I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Cemas


__ADS_3

Abigail memotong pembicaraan Seno dan juga Ayah Ibunya.


Wajahnya terlihat sangat serius mengharapkan persetujuan dari keluarganya akan keputusan yang diambilnya.


"Ijinkan Abbi cuti Ayah,, Ibu!"


"Gak perlu Bii,," jawab Ibu.


"Lalu yang akan mengurus Ibu siapa setelah keluar dari rumah sakit,, Kak Seno kerja,, Ayah juga gak mungkin ambil cuti berbulan-bulan untuk menemani dan merawat Ibu?? atau mau mengharapkan Kak Shinta yang merawat Ibu,, lebih gak mungkin lagi kan??" ucap Abbi sambil memicingkan matanya kearah Seno.


"Mau bayar pembantu? Meraka hanya akan membantu urusan rumah,, tapi obat ibu dan lain-lain bagaimana?" ucap Abbi lagi.


Ayah pun menghela napas dengan berat.


"Ayah setuju kamu cuti,, tapi 1 semester saja,, begitu ibumu pulih kau harus kembali kuliah!" ucapnya memutuskan.


"Baik Ayah,, jangan kuatir,, !"


"Ibu istirahatlah sekarang,, besok kita kerumah sakit,, besok kita mendaftar operasimu" ujar Ayah.


"Bii temani Ibumu kekamar,, Aya mau pergi sebentar dengan Kakakmu!"


"Iya Yah"


"Ayo Bu,, Abbi temani kekamar,," ucapku sambil menggandeng lengan Ibu.


"Halah Bii,, kamu memperlakukan Ibu kayak Ibu ini sakit parah yang gak bisa jalan!" ucapnya sambil bercanda.


"He.. he.. ya nggak gitu juga Bu, Abbi kan sayang sama Ibu,, Ibu itu kan Ratu,, biar kayak di film-film gitu lho Bu,, di film kan Ratu kalau mau berdiri selalu dibantu sama dayangnya ,, anggun gitu Bu,,,!" sambil nyengir.


"Kamuu itu bisaa ajaa jawabnya!! sambil menjewer telinga Abbi.


"Ampun Bu,, Ampunn!" sambil tersenyum.


Setelah memastikan Abbi, dan istrinya masuk kedalam kamar.


Ayah segera memegang lengan Seno dan mengajaknya ke halaman depan, sedikit jauh dari rumah.


"Sudah kamu selesaikan masalah mobil Ayah?" tanyanya dengan menatap tajam kearah putranya.


"Seno,,,. Ayah,, Maaf..


Ayah segera menghembuskan nafasnya dengan kasar,


"Ayah menguliahkan kamu supaya pintar,, dan tau bersikap,, tapi apa ini!! Kamu tidak bisa diharapkan sama sekali?"


"Ibumu segera dioperasi,, Ayah membutuhkan mobil itu untuk biaya operasi Ibumu! Kamu pamitnya pinjam untuk pindahan lhaa kok malah kamu gadaikan!" omel Ayah.


Tampak guratan kekecewaan yang begitu besar diraut wajah Ayahnya.


"Maaf Ayah,, tapi Shinta merengek minta modal untuk usaha,, Seno terpaksa Ayah" ucapnya memelas.

__ADS_1


"Lalu sekarang apa usaha istrimu sudah berjalan?? Apa sudah lancar??"


"Eemm, kan baru dimulai Yah,,. jadi belum tahu hasilnya!" jawab Seno gugup.


"Apa kamu lupa sedang bicara dengan siapa?" dan menatap tajam Seno yang terus menunduk didepan sang Ayah.


"Jangan kamu pikir Ayah tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi,, Shinta menggadaikan mobil itu untuk membuat pesta ulang tahun ibunya di restoran!" ucap Ayah dengan nada dingin dan kedua tangan mengepal.


"A,, Ayah,, itu,, bukan seperti itu Ayah,, !"


"Siapa yang mau kamu bohongi??" bentak Ayah dengan suara tertahan.


"Seno,, akan segera menebus mobil itu Ayah!"


"Kamu gadaikan berapa mobil itu!"


"Dua puluh juta Ayah!" sambil menundukkan kepalanya.


"Yakin kamu bisa menebus mobil Ayah?" cibirnya.


Seno terdiam mendengar cibiran Ayahnya.


"Semakin hari kamu semakin tidak menganggap kami ada,, kamu bisa begitu mudah mengabaikan bahkan melukai perasaan kami orang tuamu sendiri demi menyenangkan hati istrimu dan keluarganya,, Pulanglah,,!" usir Ayah.


"Ayahh,," panggil Seno.


Sambil mengibaskan tangannya,, Ayah melangkah menuju rumah dan mengabaikan panggilannya.


Sementara Dewa yang sudah terlalu kecewa dengan tindakan, dan sikap Seno yang ternyata tidak berubah juga, segera masuk kedalam rumah dan menguncinya dari dalam.


