
Lamat-lamat Abigail menguping pembicaraan suaminya dengan hati yang tercabik-cabik.
"Apa Kak Alex ada hubungan dengan perempuan yang semalam?? apa dia selingkuh?" tanyaku dalam hati dengan jantung berdebar.
Hati Abigail memang sakit karena perlakuan Alex hampir 6 bulan ini,, tetapi Abbi sadar semua perlakuan Alex karena kesalahpahaman yang belum bisa dia buktikan.
"Tidak,, tidak boleh,, aku harus menyelesaikan kesalah-pahaman ini,, aku harus bisa buktikan pada Kak Alex aku dijebak,, aku tidak salah" ucapku dalam hati.
Tidak berapa lama, Alex berhenti menelpon dan berjalan masuk kedalam kamar.
Abbi tetap diam memejamkan matanya.
Mengandalkan pendengarannya, dia tahu Alex mandi dan setelah itu pergi begitu saja dengan mobilnya.
Setelah kepergian suaminya, Abbi segera mengambil ponselnya.
"Kali ini aku harus bisa menjebaknya!"
*tuut.. tuuut..* terdengar nada panggil dari ponsel yang dihubunginya.
"Sialan,, panggilanku direject" kesal Abbi.
Beberapa kali dia menelpon Farel tapi tidak diangkat bahan lebih sering direject oleh Farel.
"Apa dia tahu aku mau menjebaknya,, gak mungkin,, gak mungkin dia tahu,, jangan-jangan orang gila ini mau merencanakan sesuatu" pikir Abbi dengan gelisah.
Sekali lagi Abbi menelpon Farel,, tapi lagi-lagi tidak ada jawaban dari no yang dihubungi olehnya.
"Sial.. siall!" umpatnya kesal.
"Sabar,, sabar,, masih ada hari esok" ucapku menenangkan diri.
Siang menjelang aku dikejutkan oleh kedatangan mobil box,,
*tok.. tok*
"Permisi Mbak,, apa betul ini rumah Pak Alex Pratama?" tanya seorang pria berusia 35 tahunan dengan sopan, setelah aku membuka pintu.
"Iya Pak,, betul ini rumah Pak Alex, ada perlu apa ya?" tanyaku.
"Ini Mbak kami mau mengantar pesanan Pak Alex" jawabnya.
Aku lihat mobil box hitam yang dikendarai pria didepanku membawa satu spring bed single size.
"Oww,, iya Pak tolong taruh saja di kamar itu Pak" ucapku sambil menunjuk kamar kosong yang ada dibelakang ruang tamu.
Dua orang tampak mengangkat spring bed yang katanya pesanan suamiku.
"Sudah Mbak,, tolong tanda tangan disini" ucap pria tadi.
Abbi segera menandatangani faktur penerimaan barang yang disodorkan pria itu.
"Terima kasih Mbak,, kami permisi" ucapnya.
"Sama-sama Pak,, Terimakasih"
Pengantar barang sudah pergi,, Abbi berdiri termangu didepan pintu kamar yang telah terisi tempat tidur baru.
__ADS_1
"Buat apa Kak Alex beli spring bed baru? apa dia mau kita pisah ranjang?" batinnya.
Seharian dirumah tanpa melakukan sesuatu membuat Abbi sering kali dihinggapi rasa sepi.
Perumahan tempat dia tinggal perumahan elit,, tidak ada angkot atau ojek seperti perumahan biasa.
Bahkan hanya untuk pergi kekafe atau ke minimarket harus jalan menuju fasilitas publik setidaknya 1,5 km.
Praktis kalau mau pergi dia harus menelpon taksi untuk mengantarnya kemana-mana.
Hari telah berganti malam,, selesai makan malam dengan tidak semangat Abbi menonton televisi.
Bersandar di sofabed sambil menggengam hape ditangannya.
Untuk kesekian kalinya Abbi mencoba menelpon Farel beberapa kali,, tapi tetap sama panggilannya selalu direject.
Abbi mulai gelisah,, perasaannya benar-benar tidak enak.
Mencoba mengalihkan perhatiannya Abbi menelpon Ayah dan Ibunya.
"Hallo Ayah,, Ibu,, gimana kabarnya,, Ibuu Abii kangeen" ucapku dengan manja.
"Ha.. ha.. dasar kamu anak manja!" jawab Ayah,,
"Sadar,, Bii sadar kamu sudah jadi istri gak bisa asal pulang" sahut Ibu, yang ternyata hape ayah dinyalakan dalam mode loud speaker.
"Iya Bu,, iya Abbi sadar,, cuma kan Abbi kangen sama Ayah juga Ibu" ucapku dengan nada merajuk.
"Kandunganmu gimana nak?" tanya Ibu.
"Syukurlah Ibu jadi senang mendengarnya,, Suamimu gimana Nak?"
"Kak Alex seneng banget Bu,, dia semangat sudah gak sabar mau lihat sikecil lahir" bohongku sambil meneteskan air mata,, menahan rasa perih yang teramat sangat.
