Kakakmu, dan Ayah minta kamu berjanji untuk tidak membantu kakakmu lagi. Biarkan Kakakmu belajar menjadi laki-laki sejati yang siap menerima semua konsekuensi dari setiap tindakan yang dilakukannya." ucap Ayah mengingatkan.


"Iya Ayah, Abbi janji" jawabku.


"Oke,, sudah dulu ya,, Salam buat Alex ya Nak,,"


"Daggh Ayah, salam untuk Ibu juga ya"


Lalu mematikan sambungan telepon kami.


Abbi terdiam beberapa saat,, mengingat percakapannya dengan sang Ayah.


Beban berat seolah kembali menindihnya,, Bagaimana dia harus jujur tentang keadaan rumah tangganya pada kedua orang tuanya.


Tidak bisa terbayangkan betapa hancur hati Ayahnya, terutama Ibunya jika sampai tahu dan melihat rumah tangga kedua anak kesayangannya sama-sama berada diujung tanduk.


Niatnya untuk berpisah, niatnya untuk kabur,, bahan niatnya untuk menentang Alex dan Farel seketika diurungkannya.


Nyalinya menciut seketika melihat kondisi keluarganya yang berantakan.


Tak mungkin lagi Abbi berani menambah beban berat dan rasa sedih dibahu Ibu dan Ayahnya.


Hari demi hari berlalu tanpa terasa,, hubunganku dengan Alex tetap hambar dan dingin, namun tidak ada kekerasan yang dilakukannya,, tidak lagi menyentuhku meski mulutnya tak berhenti menghina dan mencaci ku.


Diam dan tak ku balas semua ucapannya yang menyakitiku. Ku tutup telingaku,, ku ikhlaskan hatiku menerima semua perlakuan buruknya kepadaku.


Demi Ibu dan Ayahku, demi menjaga perasaan mereka aku diam dan menerima semua penghinaan darinya.


Beberapa hari lagi kandungannya akan memasuki usia 7 bulan.


Meski merasa enggan, mau tidak mau Abbi akhirnya memilih untuk mengirim pesan pada Alex, daripada harus berbicara berhadapan muka dengannya.


"Lusa, aku ijin pulang kerumah untuk mengadakan syukuran 7 bulan"


"Lusa aku antar,, jangan ge er dan berpikiran berlebihan, aku mengantar karena aku punya harga diri dan nama baik,, kalau kamu pulang sendiri, yang ada hanya akan ada gunjingan yang bisa mencoreng reputasi dan nama baikku"


"Hmm, Ku mengerti. Terima kasih"

__ADS_1


Abbi menarik napasnya dalam-dalam menatap deretan pesan dihapenya,, lalu tersenyum miris.


Deretan pesan ini adalan deretan pesan percakapan antar suami dan istri,,


Tapi deretan kata didepannya tidak menyiratkan bahwa percakapan itu dilakukan oleh sepasang suami istri.


Abbi melangkah masuk kekamar tanpa daya.


Menatap nanar kerah foto pernikahan yang memperlihatkan senyum kebahagiaan miliknya dan suaminya.


Sekilas bayangan manis 3 bulan pertama pernikahannya terlintas dimatanya.


Teringat ucapan janji berbulan madu, dan menikmati indahnya surga dunia yang dibisikkan oleh Alex kembali terngiang ditelinganya, membuat Abbi tersenyum kecut.


Bahkan janji untuk mengarungi hidup bersama sampai tua dengan saling menjaga dan saling percaya ternyata kini hanya tampak seperti sebuah bualan semata.


"Kata-kata mu terlalu indah, Mulutmu terlalu manis,, sayang semua hanya dusta" gumamnya lirih dengan wajah pahit.


Abbi meremas dadanya dengan kuat,, mengingat bagaimana 6 bulan terakhir ini dia selalu memandang jijik kearahnya., penghinaannya, bahkan kekekasarannya yang beberpa kali membuat Abbi hampir celaka ditangannya.


Waktu dan keadaan sungguh tidak berpihak kepadanya.


Dia bagai makan buah simalakama,


Maju terus menjalani biduk rumah tangga dengan Alex adalah neraka, Sementara mundur dari pernikahan adalah sebuah kehancuran yang bisa menyakiti hati kedua orang tuanya.


"Kalau saja Aku hidup didunia novel aku berharap penulis memberiku hidup dan takdir yang baik, yang hidup penuh kebahagian dan cinta, rukun damai sejahtera dengan keluarga." Abbi berandai-andai.


Tapi sayangnya ini adalah nyata,, bukan novel, bukan mimpi dan bukan pula dongeng.


Abbi memilih berdiam, menatap hari esok dengan penuh ketidak pastian. Kalau yang terbaik memang harus menjalani pernikahan ini maka dia akan tetap menjalaninya,


Tetapi kalau ada kesempatan baik untuk mundur dan menyelesaikan pernikahannya, itupun akan dilakukannya.


Rasa sakit tidak akan hilang dengan sendirinya, pun rasa bahagia tak mungkin datang begitu saja.


Semuanya harus berjuang untuk mengejar kebahagiaan, dan itu adalah keharusan.


Menyingkapkan kebenaran Abbi sudah usahakan, tapi lawan yang dihadapinya begitu licik.

__ADS_1


Sampai hari ini kebusukan Farel tidak terungkap juga.


Hingga untuk sementara dia harus ikhlas menikmati luka yang ditorehkan suaminya, akibat sebuah kesalahan yang tidak pernah diperbuatnya.


__ADS_2