I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Torehan luka


__ADS_3

"Cukup aku menangis,, cukup aku diam,, aku harus bongkar kebusukan orang gila itu" pikir Abbi.


Usia kandungannya sudah mau memasuki 6 bulan tapi suaminya tak pernah menanyakan bagaimana kondisi anaknya satu kali pun.


Berharap perhatian dan kasih sayang Alex untuk dirinya, dan anak yang dikandungnya seakan hanya angan.


Pada kenyataannya hubungannya semakin lama semakin menjauh.


Pagi-pagi Abbi bangun dan seperti biasa suaminya hampir tidak pernah tidur satu ranjang sejak Alex menyangka dirinya berhubungan dengan Farel.


Segera Abbi berjalan kedapur,, dari jendela dalam dia melihat Alex tertidur disofa bed depan tv.


Tanpa membangunkan Alex, dia langsung kedapur dan memasak dengan bahan seadanya,, tumis labu siam dengan tahu dan tempe goreng dia tata hasil masakannya diatas meja makan.


Terakhir di memotong apel yang masih tersisa 2 buah didalam kulkasnya yang sekarang sudah tidak ada isinya lagi.


Tak lupa dia membuat sepoci teh panas minuman wajib suaminya dipagi hari.


Jam menunjukkan pukul 9 pagi,,


"Kak,, bangun sudah siang,, kamu gak kekantor?" aku membangunkan suamiku.


Alex tak menyahut,, dan masih tertidur dengan nyenyak.


"Kakk" sekali lagi aku membangunkannya sambil menepuk lembut bahunya.


"Berisiikk!!" bentaknya.


Abbi menarik napas dalam-dalam,, rasa perih menelusup dihatinya mendapat perlakuan kasar suaminya.


Meninggalkan suaminya yang kembali tidur,, Abbi menuju meja makan, dan sarapan sendirian dengan tidak semangat.


Tepat selesai sarapan,, Alex bangun dan berjalan menuju kedapur,,


Dia merebus air berniat membuat teh,,


"Kak tehnya sudah aku buatkan,," ucapku.


Alex melirikku dengan tajam,, tangannya mematikan kompor lalu berjalan mendekat kearahku.


Dia menatapku hampir tanpa berkedip,, kedua tangannya mencengkram bahuku cukup kuat Lalau mendorongku perlahan tanpa melepaskan cengkeramannya.

__ADS_1


Aku jadi gugup dan takut setengah mati,, aku takut dia akan menghajarku dengan kondisiku yang sedang hamil begini.


Alex terus mendorong bahkan hingga masuk kedalam kamar.


Tanpa ba,, bi,, Bu,, Alex menc1umiku dengan ganas,, hampir tanpa memberiku kesempatan untuk bernapas.


Tanpa belas kasihan di melucuti daster batik yang aku pakai,, seperti orang kesetanan Alex mencium bibir,, leher bahkan hampir disetiap inchi area tubuhku tak dewatkannya.


Heran,, bersyukur,, bahagia,, suamiku mau mendekatiku lagi,,


Meski berbagai pertanyaan sempat berputar dikepalaku,, dengan semangat dan rasa syukur aku layani suamiku.


"Semoga setelah ini suamiku kembali menjadi sosok Alex yang hangat dan memanjakan ku seperti 3 bulan pernikahan kami " doaku dalam hati.


Aku terhanyut permainannya,, meski sedikit kasar tapi bisa aku rasakan dia tetap berhati-hati untuk tidak menyebabkan masalah pada kandunganku.


1jam bergulat dengan suamiku,, merasakan stres, beban yang menindihku seakan hilang.


"Kak Alex mau tidur lagi denganku,, apa dia sudah tahu yang sebenarnya tentang Farel? Dia sudah memaafkan kesalah pahaman ini,, semoga rumah tanggaku damai lagi" harapku dengan hati berbunga-bunga.


Alex bangun dari tempat tidurnya dan segera mengenakan pakaiannya kembali,, sementara aku yang kelelahan kutarik selimut untuk menutupi tubuhku yang polos.


*Srettt* lembaran uang dilemparkan Alex ke wajahku.


"Bayaranmu untuk melayaniku pagi ini,, aku rasa aku sudah membayar mahal untuk membayar pelac*r sekelas dirimu" ucapnya dengan tatapan sinis.


*jederrrrr...*


Seperti petir disiang bolong. Ucapannya yang tanpa perasaan seperti pedang yang menusuk jantungku. Menghancurkan semua harapan indah yang tadi sempat singgah dibenakku.


"Apa maksudmu Kak??" tanyaku dengan suara bergetar menahan tangisku.


