
Haripun berlalu dengan cepat, dan ujian semester tiga juga sudah selesai.
"Hallo Kak,, jadi ke kost?" tanya Abbi lewat telpon.
"Hmm,, bentar lagi Bu,, 15 menit lagi aku sampai,, kamu siap-siap aja ya!"
"Sudah siap dari tadi kok!"
"Okee.. Kaka matikan dulu telponnya ya!"
"Hmm, hati-hati dijalan ya Kak"
Tepat 15 menit Alex datang menjemput Abbi.
"Kita mau kemana Kak?"
"kita ke Mall saja ya,, makan sekalian nonton"
"Boleh Kak!" jawabku dengan senang.
"Oh iya Kak,, emm besok aku mau pulang kampung!" ucapku lagi.
"Lama dong?" tanyanya sambil melirik kearahku.
"Ya paling 3 mingguan juga sudah balik Kak..,,!"
"Yahh lama dong,, ntar kalau aku kangen sama kamu gimana?" rayunya.
"Yeeii,, lewat telpon kan bisa,,!"
"tapi kan ga bisa..
*cupp* Alex mencium pipiku saat mobilnya tepat berhenti di lampu lalu lintas yang menyala merah.
"Yee pintar yaa modusssnya..!" sambil mencubit lengan Kak Alex.
"Ha..ha.. mau gimana lagi,, aku sudah selesai skripsi,, jadi kan banyak waktu kosong pinginnya Deket sama kamu terus!" ucapnya menggombal.
"Bukannya Kak kerja ya?"
"Iya,,. tapi kan masih training, jadi kerjaan juga gak terlalu banyak" jawabnya beralasan.
"Tapi kalau training biasanya malah banyak ya Kak pekerjaannya?" tanyaku dengan heran.
"Tauu,, ditempat Kak kerja masih santai tuh!" jawabnya sekenanya.
Alex kemudian memarkirkan mobilnya dilantai basement mall bertanda UG 01.
Alex kemudian memegang tanganku,,
"Emm kita nikah yuk Bi" ucapnya
"Hahh??" aku melotot terkejut kearahnya.
"Iya kita menikah yuuk!"
"Bercandanya nggak lucu Kakk!"
"Siap yang bercanda?? aku serius Bii!" ucapnya sambil menatap wajahku.
"Tapi Kak,, kita baru aja baru jalan 6 bulan,, belum saling mengenal,, terus kuliahku juga belum selesai"
"Kan menikah sambil kuliah gak masalah Bi?"
"Isshh kamu nih Kak,, masa melamar ku ga ada romantis-romantisnya sama sekali." ucapku berkelakar.
"Jadi kalua aku kekamarmu dengan romantis kamu pasti nerima ajakanku kan??"
"Ha,, ah..itu.. emm boleh aku pikirkan dulu gak? kasih aku waktu ya?"
Alex menganggukkan kepalanya, tangan kanannya memegang daguku dan menatapku dalam-dalam.
Perlahan Alex mendekatkan wajahnya kearahku,,
Spontan Abbi menutup matanya dan menerima kecupan hangat dibibirnya.
*deg..deg..* jantungnya berdebar dengan kencang.
"Wajahmu merah,, imut sekali" bisik Alex
Majah Abbi pun semakin memerah karena malu.
Kencan hari ini pun berakhir dengan bunga cinta yang meledak dihati masing-masing.
Keesokan paginya, dijemput oleh sang kekasih,, Abbi diantarkan Alex di pos travel.
__ADS_1
"Terima kasih Kak" ucapku sebelum keluar dari mobilnya.
"Tunggu Bii!" ucap Alex sambil memegang tanganku.
"Iya Kak??" tanya ku dengan heran.
Alex menarik tanganku kalau mendekapku dengan erat.
"Samapi dirumah jangan lupa telpon aku ya!"
"Siap Kak"
*Cupp* Alex mengecup bibirku.
"Kakk!,, aku harus turun,, tuhh travelnya nungguin,, kalau aku ditinggal gimana?"
"Ya gak apa-apa,,, jadi kau ga usah pulang" jawabnya dengan santai.
"Yeee,, maunyaa!!"
"Bii jangan lupa yaa,, aku tunggu jawabanmu!"
"Hmm"
Abipun segera keluar dari mobil Alex dan masuk kedalam mobil travel yang masih menunggu penumpang lainnya.
Kini Abbi benar-benar bingung dengan permintaan Alex.
Meski takut dan khawatir dengan reaksi kedua orang tuanya,, Abbi akhirnya memantapkan hatinya untuk membicarakan masalah permintaan Alex pada keluarganya.
