I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Hati yang Porak Poranda


__ADS_3

Suara mobil Farel,,. manusia nomer satu yang paling dia hindari.


*tok.. tok..* terdengar suara ketukan pintu depan.


"Abii.. Bi.. buka pintunya!" ucap Farel dengan suara agak keras.


Jantung Abbi berdebar seperti orang yang ketahuan mencuri..


"Tuhan toloong,,, jauhka aku dari manusia gila itu Tuhan"


"Biii!" farel memanggil degan suara lebih keras.


Abi meringkuk diam sambil memejamkan matanya, dan menelusupkan kepalanya didalam bantal.


"Uhh.. untung lampu ruang tamu sama ruang makan sudah aku matikan semua"


*drrtt,, drrrtt,,* ponsel disamping Abbi bergetar.


"Bodo amat,, paling juga si gila yang kirim pesan"


Abbi memilih mengabaikan pesan yang masuk dihapenya dan tetap memejamkan matanya.


Beberapa menit berlalu,, rumah kembali hening,, sesaat dia bisa bernapas lega.


"Tuhan tolong hambaMu ini,, Tolong aku Tuhan,, Aku sungguh tidak sanggup lagi menghadapi semuanya,, sampai kapan aku harus menghadapi orang ini dan membiarkan Alex terus salah paham, bukan hanya kepadaku tapi juga anak yang tidak berdosa ini Tuhan??" tanyaku dalam doa yang aku panjatkan..


"Engkau ijinkan hambaMu menerima semua ujian ini,, hamba memohon Tuhan berikan hambaMu ini kekuatanMu untuk menjalani hari tanpa melanggar aturan dan kehendakMu"


Abbi bersujud disamping tempat tidur dan menangis terisak menumpahkan semua isi hatinya dalam doa kepada Sang Pemilik hidup.


Selsai berdoa Abbi tetap diam bersujud, menyandarkan kepalanya ditepi tempat tidur.


Kini usia kandungannya sudah memasuki bulan ke 5 tapi suaminya benar-benar mengabaikan, dan tidak peduli pada anak yang dia kandung,, darah daging Alex sendiri.


Tidak ada kesempatan untuk membuktikan dirinya bersalah.


Malam semakin larut hampir dini hari Alex pulang dalam keadaan setengah mabuk.


Suara pintu digedor Alex dengan keras,, membuyarkan semua lamunan Abbi.


Dengan tergopoh-gopoh Abbi membukakan pintu,,


*ceklek* Abbi membuka kunci pintu.


Pintu baru saja hendak dibukakan oleh Abbi,


"Lambann!!" bentak Alex sambil mendorong tubuhku.


"Bughh" membuat Abbi jatuh terduduk.


"Aghhh* Abbi memgangi perutnya.


Alex berlalu begitu saja dari depan Abbi dengan langkah sedikit tak beraturan.


Sementara Abbi yang jatuh terduduk merasakan sakit diperutnya yang mulai membuncit.

__ADS_1


"Aghh,, Kak toloong akuu..!" rintihku sambil memegang perutnya dengan sedikit erat.


Keringat dingin mulai mengalir didahi dan tangan Abbi.


"Gak usah cari perhatian!! dasar tukang sandiwara!!" Bentak Alex.


"Tolong Kak,, aku gak pura-pura,, hiks,," Abbi mulai menangis merasakan sakit bukan hanya diperutnya tapi juga dihatinya.


Terlihat darah mulai merembes dibagian bawah,, Abbi merasa lemas dan pandangannya mulai gelap. Dia jatuh terkulai tidak sadarkan diri.


Beberapa jam berlalu,, pagipun menyapa,


Abbi mulai mengerjapkan matanya,, dan melihat sekelilingnya,, ruangan putih dengan aroma khas obat yang sangat di kenalnya.


Dilihatnya sekali lagi ruangan yang ditempatinya,, dia hanya sendiri,, tidak ada Alex dikamar ini.


Tanpa sadar dia mengingat semalam ada darah yang keluar,,


"Tidak,, Tuhan ,, Anakku,, Tuhan selamatkan anakku,Tuhann" tangis Abbi.


Dengan panik Abbi mencari tombol darurat dan menekannya.


Tak butuh waktu lama seorang dokter ditemani seorang perawat masuk keruangannya.


"Dokter,, anakku bagaimana anakku dokter?!" tanyaku panik dan juga histeris.


"Tenang ya Bu,, tenang,, anak Ibu selama,, dia baik-baik saja,,. sekarang Ibu tenang ya" ucap dokter perempuan seumuran Ibuku dengan lembut.


"Benarkha Dok?? anakku selamat? anakku aman dok??" tanya Abbi lagi sambil meraba perutnya.


"Iya Bu,, anak Ibu selamat,, untungnya suami Ibu tidak terlambat membawa ibu kesini" ucap dokter yang bernama Sienna.