"Ada yang salah dengan ucapanku?? bukankah kamu perempuan murah@n yang mau melakukan apa saja demi uang" sinisnya.


"Alex Pratama jaga mulutmu!!!" teriakku sambil duduk dan segera mengambil dasterku dan langsung aku pakai dengan tergesa-gesa,, tak perduli terbalik atau tidak.


"Ha.. haa,,,, seorang pelac*r mengingatkanku untuk menjaga mulutku,, tapi lupa menjaga kelakuannya sendiri!!" ucapnya dengan tatapan menghina.


"Dasar kamu brengs3k, bajing@n!!" umpatku marah.


"Hati-hati mulutmu jal@ng!! aku tahu selama ini kamu diam tidak berani menuntut pisah dariku karena kamu takut ibumu yang sakit itu bisa mati karena melihatmu bercerai dariku!!"

__ADS_1


"Dan jangan mimpi aku akan menceraikan mu,, karena aku suka membuat mu menderita,, kamu harus membayar mahal pengkhianatan mu kepadaku,, kamu juga harus membayar pengkhianatan mu pada kakakku!! Bersiaplah menerima neraka yang sesungguhnya" ucapnya lagi sambil mencengkram daguku dengan kuat lalu melepaskan cengkeramannya dengan kasar.


Abbi hanya bisa terdiam,, air mata mengalir dengan deras,, hatinya begitu sakit hingga Abbi menangis tanpa suara.


Tatapannya kosong mendengar semua penghinaan suaminya.


"Jangan berani ikut campur urusanku,, cukup menurut dan tutup mulutmu,, maka saat kita pulang aku akan sedikit berbaik hati membantumu berakting didepan ibumu yang sakit itu kalau kita pasangan paling bahagia sedunia,, tapi jangan sekali-kali kamu berani membuka mulut busukmu dan menjatuhkan harga diriku,, kalau sampai kamu berani melanggar batas bersiaplah kehilangan ibumu!!" ancamnya.


Abbi terduduk lemas mendengar kata perkata yang meluncur panjang lebar dari mulut suaminya.


"Lakukan saja apa yang kamu mau Kak,, lakukan saja,, Tuhan tidak tidur,, aku yakin suatu hari ketika kebenaran ini terungkap aku yakin kamu akan menyesali semua ini!" ucapku sambil mengusap air mataku.


"Ha.. ha, pendosa sepertimu berani membawa-bawa nama Tuhan,, luar biasa,, luar biasa munafik!!"


Abbi tidak menanggapi ucapan suaminya.


Sesaat memejamkan matanya sambil menarik napas dalam-dalam.


Abbi bangkit berdiri dengan susah payah,, tubuhnya lemas,, kakinya gemetar,, sambil berpegangan dengan dinding disamping kirinya dia berdiri dan berjalan perlahan menuju tempat tidur.


Kepalanya terasa begitu berat,, dan rasa lelah menyergapnya dengan kuat.


Sementara Alex keluar dari kamar saat hape yang ditaruh di sofabed depan kamar berbunyi dengan nyaring.


Terdengar langkah Alex masuk kedalam kamar kerjanya,, dan sesaat tawa Alex menggema,,


Menyebut nama panggilan An,, membuat Abbi tahu sosok penelpon suaminya adalah sosok perempuan yang semalam mengantarkan Alex pulang.


Abbi hanya bisa menahan perih dihatinya,, dia sudah pasrah dengan hidupnya.


Kabur,, atau cerai dari Alex untuk saat ini adalah hal yang tidak mungkin dilakukannya.


Apa yang dikatakan Alex memang benar,, Abbi tidak mau mengambil resiko yang bisa menambah beban pikiran pada ibunya,, jelas Abbi kuatir kesehatan ibunya akan terganggu jika sampai mengetahui masalah rumah tangganya.


Abbi meringkuk diatas tempat tidur dan menelusupkan kepalanya dibawah bantal untuk beberapa lama hingga dia menyadari sesuatu,,


"Yaa Tuhaann bodohnya aku,, dasar bodoh-bodoh!" rutukku dalam hati sambil memukul-mukul dahiku beberapa kali.


"Kenapa aku gak kepikiran tentang hal ini sejak awal,, bodohhnya aku,, coba kalau aku sadar dari awal masalah ini gak akan berlarut-larut sampai berbulan-bulan" sesalku dalam hati.


*** halloo readers,, gimana ceritanya?? seru gak?? please komentar nya dong 🙏 jangan lupa likenya ya,, apalagi kalau dikirim hadiah,, wuaaaaa,,, aku ngarep niihhh.. wkwkwk... terima kasih Readers sayang...

__ADS_1


__ADS_2