
Seno yang terkena lemparan sepatu adiknya segera melotot kearah Abbi.
"Kamu ini apa-apaan,, main lempar orang sembarangan!!" marah Seno.
Kerasnya suara Seno membuat beberapa pengunjung rumah sakit yang sedang parkir ataupun lewat didekat mereka sampai menoleh dan melihat pertengkaran kedua kakak beradik itu.
Tapi Abbi yang sudah terlanjur emosi tidak memperdulikan keadaan sekelilingnya.
"Kakak yang apa- apaan!! Ibu sedang berjuang bertahan hidup,, tapi Kakak?? Kakak ini anak kandung Ibu,, bagaimana bisa kakak makan direstaurant mewah, pesta-pesta bersama para benalu itu sementara Kakak mengabaikan Ibu yang sedang bertaruh nyawa!! Dimana otakmu!!! Dimana hatimu!!" teriak Abbi dengan emosi.
"Kamu.. Jangan sembarangan ngomong!!. kamu tahu dari mana? itu fitnah!" bantah Seno mengelak.
"Hey setannn!!! jangan pancing emosiku!!" teriak Abbi.
"Yang sopan kamu Dek!!" bentak Seno.
"Kenapa aku harus sopan?? Haah kenapa aku harus sopan pada Kakak yang durhaka seperti Kakak,, jangan kamu pikir aku nggak tahu apa-apa ya!! Kakak tega menggadaikan mobil Ayah,, apa itu juga fitnah,, kemarin Kakak pesta direstaurant kakak bilang fitnah sedangkan Aku lihat sendiri dengan mata kepalaku!! Dasar Kakak brengsek!!" umpat Abii.
"Cukup BII!!"
*Plaakkkk* Seno kehilangan kendali.
Dia menampar Abbi dengan kasar.
"Tampar lagi,, tampar Kak!!" tantang Abbi dengan mata berkaca-kaca.
"Kamu hanya punya nyali untuk menyakiti keluargamu,, keluarga Kan-dung-mu!! tapi gak punya nyali untuk mengatur para benalu yang menempel di sampingmu!" Abi mendorong tubuh kakaknya yang berdiri didepannya dengan kedua tangannya.
Hingga membuat Seno terhuyung kebelakang.
"Jaga ucapanmu Bii!!" bentak Seno dengan suara keras.
Seno berdiri kembali dengan tegak.
Dengan penuh emosi kembali dia mengangkat tangannya bersiap menampar Abbi untuk kedua kalinya.
Abbi memejamkan matanya, ketika dia melihat tangan Kakaknya terangkat.
Menunggu beberapa saat, tapi justru,
"Beraninya kau memukul Abbi!" bentak Ayah mengejutkan aku dan juga Kak Seno.
Terlihat Ayah dengan wajah dingin dan matanya yang tajam berjalan dengan cepat membelah kerumunan orang yang menonton pertengkaran kami.
"A,, Ayah..!" panggil Seno dengan gugup.
"Keterlaluan kamu Seno!" bentak Ayah.
"Tapi Ayah,, Abbi yang memulai duluan!" Seno menyalahkan ku.
"Kakak pengecut sepertimu,, aku menyesal mengakuinya!"
"Abbi!!" tegur Ayah dengan suara sedikit keras.
"Kalian berdua sedarah,, apa tidak malu ribut didepan umum Samapi menjadi tontonan seperti ini!! Dan kamu Seno,, Kamu Kakak tertua seharusnya bisa menjaga dan melindungi adikmu!! tapi apa ini! kamu benar-benar mengecewakan Ayah! Lancang sekali kamu menampar Abbi!!"
__ADS_1
"Ayah,, maaf,, Seno khilaf"
"Khilaf kok setiap hari" Nyinyirku.
"Cukup Abii!!" Ayah memperingatkan ku.
"Tapi Ayah!!"
"Ayah bilang cukup,, ya cukup,,! Seno kamu pulang sekarang,, dan ingat Ayah tidak mau kejadian seperti ini terulang lagi,,!" ucapnya dengan tegas.
"Baik Ayah,, Maaf"
Seno segera mengambil motornya dan pulang ke kost.
"Tapi Ayah,, Kak Seno,, dia yang salah,, Kak Seno keterlaluan!" ucapku sambil menahan tangis.
Abbi masih tidak terima dengan sikap Kakaknya.
"Apakah dengan kamu marah Kakakmu bisa berubah? apa dengan memakinya dia bisa menjadi seorang Seno yang lebih menghargai keluarga kandungnya??"
Abbi terdiam mendengar pertanyaan dari Ayahnya.
"Tidak akan ada yang berubah dari sikap kakakmu,, kita hanya bisa mendoakannya, dan mengingatkannya,, jangan hanya pecah persaudaraan hanya karena masalah kecil,, belajarlah lebih bersabar!" sambil mengusap pipi kiriku yang merah terkena tamparan Kak Seno.
"Ayah juga Ibu terlalu sabar sama Kakak,, aku sedih kehilangan Kakak yang selama ini sangat perduli pada kita,, Kakak terlalu banyak berubah!"
"Ayah mengerti.. bersabarlah Nak"
"Ayo kita kembali kekamar Ibumu, Ayah takut Ibu kenapa-kenapa atau mencari kita"
"Ayah duluan saja,, Abi ijin jalan sebentar ya Ayah" pintaku.
