
Tanpa terasa Libur semesterku tinggal tersisa 1minggu lagi.
Aku benar-benar menikmati waktu bersama Ibu dan Ayah, seperti seorang anak tunggal.
Hampir setiap hari ibu memasakkan makanan kesukaanku, serundeng daging, sayur asam buah kelor, tumis ikan asin, dan ikan goreng adalah makanan favorit yang paling aku kangenin selama aku tinggal sendiri di pusat kota J.
Tapi tadi malam sebelum aku tidur,, Ibu mendadak memintaku menemaninya ke rumah sakit untuk periksa.
Dan pagi ini aku pun bangun lebih awal demi menemaninya..,
“Biii, kamu sudah siap nak?” tanya Ibu dengan suara keras dari ruang tamu.
“Iya Bu,, sebentar..” jawabku dari dalam kamar, sambil menyambar slingbag di atas meja belajar.
“Sudah Bu,, ayok” sambil menggandeng lembut tangan ibu.
“Ibu sudah pesan taksi? Tanyaku.
“Sudahh,, tuuh taksinya sudah sampai didepan” ucap ibu sambil mengunci pintu rumah.
Setelah itu kami pun berjalan mendekati taksi yang sudah menunggu didepan halaman rumah.
“Pak kita ke rumah sakit Bhakti Husada ya” ucapku pada sopir taksi.
“Iya neng” jawabnya.
Taksi yang kami tumpangi pun meluncur dengan cepat membelah jalanan kota yang tidak terlalu padat.
20 menit perjalanan akhirnya kami sampai di depan rumah sakit Bhakti Husada.
Aku dan ibupun bergegas menuju ruang praktek dr. Nissa Spog.
Dokter kandungan langganan Ibu.
Satu-persatu nama pasien di panggil berurutan untuk diperiksa.
Hingga akhirnya,
“Ibu Novia” panggil perawat yang bertugas menangani antrian pasien.
“Iya Suser” jawabku sambil menggandeng lengan ibuku.
“Permisi Dok, ucap Ibu sambil membuka ruang praktek Dr Nissa”
“Mari masuk Bu” ucap wanita paruh baya berseragam putih yang masih terlihat cantik itu dengan senyum ramahnya.
“Terima kasih Dokter” jawab ibu sambil tersenyum ramah.
__ADS_1
“Siapa yang sakit ni,, Ibu atau adek cantik ini? tanyanya sambil memandang kami bergantian.
“Saya dokter” jawab Ibu.
“Keluhannya apa Bu? “ tanyanya sambil menyiapkan kartu pasien untuk mencatat semua keluhan dan hasil pemeriksaan awal pasien.
“Awal tahun lalu saya sempat keputihan dok,, dan itu sangat bau dan organ inti saya gatal sekali,, saya sudah obati baik lewat obat dari bidan maupun minum jamu tradisional, tapi setelah keputihan saya teratasi enam bulan terakhir ini saya menstruasi dan ga berhenti juga, padahal saya sudah periksa ke bidan dan juga di beri obat, tapi sampai sekarang belum berhenti” jelas ibu.
Dr. Nissa yang mendengar keluhan Ibu, kemudian menganggukan kepalanya.
“Begini saja Bu, setelah dari ruangan ini, ibu saya sarankan untuk mendatangi Lab yang ada di ujung pertigaan lorong rumah sakit ini, bilang saja sama petugas disana periksa Pap Smear atas permintaan dokter Nissa. Nah besok pagi Ibu bisa kembali kesini untuk melihat hasilnya” ucap nya panjang lebar.
“Tapi saya sakit apa Dok?” tanyanya engan nada sedikit takut.
“Saya belum bisa bilang Bu, tolong lakukan saja pemeriksaan yang saya sebutkan tadi” ucapnya.
“Baik dokter, kalau begitu kami permisi terima kasih dokter” ucap ibu.
Tanpa membuang waktu aku pun menemani ibu untuk untuk menjalani papsmear di lab yang disebutkan oleh dr.Nissa.
Sambil menunggu giliran Ibu untuk diperiksa di lab, sesekali aku melirik ke arahnya, aku lihat raut wajah ibu yang tampak tegang dan juga cemas,
“Bu nanti setelah selesai dari Lab kita mampir ke Mall yang didepan rumah sakit ya?” ajakku.
