
Seno dan Abbi kemudian masuk ke kamarnya untuk beristirahat, begitu juga dengan Ayah dan Ibunya.
Didalam kamar Novia, Ibu Abigail sedang berdiskusi dengan suaminya,
"Apakah aku sudah kelewat keras dengan Seno Yah?" tanyanya sambil menyandarkan kepalanya dibahu kekar Dewa.
"Enggak Nov,, aku tahu maksud dibalik semua ucapanmu sama Seno"
"Hanya dengan cara seperti itu Seno dan istrinya nanti bisa belajar menata keuangan untuk masa depan mereka, Ayah melihat bagaimana Shinta yang masih suka menghamburkan uang untuk belanja yang tidak penting,, Memakai gaji Seno untuk makan di restoran,, belanja baju, dan berjalan-jalan sesuka hati mereka. Selama ini Ayah juga mengawasi mereka sayang"
"Aku takut Seno membenci kita Yah!"
"Awalnya mungkin begitu,, tapi suatu saat nanti, percayalah.., ketika dia punya anak dia akan mengerti maksud dan tujuan kita ini semua untuk kebaikan mereka nantinya"
Sejenak Novia menghela napasnya dengan berat.
"Ayah sudah menyelesaikan pembayaran rumah yang akan ditempati Seno?" tanyanya sambil menatap wajah lelah suaminya.
"Sudah,, ayah sudah membayarnya, sekarang sertifikatnya sudah diproses balik nama sama notaris"
"Uang tabungan kita sudah menipis untuk membeli rumah itu, dan juga persiapan acara pernikahan Seno,, padahal Abi juga harus daftar kuliah sebelum pernikahan kakaknya" ucapnya dengan nada cemas.
"Sudah gak usah pikirkan yang untuk besok,, percaya saja sama Tuhan,, dia pasti buka jalan" ucapnya sambil memeluk istrinya dengan hangat.
Novia pun tidur dalam pelukan hangat Dewa,, sosok pria dingin namun hangat didalam keluarganya ini begitu sangat berarti untuk hidupnya.
Sosok pria tangguh yang tidak pernah menyerah untuk menafkahi istri dan anaknya, tidak pernah mengeluh saat diminta menjaga anaknya sepulang kerja, sementara dia berjualan gorengan didepan rumah kontrakan mereka waktu itu.
Sementara Dewa menatap istrinya penuh kasih sayang, sosok istri yang sekalipun cerewet dan galak,, tapi penuh pengertian,, mendorongnya maju,, membantu membanting tulang demi kelangsungan bersama, tak pernah mengeluh ataupun menuntutnya.
Hatinya menghangat penuh syukur memiliki istri seperti Novia,, gadis yatim piatu yang hanya lulusan SD ini menjadi sosok penting keberhasilan keluarga yang mereka bangun sama-sama dari nol.
Dewa membelai lembut wajah Novia dan mencium keningnya. Diapun akhirnya tertidur pulas dengan memeluk erat tubuh istri yang sangat dicintainya.
****""""****
Tanpa terasa hari berlalu begitu cepat setelah selesai menjalani ujian kelulusan dua minggu yang lalu, hari ini Abi pergi kesekolah untuk melihat pegumuman apakah dia lulus atau tidak.
Sampai disekolah, Abi langsung memarkirkan motornya,, dia mengedarkan pandangannya mencari keberadaan seseorang,, tapi dia tidak menemukan orang yang dicarinya.
__ADS_1
Tangan Abbi mulai berkeringat dingin,, jantungnya juga berdetak dengan cepat,,
“hhhh,, lulus gak ya,,, Tuhannn semoga lulus Tuhann tolong aku” doaku dalam hati sambil berjalan mendekati papan pengumuman.
Tiba didekat papan pengumuman aku memejamkan mataku sejenak sambil menarik napas panjang.
“Doorrr” Henny menepuk bahuku dari belakang mengejutkanku.
“ Yeei Setaann.. lu setan.." latahku terkejutt.
