I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Sosok yang Mengesankan


__ADS_3

Ujian akhir semester dua sudah selesai. Libur panjang pun menanti didepan mata.


Abigail sudah bersiap dengan tas ransel yang berisi pakaiannya.


Wajah ceria dengan senyum mengembang, Abigail melangkah keluar menemui Riana yang sudah sampai didepan kostnya.


Didalam taksi ternyata sudah ada Riana,, Widya,, dan Lidya.


"Waaa... ternyata kalian ikut juga,, kenapa ga kasih tahu!" hebohku sambil masuk kedalam mobil


Taksi yang kami tumpangi berempat segera meluncur ke tempat tujuan.


"Biar surprise" ucap mereka bertiga serempak.


"Waaa jahatnyaa.." aku pura-pura merajuk.


"Ha.. ha.., sudah gak usah gaya-gayaan pakai ngambek segala,, ntar ga kebagian lhoo!!" ucap Eva.


"Gak kebagian apaan?"


"Nichhh" Eva mengangkat kantong kresek putih berisi pentol bakso kecil-kecil dengan saus kacang pedas.


"Awww aku mauuuuu!!"


"ha..ha..kamu ni Bii.. Bi.. dasar tukang makan!"


"Biarin ini enak tauu!" sambil menusuk butiran baso kecil itu, dan melahapnya dengan cepat.


Selama satu jam perjalanan akhirnya kami sampai di sebuah penginapan Arjuna yang sederhana tapi bersih.


Aku dan Riana satu kamar,, sedangkan Eva sekamar dengan Lidya.


Sesuai instruksi awal jam 10 tepat kami harus berkumpul bersama yang lainnya di pos jaga 1 dekat gerbang masuk perkampungan padat penduduk kota S.


Celana jeans hitam kaos putih dan memakai jas almamater warna navy,, kami berempat berjalan kaki sekitar 10 menit untuk sampai di pos jaga 1 gerbang perkampungan.


"Yang ikut lumayan bayaknya Ri!"


"Iya,, aku dengar-dengar hampir semua fakultas mengirimkan wakilnya untuk ikut,, dan donatur untuk acara ini juga gak kaleng-kaleng lho!" jawab Riana.


"Pantas aja banyak ya..!" sahut Widya.


Total ada 30 Orang ikut berpartisipasi dalam acara bakti sosial ini,,


Acara untuk 6 hari kedepan sudah disusun sebelumnya,, mulai dari membantu membersihkan perkampungan,, perbaikan sanitasi, pembagian makanan bergizi untuk anak-anak perkampungan, sampai yang terakhir program vaksin dan pemeriksaan kesehatan gratis.


Setelah pembacaan program,, berlanjut pembagian kelompok supaya semua lebih terorganisir.


Dan disaat bersamaan kampus lain juga mengadakan acara bakti sosial dan daerah yang disasar sebagai lokasi tempat bakti sosial kebetulan sama dengan kampus kami.


Dihari pertama aku dan kelompokku orang berhasil membantu membersihkan dan merapikan perkampungan kumuh di pinggiran Timur kota J.


Dengan dana dari para donatur yang membuat kami berhasil membuatkan sarana sanitasi umum yang sangat dibutuhkan oleh warga di perkampungan itu.


Dengan jadwal yang sudah disepakati, hari kedua, aku dan kelompokku menyiapkan makanan bergizi untuk sekitar 100 orang dewasa dan juga anak-anak yang tinggal disana.

__ADS_1


Tepat jam makan siang, kami pun mulai membagikan makanan gratis dan bergizi itu pada para penduduk.


Sesaat aku diam terpaku, menyaksikan pemandangan yang indah tak jauh dari tempatku berdiri sambil membantu teman-temanku membagikan makanan itu.


Seorang pemuda tampan dari kampus lain tampak berkumpul dengan anak-anak kecil yang tinggal di perkampungan ini,, mereka terlihat akrab dan bercanda tawa begitu lepas.


Bahkan tidak jarang pemuda tampan yang aku lihat itu membelai bahkan menggendong salah satu anak kecil yang mengelilinginya.


“Kak Alex gantian aku yang di gendong,, jangan Rani aja Kaka” teriak seorang gadis kecil sambil menarik –narik celana pemuda itu.


“Kak alex, aku juga mau…!” sahut anak-anak yang lain saling berebut perhatiannya.


“Satu-satu ya,, kalau tiga-tiganya Kakak gendong bersamaan,, Kakak bisa-bisa encokk” selorohnya sambil memegang punggungnya, dan menirukan gaya kakek-kakek yang sakit pinggang.


“Ha,, ha.. kak Alex sudah mirip kakek Ony yang tinggal di ujung itu” celetuk salah seroang gadis kecil dengan polosnya sambil menunjuk ke arah rumah papan berwarna putih kumal yang berada paling ujung dari deretan rumah warga.


“Hllahh,, Kak Alex di samain dengan Kakek Ony,, memang Kakak setua Itu?” tanyanya sambil melotot pura-pura terkejut.


“Ha..ha.. Iya Kak!!”’ ucap 3 gadis kecil itu dengan serempak..


“Beraninya kalian!!” ucap Alex sambil memasang tampang seramnya,, dan menggelitiki tiga gadis kecil itu bergantian.


“Ha,, ha,, ha,, ampun kak,,, ampun!!” ucap mereka bertiga bersahut-sahutan..


