
Selamat Membaca,,,
Please jangan lupa komen juga likenya ya...
Terima kasih..
Total sepuluh hari Ibu dirawat dirumah sakit,, Dan hari ini kami bertiga pulang kerumah.
"Ahh,, akhirnya bisa pulang juga,, hampir saja Abbi jamuran dirumah sakit!" celetukku didalam mobil.
"Kkk baru hampir jamuran kan Bi,, belum jamuran beneran!" jawab Ibu.
"Yaa jangan sampai dong Bu,, nanti kalau jamuran hilang dong pesona kecantikan Abbi!" ocehku.
"Ha.. ha.. kamu ini Bi,, pedenya mbok ya dikurangi!" jawab Ayah.
"Owwhh jangan Yah,, Ayah gak tahu ya justru karena kadar pede ku setingkat emas 24k makanya banyak yang terpesona pada Abbi selain karena kecantikan Abbi!" jawabku.
"Ha.. ha.. percaya.. percaya,, iya Abbi memang cantik,, siapa dulu dong ibunya!" goda Ayah pada Ibu sambil fokus menyetir.
"Ayah jangan mulai lagi ya!" tegur ibu sambil tersenyum.
"Lhaa memang betul,, kalau kamu ga cantik aku gak akan milih kamu jadi istriku!" celetuk Ayah.
"Ciye.. ciyee.. yang bernostalgia,, sampai Abbi dijadiin obat nyamuk!" ucapku tersenyum lebar.
Kami bertiga pun tertawa.
20 menit perjalanan dari rumah sakit kami pun tiba dirumah.
"Ibu langsung istirahat dikamar saja,, jangan kerja yang berat-berat dulu!" ucap Ayah mengingatkan.
"Iya Yah,," jawab ibu.
"Iya betul itu Bu,, biar Abbi yang bereskan urusan rumah,, Ibu terima beres saja ya."
Ibu tersenyum kearahku, dan kemudian dengan di papah oleh Ayah masuk kedalam kamarnya.
"Bii, jaga Ibumu, ayah kekantor ya.."
"Siap Ayah!"
Ayah segera berangkat kekantor karena masa cutinya yang sudah habis.
Sementara aku mulai memasak untuk makan siang kami.
Nasi, sayur bayam dan bakwan jagung, sambal terasi, jus buah, juga kacang hijau sudah selesai dibuat.
Air rebusan pertama kacang hijau aku masukkan kedalam teko kecil dan aku simpan di kulkas.
Aku selalu ingat, Ibu tidak akan mau minum obat tanpa ada minuman dingin yang manis, sekalipun dokter sudah melarangnya.
Sambil tersenyum mengingat kebiasaan unik Ibu, Abbi berjalan kearah kamar untuk melihat Ibunya.
Dengan perlahan dia membuka pintu kamar ibunya,
"Ibu masih nyenyak!
ya sudah setengah jam lagi aku bangunin Ibu" gumamnya sambil melihat kearah jam dinding yang baru menunjukkan pukul 11.30.
Sambil menunggu Ibu bangun dari tidurnya, Abbi melanjutkan pekerjaannya, dia mulai menyapu, dan mengepel lantai rumah.
Terus berlanjut membersihkan kamar mandi sekaligus memasukkan pakaian kotor kedalam mesin cuci.
"Beresss!" ucapnya selesai menjemur sisa pakaian yang terakhir.
"Huffft,, capekknya" keluh Abbi sambil mengusap keringat di dahinya.
Tugas belum selesai,, setelah menjemur pakaian yang dicucinya,, Abi masuk kedalam kamar Ibunya,,
"Bu,, bangun Bu..! sudah jam 12 lewat waktunya makan sama minum obat"
"Hoamm!" Ibu terbangun dan menguap.
__ADS_1
" Memangnya sudah jam berapa sekarang Bii??"
"Jam 12 lewat Bu! Ibu mau makan dikamar atau mau di ruang makan Bu?"
"Diruang makan aja Bii, ibu bosan dikamar terus!"
"Owh ya sudah,, Ayo Bu, Abbi bantu"
"Pelan-pelan saja Bu!" cemas Abbi.
"Gak apa-apa Bi,, jahitan Ibu sudah kering kok!"
"Iya itu yang terlihat diluar tapi dibagian dalamnya kan ga ada yang tahu Bu,, !" debatnya.
"Iya.. iya.. kamu menang!" jawab Ibu.
Abbi tersenyum lucu mendengar jawaban ibunya.
Sambil berjalan dengan menggandeng lengan Ibunya menuju ruang makan.
Beberapa hari sudah berlalu,,
Sesuai jadwal yang sudah diberikan oleh dokter, 3 hari lagi tiba waktunya bagi Ibu untuk menjalani Kemoterapi pertamanya.
Abbi mulai sibuk menyusun daftar menu makanan yang harus dimakan untuk meningkatkan imun tubuh ibunya sebelum menjalani Kemoterapi.
"Untuk hari ini juice sirsak, Air rebusan kacang hijau, sayur brokoli, tahu sama tempe juga Ikan goreng, gak boleh makan yang bakar-bakaran,,"
Abbi terus asik menulis menyusun menu sehat untuk ibunya diselembar kertas HVS.
*Drrtt.., drrtt* hape yang dia taruh diatas kursi bergetar.
