
Selesai sementara Abbi mencuci pering dan membersihkan bekas makan malam, Ayah dan Ibu duduk santai sejenak di ruang tamu sambil mengobrol bersama Alex.
Samar-samar Abbi masih bisa mendengar percakapan mereka,
"Nak Alex satu kampus dengan Abbi?" tanya Ayah.
"Nggak Om,, saya dari Universitas Putra Bangsa"
"Oww,, semester berapa?"
"Baru selesai Om,, Desember kemarin wisuda"
"Wahh selamat ya..!" Ucap Ibu.
"Terima kasih Tante, Om"
"Berarti sekarang sudah kerja ya"
"Iya Tan,, hanya karyawan biasa saja,, baru cari pengalaman" ucap Alex merendah.
"Tidak apa-apa asal tekun pasti sukses!" ucap Ayah menyemangati.
"Iya Om,, pasti"
"Oh iya Om,, Tante,, sebenarnya ada hal penting yang ingin Alex sampaikan" dengan wajah serius.
Abbi yang mendengar ucapan Alex pun berdebar-debar,,
Dia memasang telinganya demi mencuri dengar, sambil mengelap meja makan.
"Ada apa Nak?" tanya Ayah, sambil menatap wajah Alex.
"Begini Om,, sebenarnya saya kesini untuk meminta ijin mau melamar Abbi"
*klontanggg* terdengar suara barang jatuh dari arah meja makan.
"Kenapa Bii??" tanya Ibu dengan suara setengah berteriak.
Sementara Alex yang bisa menebak, hanya bisa tersenyum dalam hati.
"Gak apa-apa Bu,, hanya,, itu ,, ehn tangan Abbi licin,, jadi panci yang Abbi cuci jatuh!" jelas Abbi dengan gugup dari arah ruang makan.
"Oww" jawab Ibu.
"Bagaimana Om,, Tante?" tanya Alex lagi.
"Emm, bagaimana ya Nak,, bukan Om tidak merestui,, hanya saja kamu bisa lihat Tantemu ini baru selesai dioperasi, Abbi juga belum selesai kuliah,, apa tidak sebaiknya menunggu dulu?" tanya Ayah.
"Emm,, Kalau masalah Abbi, dia kan masih bisa kuliah setelah menikah Om,, kalau masalah Tante,, saya yakin pasti Tante bisa cepat pulih,, sedangkan untuk masalah lain,, mohon maaf Om,, Alex berharap Om tidak tersinggung,, tentang masalah biaya pertunangan atau mungkin pernikahan nantinya,, Alex akan berusaha keras untuk menanggung semuanya!" ucap Alex bersikeras.
Ayah sejenak menarik napas dalam-dalam,,
"Berikan Om dan Tante waktu untuk berpikir ya,, begitu juga Abbi pasti dia juga butuh waktu untuk berpikir!" jawab Ayah.
"Iya Om,,Terima Kasih Om, Tante" ucap Alex.
"Baiklah Nak,, Kami pamit istirahat ya,, kamu juga istirahatlah,,!" ucap Ayah sambil membantu istrinya berdiri.
"Iya Om,, Tante,, selamat malam, selamat beristirahat" ucap Alex sambil ikut berdiri.
"Kamu juga ya Nak" jawab Ibu.
Ayah dan Ibu masuk kedalam kamar mereka.,, Abbi yang sudah selesai membersihkan dapur dan ruang makan segera masuk kedalam kamar Kakaknya, dia mengambil sprei baru dan dipasang ditempat tidur Seno yang akan ditempati oleh Alex.
Tengah sibuk memasang sprei,, dari arah belakang,, tanpa suara Alex masuk dan menutup pintu kamar.
Alex melihat Abbi yang kini tengah duduk membelakangi pintu sambil memasang sarung bantal dan juga guling.
__ADS_1
*Greepp* Alex memeluk Abbi dari belakang.
"aaapp" Abbi hampir berteriak karena terkejut.
Dengan cepat Alex membekap mulut kekasihnya.
"Sstt,, ini aku,,"
Abbi melotot ke arah Alex,,
"Kebiasaanmu Kakk, selalu bikin jantungku mau copot karena kaget!" omel Abbi.
Alex hanya tersenyum mendapat omelan Abbi.
"Lagian kenapa Kakak nekat ngomong sama Ayah juga Ibu tentang niat Kakak?" tanyaku.
"Kenapa? kamu gak suka? kamu keberatan? atau memang kamu gak cinta dan mau menolak niat baikku?" tanyanya bertubi-tubi.
"Bukan,, bukan begitu,, hanya,, bukannya waktunya kurang tepat,,?" jawab Abbi.
"Aku gak bisa menunggu lama Bi,, dari dulu aku sudah punya niat untuk nikah muda kalau ketemu dengan orang yang pas,, dan buatku kamu itu jodohku" ucapnya sambil kembali memeluk Abbi dengan erat.
"Tapi Kak,, emm tolong berikan aku waktu ya" pintaku sambil menatap lekat wajah Alex.
"Hmm, tapi jangan lama-lama" sambil menatap balik wajah ku.
