
3 bulan sudah Kami menikah, dan tinggal dirumah Ibu dan Ayah atas permintaanku untuk bisa merawat Ibu.
Manis dan hangatnya perlakuan Alex, membuatku merasa menjadi perempuan paling bahagia sedunia.
Tapi dua hari lagi aku dan Kak Alex harus kembali ke kota S, untuk mengurus tempat tinggal, serta mengurus persiapan kuliahku bulan depan
Sesuai saran Kak Alex, Ayah dan aku mencari seorang asisten rumah tangga untuk membantu ibu dirumahnya sekaligus menemaninya.
"Bik Narti,, tolong bantu Ibu juga jagain Ibu ya Bik. Jangan lupa kalau ada apa-apa tolong langsung kabari kita ya!" ucapku pada Bik Narti perempuan paruh baya yang sudah satu Minggu ini mulai menjaga dan menemani Ibu dirumah.
"Siap Non pasti Bibik kabari,, jangan kuatir" jawabnya.
"Terima Kasih ya Bik"
"Sama-sama Non"
Persiapan kepindahan kami berdua pun selesai.
"Ibu,," panggilku sambil duduk disampingnya.
"Ibu harus jaga kesehatan ya,, jangan terlambat minum obatnya,, telpon Abbi tiap hari ya!" cerocosku sambil menyandarkan kepalaku dibahunya.
"Iya,, kamu ini bawel sekali,, memangnya ibu ini anak kecil??!"
"He.. he.. kadang Ibu memang kayak nak kecil" jawabku.
"Kapaan??" tanya ibu dengan nada menantang.
"Yeeeei,, ibu gak sadar ya,, lihat aja masa setiap minum obat aja harus pakai es teh, es sirup.. kalau nggak ada gak mau minum obat itu namanya apa?!" debatku sambil bercanda.
"Kkk.. itu bukan anak kecil.. itu namanya antik binti unik,, " jawabnya gak mau kalah.
"Kamu juga jadilah istri yang baik ya,, banyak mengalah,, kurangi cerewetmu!" Ucapnya sambil meledek.
Kupeluk tubuh ibuku yang terlihat lebih kurus.
"Ibu harus sehat ya,, harus sembuh" sambil mengeratkan pelukanku dengan perasaan tak rela.
Ibu hanya membelai kepalaku dengan lembut.
Hatiku terasa berat meninggalkan ibu dalam kondisi sakit seperti ini,, tapi aku tidak punya pilihan, aku bukan hanya harus melanjutkan kuliah tapi juga sudah menjadi seorang istri yang wajib mengikuti langkah suami dimanapun dia berada.
Saat yang berat bagiku akhirnya tiba,, pagi ini semua barang sudah masuk kedalam bagasi mobil Kak Alex.
"Ibu.. janji ya.. jaga kesehatan.. jangan mikir yang berat-berat" aku memeluknya erat sambil menangis.
"Hmmm" jawabnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah,, Abbi pergi ya" sambil memeluk Ayah.
"Hati-hati dijalan,, kamu baik-baik disana, jangan lupa kabari Ayah sama Ibu terus ya" ucap Ayah.
Aku menganggukkan kepala perlahan saat dipelukannya.
"Ibu,, Ayah kami berangkat dulu ya" pamit Kak Alex.
"Hati-hati dijalan Nak,, jangan ngebut ya" ucap Ibu.
"Baik Bu.."
Kami berdua pun berangkat, ke kota S.
Menempuh perjalanan selama 4 jam perjalanan.
__ADS_1
Setelah sampai di tengah kota S,, dia melajukan mobilnya menuju kesebuah perumahan cukup elit di kota S,
Dan berhenti tepat didepan sebuah rumah minimalis satu lantai bercat putih.
"Ini..?"
"Ini rumah kita berdua" selanya.
"Kita tinggal berdua saja?" tanyaku tak percaya, tapi juga senang.
"Hmm" jawabnya sambil menggandengku untuk masuk kedalam rumah.
Pintu sudah dibuka, di sebelah depan ada ruang tamu,, dan disamping kiri bersekat tembok ada dapur minimalis yang bersebelahan dengan carport.
Didepan dapur ada ruang makan yang menyambung tanpa sekat dengan ruang keluarga, yang sudah diisi dengan sofa bed warna biru dan TV 32inch beserta home teather.
Disamping kanan ruang keluarga kamar utama, sementara di samping ada dua kamar lain yang berjajar. Diantara dua kamar itu ada kamar mandi.
"Kak rumahnya besar sekali" ucapku.
"Padahal aku sudah pilih yang paling sederhana ini Bii,, apa kamu gak suka?" tanyanya.
"Suka Kak,, suka banget,, lingkungannya kelihatan tenang,, aku hanya takut ini berlebihan untukku Kak"
"Berlebihan apa,, ini sudah paling sederhana,, kamu sudah lihat kan rumah Kakakku,, dia juga belum punya anak, berdua dengan suaminya aja rumahnya dua lantai 5 kamar"
"Aku cukup ini saja Kak,, terima kasih" ucapku sambil memeluknya.
