I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Alex dalam Pelukan


__ADS_3

Abbi terbelalak ketika didepan matanya dia melihat Alex memeluk perempuan.


Perempuan yang beberapa waktu yang lalu pernah mengantar Alex saat sedang mabuk.


Melihat Abbi masuk kedalam rumah Alex tanpa sadar mendorong tubuh perempuan itu.


"Bi.." Panggilnya.


Abbi hanya menarik napas dalam-dalam dengan perlahan menekan semua emosinya,


"Maaf aku ganggu,, kalian lanjutkan saja" ucap Abbi datar, lalu berjalan tanpa menoleh.


Matanya terasa panas, hatinya berdenyut nyeri merasakan sakit yang teramat sangat.


"Bii tunggu kamu salah paham..!" terima Alex berjalan menyusul Abi yang sudah didepan pintu kamar utama.


Abbi tidak menoleh atau menanggapi teriakan Alex. Dia memilih mengabaikan suaminya, masuk kekamar, mengunci pintu kamar dan mengambil baju lalu masuk kekamar mandi.


Badannya yang basah karena kehujanan terasa dingin dan Abbi sedikit menggigil.


Abbi menyalakan shower dan mengatur suhu air.


Dibawah guyuran air hangat yang keluar dai shower Abbi duduk dilantai kamar mandi dan menangis sesenggukan.


"Hikk,, hiks,, kenapa ini menyakitkan sekali?" airmatanya mengalir dengan derasnya bersaing dengan derasnya guyuran air mandi.


Abbi bersandar didinding kamar mandi, badannya terasa lemas.


Matanya terpejam, tangannya mengusap lembut perutnya, hampir 9 bulan masa kehamilannya,. tidak seharipun kebahagiaan menghampirinya.


Hari demi hari saat menjalani kehamilannya habis dengan penyiksaan, penghinaan dan tangis kesedihan tanpa kasih sayang dan dukungan yang sangat dia butuhkan dari suaminya.


Kini didepan matanya suaminya berani berpelukan dirumah tinggal mereka.


Sambil berpegangan dengan dinding kamar mandi perlahan dia bangkit berdiri.


Dia menyelesaikan mandinya dan segera berpakaian.


Abbi keluar dari kamar berniat untuk membuat susu untuk menghangatkan badannya.


Mendengar suara pintu kamar terbuka, Alex menengok kebelakang dan melihat istrinya yang berjalan kearah dapur,


"Bii.." panggil Alex yang duduk diruang tamu berdua dengan perempuan itu.


Abbi melirik sekilas suaminya dengan datar lalu berlalu kedapur dan mengambil susu dan menaruhnya di gelas.

__ADS_1


Tak bisa dipungkiri dada Abbi sebenarnya bergemuruh melihat perempuan itu yang masih dengan tenang duduk didekat suaminya.


Seolah tidak perduli dengan perasan Abbi, atau merasa malu dengan kelakuannya yang sangat terlihat sedang menggoda dan merayu suami orang lain.


"Bii, dia temanku, tadi dia tidak sengaja kepleset hingga aku menolongnya,, kami tidak ada hubungan apa-apa" ucapnya menjelaskan langsung didepan perempuan itu.


"Owh" jawab Abbi datar.


"Bii.."


"Gak usah dijelaskan Kak, yang tahu kalian ada hubungan atau tidak adalah Tuhan, kalau jujur aku bersyukur kalau kalian bohong biar Tuhan yang jadi hakimnya" jawab Abbi sambil melirik kearah perempuan yang tertangkap sedang melirik dan tersenyum merendahkan kearahnya.


"Apa maksudmu?? kamu gak percaya sama penjelasanku?" tanya Alex mencengkram lenganku.


"Terserah Kak mau berpikir seperti apa, lepas! aku mau istirahat. Kamu silahkan lanjutkan. Kasihan 'temanmu' itu menunggumu dia sangat penting kan,,!?! jadi jangan biarkan dia sendirian!" sarkas Abbi lalu menarik tangannya dari cengkraman Alex.


"Kamu!!" Alex menarik kasar lengan istrinya hingga gelas berisi susu ditangan Abi tersentak dan tumpah sebagian keatas lantai.


"Terima kasih Kak masih kasar ke aku,, memang yang layak dapat kelembutan dari Kak itu hanya dia,, perempuan ****** pengganggu rumah tangga orang" Abbi tersulut emosi karena perlakuan kasar Alex yang mempermalukan ya didepan perempuan itu.


"Tutup mulutmu! hargai tamuku,, hargai temanku!" bela Alex sambil melotot kearah ku.


"Bagaimana aku mau menghargai perempuanmu itu aku gak punya uang sebanyak uangmu,, apa mau dia aku hargai 1000,,? sedangkan kamu menghargainya jutaan!" aku mendebat suamiku.


