
Seno benar-benar merasa malu kepada Ibunya,,
Ucapan dan ulah Shinta hari ini seakan menampar, dan menyadarkannya.
"Kamu kemasi barang mu,, setelah Shinta pulang kerumah orang tuanya kamu tidak perlu kos kamu pulang kerumah ibu" ucapnya.
Mendengar perkataan mertuanya,, Shinta yang duduk didalam kamarnya semakin jengkel.
"Masss!" panggilnya setengah berteriak.
Seno menatap wajah Ibunya meminta pertimbangan.
Novia tersenyum menggelengkan kepalanya.
Seno yang mengerti tanda dari ibunya pun menganggukkan kepalanya.
Novia hanya tersenyum tipis kearahnya.
"Semoga kamu mengerti ya Nak" batin Novia.
"Masss!" terdengar suara teriakan Shinta untuk kedua kalinya.
Karena yang di panggil tak kunjung menampakan batang hidungnya,, dengan kesal Shinta keluar menemui Seno yang masih duduk didepan Ibunya.
"Teriak-teriak,, kamu pikir ini dihutan!" semprot Novia pada menantunya.
"Maaf Bu,,.. Shinta hanya memanggil Mas Seno!" jawabnya datar.
"Gak punya sopan,, begitu cara memanggil suamimu,, kayak manggil kacung saja!! Apa kamu tidak diajarkan bagaimana cara menghormati suami dengan benar!! atau memang Ibumu mengajarimu seperti ini!!!" semprotnya.
"Bu ini kan masalah sepele!" debat Shinta.
"Kualitas seseorang dinilai dari setiap perkataan, juga sikap dan perilakunya,, kalau dari hal kecil saja kamu tidak mampu melakukanya apa lagi hal yang lebih besar!" ucap Ibu dengan menatap tajam kearah Shinta.
Shinta pun terdiam. Dengan wajah masam,
" Maaf Bu.." ucap Shinta.
"Bu,, tadi Ibu bilang kita boleh tinggal dirumah Ibu kan?" tanya Shinta.
"Bukan kalian tapi hanya Seno,, kalau berdua ya kalian cari kos atau rumah sendiri!" ucap Novia tanpa perasaan.
Dewa yang mendengar ucapan istrinya hanya mampu tersenyum dalam hati.
"Kok begitu Bu??"
"lhaa ya suka-suka Ibu,, rumah,, rumah Ibu ya terserah Ibu kan!?" ucapnya.
"Tapi Bu Shinta kan istrinya Mas Seno"
"Bukannya barusan kamu bilang mau pulang,, mau minta cerai dari Seno?" sinis Ibu.
"Itu,, itu anu Bu,, Shinta nggak serius kok!" jawabnya kikuk.
"Jadi boleh kan kalau kami tinggal dirumah Ibu?"
"Boleh degan syarat,, semua gaji Seno Ibu yang kelola,, dan kamu membantu ibu membuat dan jualan kue,, gimana?"
"Ah,, itu,, Shinta,, Shinta terserah Mas Seno saja" ucapnya sambil mencubit kecil lengan Seno.
__ADS_1
"Kamu,, kamu ngapain cubit aku!" tanya Seno dengan sengaja.
"Ah,, Anu Mas,, Maaf aku, gimana keputusan Mas? kita,, kita Kost aja ya Mas?" Tanya Shinta dengan muka memerah.
"Memangnya kamu gak jadi pulang kerumah orang tuamu?" Sindi Seno tambah.
"Nggak Mass,, Maaf Shinta khilaf" jawabnya.
"Tapi Mas kayaknya gak bisa Shin,, kita memang lebih baik pisah saja,, Mas sudah gak sanggup menghidupi kamu dengan mewah!" ucap Seno membalik keadaan.
"Mass!?" Shinta melotot kearah suaminya.
"Betul kata Ibu,, rumah tangga kita tidak bermasa depan,, kamu tidak bisa mengatur keuangan dan terlalu sibuk berfoya-foya,, kita lebih baik pisah saja!" ucap Seno.
"Mass, jangan begitu,, aku janji,, janji akan lebih bisa mengelola keuangan kita ya!??" ucap Shinta.
"Ya sudah tapi kita tinggal sama Ibu,, biar Ibu yang mengatur keuangan kita dan mengajarimu kerja!" ucap Seno.
"Ishh Sialan,, kok jadi rumit begini sich!" batin Shinta.
"Jangan Mas,, kita harus mandiri dan gak merepotkan Ayah juga Ibu,, Shinta janji akan berubah ya Mas,, gak apa-apa kita ngekos dulu" ucapnya sambil tersenyum manis.
"Mending ngekos daripada jadi babu mertuaku!" pikir Shinta.
Sementara Novia dan suaminya hanya tersenyum dalam hati.
