
"Pasien mengalami Shock,, dan sangat berpengaruh pada janin yang dikandung,, kami semua sedang berusaha semaksimal mungkin supaya anak bapak tidak lahir prematur " jelas perawat yang keluar dari ruang UGD.
Alex terdiam mendengar penjelasan suster didepannya.
Terbersit rasa bersalah dihatinya,,
"aku tidak bermaksud mencelakai mu atau anak itu Bii,, maaf" Alex terduduk lesu dikursi tunggu depan ruang UGD.
Waktu berlalu dengan sangat lamban,, Beberapa jam kemudian Abbi akhirnya siuman, dan sebuah mukjizat, kandungannya masih kuat bertahan hingga bayinya tidak jadi lahir prematur.
Sambil menatap nanar kearah langit-langit kamar yang berwarna putih, Abbi terdiam seperti patung es yang membeku.
Terdiam tanpa suara,, bahkan tidak merespon panggilan Alex.
"Heh,, aku masih hidup" sarkasnya dalam hati.
"Apakah harus aku bersyukur kalau hari ini ternyata aku masih hidup, tapi seperti dineraka ini? apa harus aku bersyukur kalau setiap hari yang aku dapatkan adalah penyiksaan yang dilakukan Alex?? Apa aku juga harus bersyukur untuk semua fitnahan dan hinaan yang keluar dari mulut laki-laki yang seharusnya menjaga dan melindungiku tapi kini malah menyakiti dan menghancurkan aku,, Ya Tuhaannn sungguh aku tidak mampu??" teriak Abbi frustasi dalam hati.
Air mata Abbi kemudian mulai mengalir tak terkendali.
Menumpahkan semua rasa sesak yang menyiksa dan melukai batinnya.
"Tidak aku,, aku kuat, aku pasti bisa melalui semua ini, Aku memang harus bersyukur,, setidaknya anakku baik-baik saja,, yang memang harus aku jalani biara aku jalani,, Tuhan mohon kuatkan aku,,. tolong mampukan aku Tuhann" doanya dalam hati dan terus menangis dalam diam.
Alex yang duduk tak jauh darinya benar-benar kebingungan. Hatinya teriris melihat air mata istrinya yang mengalir dengan derasnya.
Perlahan Alex mendekati istrinya.
"Bii kamu baik-baik saja kan? aku,, aku sungguh tidak bermaksud untuk mencelakaimu" ucapnya merasa bersalah.
Abbi terdiam tak menjawab. Hanya airmatanya yang terus mengalir tak mampu dia hentikan.
"Bahkan kata maaf pun sama sekali tidak terucap dari bibirmu" batin Abbi.
Abbi menarik napas panjang, dan mengusap air matanya dengan telapak tangan kanannya.
"Bii,,
"Pulang dan beristirahatlah Kak,, abaikan aku seperti biasanya." potong Abbi lalu berbalik membelakangi Alex yang duduk disampingnya.
"Tapi Bi,, aku,,
"Pergi Kak,, acuhkan,. abaikan, kalau perlu kamu bisa menceraikan aku!" Abbi kembali berbalik dan menatap tajam pria yang sudah menjadi suaminya hampir satu tahun ini.
"Apa maksudmu cerai?! apa kamu sudah tidak sabar untuk menikah lagi dengan Farel?? atau dengan si Ahui itu??" Alex tersulut emosinya.
"Heeh,, tidak penting aku menikah lagi dengan siapa, apa perdulimu?" ucap Abbi yang sangat tersinggung dengan ucapan Alex..
__ADS_1
"Kalau memang sudah tidak bisa saling percaya,, dan kita tidak bahagia,,untuk apa pernikahan ini dilanjutkan?? kalau kita bertahan hanya untuk saling menyakiti,, bukankah lebih baik kalau kita berpisah saja?" lanjutnya datar.
"Alasan!! Jangan mimpi bercerai dariku,, sudah aku bilang berkali-kali kamu harus membayar semua rasa sakit yang aku rasakan karena pengkhianatanmu!" Alex menunjuk muka Abbi dengan jarinya.
Tatapannya begitu tajam seolah siap menerkam istrinya.
"Tidak ada yang harus aku bayar,, aku tidak berhutang apapun padamu,, justru kamulah yang berhutang padaku" ucap Abbi.
"Heh,, hutang padamu,,? benar-benar tidak tahu diri " sinis Alex.
"Kamu buka hapeku, dan baca semua pesan dari Farel,, aku sudah lelah,, apapun anggapanmu tentang ku nanti itu terserah,," Abbi memutuskan untuk membuka semuanya tanpa takut apapun lagi.
"Aku sudah jujur padamu,, aku yakin suatu saat nanti kamu akan menyesalinya" gumam Abbi tapi masih terdengar ditelinga Alex.
