
1minggu berada dirumah sakit, akhirnya hari ini Abbi bisa pulang.
Tepat jam 10 Alex sudah menyelesaikan administrasi rumah sakit dan mengajak istrinya yang sedang hamil tua itu untuk pulang kerumah mereka.
"Hati-hati" Alex membantu istrinya turun dari tempat tidur.
"Tidak perlu, terima kasih" Abbi menepis halus tangan Alex yang terulur untuk membantunya.
Alex kesal melihat penolakan istrinya, harga dirinya seolah sangat dilukai dengan penolakan perempuan yang kini berdiri didepannya.
"Sekarang mengulurkan tangan, sesaat lagi menampar dan menyakiti,, dari pada hanya sedikit nikmat tapi lebih banyak luka yang diberikan sekalian tidak usah" batin Abbi yang sudah jengah dengan sikap suaminya.
"Aku berniat memperbaiki rumah tangga kita meski aku tahu kamu berselingkuh dengan kakak Iparku, tapi kamu tidak sadar diri" Alex mencemooh karena terbawa emosi.
Abbi mengacuhkan cemoohan suaminya.
"Memperbaiki?? tapi sayangnya dasar kepercayaan mu kepadaku sama sekali tidak ada,, Anda ibarat kata seperti membangun rumah diatas pasir,, ketika angin menyapu rumah yang kamu bangun akan roboh tak bersisa, Anda tida perlu bersusah payah memaksakan diri untuk memperbaiki sesuatu yang tidak bisa anda perbaiki" jawab Abbi yang sudah lelah dengan keadaan rumah tangganya.
"Memperbaiki tapi masih bisa mengatakan aku berselingkuh, rendah sekali kamu memandang istrimu, ini menyakitkan sekali," sinis Abbi dalam hati.
Keduanya terus berjalan menuju parkiran mobil.
Sementara Alex benar-benar kacau,, disatu sisi, dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Abbi, disatu sisi dia meraih belum mampu melepaskan bayang-bayang Farel yang mencium panas istrinya beberapa bulan yang lalu.
Hingga kata-kata manis yang akan dia keluarkan untuk memperbaiki hubungannya dengan istrinya justru malah cemoohan yang keluar dan menyakiti Abbi.
Alex tanpa sadar mengusap kasar wajahnya sambil membuang nafas dengan wajah frustasi.
Sampai dirumah suasana dingin dan canggung semakin terasa.
Abbi membawa sendiri barang bawaannya dari dalam mobil tanpa menunggu suaminya yang membawakannya untuknya.
Lalu berjalan masuk kedalam kamar utama dan berbaring dengan wajah lelah.
Usia kandungannya sudah hampir memasuki 8 bulan. Rasa pegal di pinggang, dan rasa begah diperut membuat Abbi tidur dengan gelisah.
Bahkan kaki Abbi juga terlihat membengkak meski tidak terlalu besar.
Sementara Alex hanya bisa duduk didepan meja makan sambil meminum segelas air dingin yang dia ambil dari kulkas.
Selesai minum, dan emosinya mereda,, Alex berjalan masuk kedalam kamar utama, kamar yang tidak pernah lagi dia masuki hampir 4 bulan terakhir.
__ADS_1
Alex menatap istrinya yang tidur dengan posisi membelakangi pintu masuk, dan duduk ditepi tempat tidur.
Pria tampan berwajah sedikit dingin itu mengusap punggung istrinya dengan lembut.
"Maaf kalau aku kasar,, tapi aku sungguh-sungguh berniat untuk memperbaiki dan memulai semuanya dari awal" ucapnya lembut.
Alex memegang bahu Abbi dan membalikkannya dengan lembut.
Alex terkejut melihat reaksi istrinya,, wajah Abbi datar, sama sekali tidak ada wajah antusias atau senyum senang saat dia mengucapkan harapannya.
"Apa kamu tidak mau memperbaiki lagi?" tanya Alex sambil menatap serius.
"Kamu terus menganggapku selingkuh, bahkan anak yang aku kandung pun tidak kamu akui, kalau aku bersedia memperbaiki rumah tangga kita, tapi kalau dua duri ini masih ada didalam hatimu maka suatu saat keadaan rumah tangga kita juga akan tetap berantakan seperti sekarang"
"Aku akan belajar untuk melupakan semuanya,, aku akan belajar menerima bahwa anak yang kamu kandung ini adalah anakku"
"Anak ini kamu terima atau tidak pada dasarnya memang adalah darah daging mu,, tapi dengan kmu bilang mau 'belajar' akan menerima anak ini sebagai anak kandungmu bukankah itu terkesan kamu sangat terpaksa? kenapa harus belajar menerimanya jika pada kenyataannya memang anak dalam kandunganku adlah anakmu,, darah daging mu?" tegas Abbi sambil mengusap perutnya yang membuncit dengan perlahan.