"Owalah Sen,, Sen milih istri kok ya matre,, sudah gitu bermuka tembok pula" ucap ibu dalam hati.
"Ibu,, maaf biar Seno ngekos dulu saja,,. tidak apa-apa kan Bu?" tanya Seno meminta pendapat Ibunya.
"Terserah kamu Sen,, tapi kali kau sudah gak kuat dengan Shinta mumpung belum punya anak ya kamu pulang saja,,!" ucap Ibu sambil melirik tajam kearah menantunya.
"Iya Mass,, Shinta janji,, Shinta berubah!" ucapnya.
Novia dan Dewa pun pulang kerumah mereka.
Sementara itu di kota S,
Abbigail tetap disibukkan dengan kuliahnya.
Seperti biasa dia berjalan dari kos menuju kampusnya yang hanya berjarak sekitar 200an meter.
Abbi pun berjalan ditrotoar,, hingga sampai di depan kampus dia hendak menyeberang,, tiba-tiba,
*Brughhh*
Abbi terjatuh di trotoar,,
dengan cepat dia mendongakkan kepalanya.
Membuat beberapa orang yang berdiri tidak jauh dari tempatnya terjatuh pun melihat kearahnya.
Tapi Abi mengabaikan pandangan orang-orang itu,
"Kamu!! kamu ngapain dorong-dorong aku!!" seru Abigail dengan wajah kesal pada gadis menyebalkan yang berdiri sambil berkacak pinggang dengan sombongnya.
"Jauhi Alex,,, kamu gak cocok jalan dengan Alex,, dasar kampungan!!" ucapnya dengan angkuh.
Dengan kesal Abi segera berdiri sambil membersihkan celananya yang kotor.
__ADS_1
"Memangnya Kamu siapanya Kak Alex ? Mamanya? atau pacarnya Kak Alex?" sinis Abi.
Sambil menekan tombol panggilan cepat, dan menghubungi Alex tanpa sepengetahuan Nenny.
"Aku pacarnya,, kenapa kaget? kamu itu hanya pelakor tidak tahu malu!!?"
"Ohh pacar Kak Alex!? tarus aku pelakornya yaa!" sinis Abi.
Lalu menekan tombol loud speaker diponselnya.
"Kamu dengar sendiri kan Kak,, ini pacarmu marah sama aku! aku dikatain pelakor sama cewek yang ngaku pacarmu" ucap Abbi diponselnya.
Nenny pun melotot marah pada Abbi,,
"Kamuu!!"
"Cuekin Dia Bi,, dia hanya gadis tidak tahu malu yang nggak layak di perhatikan! sudah berkali-kali dia aku tolak masih mengaku-ngaku jadi pacarku" ucap Alex dari telpon yang di besarkan volumenya oleh Abbi.
Tak ayal,, orang-orang yang berdiri tidak jauh dari tempat mereka berdebat pun mendengar dan melihat drama telenovela gratis didepan mereka.
"Kamuuu dasar sialan!!!" teriak Nenny sambil menunjuk Abbi dengan jari telunjuknya.
"Huuuuuu!!!" terdengar suara sorakan menyoraki Nenny.
"Ya Ampunn pelakor teriak pelakor rupanya!" teriak seseorang dari arah belakang Abbi yang masih melihat adegan seru didepan mereka.
"Sudah Mbak gampar aja,, gadis manja seperti itu gak usah dikasih ampun!" ucap yang lain mengompori.
Sementara Abbi hanya tersenyum tipis kearah Nenny.
Dengan muka merah karena malu dan juga marah Nenny menghentakkan kakinya lalu segera pergi meninggalkan Abbi.
Abi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat kegilaan Nenny.
"Hallo,, Bii,, hallo!" ucap Alex dari telpon yang masih menyala ditangannya.
"Eh,, hallo Kak,, iya maaf Kak" ucap Abbi sambil meneruskan perjalannya menuju ke kampus.
"Kamu baik-baik saja kan!? kamu nggak diapa-apain sama Nenny kan? dia sudah pergi kan?" tanyanya dengan nada kuatir.
"Nggak kok Kak,, Aku baik-baik saja! Dia sudah pergi Kak,, tenang saja aman kok"
"Owwh,, syukurlah,, Ehh,, Kamu selesai kuliah jam berapa?"
"Jam 11 Kak,, hari ini cuma 2 mata kuliah aja"
"Ow oke jam 11 aku jemput di halte depan kampusmu ya?!"
"Siap Bos!" jawabku sambil tersenyum.
"Oke Kak,, aku lanjut ya,, soalnya Sebentar lagi jam masuk kuliah dimulai"
"Oke,, see you later sayang"
"Iya Kak"
Abbi pun segera memasukkan kembali ponselnya kedalam tas. Dan segera berlari dengan cepat menuju ke kelasnya.
Bersambung.
__ADS_1