
Sepeninggal dokter, Farel yang tadi berdiri sambil bersandar ditembok disamping kiri tempat tidurku kini mulai berjalan mendekat.
"Kamu sudah seperti ini belum mau menyerah dengan pernikahanmu,, apa yang kamu tunggu lagi" cibirnya.
"Bukan urusanmu!" ketusku.
"Tentu saja urusanku,,, Aku menunggumu!" ucapnya.
"Aku tidak menyuruhmu menungguku,, sejak awal aku hanya memandang suamiku bukan kamu!"
"Ahh sialan saat aku mau jebak ga bisa sekarang gak ada hp ini manusia nongol" gerutuku dalam hati.
"Kamu harus jadi milikku!"
"Lebih baik aku mati daripada hidup sama kamu!" ancamku.
"Kamu gak akan berani" cibirnya
"Jangan menantangku, dan berhenti mengusikku!" tegasku.
"Aku tidak menantangmu, tapi ingat apapun yang kamu lakukan, semakin kamu menolakku maka kamu juga harus bersiap dengan nasib orang tuamu!"
"Pengecut, kamu hanya bisa mengancam ku" ejekku.
"Apapun aku lakukan,, asal itu untuk mendapatkanmu!" ucapnya sambil menatap aneh kearahku.
"Kamu gila,,!" marahku.
"Setiap perempuan yang bertemu denganku selalu tergila-gila sama aku,, bahkan tidak sedikit yang rela untuk menjadi yang kedua,,
"karena mereka buta.." potongku dengan ketus tak menunggu dia menyelesaikan ucapannya yang bagiku sangat menjijikkan.
"Apapun katamu sayang,, aku menunggumu,, jangan buat aku lebih lama menunggumu,, aku sudah memberimu toleransi,, awalnya 1 bulan bahkan sampe sekarang sudah berbulan-bulan jawabanmu tidak memuaskanku! kesabaranku mulai menipis sayang" ucapnya dengan wajah mengancam.
"Sampai kapanpun jawabanku tetap sama" tegasku.
"Kalau begitu kamu harus bersiap"
"Semakin kamu mengancam ku semakin aku membenci dan tidak ingin melihatmu!" ucapku membalasnya dengan tatapan tajam.
"Aku tidak perduli" sambil tersenyum.
"Pergi,," ucapku sambil membalikkan badan membelakanginya.
"Kamu tidak bisa mengusir ku baby"
Abbi memilih menutup telinganya dan memejamkan mata.
__ADS_1
*klekk* terdengar suara handle pintu dibuka.
Kali ini aku bernafas lega, Farel sudah keluar dari kamarku.
Dengan tekad kuat aku menarik selang infus ditanganku, darah seketika mengucur keluar tapi tidak ku perdulikan.
Aku tidak perduli meski tubuhku terasa sakit dan lemas, bahkan pandangan mataku yang berkunang-kunang akibat tekanan darahku yang rendah,, aku sudah mengambil keputusan aku harus keluar dari ruang sakit sekarang juga.
Aku merasa tidak aman dan tenang dikamar ini sendirian. Kau memeriksa lemari kecil didepanku, dan aku lihat daster milikku terlipat didalamnya.
Segera aku bawa daster berwarna biru itu kedalam kamar mandi dan mengganti pakaian rumah sakit dengan daster milikku.
Selesai mengganti bajuku aku bersiap keluar, aku memegang handle pintu.
*cklek*
Mataku seketika terbelalak melihat Alex berdiri didepanku,
"Kamu mau kemana!??" tanyanya dengan dingin.
"Pulang" jawabku datar.
"Kamu tidak bisa pulang,, kamu belum pulih" ucapnya.
Aku menerobos keluar, mengabaikan teguran Alex,
*grepp* Alex menangkap pergelangan tanganku dan memegangnya dengan kuat.
"Lepaskan, Aku mau pulang sekarang" jawabku juga dengan dingin dan tanpa menatapnya.
Pandangan mataku semakin kabur,, tanpa aku sadari ternyata darah masih keluar dari lubang bekas jarum infus yang aku tarik dengan kasar.
Segera tanganku memegang dinding rumah sakit untuk menopang ku berdiri.
"Jangan keras kepala,, jangan cari mati kamu!" ucap Alex.
"Hehh,, aku memang cari mati,, apa itu masalah buatmu Tuan Alex??" sinisku.
"Masukk!" perintahnya lagi.