Betul kata Nenek,, jangan hanya berduaan apa lagi dalam kamar,,
Bisa-bisa ada setan yang menggoda..
Seperti sekarang,, Alex mulai mencium bibir kekasihnya dengan lembut,,
Namun lama-kelamaan berubah jadi ciuman yang menuntut.
Digigitnya perlahan bibir gadisnya,, Abbi pun membuka bibirnya,,. Alex tidak menyia-nyiakan kesempatan,, lidahnya segera masuk dan menari didalam rongga mulut Abbi.
Tangan Alex mulai menelusup kedalam kaos Abbi,, dan mulai mengusap lembut punggung gadisnya.
Abbi seakan tersengat aliran listrik,, tubuhnya makin menegang mendapat perlakuan lembut dari Alex,, lelaki kekar nan tampan dengan wajah mirip aktor China Li Yi Feng.
Tapi akal sehat tetap diutamakan,, Abbi dididik dengan ketat dalam keluarganya,,
Abbi menahan lengan Alex dan menghentikan aktivitas mereka.
"Cukup Kak,, " sambil mengatur nafasnya yang masih memburu.
"Kamu tidak percaya sama aku Bi??"
"Bukan,, bukan aku tidak percaya,, tapi kalau kita kebablasan itu juga gak baik Kak!"
"Kalaupun kebablasan Aku akan tetap bertanggung jawab,, aku serius denganmu"
"Aku tahu Kak serius,, aku berharap Kak mau mengerti dan menerima komitmen yang aku buat,, No *** Before Marriage" jelasku.
"Baiklah" ucapnya sedikit lesu.
"Aku kekamar Kak,, besok pagi aku harus antar Ibu kerumah sakit untuk Kemoterapi"
"Hmm, istirahatlah" jawab Alex sedikit dingin.
Abbi menarik napas dalam lalu memeluk Alex.
"Maaf Kak" ucapku lirih.
"Hmm"
Abbi segera keluar dari kamar kakaknya yang dipakai oleh Alex.
__ADS_1
"Bii!" panggil Ayah
Abbi seketika menoleh,, tangannya yang masih memegang handle pintu kamar Kakaknya pun dilepaskan.
"Iya Yah?" sambil berjalan menghampiri Ayahnya.
"Masuklah sebentar,, ada yang ingin Ayah tanyakan!!?"
"Baik Yah"
Abbi segera mengikuti Ayahnya dari belakang.
"Ada apa Yah,, Bu??" tanya Abi sambil duduk dikursi rias samping tempat tidur ibunya.
"Kamu sejak kapan kenal sama Alex?"
"Emm,, hampir 1 tahun yang lalu Yah"
"Kamu sudah mengenal keluarga mereka?"
"Belum satupun Yah,, Abi dan Kak Alex sama-sama sibuk, kalau kami ada waktu luang,, giliran keluarga mereka yang sibuk" jelas Abbi.
"Kamu bagaimana,, apa mau menerima niat lamaran dari Alex?"
"Belum tahu Yah,, Abbi juga masih perlu waktu untuk berpikir"
"Memangnya kenapa Yah? apa ayah setuju dengan permintaan Kak Alex? ayah merestui ?
"Entahlah,, jujur saja Ayah dan Ibu masih condong pada Yogi,," ucap jujur ibunya.
"Tapi kalau Alex bisa membuatmu lebih nyaman dan bahagia,, Ayah dan ibu akan merestui kalian" sahut Ayahnya.
"Entahlah Yah,, Abbi belum tahu!" jawabnya dengan jujur.
"Oh iya Yah,, tadi Abbi lihat ayah pulang dengan motor kantor,mobil Ayah kemana?? di bengkel?"
"Ayah sudah jual untuk pengobatan Ibu" ucap Ayah.
"Berarti besok kita pakai taksi ya Yah?"
"Iya besok kita pakai taksi,, ayah juga sedang mengajukan inventaris mobil kantor, siapa tahu dapat jadi kemo berikutnya sudah bisa pake mobil kantor" jelasnya.
"Owwhh,, ya sudah Ayah,, Ibu,, Abbi istirahat dulu ya,, capek!" ucapku..
"hmm,, " jawab Ayah.
Segera Abbi keluar dari kamar orang tuanya.
Kembali pikirannya berkecamuk,, sang Ayah harus menanggung hutang bank untuk biaya operasi sekaligus hutang gadai Kakaknya,, dan masih harus menanggung biaya kemoterapi yang lama waktunya entah sampai kapan.
Belum lagi biaya kuliahnya yang besar,, dan baru di semester 3.
Paling tidak masih ada 4-5 semester lagi yang harus diselesaikan.
Kepala Abbi berdenyut memikirkan nasibnya dan juga keluarganya.
Haruskah Abbi menikah muda dengan Alex untuk mengurangi beban biaya orang tuanya?
Atau haruskah Abbi berhenti kuliah saja demi menjaga dan merawat sang Ibu,,?
Ataukah Abbi harus bekerja dan menolak lamaran Alex dengan resiko putus hubungan?
Teman-teman yuk masukannya.. Bantu Abbi mendapatkan solusinya ya..
Terima Kasih.
aktor Li Yi Feng
__ADS_1