Alex tersenyum melihatku.
Selama satu Minggu ini Kak Alex meninggalkanku sendiri dan pulang agak malam karena urusan kantor.
Untung aku punya kegiatan, merapikan barang-barang yang aku bawa dari rumah Ibu.
Tiba-tiba aku terbangun,, merasakan sentuhan hangat dibahuku ,,
Akupun membalikkan badanku,, dan membuka mataku perlahan,,,
"Ka..Kakk??" aku terkejut setengah mati, melihat Kak Farel suami Kakak Iparku duduk berjongkok didekatku.
Aku bergegas duduk,,
"Ceroboh,, bisa-bisanya pintu depan gak kamu kunci,, kamu sendirian dirumah dan tertidur seperti orang mati,, gimana kalau ada rampok atau pencuri?" tegurnya.
"Astaagaa,, iya Kak aku kecapekan sampai gak sadar" ucapku.
"Eh,, Kak Farel cari Kak Alex?" tanyaku.
"Ini Kakak mau nitip undangan ini buat Alex,, Kakak coba hubungi Alex tapi hapenya sibuk terus,, jadi ya terpaksa kak sendiri yang antar undangannya kesini." jelasnya.
"Oww,, Terima kasih ya Kak" sambil mengajaknya menuju ruang tamu atau teras depan.
Rasanya gak nyaman saja ada suami Kakak ipar hanya berdua denganku,,, apa kata dunia.
Untungnya dia hanya sebentar saja untuk mengantar undangan dan membuatku bernapas lega.
Sore harinya ketika Kak Alex sudah pulang dan santai didepan TV,
"Kak,, tadi Kak Farel datang antar undangan ini" ucapku sambil memberikan undangan warna silver gold.
"Sama siapa kesini?"
"Sendirian Kak" jawabku jujur.
__ADS_1
"Kenapa dianterin kesini,, kenapa gak menelponku?" tanyanya.
"Tadi Kak Farel bilang sudah menelponmu beberapa kali,, tapi hapemu nada sibuk terus" jelasku.
"Oww.."
Beberapa hari kemudian Kak Farel datang kembali,,
"Alex,,, Abbi,,"panggilnya dari depan pintu.
Mendengar suara khasnya akupun berlari membukakan pintu untuknya.
"Kak Farel?? Kaka Alex kan dikantor" ucapku sambil menatapnya heran.
"Alex gak ada dikantor,, kirain tadi sudah pulang duluan makanya Kakak kesini,, Kak ada perlu sama Alex"
"Emm,, masuk dulu Kak,, pintaku mempersilahkan dia duduk di ruang tamu"
"Bentar ya Kak,," aku masuk kedapur mengambilkan minum untuk Kak Farel,,
"Astaga mak nyaakk!!" seruku terkejut,, melihat Kak Farel tiba-tiba sudah berdiri dibelakangku.
"Ha.ha.. kamu latahnya lucu banget sih Bii!" ucapnya sambil tertawa.
"Yahh gimana gak kaget,, Kak tadi kan duduk diruang tamu tahu-tahu sudah nongol dibelakangku kayak jailangkung dibelakangku" cerocosku.
"Masa seganteng ini dibilang jailangkung" narsisnya.
"Iya dech percaya..,, silahkan diminum Kak" sambil menaruh es teh buatanku di meja kaca diruang tamu.
"Kak Farel mau tunggu sampai Kak Alex datang?" tanyaku.
"Kalau gak lama ya aku tunggu,," jawabnya.
"Gak tahu sih Kak,, soalnya ini kan baru jam 2,, biasanya sampai rumah jam 4 atau jam 5 gitu Kak"
"Ya sudah Kak lanjut saja lah,, daripada kelamaan,, nanti kasih tahu Alex kalau sampai rumah minta dia datang kerumah ya!"
"Baik Kak,, nanti aku sampaikan."
Baru saja Kak Farel berdiri untuk pulang,, aku melihat dari kaca depan mobil Kak Alex sampai didepan rumah.
"Nahh, itu Kak,, yang ditunggu sudah pulang."
Aku segera keluar menyambut suamiku,,
"Kak, ada Kak Farel cari kamu" ucapku.
"Lexx,," panggil Kak Farel.
"Iya Kak,, ada apa datang kerumah?" tanya Alex.
"Papi minta kamu besok pergi ke cabang 4 untuk mengecek masalah yang kemarin dilaporkan sama kepala devisi cabang 4" ucap Kak Farel.
"Aku sudah tahu Kak,, kan tadi sudah dibahas" ucapnya.
"Iya aku datang untuk mengingatkan saja,, " jawabnya dengan wajah sedikit aneh.
"Ya sudah Lex,,. Kak pamit ya" ucapnya sambil menepuk bahu suamiku.
Setelah kepergian Kakak iparnya aku lihat wajah Kak Alex terlihat aneh.
"Ada apa Kak??"
__ADS_1