Dewa merasakan getir dihatinya,, melihat kehidupan putra kesayangannya yang selalu menjadi kebanggaannya diwaktu lalu.


"Kamu tetap masih begitu naif,, dan mudah dimanfaatkan istrimu juga keluarganya,, Sampai kamu berani membohongi keluarga kandungmu sendiri Sen!!" ucapnya dalam hati.


Dewa kemudian memijit keningnya.


Minggu lalu dia dikejutkan oleh kedatangan seorang rentenir didepan kantornya,,


Rentenir yang menjadi tempat yang dimintai pinjaman oleh Seno dengan jaminan mobil miliknya, tanpa seijin darinya.


Niat untuk menjual mobil demi pengobatan istrinya,, menjadi tertunda karena tindakan putranya.


Dewa menatap langit-langit rumahnya sambil bersandar disofa ruang tamu.


Sesekali terdengar helaan nafas berat keluar dari hidungnya.


Keesokan harinya Dewa mengantarkan istrinya kerumah sakit untuk menentukan tanggal operasi pengangkatan rahim istrinya.


Tanggal sudah ditetapkan,, 3 hari lagi Novia istrinya sudah harus masuk rumah sakit untuk menjalani serangkaian tes sebelum operasi dilakukan.


Dengan terpaksa akhirnya Dewa memutuskan untuk mengambil pinjaman dari bank dengan jaminan sertifikat rumah yang sekarang disewa oleh temannya untuk biaya operasi istrinya sekaligus menebus mobil yang digadaikan anak dan menantunya.

__ADS_1


Tak lupa Dewa mengajukan cuti selama satu Minggu untuk menjaga istrinya bergantian dengan Abigail putrinya.


"Sudah beres Yah,, barang-barang yang untuk dibawa kerumah sakit sudah Abi masukkan kedalam tas semua!" ucap Abbi sambil menutup tas pakaian berukuran sedang didepannya.


"Ibu jadi menyusahkan mu Bi!" ucapnya dengan sara sesal memenuhi hatinya.


"Tidak Bu,, Abbi ikhlas kok jadi Ibu ga usah mikir yang aneh-aneh,, Abbi samasekali gak merasa direpotkan sama Ibu,, Abbi malah bersyukur diberi kesempatan oleh Tuhan untuk merawat dan sedikit berbakti pada Ibu"


Abbi kemudian merebahkan badannya dan meletakan kepalanya diatas paha sang ibu.


Novia pun membelai sayang kepala putrinya.


"Ibu,, harus semangat ya,, Ibu pasti sembuh seperti sediakala!" ucapku menyemangatinya.


"Hhmm,," sambil tersenyum tipis.


"Ayahmu kemana Bi? "


"Emm anu Bu,, Ayah pergi ke kost kak Seno untuk mengambil mobil"


"Oww..!"


"Bii,, ibu mau bicara serius sama kamu"


" Tentang apa Bu?"


" Ibu mau kkamu berjanji sesuatu pada ibu!!"


"Janji?" cicitnya


"Berjanjilah pada Ibu,, kalau Ibu tidak bisa bertahan,, tolong kamu jaga Ayahmu, perhatikan Ayah,, bantu ingatkan Ayah agar tidak terlambat makan dan menjaga kesehatannya,, kasihan Ayahmu nak!" ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


Mendengar permintaan Ibunya,, Abbigail pun,, seketika ingin menangis. Dengan susah payah dia menahan Ari matanya.


"Jangan ngomong begitu Bu,, Abi yakin kok ibu pasti baik-baik saja, dan bisa melewati operasi ini,, Umur ibu masih akan panjang sampai nanti Ibu bisa melihat cucu-cucu Ibu dari Kak Seno dan juga Aku!" dengan suara sedikit serak karena menahan tangis.


"Biii,, berjanjilah!! Kamu juga harus janji jangan bertengkar dengan Kakakmu,, kalau dia butuh bantuan jangan segan membantunya ya,, janji ya Bi!" sambil menatap Abbi dalam-dalam.


"Hiks,, hiks,, Tidak Abbi tidak mau berjanji,, itu karena Abbi yakin Ibu pasti sembuh,, Ibu pasti bisa melewati operasi ini,, ini,, ibu jangan berpikir yang tidak-tidak!" Abbi tak lagi mampu menahan tangisnya.


Dia mengeratkan pelukannya,,


"Biii!" panggil Ibu dengan suara lembut.


"Hiks,, hikss, Iya Bu,, Iya Abbi janji,, Tapi Ibu juga janji harus bertahan dan berjuang sampai akhir,, demi Ayah,, dan juga kita ya Bu!"


Halloo Kakak-kakak Readers 🙏🏻🙏🏻 please komentar dan likenya.. ya..


Saran dan kritik yang membangun selalu dinanti sebagai penyemangat..


Terima Kasih ya🙏🏻

__ADS_1


__ADS_2