4 jam lebih perjalanan dia tempuh. Akhirnya,,
"Ibu,, putri cantiik pulang” ucapku dengan riang.
“Gimana kuliahmu Bii? Tanya ibu sambil memelukku dengan hangat.
“Baik Bu,, aman, lancar terkendali’ ucapku.
“Syukurlah,, ayah juga Ibu lega mendengarnya” ucapnya.
"Kamu pasti capek,, sudah istirahat dulu sana,, mati sore ibu bikinin pisang goreng coklat" ucap Ibu.
"Waaahh ibuku ini memang terbaik dan tercantik sedunia!" ucapku sambil memeluknya lagi dengan erat..
Abbi kemudian bergegas mandi dan istirahat dikamarnya.
"Ehhmm wanginya,, enakk,, ahh jadi laperr!" sungut Abbi.
Abipun merapikan rambutnya dan segera kedapur,,
"Ibuu,, mau satuuu" ucap Abbi sambil mencomot pisang goreng yang sudah matang.
"Awas masih panas Bii!" tegur Ibu sambil membuat teh hangat di teko kaca.
"Enak Buu" ucapku sambil mengunyah..
Tak berapa lama, Ayah keluar dari kamarnya,,
“Bii..!” panggi Ayah.
“Iya Yah..”jawabku sambil berjalan mendekat ke arah Ayah yang sedang duduk diruang tamu..
Ibu kemudiaa membawa teh dan cangkir ke ruang tamu.
"Tehnya Yah!" ucap Ibu sambil memberikan secangkir teh hangat pada Ayah.
Kami bertiga duduk dengan santai sambil menikmati teh hangat dan pisang goreng buatan Ibu..
"Abbi Ayah sama Ibu mau tanya sesuatu" ucap Ayah sambil menatap kearahku.
“Ada apa Bu.., Yah?” tanyaku penasaran.
“Kami mau membicarakan hal penting denganmu sayang,, tapi kamu jawab yang jujur ya” Ucap Ibu.
“Gimana hubunganmu sama Yogi Bi?” tanya Ayah yang memang sudah mengenal Kak Yogi sejak aku jadian dari sma dulu.
“Emm,, kami sudah putus Yah” jawabku.
“Kenapa?” tanya Ibu.
“Emm itu Bu,, Abbi kerasa ga cocok aja sama Kak Yogi,, dia terlalu kaku dan perfeksionis” jawabku jujur.
“Tapi dia pemuda yang baik, dan gak neko-neko Nak” ucap Ayah.
“Bahkan dia juga aktif melayani di gereja Sillo” ucap Ayah yang sejak pernikahan Kak seno dengan kekasihnya satu setengah tahun yang lalu berjemaat di gereja Sillo.
__ADS_1
“Gak neko-neko apaan, Ayah saja yang ga tahu!” batinku.
“Mau bagaimana lagi Yah,, Abbi memang ga cocok sama dia”
“Kenapa kamu gak kasih kesempatan lagi sama dia Nak?”tanya Ibu.
“Entahlah bu, aku nggak nyaman sama kak yogi” ucapku.
“Dia, benar-benar anak baik Nak, Ayah takut kalau kamu meninggalkan Yogi dan mendapatkan penggantinya tapi tidak sebaik anak itu” ucap Ayah sambil menghela napas panjang.
“Tenang saja Yah, Abi akan hati-hati dan pastinya nggak sembarangan pilih kok” ucapku.
“Wah pisangnya manis ya Yah,,” ucapku mengalihkan pembicaraan sambil menggigit pisang goreng yang masih hangat.
“Iya,, manis semanis senyuman ibumu” rayu Ayah sambil mengerlingkan matanya kearah ibu.
“Aman, berhasil ga bahas dia lagi” pikirku.
“Ayahhh,,, jangan mulai lagi yaa..!!” teriak Ibu sambil memelototi suaminya dengan muka merah karena malu.
“Ha.. ha.. ha” Aku tertawa melihat ibuku yang biasanya memasang wajah galak sekarang terlihat malu-malu saat di goda oleh ayah.
Kami bertiga terus bercanda di ruang tamu sekaligus menjadi ruang keluarga di rumahku yang tak terlalu besar ini.
Untuk sesaat aku memandang wajah cantik Ibuku yang baru berumur 41 tahun, dan bergantian memandang pria tinggi dan berwajah cukup tampan didepanku yang sudah berusia 49 tahun.
Ayahku berwajah dingin, tapi didepan kami, terutama didepan ibu, ayahku akan menjadi sosok yang hangat bahkan terkadang juga romantis jika sudah bersama Ibu.
