
Semenjak saat itu, tak sekalipun Abbi menawari suaminya sarapan.
Semua masakan sudah terhidang dan sudah menjadi kebiasaan Abbi selama beberapa bulan terakhir ini dia makan seorang diri..
Seminggu berlalu, upaya Abbi menghubungi Farel belum juga membuahkan hasil.
Farel seolah tahu niat Abbi untuk menjebaknya melalui percakapan telpon.
Siang ini setelah bangun tidur,, Abbi tiba-tiba ngidam ingin makan es krim.
Melihat kedalam dompetnya masih ada sisa uang beberapa ratus ribu.
Cepat-cepat Abbi bangun, lalu memesan taksi menggunakan hapenya.
Tepat setelah berganti pakaian, taksi yang dipesannya datang dan menuggu didepan pagar rumah.
Abbi keluar dan mengunci pintu rumah lalu masuk kedalam taksi.
"Pak tolong ke Cafe EsCimo, kafe yang didepan komplek perumahan Graha"
"Oh, iya Mbak siap" jawab Pak sopir.
Tak sampai 10 menit Abbi sudah sampai di cafe yang menjual aneka es krim, selesai membayar taksi, dia turun dengan senyum tipis tersungging dibibirnya.
Dengan hati senang Abbi masuk kedalam, mengambil tempat duduk di dekat jendela kaca, dan membelakangi pintu masuk cafe.
Abbi melihat pemandangan taman didepannya dengan orang yang lalu lalang ditrotoar yang ditata oleh pengembang perumahan dengan sangat teratur.
"Silahkan Mbak, mau pesan apa?" ucap seorang gadis pelayan cafe sambil menyodorkan daftar menu berwarna kuning Oren yang segar dengan gambar aneka es krim dan juga kue yang menggugah selera.
"1 Banana split , 1lemon tea , sama 1 rainbow cake"
"Ada tambahan lain Mbak?" tanyanya ramah sambil masih mencatat pesanan ku.
"Untuk sementara itu dulu Mbak!"
"Baik Mbak,, Permisi. Untuk pesanannya mohon ditunggu sebentar ya"
Abbi menganggukkan kepala.
Sepeninggal pelayan Cafe sambil bertopang dagu Abbi melihat kearah luar cafe.
"Apa aku kerja saja ya? tapi siapa orang yang mau mempekerjakan orang hamil seperti aku? Tapi kalau aku kerja apa Alex bisa terima atau malah membuatnya makin marah dan membenciku?" pikir Abbi.
"Permisi Mbak,, maaf ini pesanannya" ucap pelayan Cafe sambil bersiap menaruh pesananku.
"Eh ,iya Mbak terima kasih" jawabku tergagap.
__ADS_1
"Ahh bodook sama masalah,, kita maka Es krim yang kamu mau ya Nak!" gumam Abbi sambil mengusap perutnya yang membuncit.
Matanya berbinar melihat 3 scoop eskrim coklat vanila ditata diatas pisang dengan toping choco chip yang melimpah, dan wafle crispy berbentuk segitiga.
*kriuk* Abi menggigit dan menikmati wafle crispy dengan nikmatnya.
"Segernya,, " Abbi menikmati es krimnya dengan tenang hingga tanpa terasa seporsi Banana split habis bersih tak bersisa.
Kini tangannya beralih mengambil rainbow cake dipiring kecil yang terhidang didepannya.
Memotong dengan sendok kecil dan menyuapkan kemulutnya,,
Abbi benar-benar menikmati sore dicafe dengan tenang,, menggigit manis dan lembutnya kue warna-warni yang dipesannya.
Suapan terakhir baru masuk kedalam mulutnya,,
"Kamu begitu menikmatinya,, apakah enak makan sendirian?"
*uhukkk*
Abbi tersedak ketika tiba-tiba ada tangan yang menepuk bahunya dari belakang dan terdengar suara yang familiar dipendengarannya.
Pria brengs3k yang selama 1 Minggu lebih ini dia coba hubungi.
Farel langsung duduk didepannya dengan senyum mengembang dibibirnya.
Abbi segera mengambil minumnya,, dan meneguknya hingga rasa sakit akibat tersedak sedikit berkurang.
Sayang niatnya sudah terbaca oleh pria gila yang sekarang duduk dengan menyilangkan kakinya sambil menatap tajam kearahnya.
"Duduk,, jangan membuatku menyuruhmu sampai 2 kali" ucap farel dengan suara datar namun mengandung ancaman.
Abbi dengan kesal duduk kembali ke kursinya.