"Kak Alex?" gumamnya ketika melihat layar ponselnya menampilkan nama penelpon.
"Hallo Kak?"
"Hallo Bii,, kamu dimana sekarang?"
"Seperti biasa,, Aku dirumah Kak!"
"Iya Kak,, tapi.. eh.. lho kok Kakak tahu?" Abbi terheran-heran.
"Ya aku tahu,, kan aku diluar!"
"Diluar?? Diluar mana Kak?"
"Diluar rumah!"
"Oww!"
"Lhoo,, Heee.. diluar rumah?? diluar rumahku?" seru Abbi tersadar.
"Ya iyalah.. tumben loadingmu lambat amat kayak komputer pentium 1!" ledek Alex.
Abbi hanya nyengir mendengar ledekan kekasihnya.
Abbi segera berdiri dan berlari keluar rumah,, Hape masih aktif dan menempel ditelinganya,,
Matanya melotot seketika saat melihat Alex sambil memegang hapenya berdiri sambil bersandar di mobil hitam kesayangannya.
"Mulutnya ditutup Bii, nanti kemasukan lalat" selorohnya masih terdengar lewat telpon yang aktif menyala.
Abbi reflek menutup mulutnya dengan tangan kirinya.
Alex tertawa melihat wajah lucu Abbi yang melongo terkejut melihat kedatangannya.
Alex berjalan mendekati Abbi yang masih berdiri tercengang tak percaya.
*Ctak* Alex menyentil pelan dahi Abbi.
"Hehh Sadar,, sadar!" ucapnya.
"Beneran ini Kak Alex?? kirain mimpi" sambil mengelus dahiku.
__ADS_1
"Kita berdiri dan ngobrol disini atau masuk kedalam?" tanyanya mengingatkanku.
"Eh,, iya,, Ayok Kak masuk!"
"Duduk Kak!" mempersilahkan Kak Alex begitu masuk kedalam rumah.
"Kok bisa Kakak kesini,, Kakak tahu rumahku dari siapa? Kakak kesini sendiri? Nyetir sendiri?" cerocosku.
"Hey,, Hey.. satu-satu dong tanyanya!"
protes Alex.
Abbi lagi-lagi menutup mulutnya. Lalu tersenyum senang.
"Satu Aku kesini karena aku merindukanmu, kedua aku tahu rumahmu karena aku meminta seseorang memeriksa identitas mu di kampus, Ketiga dan Keempat Aku kesini nyetir sendiri, dan berangkat sendiri! Laporan selesai" jawabnya.
Abbi pun nyengir mendengar jawaban Alex yang panjang.
"Kamu sendirian dirumah?"
"Nggak Kak,, sama Ibu! Memangnya kenapa Kak?"
"Ya nggak apa-apa,, kok sepi sekali!?"
"Iya Ayah masih dikantor, kalau Ibu masih tidur karena efek obat yang diminumnya!"
"Oww,,"
"Eh Kak sebentar ya aku buatin minum,,!"
Tanpa menunggu jawabannya aku langsung berdiri dan berjalan kearah dapur,, aku membuatkan segelas es sirup rasa jeruk favoritnya.
"Minum dulu Kak!" sambil memberikan es jeruk yang aku buat.
"Segerr!" ucapnya usai meminumnya.
Alex kemudian pindah tempat duduk, dan sekarang duduk tepat disamping ku.
*Grepp* Alex langsung memelukku dari samping, dan dagunya dia taruh diatas bahuku.
"Aku kangen banget Bii!" ucapnya tepat didepan telingaku,, membuat hembusan nafasnya terasa hangat menyapu sebagian wajahku,, sekaligus membuatku bergidik karena rasa geli yang aku rasakan.
"Kak jangan begini gak enak kalau ada yang lihat!" tegurku.
"Yaa biarin aja Bii!" jawabnya malah semakin mempererat pelukannya.
"Kok biarin,, kan ga enak kali dilihat orang, apalagi kalau sampai digerebek warga terus dituduh macam-macam kan gak lucu!"ucapku mengingatkan.
"Justru malah itu yang aku tunggu!" jawabnya dengan santai.
"Lhoo Kok bisa itu kan memalukan!"
"Biarin memalukan,, paling ujung-ujungnya disuruh nikahin kamu,, kan itu yang aku tunggu!" sekenanya.
"Hahh,, Astaga nagaa!! Ogah Kak,, kalau nikah gara-gara digerebek,, ini muka imut cantik menawan bak Dewi khayangan mau ditaruh dimana?" ocehku.
"Kkkk, mukamu ya tetap di situ Bii,, masah dipindah dirumah tetangga!" kelakarnya.
"Yeee...,, dasar SukAmAn!"
"Ehh namaku Alek bukan Sukaman!"
"Emang Kakak Sukaman,, Suka Ambil kesempatAn!"
"Ha.. ha,, bisa aja kamu Bii!" sambil menjepit hidungku"
"Gimana kejutanku suka gak?" tanya Alex.
"Suka dan mengejutkan sekaligus membuatku hampir pingsan karena jantungan!"
"He.. He" Alex terkekeh.
"Masih ada kejutan lain lho!"
__ADS_1
Mendengar kata kejutan dari Alex,, Abbi langsung menatap penasaran kearah kekasihnya..
????