Abbi membalikkan badannya dan memunggungi pria itu dan memilih untuk memejamkan matanya.
Alex hanya melirik acuh kearah Abbi. Lalu pergi meninggalkan Abi sendirian.
Sekali lagi Abbi hanya bisa menarik napas panjang, sambil mengelus perutnya dengan lembut, lalu menenangkan hatinya.
Kejadian hari ini membuat Abbi membuka mata,, dihati seorang Alex benar-benar tidak ada tempat untuk anak yang dikandungnya.
Abbi bisa menutup mata jika hanya dia yang disiksa dan celaka,,. tapi sangat tidak adil jika anak tak berdosa yang dikandungnya juga menerima akibatnya.
Sementara Alex bergegas menuju mobilnya, dan duduk dibelakang kemudi.
Rasa penasaran menguasainya.
Alex mengambil tas milik istrinya dan mengambil ponsel dari dalam tas.
Membuka semua pesan yang masih belum dihapus,, terutama pesan dari Farel.
Alex dibuat pusing setengah mati,
jelas dalam setiap balasan yang dikirim Abi tampak ketus tanpa kata-kata mesra.
Sementara dari Farel ada beberapa kata rayuan tapi berujung ancaman.
"Apa aku benar-benar salah mengira tentang hubungan Abbi sama bajingan itu?" pikir Alex.
"Tidak,, mereka pasti sekongkol,, mereka berdua terlalu pandai bersandiwara,, mereka pasti mempermainkanku! jelas-jelas aku melihat ciuman panas mereka,, bahkan berani mengumbar kemesraan didepan umum " pikir Alex bersikeras dengan pikirannya.
"Munafik,, kalian berdua benar-benar pandai bersandiwara,, Cuiihh,, kamu pikir aku percaya!" marah Alex.
Bak kata pepatah, Sebesar apa cinta dihati, maka sebesar itu rasa benci dihati ketika dilukai.
Alex terlanjur dibutakan kecemburuannya,. dia terluka dan hanya mempercayai apa yang dilihat oleh matanya.
__ADS_1
Perasaanya benar-benar,kacau.
Dihatinya dia mulai ragu dengan kecemburuannya, tapi egonya melarang menerima dan tetap merasa sakit karena Abi yang berselingkuh darinya.
Tapi isi ancaman Farel dalam pesan Abbi juga terlihat jelas.
Kebenaran, Alex memutuskan untuk mencari kebenaran dari Farel, suami dari kakak kandungnya.
Kedua tangannya mengepal erat, tanpa berpikir panjang Alex melajukan mobilnya.
"Farel,, dasar manusia brengsek,, kamu harus jelaskan semua ini, dasar bajingan!!"
Hari sudah mulai sore ketika Dia sampai didepan rumah minimalis dua lantai yang terlihat mewah. Melihat pagar terbuka dan hanya ada mobil Farel disana, Alex langsung masuk ke rumah tanpa permisi.
Mukanya merah padam menyiratkan kemarahan yang besar.
"Den Alex , cari Non Valen?" sapa seorang asisten rumah tangga berkulit gelap dan masih muda.
"Kak Farel, apa dia ada?" tanya Alex menahan marah.
" Ada dikamarnya, apa perlu saya panggilkan Den??"
"Tidak usah, Kalau Kak Valen?"
" Non Valen keluar kota Den, baru siang tadi berangkat"
"Ya sudah aku naik dulu Mbak"
"Iya Den, saya juga permisi"
Alex langsung naik dan masuk kekamar utama,
*Brak* dengan kasar dia membuka pintu kamar utama dengan kasar tanpa permisi.
"Apa-apaan kamu Lex!?" tegur Farel yang sedang memasukkan beberapa potong pakaian kedalam mini kopernya.
Farel bagitu terkejut sekaligus juga marah pada Alex yang langsung nyelonong masuk kedalam kamarnya tanpa permisi.
*Bughh,, bugh* tanpa menjawab Alex langsung menyerang Farel tanpa memberi kesempatan untuk membalas.
"Dasar Brengsek, bajingan,, manusia kurang ajar! jelaskan sekarang juga,, jalaskan berani, beraninya kamu mengancam Abbi untuk menemuimu dan kencan bersama manusia rendahan sepertimu.
Alek mencengkram kerah leher Farel dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menonjok wajah Farel beberapa kali.
Hingga pemuda yang berusia 5 tahun diatas Alex ini berhasil meloloskan diri dari cengkraman dan hajaran Alex yang membabi buta.
"Dasar kurang ajar,, sekarang Katakan!! sedikit saja kamu melenceng aku tidak segan-segan menghabisi mu!!"
__ADS_1