Kalau tidak ingat ini ditempat umum dan foto ciuman Farel bersama dengannya masih ada ditangan Farel, ingin sekali Abbi mengguyurkan lemon tea yang masih tersisa kewajah pria tidak tahu malu didepannya itu.
"Ada apa menelponku?!" tanya Farel.
"Tidak ada,, aku hanya mau meminta tolong untuk yang terakhir kalinya aku mohon kamu jelaskan semua kesalah pahaman ini sama Alex" ucapku sambil berusaha menyalakan perekam dihape yang aku bawa.
"Kesalah pahaman apa? kesalah pahaman mana yang kamu maksud?" tanyanya sambil menyeringai.
"Dasar licik,, kurang ajar" batin Abbi.
"Sudah lah Kak,, aku permisi" aku putus asa mendengar ucapan Farel.
Abbi tidak menyangka pria didepannya begitu licik dan sulit untuk ditebak.
__ADS_1
Membalikkan pertanyaan seolah apa yang terjadi adalah kejadian suka sama suka, bukannya jebakan yang dibuat oleh Farel untuk mendapatkannya.
"Temani aku makan,, Jagan pulang atau kamu tahu akibatnya" ucapnya dengan tenang sambil melambaikan tangannya kearah waitres.
"Maaf aku harus pulang, aku tidak mau Alex semakin salah paham denganku!" jawabku sambil bangkit berdiri.
"Aku tidak perduli dengan perasaan atau pendapat Alex,,
"Tapi aku perduli" sahutku dengan cepat.
"Silahkan pulang, tapi jangan salahkan kalau foto ini aku kirim ke nomor Ayahmu!" ucapnya sambil menyandarkan kepalanya di sandaran kursi terlihat tenang namun mengerikan.
"Brengs3k" umpat Abbi dalam hati sambil mengepalkan tangannya.
"Kenapa kamu tega sama aku Kak? apa salahku?" tanyaku sambil duduk kembali dengan menahan kemarahan yang terasa ingin meledak sampai diubun-ubun.
"Tega? tega yang mana sayang,,? Aku mencintaimu,, kamu juga mencintaiku kan?? Dan aku sudah berjanji untuk membahagiakan mu lebih dari yang bisa suamimu lakukan,, apa itu tidak cukup untukmu sayang?" ucapnya sambil tersenyum.
"Kamu ini ngomong apa??" tanyaku dengan perasan tidak enak.
"Sayang sudahlah,, kita disini hanya berdua,,jujurlah pada perasaanmu. Sekarang tinggal kamu bercerai dari Alex dan semuanya pasti beres,, aku yakin kita bisa bahagia bersama" ucapnya lagi.
"Dasar gila,,, siapa yang mau bercerai dari Alex dan tinggal bersamamu? Lalu tentang perasaanku? aku tidak punya perasaan apa-apa sama kamu, jangan mengada ada!" ucapku dengan nada tidak senang.
"Pembicaraan ini jelas tidak nyambung aku permisi!" pamitku dan segera berdiri.
"Aku antar!" ucap Alex.
"Tida aku pulang sendiri, aku tidak mau Alex lebih salah paham lagi!" tolakku dengan tegas.
"Aku tidak perduli, ikut aku atau tanggung sendiri akibatnya" tekan Farel, langsung meraih tanganku lalu menggandengku dan memaksaku untuk masuk kedalam mobilnya.
"Lepas Kak, atau aku berteriak!" ancamku.
"Jangan mengancam ku, kamu tahu aku bisa melakukan hal yang tidak bisa kamu bayangkan, sekarang diam dan menurut!" ucap Farel dengan menatap tajam kearahku.
Seketika nyali Abigail menciut.
Badan Farel tinggi besar,, dibandingkan Abbi yang mungil dan sedang hamil besar apa yang bisa Abbi lakukan untuk melawan seorang Farel.
Menghubungi Alex dan minta tolong, lalu menambah besar kesalah pahaman yang ada. Tapi berdiam dan menuruti Farel juga membuat masalah semakin besar.
Sama seperti buah simalakama,, maju salah, mundur juga salah.
"Kak Seno,, apa Kak Seno bisa menolongku?" pikir Abbi yang tiba-tiba mengingat kakak lelakinya.
"Bodoh,, aku ada di kota S,, dia dikota J, bagaimana cara menolongku! Tuhan tong selamatkan aku dari niat buruk orang ini Tuhan" batinku.
__ADS_1
Baru saja pintu mobil dibukakan Farel,,
"Abbiii!!"