Aku yang melihat secara langsung Interaksi mereka yang begitu mengalir apa adanya, dan tanpa rasa canggung, membuatku senyum-senyum sendiri turut merasakan kegembiraan yang mereka rasakan.


Dari kejauhan aku terus memperhatikan ekspresi pemuda itu yang begitu tulus, dan begitu lepas bebas tanpa beban.


Hal itu praktis membuatku sedikit berdebar dan juga penasaran dengan sosoknya.


Akupun berpikir dengan keras berniat untuk mencari celah, dan waktu yang pas untuk bisa mendekatinya dan mengajaknya berkenalan.


“Sadar,,, sadar,, sejak kapan seorang Abigail Ariesta yang terkenal cantik, pintar dan banyak penggemar menjadi se-agresif ini” pikirku dengan narsis sambil menggelengkan kepalaku.


Dengan ego dan harga diri yang tinggi aku tidak jadi mendekati, dan mengajaknya berkenalan.


Akupun memutuskan untuk kembali fokus menyelesaikan acara di hari kedua ini.


Keesokan harinya, memasuki hari ketiga, aku dan rekan-rekanku membantu petugas posyandu dan juga dokter dari Puskesmas setempat mengadakan acara pengecekan ibu-ibu hamil dan anak-anak balita.


Ketika salah seorang anak kecil berusia sekitar 5 tahun menangis karena takut mau di vaksin, aku pun kemudian mendekatinya dan mencoba menenangkannya, tapi sayangnya anak itu tetap menangis dan memberontak.


Karena sibuk menenangkan gadis kecil yang duduk didepanku aku pun tidak menyadari ada seseorang sudah berdiri dibelakangku.


“Biar aku coba menenangkannya” ucapnya dengan suara lembut.


“Degg” jantungku berdebar dengan keras mendengar suara yang sudah pernah aku dengar sebelumnya.


“I.. iya” jawabku gugup sambil bangkit berdiri dan bergeser kekanan memberikan tempat pada pemuda itu.


“Hay cantikkk..” sapanya


“Jangan nangis lagi,, nanti cantiknya hanyutt ke bawa airmatanya mau?” tanyanya sambil mengusap kepalanya.


Tapi gadis itu tetap menangis.

__ADS_1


“Kalau kamu mau di vaksin nanti kakak kasih hadiah,, lagian di vaksin itu ga sakit kok,, Cuma kayak di gigit semut” rayunya pada gadis kecil itu.


“Kakak bohongg!!” ucap gadis itu sambil terisak.


“Enggak,, Kakak nggak bohong,, begini saja kamu di vaksin sambil di pangku sama Kakak ya,, kalau sudah selesai kakak kasih coklat ini mau ?” bisiknya .


“Kakak bohong..,Ga mauu,, Ririn takut,,disuntik itu sakitt” ucapnya mulai menangis lagi.


“Kakak ga bohong sayang, itu gak sakit kok,, kalau Kakak bohong nanti kaka tambah hadiahnya jadi 2 batang coklat besar ini mau ga?” bisiknya lagi.


Sejenak gadis itu diam tampak berpikir sambil melihat dua batang coklat ditangan pemuda tampan itu.


Gadis itu kemudian menganggukkan kepalanya,


“Tapi peluk kak, Ririn takut” ucapnya dengan manja.


“Ya sudah sini,, “panggilnya.


Gadis kecil bernama Ririn itupun turun dari tempat duduknya dan mendekati pemuda itu, sambil dipangku Ririn menyandarkan kepalannya di dada pemuda itu.


Sementara pemuda itu mengalihkan perhatian Ririn dengan mengajaknya ngobrol, petugas dari puskesmas menyiapkan jarum suntik untuk disuntikkan dilengan kiri gadis itu.


“Sakitt kak. Hik.. hikss.!”teriak gadis itu sesaat merasakan ngilu di lengannya sambil menangis sebentar.


“Nggak kok,,ini sudah selesai” ucap petugas itu sambil tersenyum menenangkan.


“Iya kak sudah ga sakit,, kayak digigit semut” ucapnya dengan polos.


“Betulkann apa yang kakak bilang tadi??,, anak pintar” ucap pemuda itu sambil memberikan sebatang coklat miliknya pada Ririn.


Tak berapa lama Ibu Ririn yang selesai diperiksa kehamilannya pun mendekati anaknya, sambil mengucapkan terima kasih kepada pemuda itu dan juga kami yang berdiri didekatnya.


Mereka berdua pun pamit dan kemudian berjalan menjauhi tenda pengobatan.


“Terima kasih ya,, kamu mau membantuku” ucapku tulus.


“Hmm” jawabnya datar.


“Oh iya kenalkan namaku Abigail dari universitas Mulia Jaya” ucapku sambil menyodorkan tanganku mengajaknya berkenalan.


“Aku Alex dari universitas Putra Bangsa” ucapnya sambil menjabat tanganku.


“Gilaaa.., universitas Putra Bangsa kan Universitasnya orang-orang tajir.


Sudah tajir, ganteng, lembut, berjiwa sosial tinggi pula,, kombinasi sempurna” batinku.


“Ehh kak semester berapa? Tanyaku basa-basi.


“Aku semester 7 Kamu??”


“Semester 3 kak” jawabku.


Semenjak pertemuan pertama itu aku dan dia sering sekali bekerja sama selama tiga hari tersisa di kampung ini.


Bersambung.

__ADS_1


Visual Alex



__ADS_2