"Puji Tuhan,, ya sudah dijaga baik-baik kandungannya ya,, jangan terlalu capek,,jangan stress,, dan satu lagi jangan kuatir Ibu,, Ibu sama ayah disini baik-baik saja,, ngerti Bii?!" Ucap Ibu.
"Iya Bu,, aman,, pokoknya Ibu sama Ayah harus sehat selalu terus bisa temani Abbi lahiran si kecil ya Bu, janji ya!" ucapku.
"Iya,, doa saja ya Nak, supaya keinginanmu dikabulkan Tuhan" ucap Ayah.
"Iya Yah,, Emm sudah dulu ya Yah,, Bu,, Kak Alex sudah pulang dari kantor,, Abbi mau siapkan makan malam buat Kak Alex" bohongku lagi.
"Ya sudah,, sampaikan salam ayah, ibu buat suamimu ya Nak,, ingatin dia buat jaga kesehatan" ucap Ibu.
"Siap Bu,, Selamat malam Ayah,, Ibu"
Selesai berbincang ditelpon,
"Maafkan Abbi ya Bu,, Ayah,, aku sudah membohongi kalian tentang keadaan Abbi yang sebenarnya,, Maaf,, hiks,, hikss" Abbi menangis sesenggukan seorang diri.
Malam semakin larut, tepat tengah malam Alex pulang, lagi-lagi dalam keadaan setengah mabuk.
*brak,, brakk,, brak* Alex menggedor pintu berkali-kali dengan keras.
"Tunggu" teriakku sambil bergegas membukakan pintu yang aku kunci.
"Lambann!!" ucapnya dengan wajah marah kearahku.
__ADS_1
Alex masuk dan menabrak bahu kananku hingga membuatku oleng.
Beruntung tangan kiriku masih memegang tepi pintu hingga bisa membuat ku bertahan dan tidak terjatuh kelantai.
Ku elus dadaku,, bersabar dengan tingkah kekanakan suamiku.
Setelah mengunci pintu, aku kembali ke kamar, tapi sampai didalam tidak kutemui suamiku itu di tempat tidur kami.
*Brak* terdengar pintu kamar dibelakang ruang tamu tertutup dengan keras.
Fix, kami pisah ranjang.
Abbi menarik napas dalam-dalam, beranjak ketempat tidur dan mencoba mengacuhkan semuanya.
Meski sulit untuk tidur, Abbi tetap memejamkan matanya. Membolak-balik kan badannya dengan gelisah memikirkan masalah rumah tangganya yang tak kunjung membaik tapi justru semakin berantakan.
Tanpa terasa pagi menyapa,, dengan badan lemas dan wajah kuyu karena kurang tidur Abbi bangun dari tempat tidurnya,, memasak menjadi rutinitas pagi yang harus dikerjakannya., sekalipun sang suami sama sekali tidak mau memakan hasil masakannya sama sekali.
Teringat beberapa bulan yang lalu saat dia selesai memasak dan menyiapkan sarapan untuk dirinya sendiri dan juga suaminya.
"Sarapan dulu Kak" ajakku dengan lembut.
*prangg*
Alex melemparkan piring berisi nasi goreng yang aku masak kelantai.
"Aku jijik sama masakanmu,, dan aku tidak akan makan masakan dari orang yang aku benci!" ucap Alex dengan sinis.
"Gak perlu sok bersikap menjadi istri yang baik padahal kenyataannya hanya seorang pelac*e murahan,, Munafik!" tambahnya menghinaku.
"Gak perlu menghinaku kalau memang tidak mau,, pagi-pagi sudah mengajak berantem apa gak capek!!" balasku dengan sengit.
"Heh,, menghinamu dari mana?? memang kamu pelac*r, itu kan kenyataan!" hinanya lagi.
"Iya aku pelacur,, aku tidur sama Farel, aku tidur sama Papamu,, aku tidur sama Kakekmu,, aku tidur sama sepupu mu!! Puasss!!" teriak Abbi dengan marah.
"Plak,, Plakk!!" Alex menampar pipi Abbi bolak balik.
"Tutup mulutmu murahan!!"
ucapnya tersulut emosi.
"Kalau aku tidak ingat ada bayi didalam perutmu sudah aku pastikan kamu habis ditanganku!!" ucapnya sambil mencengkram kerah bajuku.
"Lakukan saja,, habisi aku!!" tantangku.
*Sreett*
"Arggghhh" tiba-tiba Alex mencengkram rambutku,, dan dengan kasar membenturkan kepalaku ke tembok.
"Dughh"
"Jangan memancing emosiku b@ngs@t!!" ucapnya dengan suara tertahan dan mukanya yang merah padam.
"Bunuh kak,, bunuhh aku,, biar kamu puass,, !!" teriakku sambil menangis dan menahan sakit dikepalaku.
"Akan aku lakukan,,tapi tidak semudah itu,, kamu harus melunasi hutangmu beserta bunganya,, hutang pengkhianatan mu kepadaku dan keluargaku!!" camkan itu".
__ADS_1