I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Pe-De-Ka-Te


__ADS_3

Waktu berlalu dengan cepat, akhirnya tanggal 27 Desember tiba juga..,


Para panitia pun berkumpul di gedung gereja yang akan dipakai untuk acara natal nanti sore.


Disela-sela kami mendekorasi gedung gereja, Hany datang mendekatiku,


“Gimana sudah berhasil belumm,,?? lama amatt sudah kangen ni sama bakso Mang Mimin!" bisiknya meremehkan ku.


“Aishh tenang aja,,?!! aku pasti menang kok,, lagian kan salah kamu sendiri kenapa kemaren nggak tentuin batas waktunya!?” jawabku sekenanya.


“Iya juga ssih” gumamnya dengan lugu.


“Sudah fokus dulu sama acara nanti sore!” ucapku sambil menepuk punggungnya.


“Iya.. iya siap!!”


Akhirnya kamipun kembali fokus untuk menata ruangan dan menghias gereja dengan pita-pita dan tulisan yang kami buat.


Pukul 1 siang kami semua bisa menyelesaikan dekorasi gereja, kamipun pulang kerumah masing masing untuk bersiap-siap.


Sore ini jam 4 tepat acara akan di mulai, sedangkan aku baru sampai dirumah jam 13.30 WIB.. dengan cepat aku makan dan langsung mandi, untuk bersiap-siap kembali ke tempat acara.


Aku memakai kemeja maroon polos yang aku padukan dengan rok span pendek selutut warna hitam.


Rambutku yang hitam panjang aku ikat ditengah dengan pita warna hitam dan menyisakan sebagian lagi terurai.


“Buu..!! Abbi pergi dulu ya,?! Oh iya, hari ini Abbi ijin pulang terlambat ya Bu?!” ucapku meminta ijin .


“Hmm,,. Abii! kamu mau di antar Kakakmu ga?” tanya Ibuku.


“Kenapa bukan Ayah saja yang antar Abbi, Bu?”


“Kan ayahmu ada kerjaan diluar kota Bi,, kamu lupa?,, jadi mau ga dianter sama kakakmu?” tanyanya sambil duduk santai menonton TV diruang tamu sekaligus menjadi ruang keluarga.


“Boleh Bu, dari pada Abby naik motor,, entar cantikku kabur lagi dibawa angin” ucapku sambil bergaya bak model dan mengibaskan rambutku yang panjang sepinggang.


“Halahhh!! kamu itu ada –ada saja” ucap ibu sambil tersenyum melihat gayaku.


“Ya sudah panggil sana kakakmu, dia ada di kamarnya tuh!!”


“Siap Nyonya Novia Putri yang cantik jelita” selorohku.


Sementara ibu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Dengan cepat akupun melangkahkan kakiku menuju ke kamar kakak laki-laki ku satu-satunya,


“Kaakk,, Kakak Seno?!" panggilku dengan suara nyaring didepan kamarnya.


“Hmmm, bentar…!!” ucapnya.

__ADS_1


“Ada apa sich dek,, siang-siang begini teriak- teriak kayak di hutan!!” omelnya dengan muka masam.


“Kak tolong anterin aku ke Gereja Sillo ya?!” ucapku memelas.


“Malas ahh, kakak mau tidur siang, biasanya kan kamu pake motormu sendiri”


“Ibuuu,, Kakak gak Mau antar Abbi” teriakku mengadu.


“Sennn!!” tegur ibu yang berjalan kearah kami.


“Antar adikmu, kasihan adekmu sudah dandan cantik begini kok disuruh pake motor,, apalagi ini musim hujan juga,, sudah sana antar adekmu sebentar!!”


“Iya Bu,, iya Seno antar” ucapnya dengan terpaksa.


“Terima kasihh ibuku yang cantiikk…, terima kasih kakakku yang tampan” ucapku sambil tersenyum manis.


“Tapi menyebalkan” lanjut ku dalam hati.


Akhirnya akupun di antar kakakku naik mobil panther hitam keluaran tahun 1997 kesayangan keluarga,, Hehe karena memang itu satu-satunya mobil yang kami punya..


“Kamu pulang jam berapa Dek?"