“Sudah yah jangan goda aku lagi atau ga akan ada jatah untukmu sampai 1 minggu ke depan..!” ancam ibuku dengan wajah masih memerah.
“Berani kamu ga kasih jatah,, Ayah juga ga akan kasih bonus dari kantor yang akan keluar besok” ucap ayah mencoba mengancam balik Ibu, sambil tersenyum penuh kemenangan.
“Berani kamu korupsi dan mengancamku,, besok ibu masakin khusus untuk Ayah tumis sandal jepit mau!!” ucap Ibu tak mau kalah.
Ayahpun terdiam, karena kami semua tidak pernah suka kalau harus makan di luar karena bagi kami masakan Ibu tidak ada tandingannya.
“Ampun Nyonya besar Ayah tadi hanya bercanda saja” ucapnya sambil nyengir.
“Semua milik Ayah itu semuanya untuk istriku tercinta,, bahkan hidup dan matiku pun milikmu seorang” ucap Ayah lagi menggombali Ibuku yang mencebik kesal.
Melihat ibu yang manyun membuat aku berusaha keras menahan tawa, tapi setelah mendengar gombalan ayah,
“Ha.. ha..ha…” aku pun tidak bisa menahan tawaku lagi dan langsung tertawa dengan keras.
“Sudah-sudah” ucap Ibu menyudahi bercandaan kami.
“Abbi,,” panggil ibu dengan wajah serius.
“Ibu dan Ayah mau setelah kamu wisuda nanti, kamu bertunangan atau lebih baik lagi kalau menikah dengan Yogi,, Jujur Ayah dan Ibumu sangat menyukai anak Itu,, dia sangat cocok jadi suamimu Nak”
Ucap Ibu sambil menatapku.
“Hahh Abbi Menikah dengan dia?” tanyaku sambil menatap ibu dengan heran.
“Tapi tadi kan Abbi sudah bilang,, Abbi dan Yogi kan sudah lama putus Bu” ucapku lagi mencoba menolak dengan halus pemintaan mereka.
“Kan kalian bisa nyambung lagi,, Yogi anak yang baik, dia seorang pekerja keras,lembut dan sangat santun, ibu yakin kamu pasti bahagia kalau menikah dengannya” ucap ibu.
“Lagi pula Ibu tahu kamu kan yang mutusin Yogi,, tapi yogi sendiri ga mau putus dari kamu” ucap Bunda dengan santainya.
“Ibu tahu dari siapa?” tanyaku sambil menutupi keterkejutanku.
“Yaa, karena beberapa bulan yang lalu Yogi sempat telpon Ibu dan meminta tolong untuk membujukmu kembali, kasihan dia Bii,, Yogi sangat sayang sama kamu,, dia sampai menangis saat menelpon Ibu “ Ucap Ibuku.
Mendengar penjelasannya aku pun terdiam sambil menghela napas.
Melihat dukungan Ayah dan Ibu pada kak Yogi,, niat awalku untuk menceritakan tentang hubunganku dan Mas Alex pun aku urungkan.
“ Tapi Maaf Bu, Abbi benar-benar sudah gak cinta sama dia, Abbi juga merasa tidak ada kecocokan dengan Kak Yogi Bu..” ucapku.
“Dengarkan kami sayang,, kami memintamu menikah dengan Yogi bukannya tanpa alasan, kami hanya tidak mau kalau kamu sampai salah memlih pasangan seperti Kakakmu,,” ucap ayah sambil menarik napas panjang.
“Ayah tahu Yogi anak yang baik, Ayah bisa merasakan ketulusannya Nak” ucap Ayah lagi.
“Maafkan Abbi.., Ayah.., Ibuu, tolong berikan Abbi waktu untuk berpikir, lagi pula sekarang Abbi baru semester tiga Yah itu masih lama.” ucapku dengan tidak bersemangat.
“Baiklah sayang,, kami juga gak akan memaksamu,, tapi ayah dan ibumu ini berharap kamu mau mempertimbangkan dan menerima niat baik Yogi” ucap ayahnya sambil menepuk bahuku dengan lembut.
Akupun hanya menganggukkan kepalaku dengan pelan,
“Iya Yah…”
“Ayah,, Ibu,, Abbi masuk ke kamar dulu ya,, Abbi mau istirahat” pamitku pada mereka.
“Hmmm, istirahatlah” ucap ibu lembut.
__ADS_1
Aku pun berdiri dan pergi ke kamar yang ada disebelah kamar milik Ayah dan Ibu.
Bersambung.