"Lain kali lebih hati-hati ya Bu,, dijaga kandungannya jangan sampai terpeleset,, hindari stress juga emosi yang berlebihan. Untuk satu bulan kedepan Ibu harus bedrest jangan melakukan kerja berat dulu" ucapnya sambil memeriksaku.


"Baik Dokter, terima kasih" Abbi menganggukan kepalanya.


Selesai memeriksa Dokter dan perawat meninggalkan Abbi sendirian.


*Tess..


Abbi menangis mengingat kejadian semalam.


"Teganya kamu Kak,, hikss.. hikss,," tangis Abbi pun pecah.


Hatinya terasa hancur melihat sikap Alex yang makin keterlaluan.


Keluarga yang dibangun dengan cinta keduanya tak mampu bertahan kuat ditengah terpaan badai,, karena pondasi kepercayaan yang rapuh.


Pagi berganti siang, Alex tidak juga datang. Abbi hanya mampu menarik napasnya dalam-dalam.


Malam mulai menyapa,, akhirnya suaminya datang dengan wajah masam,, tanpa rasa bersalah langsung duduk disofa depan ranjangnya dan memainkan game dihapenya.


Abbi memilih merebahkan tubuhnya,, memejamkan mata dan mengabaikan Alex dengan menahan sesak didadanya.


Air mata yang ditahannya,, merembes disela-sela matanya yang terpejam.

__ADS_1


Sekuat tenaga dia tahan airmatanya agar tidak keluar,, tapi hatinya tak sejalan otaknya.


Rasa sakit dan kecewa membuat air matanya terus mengalir bak anak sungai yang mengalir deras.


Dalam diam dan mata terpejam, Abbi menyeka air matanya.


Selama dirumah sakit,, tidak ada yang datang menjenguk Abbi,, tidak bisa menghubungi siapapun karena ponselnya yang tertinggal dirumah.


Sementara selama Alex menjaganya juga tidak ada percakapan diantara dirinya dengan suaminya.


Setelah 4 hari Abbi dirawat di rumah sakit akhirnya hari ini dia diijinkan untuk pulang.


Alex membawakan tas berisi perlengkapannya,, dan membiarkan Abbi berjalan perlahan menuju lobby rumah sakit, tanpa memperhatikan atau memapahnya.


Tanpa percakapan sama sekali mobil melaju menuju rumah yang mereka tempati.


"Kak,,!" panggilku ditengah perjalanan memecah kesunyian.


"Aku sudah bersumpah dihadapan mu bahkan dengan membawa nama Tuhan,, aku tidak pernah berselingkuh,, aku tidak punya hubungan apapun dengan Kak Farel,, aku tidak menggodanya,, dan anak ini benar-benar anakmu Kak,, anak kandungmu" ucapku dengan hati-hati.


"Apa yang kamu lihat saat itu,, bukan seperti yang Kak pikirkan,,,


"Jadi kamu pikir mataku yang salah lihat,, dan kamu yang benar !!" tanyanya menyela ucapanku dengan suara yang keras.


"Memang Kak melihat aku bersama dengan Farel,, dia memang menciumku ta..


"Dan kamu menikmatinya,, dasar pelac*r murahan!!" lagi-lagi dia memotong penjelasanku.


"Kakk,, tolong dengarkan penjelasanku dulu" Mohonku.


"Gak perlu!" tolaknya degan keras kepala.


"Kaak" Mohonku lagi dengan suara menghiba.


"Kamu Tulii!! Aku bilang gak perlu ya gak perlu!!"


"Kak,,"


*Brakk* Alek memukul setirnya dan menepikan kendaraannya.


Abbi tersentak kaget.


Tiba-tiba,


*Argghh*


Alex mencekik leher istrinya.


"Dengar aku bab* bangs*t,,. pelac*r murahan,,. apapun penjelasanmu tidak akan mengubah fakta kalau kamu memang murahan!" ucapnya lalu melepas cengkraman tangannya dari leherku.


"hossh,, hossh" Napasku tersengal-sengal karena cekikan kuatnya.


Abbi mengepalkan tangannya dengan kuat,, hancur hatinya untuk kesekian kalinya.


"Saat itu aku tidur,, aku tidurrr Kaka,, aku tidak tahu Farel sigila itu yang masuk kedalam mobil dan menciumku,, Aku tidak tahu,, aku tidak menikmatinya,, Aku tidurrr,,!!" Teriakku kehabisan akal dan cara menjelaskan semua kesalahpahaman ini pada suamiku.

__ADS_1


"Aku tidur lelap Kak,, kamu tahu itu,, aku tidak tahu Farel segila itu,, aku sangat menghormatimu,, menghormati Kak Valen,, tidak mungkin aku melemparkan kotoran pada keluargamu juga keluargaku" ucapku sambil menangis meluapkan semuanya.


"Sumpah demi apapun,, aku tidak berselingkuh Kak,, aku tidak pernah selingkuh hhh,, hiks.. hikkss" aku meraung menangis didalam mobil.


__ADS_2