"Iya Ayah!" dan berjalan dengan gontai meninggalkan parkiran motor.
Kaki Abigail terus berjalan menyusuri trotoar disepanjang jalan menuju taman kota yang berjarak sekitar 1 kilometer dari rumah sakit.
Malam mulai menggantikan semburat merah senja diufuk barat, dan mulai digantikan gelap malam yang merayap pekat.
Abbi terus melangkah dan masuk kedalam taman kota untuk menenangkan diri.
Setelah memilih tempat duduk disudut taman dibawah pohon palem yang berjajar rapi,, suasana taman bukan hanya sepi tapi juga sedikit gelap karena lampu taman tak semuanya menyala.
Abbi menangkupkan kedua tangannya dan menutupi wajahnya dengan rapat,
Abbi mula menangis meluapkan emosi yang belum keluar semuanya.
"Bodoh,, Tolol,, !! Kamu sudah buta karena cinta,, bisa-bisanya kamu mengabaikan keluarga kandungmu!! Ada waktu untuk mereka,, tapi tidak ada waktu untuk Ibu kandungmu sendiri!! Sementara Ibu tak pernah sedikitpun tidak mengingatmu anak kesayangan Ibu!" ucap Abbi dalam hati sambil menangis tergugu.
Puas menangis.. Abbi menarik napas dalam-dalam.
Setelah tenang dia mengambil hape dari dalam saku celananya.
Jari-jari mungilnya mulai lincah mengetikkan pesan,
"Kak Seno, Maaf Aku sudah nggak sopan sama Kakk, Maaf tadi aku terlalu emosi,, Maafkan Abbi ya Kak"
__ADS_1
"Iya Dek,, Kakak juga minta maaf ya tadi Kakak menamparmu"
"Iya Kak"
"Kakak aku hanya mau memberitahu bagaimana kondisi Ibu sebenarnya,, supaya Kakak tidak menyesal dikemudian hari. Kak, Kanker yang diidap Ibu termasuk kanker ganas,, selesai operasi ini ibu masih harus menjalani Kemoterapi entah untuk berapa lama,, dan lagi itu tidak menjamin kesembuhan Ibu. Abbi harap Kakak mau meluangkan waktu untuk menemani dan menyemangati Ibu,, karena dari dulu Kakaklah anak kebanggaan dan kesayangan Ibu,,!"
"Iya Kakak akan usahakan, Terima Kasih"
"Terserah Kakak"
Selesai berkirim pesan, Abbi keluar dari taman kota dan berjalan kembali kearah rumah sakit.
Mampir di warung tenda untuk membeli dua gelas kopi dan nasi bungkus untuknya dan juga ayahnya.
Abbi lalu melanjutkan perjalanannya menyusuri koridor rumah sakit dengan semua bau karbol yang tercium kuat dihidungnya.
"Ayah,, Ibu!" panggil Abbi, saat melihat Ayahnya sedang menyuapi Ibu makan malam.
"Kamu kenapa Bi?" tanya Ibu yang melihat wajah sembab dan pipi merah Abbi.
"Ohh,, gak apa-apa Bu,, tadi ada nyamuk waktu bercanda sama Kakak,, seperti biasa Kak Seno mukul nyamuknya kekencangan,, jadinya ya merah begini,," tutup Abbi.
"Tapi masa sampe semerah itu Bi?" tanya Ibu tidak percaya.
"Yeee,, Ibu kan tahu sejahil apa Kak Seno kalau bercanda,, kalau belum bikin Abbi emosi dan nangis mana berhenti!" cerocosku sambil memanyunkan bibirku.
"Yakin?? kamu gak sedang menutupi sesuatu dari Ibu kan?" dengan tatapan mengintrogasi.
"He.. He.. ya nggak lah Bu,, apa perlu Abi telpon Kakak, baru Ibu percaya?" tantang ku meyakinkannya.
Ibu hanya diam sambil menatap wajahku.
"Oh iya Ayah tadi Abbi beli kopi sama makan malam buat Ayah!" ucapnya mengalihkan interogasi ibunya.
"Ayah makan dulu, biar Abbi yang lanjut menyuapi Ibu ya!"
"Gak usah,, ini sudah hampir selesai,, kamu makan dulu saja,,!" tolak Ayah.
"Ya ampun Buu,, aku jadi iri melihat Ayah menyuapi Ibu,, jiwa jomblokku meronta-ronta nich Bu!" ucap Abbi mengajaknya bercanda.
"Kamu ini,,! ibu disuapi kan karena sakit,, bukan adegan romantis seperti disinetron Tersanjung". balas Ibu.
"Aissh tetap saja Abbi iri!"
"Ya sudah sini Ayah suapi,, " sambil mengarahkan sendok bubur kebibir Abbi.
"Ahh gak mau Yah,, makanan rumah sakit gak enak!" tolakku.
"Katanya iri minta disuapin!!"
"Iya sich tapi jangan pake bubur rumah sakit juga dong Yah?" sambil mencebikkan bibirnya.
"Ha..ha.. terus kamu maunya disuapin apa!?" tanya Ayah sambil tertawa kecil.
Sementara ibu hanya tersenyum menahan tawa melihat tingkah Abbi.
__ADS_1
"Ya makanan restoran gitu Yah,, paling tidak ya nasi bungkus yang aku beli gitu Yah!"
"Ha.. ha.. maumu Bii!" sambil menggelengkan kepalanya.