"ha.. ha...,, enak aja aku Hany bukan setan"
"Ehh dasar anak soak!!!, tega amat ya bikin
teman jantungan!?” omelku.
“Ha..ha.. nah eluu siang-siang melamun”
“Ehhh dodol, aku nih lagi doa, minta tolong sama Tuhan.., lu ni memang ya jadi temen ga ada manis-manisnya” omelku.
“Ha… ha.. sumpah aku ga percaya, cewek pethakilan banyak tingkah kayak lu bisa doa sama Tuhan” ledeknya.
Dengan cepat dan jantung berdebar kami pun menuju papan pengumuman,
“Yeiii lulusss” teriakku saat melihat namaku ada diurutan ke tiga.
“Yuhuu gue juga Lulus” teriak Henny tak kalah heboh denganku.
Kamipun berpelukan dengan gembira merayakan keberhasilan kami.
"Selamat ya Han kamu ada diperingkat kedua tertinggi di sekolah" ucapku tulus.
"Selamat juga ya Bi,, kamu juga nilaimu tertinggi ke tiga! itu juga keren!" balasnya sambil menepuk punggungku.
“Yahhh tapi setelah ini kita harus pisah ya” ucapku dengan sedih.
“Lu juga si ngapain juga kamu daftar di kota B,, kenapa ga bareng aku aja di kota S” ucapku lagi.
“Mau gimana lagi Bii, lu kan tau bokap gue tugasnya di kota B, Bokap minta aku pindah bersama Ibu dan juga adek-adekku,,Bii? Ucapnya dengan sedih.
__ADS_1
“Ya sudahlah,, ga apa-apa, yang penting jangan lupa kontak-kontak eike ya” ucapku menghiburnya.
****skip***
Pada akhirnya aku diterima di universitas Mulia Jaya di kota S, satu kota dengan Kak Yogi.
Jarak yang dekat membuat Aku, dan Kak Yogi sering menghabiskan waktu berdua.
Pulang kuliah asal jadwalnya kosong dia akan dengan semangat mengantar, dan menjemputku dari kampus dan mengantarkanku ke kost.
Selama berpacaran dengannya dia benar-benar menjagaku, tak pernah dia meminta hal yang aneh-aneh.
Satu-satunya yang pernah dia lakukan padaku saat pacaran hanyalah mencium keningku, pipi, menggandeng, dan memelukku.
Dan aku bersyukur dia mau berkomitment untuk terus seperti itu.
Hingga suatu hari saat aku sakit, Kak Yogi pun meminta ijinku untuk menginap di kost ku untuk menjaga dan merawatku.
Karena dikota ini aku jauh dari keluarga, dan aku mempercayainya, akupun setuju.
Dikamar kostku aku sudah menyiapkan karpet untuk dia tidur, karena ga mungkin kalau aku tidur seranjang dengan dia.
Kost yang aku tempati adalah kost karyawati, dan kost untuk pasutri, jadi kostku agak bebas, dan tidak mempermasalahkan tamu yang mau menginap, asal tidak membuat kerributan atau keonaran diarea kost.
Dari pagi setelah menerima telponku, dia langsung datang dan menjagaku yang sedang lemas karena demam tinggi.
Dengan telaten dia mengompres, dan juga menyuapiku.
Siang harinya demamku sudah turun badanku juga sudah mulai lebih baik dari pada tadi pagi, namun begitu Kak Yogi tetap kuatir dan tetap menginap di kamarku untuk memastikan demamku tidak kembali lagi.
Malampun tiba, jam 9 malam aku sudah terlelap diatas tempat tidurku karena efek samping obat yang aku minum.
Sementara Kak Yogi juga sudah merebahkan tubuhnya diatas karpet yang aku alasi sprei yang aku siapkan di lantai samping tempat tidurku.
Tengah malam aku terbangun karena udara terasa panas dan menyesakkan, maklum aku kost di tempat murah dan tak ber –AC.
Untuk sesaat aku terdiam, dalam keremangan cahaya lampu tidur yang aku pasang, aku bisa melihat ...
BERSAMBUNG.
__ADS_1