"Kamuu!!" Alex berteriak sambil mengangkat tangannya siap menamparku.


"Aku sudah bilang kamu salah paham,, tanyakan saja sama temanku dia pasti juga menjelaskan yang sama" ucap Alex terlihat menekan emosinya.


"Kak aku bukan orang bodoh,, dari awal kamu menjelaskan, apa orang yang kamu sebut temanmu itu juga ikut berusaha menjelaskan masalah yang kamu sebut ke salah pahaman? Enggak kan? dia tetap diam tak bergeming seolah masalah yang timbul sekarang ini tidak ada sangkut pautnya dengan dia? Apa maksudnya coba??" tanyaku menatap mata suamiku.


Alex terdiam dan melirik kearah teman perempuannya.


"Bukan,, bukan begitu. aku, aku hanya bingung mau menjelaskan bagaimana, tapi kamu benar-benar salah paham aku buka ******, bukan pelakor seperti yang kau tuduhkan!" jawab perempuan itu dengan lembut dan wajah memelas.


Tapi Abbi tahu perempuan didepannya bukanlah perempuan lemah seperti yang dia perlihatkan sekarang ini.


Abbi bisa melihat kilat mata perempuan itu penuh penghinaan ditujukan kearahnya sesaat yang lalu.


"Nah,, Bii kamu dengar sendiri kan!" ucap Alex.


"Dalamnya laut bisa diselami,, tapi hati manusia siapa yang tahu" jawabku sambil menatap mata suamiku.


"Lepaskan aku Kak, aku capek. Terserah kamu mau melakukan apa tapi kalau berhubungan dengan perempuan itu pergi keluar dari rumah ini. Ingat kak selama aku masih berstatus sebagai istrimu aku haramkan dia menginjak rumah ini!" tegasku.


Abbi menarik tangannya dan kembali berjalan masuk kedalam kamarnya sambil membawa susu yang kini tersisa setengah gelas akibat tumpah.

__ADS_1


Setelah Abbi masuk kedalam, tak berapa lama terdengar suara mobil suaminya menyala.


Abbi menebak suaminya pergi dengan perempuan itu.


Abbi memejamkan matanya dan menghela napas dengan berat.


Setelah berhasil menenangkan dirinya dia mengambil gelas susu dan meminumnya perlahan.


Setengah gelas susu sudah dihabiskannya, Abbi kemudian mengambil ponselnya dan mulai berkirim pesan dengan Seno dan juga sang Ayah.


Hatinya sedikit terhibur saat mengetahui Kakak dan Ayahnya dalam keadaan sehat, meski kondisi kesehatan Ibunya mulai menurun dengan perlahan.


Sekitar setengah jam Abbi berkirim pesan, sambil menunggu balasan SMS Abbi bangun dan menuju ruang tamu, menghangatkan sayur dan lauk sisa makan siang untuk dia makan malam.


Semua makanan yang dia hangatkan baru saja tertata di meja makan ketika suara mobil suaminya terdengar masuk kedalam carport disamping teras rumah.


Alex kemudian masuk kedalam rumah,


"Ambilkan sekalian, aku juga belum makan" ucap Alex.


Tanpa banyak kata, Abbi mengambilkan piring untuk Alex dan mengambilkan makanan untuknya.


"Tadi aku mengantarkan Alana sampai didepan rumahnya saja" Alex membuka percakapan sambil menyendok makanan.


"Owh" jawabku datar.


Mendengar jawaban istrinya Alex pun sedikit bingung untuk melanjutkan percakapan.


Hari-hari pun berlalu dalam suasana kaku dan canggung.


Meski Alex berjanji untuk mencoba memperbaiki tapi ternyata dalam beberapa hari kemudian masih ada kekasaran, cemoohan dan tudingan perselingkuhan lagi-lagi keluar dari mulutnya.


Abbi benar-benar terus dibuat lelah secara fisik dan juga mental menghadapi suaminya.


Apalagi Alex menuntut berhubungan badan dengan sedikit kasar dan bisa dibilang seperti sedang melecehkan.


Abbi melirik kearah suaminya yang kini masuk kedalam kamar mandi.


Abbi kemudian mengambil ponsel suaminya yang tergeletak diatas nakas.


Saat membuka ponselnya Abbi terkejut ketika kode kunci untuk membuka hape suaminya ternyata sudah diganti dengan kode baru.


"Tuhan tidak tidur" gumamku lirih.


Lalu menekan kombinasi angka yang termudah. Deretan angka tanggal tanpa angka bulan maupun tahun lahir Alex.

__ADS_1


Dengan jantung berdebar kencang, Abbi melihat kearah layar ponsel ditangannya, dann


__ADS_2