“Gak tahu kak, nanti kalau acara selesai aku telpon Kakak Ya”


“Hmm” jawabnya sambil konsentrasi menyetir mobilnya.


“Kakak kelihatan gak bersemangat,, kakak ada masalah lagi sama Kak Shinta? Tanyaku.


" Pacar Kakak kemarin minta tolong sama Kakak buat bantuin dia cari uang untuk membantu membayar biaya rawat inap adiknya yang sakit Demam Berdarah” curhatnya sambil menghela napas.


“Padahal Kakak baru saja selesai wisuda, dan belum dapat pekerjaan,, dapat uang dari mana coba?” tambahnya.


“Kalau Kakak ga mau bantu,, dia mengancam Kakak untuk putus, karena dianggap gak berguna” ucapnya lagi.


“Wahh susah juga ya Kak”


“Masa mau minta sama ayah?” ucapku.


“Mana berani dek,, apalagi biaya wisuda kemarin habis banyak,, masa kakak nambahin beban ayah lagi??”


“Iya juga sich,, tapi Kak pacar Kakak itu juga aneh,, minta tolong kok Maksa?” ucapku.


“Ga taulah dek pusing, biar Kakak cari jalan keluarnya nanti,," lagi-lagi sambil menghela napasnya dengan berat.


15 menit kemudian kamipun sampai di depan Gereja Sillo.


Setelah mengecek semuanya,, sesaat kemudian acara pun dimulai.


Acara berlangsung dengan cukup meriah, sekalipun hujan sempat mengguyur, tapi tak mengurangi antusias dan semangat kami untuk merayakan natal bersama tahun ini.

__ADS_1


Jam 7 malam tepat acara selesai, dan semua tamu sudah pulang, hanya tersisa aku, Hany dan beberapa panitia, Kak Yogi dan pengerja gereja.


Kamipun merapikan dan membersihkan gereja, sebelum kami pulang kembali ke rumah masing –masing.


Lagi-lagi hujan turun dengan sangat deras, tapi itu tidak masalah buat kami, toh kami masih ada di dalam gedung gereja, jadi masih aman.


Beberapa menit kemudian, satu-persatu teman-teman panitia mulai dijemput oleh keluarganya masing- masing.


Termasuk Hany sahabatku.


“Bii aku pulang dulu ya,, kamu mau ikut aku sekalian gak?? biar nanti aku minta sama ayah untuk mengantarkanmu sampai di rumah” tawarnya.


“Nggak usah Han, sebentar lagi Kak Seno juga datang, kasihan kalau sampai dia datang menjemput ku terus akunya gak ada” tolakku dengan halus.


“Kamu yakin?”


“Hmm,, ya iya lah” jawabku sambil tersenyum.


“Oke deh aku pulang dulu ya.., bye Abi,, selamat berjuang” ucapnya sambil melirik kearah Yogi yang mengobrol dengan salah satu pengerja gereja bernama Kak Helmi.


“Okkeehh,, aku pasti menang” bisik ku.


“Kita lihat aja” tantangnya sambil melangkah keluar gereja menuju teras dimana ayahnya sudah menunggu.


Rumahnya yang tidak searah denganku, membuat aku memilih untuk menolak tawaran hany untuk pulang bersamanya.


Hingga akhirnya tersisa aku, kak Yogi dan dua pengerja gereja yang masih tersisa.


Gedung gereja sudah bersih seperti sediakala.


Aku pun memutuskan untuk menghubungi kakakku,


“Yaahhh celaka lima belas ponselku batrenya habiss pula!” gumamku sambil memandangi hape Noki@ hitam tipe 6600 milikku.


“Terus gimana nihc??”pikirku kebingungan sambil melirik ke arah jam tangan yang aku kenakan.


Jam 8 malam,,


“Biar aku tunggu diteras gereja saja ah,, semoga Kakak ga lupa menjemput” batinku berharap.


Dengan santai akupun berjala menuju teras gereja.


Akupun duduk di undakan tangga yang menuju pintu masuk gereja.


“Bii..!”’ panggil seseorang dari arah belakangku.


Akupun menengok kearah belakang, seketika aku sedikit terkejut melihat orang yang memanggilku..


Bersambung

__ADS_1


Visual Seno Ariesta



__ADS_2