I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Anakku Tanpa Pengakuanmu.


__ADS_3

Alex tidak menjawab pertanyaan istrinya,, dia memiliki h merebahkan tubuhnya dan memunggungi Abbi yang duduk dikursi depan meja rias.


"Terima kasih, kamu masih mau perduli dengan kesehatan Ibu juga keluargaku"


Hampir 1 bulan lebih mereka pisah ranjang,, rasa ragu dan canggung menyelimuti Abbi, haruskah dia tidur satu ranjang dengan suaminya,, sementara dirumah ini sudah tidak ada kamar lain, meskipun ada. itu hanya akan membuat orang tuanya curiga.


Abi membuka lemarinya,, dia ambil 1bedcover tebal dan dilipat 3 bagian,, lalu dia taruh diatas lantai disamping bawah ranjang tempat tidur yang kini ditempati Alex.


Mengambil 1bantal dan tidur diatas lantai beralaskan bedcover yang dia lipat.


Untuk pertama kalinya Abbi merasa tidak nyaman,, perutnya yang membesar membuat dia sulit menemukan posisi tidur yang pas, ditambah lagi dia harus tidur diatas lantai.


"Sabar,, sabar" batin Abbi sambil mengelus perutnya yang buncit.


Satu jam beristirahat,, meski badan terasa pegal-pegal, Abbi memilih bangun dan merapikan bedcover yang dipakainya.


Bergegas keluar untuk membantu Bi Narti menyiapkan makan malam.


"Bi, ibu apa masih tidur?" tanya Abi saat melihat Bi Narti sedang mengangkat panci sup dari atas kompor.


"Nggak Non, Ibu bangun tepat saat Bapak pulang!"


"Ow,, ini Bibik mau masak apa?


"Sudah selesai Non, ini ada soup ayam kampung, perkedel kentang sama Ayam goreng"


"Waahh,, jadi laperr " ucap Abbi mengambil mangkok sup dan menyendok sedikit sup dari panci.


"Enak Biik,," ucap Abi dengan senang.


"Gak keasinan kan Non?"


"Nggak Bik,, pas ini enak banget, Ya udah Abbi kasih tahu Ayah sama Ibu buat makan malam ya Bi"


"Iya Non"


Abbi menuju kekamar kedua orang tuanya,


setelah itu dia membangunkan Alex, suaminya, meski ragu dan takut Abbi tetap mendekati suaminya yang masih terlelap sambil memeluk guling.


"Kak, bangunn, waktunya makan malam" dengan lembut


"Hmm" Alex menjawab dengan dingin.


Abbi, sedikit bernapas lega meski hanya suara hmm, setidaknya tidak ada bentakan atau pukulan yang dia terima saat membangunkan Alex.


Abbi berjalan keluar menuju meja makan, dan melihat kedua orang tuanya sudah duduk menunggu kedatangannya.


"Ayah" Abbi mendekati ayahnya dan memeluk pria paruh baya itu dengan sangat hangat penuh kerinduan.


"Ayah lega melihat kamu sehat juga baik-baik saja Nak" ucap nya sambil menatapku.


"Tentu Ayah,, Abbi sehat, Abbi juga baik-baik saja,, jangan cemaskan Abbi" jawabku degan tersenyum.

__ADS_1


"Kak Seno dimana Yah?" tanya Abbi lagi.


"Kakakmu diluar kota" ucap Ayah.


"Oww.!"


"Suamimu mana Bii?" tanya Ibu.


"Itu Bu,, masih tidur,, katanya capek banget"


"Oww,, ya sudah siapkan makan malam buat suamimu antar saja kekamarnya" suruh Ibu.


"Iya Bu,,"


" Selamat malam Ayah, ibu, maaf membuat kalian menunggu" ucap Alex yang ternyata sudah bangun dan mendekat kearah meja makan.


"Ayo Nak, kita makan malam dulu,, supnya gak enak kalau dingin"


"Iya Bu"


Sebaik mungkin Abbi melayani suaminya, mengambilkan makanan dan sesekali bertanya meski sedikit canggung Abbi berhasil menutupinya dengan baik.


"Gimana kabar Papamu Lex?" tanya ayah mbuka obrolan disela-sela makan malam kami.


"Baik Ayah, Papa titip salam untuk Ayah juga Ibu"


" Ow,, Sampaikan salam dari kami untuk Papamu ya Lex" balas Ayah.


"Baik Ayah, nanti Alex sampaikan"


"Nggak, cukup" jawabnya datar.


"Sudah siapkan nama untuk anakmu Lex?" tanya Ibu.


"Belum Bu,, Alex berharap Ayah atau Ibu yang kasih nama, gimana?" tanya Alex.


"Apa gak apa-apa kalau kami yang kasih nama buat anak kalian?" tanya Ayah.