“Mau apa Bii?”
“Yaaahh Ibuukk, ke mall ya shoping Bu sama makan,, he.. he.. sekali-sekali bergaya kayak orang kaya Bu..!” ucapku mencoba mengalihkan perhatiannya supaya tidak terlalau tegang.
“Tapi ibu mau kaannn?” godaku.
“Ya udah habis dari lab kita mampir ke mall, tapi jangan lama-lama, kasihan kalau ayah pulang dan kita masih belum dirumah”
“Iya bu,, siap..” jawabku sambil tersenyum lega melihat ibu sedikit teralihkan dari rasa cemasnya.
“No 20” cap seorang perawat.
“Buu, itu no ibu sudah dipanggil” ucapku mengingatkan.
“Eh iya,, kamu tunggu disini aja ya Bi”
“Iya Bu”.
10 menit kemudian Ibu keluar dari ruang papsmear dengan wajah sedikit pucat.
“Buu” panggilku dengan cemas, dan memberikan ibu air mineral botol yang aku bawa.
“Ibu gak apa-apa” jawabanya sambil tersenyum menenangkanku.
__ADS_1
“ Terus gimana Bu??” tanyaku.
“Apanya yang gimana?” tanya balik Ibu.
“Ya hasinya Bu,!” ucapku.
“Owhh, besok pagi baru kita bisa ambil hasilnya” jawab Ibu.
“Ya sudah sekarang kita jalan, katanya mau jalan ke Mall?” ucap ibu mengingatkan.
“Ga usah Bu,, kayaknya Ibu juga sudah capek” tolakku dengan halus.
“Nggak kok,, kalau mau jalan ya ayo kita jalan sekarang, mumpung masih ada waktu!!” ucap ibu sambil menggandeng tanganku.
“Ibu yakin” tanyaku mencemaskannya.
“Ya iya lah Ibu yakin,, mumpung masih ada waktu” ucapnya.
“Ya pasti selalu ada waktu bu,, besok juga masih bisa” ucapku pada ibu merasa sedikit aneh dengan perkataan ibu yang tak biasa.
Namun ibu hanya tersenyum tipis menanggapi perkatannku.
Aku dan Ibu pun menghabiskan waktu berdua dengan belanja di mall, meski bukan belanja seperti sultan di tempat branded tapi kami benar-benar menikmati waktu kami berdua.
Aku membeli dua kemeja berlengan pendek sementara ibu membeli rok span brukat warna hitam untuk dirinya sendiri dan kemeja berwarna navy untuk ayah.
“Bu,, kira-kira ayah ngomel gak ya kalau kita belanja begini,” tanya ku sambil melihat ke arah satu paperbag berukuran sedang bertulis B*dy and Soul berwarna putih yang berisi belanjaan kami.
“Ya enggak lah,, lagian ibu belanja kan pake uang tabungan ibu hasil pesanan kue ibu-ibu komplek” jawab nya.
“owwhh”
Kami berdua pun kembali berjalan melihat-lihat di mall hingga akhirnya memutuskan untuk makan di restauran Solari* yang cabangnya sudah bejibun itu.
“Kamu mau pesan apa Bi” tanya ibu sambil melihat daftar menu di selemabr kertas bersamaku,
“Emm Abi mau kwetiau sapi goreng aja Bu,, Ibu mau makan apa??” tanyaku balik.
“Ibu capcay goreng aja,, yang buat ayah biar daging sapi lada hitam sama Tamir capcay aja ya?!” ucapnya sambil menuliskan jumlah pesanannya.
Akupun salut pada Ibu,, yang selalu mengingat Ayah dimanapun Ibu berada.
Hingga aku bertekad suatu saat kalau aku menikah aku akan menjadi seperti ibu, sosok cerewet, tegas namun penuh cinta dan kasih sayang, dan lebih penting lagi dia selalu mengutamakan keluarganya diatas kepentingannya sendiri.
Kami berdua pun selesai menghabiskan makanan kami.
Kemudian kami berdua menuju ke lobby mall dimana taksi sudah berjajar antri menunggu penumpang.
__ADS_1
Tepat disaat kami turun dari taksi,, Ayah juga baru sampai dari kantor dengan mengunakan motornya.
Bersambung.