Aku mengibaskan tanganku yang masih digenggamnya dengan kuat, setelah berhasil lepas, aku berjalan menjauhinya, meski dengan terhuyung-huyung.
"Sh!!ttt!" Alex mengumpat.
Alex mempercepat langkahnya dan menyusul Abbi.
Tanpa permisi, Alex langsung memegang bahuku, dan langsung menggendongku.
__ADS_1
"Jangan keras kepala,, atau aku akan semakin menyiksamu!" ancam Alex.
" Aku tidak perduli, jangankan kamu siksa kamu bunuhpun aku tidak takut,, bagiku hidup atau mati sudah tidak ada bedanya, sekarang tolong turunkan aku Tuan Alex yang terhormat,, Pria terhormat sepertimu tidak seharusnya menggendong pel@cur sepertiku! sekarang turunkan Aku!!" ucapku sambil menatapnya penuh dengan kemarahan sekaligus kekecewaan dihati.
"Aku ingatkan kamu sialan,, jangan menantangku,, apa kamu lupa dengan keadaan Ibumu?!" ucapnya sambil menurunkan aku diatas tempat tidur.
Tiba-tiba,
"Ha.. ha.. ha... luar biasa.. luar biasa,, kalian hanya bisa mengancam ku,, ha.. ha.. ha!" Abbi tertawa pahit dengan air mata yang berderai.
Keadaannya terlihat begitu mengenaskan.
Hanya dalam hitungan menit dua orang pria mengancamnya dengan cara yang sama.
"Ha.. ha.. ini lucu sekali., ini lucu sekalii. ha.. ha..." Abbi terus tertawa dengan wajah begitu mengenaskan.
Sementara Alex segera memencet bel darurat didekat tempat tidur pasien.
Dokter dan seorang perawat masuk dengan tergesa-gesa.
Keduanya langsung menatap Abbi dengan prihatin, Abii terus tertawa seolah melihat tontonan lucu, tapi berbeda dengan ekspresi yang ditampilkannya, tawa yang keluar dari bibirnya terdengar begitu menyayat hati,, disertai air mata yang terus mengalir.
Matanya yang sembab, lengannya yang berlumuran darah,, tatapan matanya yang kosong dan tanpa semangat membuat miris orang yang melihatnya.
Dengan cepat perawat memegang lengan Abbi, dan membersihkan darah yang ada dilengannya,, menutup bekas luka dengan plester.
Dengan cekatan perawat itu memasang kembali infus yang tercabut, sementara dokter dengan terpaksa menyuntikkan sedikit obat penenang yang aman untuk ibu hamil diselang infus.
"Permisi Pak, bisa kita bicara?" tanya dokter setelah Abbi tertidur dengan tenang akibat reaksi obat yang disuntikkan olehnya.
"Silahkan dokter" ucap Alex dengan datar.
"Kondisi istri anda sangat memprihatinkan, Saya tidak tahu masalah apa yang sedang menimpa keluarga anda, tetapi setidaknya bisakah anda membantu pasien menjaga emosinya. Ini demi kebaikan Ibu dan juga anak bapak yang ada didalam kandungannya" ucap Dokter perempuan yang tadi sempat memeriksa kondisi Abbi.
"Baik dokter akan saya lakukan" jawab Alex.
"Tolong ya Pak, dibantu dan didukung istrinya. Kasihan istri anda" ucapnya.
Alex menganggukkan kepalanya.
"Kami permisi" ucap dokter itu.
"Kenapa bisa jadi separah ini!? kalian?? kamu bilang tadi kalian mengancam ku?? maksudmu siapa Bi? siapa yang mengancammu selain aku Bii,,? sebenarnya ada apa denganmu?" gumamnya sambil menatap wajah Abbi yang tertidur dengan tenang, namun air matanya masih menetes.
Tampak begitu menyedihkan dan mengenaskan.
Tangan Alex terjulur, mengusap air mata yang menetes dari mata Abbi yang terpejam.
__ADS_1
"Melihatmu seperti ini akupun terluka Bi,, aku juga hancur,, kamu sangat menyakiti ku Bii,, " gumam Alex.
****hiks.. hikkss ,, sedihnya,, kolom like dan komentar begitu sepi tidak ada yang menemani.. mana dong suaranya.. aihh jadi lemes tak bersemangat tanpa dukungan para Readers..🙏🙏 Ditunggu like n komentar nya yaa.. terimakasih.