"Lalu maumu apa?" Alex mulai gusar.
"Aku tidak mau apa-apa, kalau kamu mau memperbaiki semuanya buang semua kecurigaan, dan yakin bahwa anak ini anakmu dan bukan anak orang lain seperti yang kamu tuduhkan! Apa kamu bisa?" tanya Abbi sambil menatap mata suaminya.
"Aku butuh waktu,, aku berharap kamu memberikan aku waktu" ucapnya.
Alex terus terdiam sambil menatap punggung istrinya dengan tatapan rumit.
Perlahan dia membaringkan tubuhnya disamping Abbi lalu memeluknya dari belakang. Memeluk istrinya dengan lembut, melihat Abbi tidak menolak atau meresponnya Alex mencoba mengeratkan pelukannya.
Abbi hanya diam ketika lelaki yang masih berstatus suaminya itu memeluknya,, rasa takut masih menguasainya.
Trauma itu masih tersisa tidak mudah untuk dilupakan begitu saja.
Setelah penyatuan yang indah, uang yang dilemparkan diwajahnya, kata makian kasar jal*ng, pelac*r terngiang dan terbayang kembali.
Kalau kali ini dia terlena dalam pelukan Alex yang nyaman dan hangat lalu kembali mendapat tamparan yang menyakitkan lagi bukankah itu sama dengan menggali lubang kubur untuk dirinya sendiri.
Abbi merasakan nyeri dan sesak didadanya hingga tanpa sadar dia menarik napas dalam-dalam.
"Apa ada yang tidak nyaman?" tanya Alex perhatian.
"Tidak" jawab Abbi singkat.
__ADS_1
Abbi berharap untuk istirahat dengan tenang, tapi melihat Alex yang memeluknya membuat Abbi ketakutan dan merasa tidak nyaman.
Abbi tahu perubahan Alex mulai terjadi saat dia meminta pria itu untuk membaca semua pesan antara dirinya dan Farel yang sebagian masih tersisa.
Tapi mendengar cemoohan, dan kata-kata Alex yang terlihat ragu membuat Abbi memilih menutup hatinya dan melihat sejauh mana Alex berjuang mempertahankan rumah tangganya.
Perlahan Abbi bangun dari tempatnya, Abbi berniat membuat makan siang karena jam sudah menujukkan pukul 11 lewat.
"Kamu mau kemana?" tanya Alex.
"Mau masak makan siang" lagi-lagi Abbi menjawabnya dengan singkat.
"Tidak usah masak,, biar aku pesan makanan direstoran saja,, kamu istirahat saja" ucap Alex.
Alex mengambil ponselnya dari nakas lalu menelpon restoran langganan dan memesan beberapa menu. Selesai menelpon Alex menatap kasihan kearah Abbi yang duduk bersandar disampingnya dengan tatapan kosong.
Dengan perlahan Alex meraih tubuhnya dan mencoba membawanya kedalam pelukannya.
"Jangan berpikir berat-berat,, kita coba perbaiki lagi ya,, aku sangat merindukanmu,, aku rindu senyummu, aku rindu tawamu,, aku rindu kecerewetanmu" ucap Alex sambil memeluk istrinya.
Abbi tersentuh melihat suaminya,, namun dia tetap berusaha untuk tidak bergeming mendengar ucapan suaminya.
Suasana kamar sejenak menjadi hening.
Alex perlahan melepas pelukannya.
Dan mencium kening istrinya dengan lembut, meski bayangan istrinya dan Farel sempat lewat dipelupuk matanya,, Alex berusaha menekan gejolak amarah didadanya.
"Aku ke kamar mandi sebentar" sambil bangun dan berjalan menuju ke kamar mandi.
Baru saja suara pintu kamar mandi tertutup,, Ponsel Alex yang ada diatas nakas bergetar beberapa kali.
Abbi meraih ponsel suaminya.
"A3..?" Abbi membaca nama penelpon yang tertera sambil mengernyitkan dahinya.
Abbi tidak berani mengangkat telpon yang 2 kali berdering.
Tak lama setelah itu ponsel milik suaminya berhenti bergetar.
Dan berganti dengan suara notifikasi pesan masuk.
__ADS_1
Sambil memberanikan diri Abbi membuka pesan yang baru masuk itu,, dan matanya seketika terbelalak membaca pesan yang dikirimkan untuk suaminya.