"Ya nggak lah Yah,, kan ini juga cucu Ayah sama Ibu ?"


"Lalu apa Papamu ga keberatan?"


"Nggak Yah, Kata Papa semuanya terserah Alex"


"Wahh kalau begitu ya kita senang sekali ya Yah, diijinkan memberi nama sama anak kalian" jawab Ibu sumringah.


Abi tersenyum pedih mendengar ucapan suaminya. Meski didepan kedua orang tuanya tidak sekalipun suaminya menyebut kata anaku, atau anak kami, tapi hanya menyebut cucu kalian, dari bibirnya.


Tak sekalipun kata pengakuan keluar dari bibir Alex tentang status anak yang dikandungnya. Alex seolah begitu yakin bahwa anak dalam kandungannya bukanlah darah dagingnya.


Selesai makan malam, Ayah pamit kekamar bersama Ibu karena kondisi Ibu yang tidak bisa duduk terlalu lama.


Alex kembali kekamar diikuti oleh Abbi dibelakangnya.

__ADS_1


Alex duduk dan bersandar diatas tempat tidur, sambil memainkan ponselnya. Dingin, acuh dan tidak perduli pada istrinya seolah yang masuk bersamanya hanyalah angin lalu yang tak perlu dianggap.


Abbi pun hanya bisa menghela napas panjang.


Jam baru menunjukkan pukul 8 malam, tanpa berpamitan Alex keluar dan pergi dengan mobilnya entah kemana.


Lagi dan lagi Abbi hanya bisa mengelus dada.


Membuang jenuh didalam kamarnya, Abbi memilih pergi kekamar Ibunya.


"Ibu sudah tidur Yah?" tanyaku lirih.


"Hmm" Ayah menganggukan kepalanya.


"Kenapa?" tanya Ayah.


"Nggak apa-apa Yah, hanya kengen pengen ngobrol saja"


"Ya sudah ayo kita keruang depan, biarkan ibumu tidur"


Abbi mengangguk dan keluar dengan pelan.


"Ayah bagaiman Kak Seno?" tanyaku dengan suara pelan saat sampai di depan ruang tamu.


"Kakak mu masuk penjara" ucap Ayah pelan.


" Sejak kapan Ayah? Tapi bukannya Ayah bilang mau membantu Kak Seno?" tanyaku dengan terkejut.


" Dari dua hari yang lalu, Ayah hanya mau memberi sedikit pelajaran pada Kakakmu" Ayah terlihat kesal.


"Tapi itu bisa mempermalukan nama baik keluarga kita Yah"


"Sejak awal, Kakakmu korupsi, dan kamu yang membantunya saat itu sebenarnya nama baik kita sudah tercoreng" Ayah menghela napasnya dengan berat.


"Tapi kalau sampai masuk bui, berita akan cepat tersebar Yah!"


"Ayah tahu itu,,. makanya Ayah lah yang menyuruh Kakakmu menyerahkan diri dikantor polisi, jadi tidak perlu dijemput paksa dan tidak menimbulkan kehebohan dimanapun!"


"Lalu tindakan Ayah selanjutnya apa? Ayah tidak mungkin menutupi kepergian Kak Seno untuk seterusnya sama ibu kan Yah?"


"3 hari lagi acar 7 bulananmu kan? tanya Ayah.


"Iya Yah, kenapa?"


"Lusa ayah akan bebaskan kakakmu!" ucapnya.


"Tapi bagaimana. dengan uang yang sudah dikorupsi Kakak Yah,. apa ayah ada uang untuk mengganti kerugian perusahaan yang disebabkan Kakak?"


"Ada,, Ayah terpaksa menjual rumah milik Ayah yang seharusnya untuk masa depanmu dan juga kakakmu, sekaligus untuk tembahan pengobatan Ibumu" ucap Ayah dengan sedih.


"Tidak apa-apa Ayah,, bukankah nama baik lebih berharga daripada emas, Dan kesehatan Ibu lebih penting dari harta apapun" ucapku menguatkan.


"Ayah mengerti Bii, hanya saja Aya menyesalkan tindakan Kakakmu,, Apa yang dilakukan Kakakmu seolah melempar kotoran kemuka Ayah, ini sangat memalukan, Ayah benar-benar tidak punya muka terutama didepan Papa mertuamu, Ayah merasa gagal menjadi orang tua untuk kakakmu"

__ADS_1


"Ayahh,, bersabarlah, kita pastikan bisa melewati ini semua Yah,, bukankah Tuhan tidak pernah memberikan ujian diluar kemampuan umatNya? Abbi juga yakin setelah masalah ini Kakak pasti berubah!" Abbi mencoba menghibur Ayahnya yang kini terlihat sedikit lebih kurus.


__ADS_2