I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Masuk Rumah Sakit


__ADS_3

Perlahan mulai Abbi membuka matanya.


Terbaring lemah sambil menatap plafon waran putih tanpa berkedip.


Sejak Abbi siuman setengah jam yang lalu,, dia sudah tahu dirinya berada dirumah sakit ketika hidungnya mencium bau karbol khas rumah sakit. Abbi memilih untuk tetap diam dan tetap memejamkan matanya.


Kalau sekarang dia membuka matanya itu karena dia mendengar suara langkah kaki orang yang tidak ingin dilihatnya keluar dari ruang rawatnya.


Tidak ada lagi air mata yang keluar dari pelupuk matanya,, hatinya begitu terluka mengingat semua perlakuan Alex.


"Lebih baik aku pergi diam-diam, aku sudah tidak kuat lagi menghadapinya.Tapi kalau Ibu sampai tahu bagaimana?" pikir Abbi lagi dengan gamang.


"Kamu sudah sadar?" tanya Alex yang entah sejak kapan sudah duduk disamping tempat tidurku.


"Besok pagi kita pulang, sekarang kamu istirahatlah,, atau kamu mau makan sesuatu?" tanyanya datar.


Aku tetap diam tak menjawab, bahkan meliriknya pun tidak.


"Jawab aku Bii, jangan hanya diam !!? apa tidak bisa kamu menghargai aku??" tanyanya dengan nada tidak senang.


Namun aku tidak memperdulikan ucapannya, aku memilih untuk kembali memejamkan mataku, dan menghindarinya.


Terserah dia mau berpikir apa, aku belajar untuk tidak perduli.


Melihat aku mengabaikannya, Alex mendengus kesal.


Sesaat kemudian aku mendengar langkah kakinya yang beranjak keluar dari kamarku dan tidak masuk kembali.


Mungkin dia tersinggung,, atau marah, aku tidak perduli.


Duduk diam dikamar seorang diri tanpa melakukan apapun, tanpa teman, juga tanpa hape membuatku mulai merasa jenuh.


Satu jam lewat aku duduk terdiam, melamun, berpikir tentang langkah yang akan aku ambil.


Tapi waktu dan keadaan tak berpihak kepadaku, setiap keputusan yang akan aku ambil harus aku batalkan mengingat kondisi kesehatan Ibu.


Aku tidak mau menambah beban pikirannya dan membuatnya semakin parah.


Kupukul dahiku sendiri,, berharap ada ide atau jalan keluar yang bisa aku temukan,, aku tidak ingin bertahan lagi,, tapi aku juga tidak mau ibu tahu.. "Aisshh, kenapa tidak ada jalan keluar,, kenapa juga aku harus siuman, kenapa tidak Kau ambil saja nyawa kami Tuhan" teriakku sudah mulai putus asa.


Diam menerima penghinaan dan penyiksaannya setiap hari,, sampai berapa lama? Sampai kapan? Keadaan ini sudah membuatku frustasi, hampir gila rasanya.


"Balas saja rasa sakit yang diberikan Alex, bercerai dari Alex dan terima tawaran Farel sesuai tuduhannya,, sudah balas saja suami yang tidak memiliki kepercayaan sama sekali sama istrinya" pikiran jahatku mulai menggelayuti.


*plakk* aku menampar diriku sendiri.


"Melawannya hanya cari mati sendiri, ujung-ujungnya yang terkena imbasnya pasti Ibu juga anak dalam perutku" ucap kata hatiku yang lain.


"Belajar ikhlas, belajar menerima, doa kepada Tuhan, percaya semua pasti indah pada waktunya, toh tidak ada bangkai yang tidak akan tercium baunya.. kebenaran pasti terkuak,, hanya tinggal menunggu waktunya saja. Hari tak selamanya mendung,, akan ada waktunya cerah. Semua ada waktunya.. Sabar.. ikhlas,, Aku Abigail cewek kuat dan tangguh, semangat.." lagi-lagi kata hatiku mengingatkan dan menyemangati.


Lelah pikiran membuatku kembali merebahkan tubuhku, apa lagi aku mendengar suara pintu kamarku yang dibuka seseorang, aku memilih meringkuk sambil memejamkan mataku, tidak ingin tahu siapa yang datang.

__ADS_1


"Bii!" terdengar suara Alex memanggilku.


Aku tetap diam tak bergeming, berpura-pura tidur.


"Bii, bangun Bii, ada Kak Valen datang!" ucapnya sambil menepuk kakiku dengan pelan.


"Sudah Lex, biar saja kasihan istrimu kayaknya tidur nyenyak,,!" ucap Kak Valen.


"Maafkan aku kak,,. kalau aku tidak menyambutmu,, aku tidak Ingin bicara atau bertemu dengan siapapun" ucapku dalam hati.


"Kakak datang sendiri?" tanya Alex.


"Nggak, Kakak sama Farel, hanya dia masih terima telpon di bawah" jawab Kak Valen.


"Oww.."


"Abbi sakit apa Lex?"


"Hanya kecapekan Kak" jawab Alex asal.


"Memangnya kerja apa saja kok sampai kecapekan? perhatikan istrimu kalau perlu bayarlah pembantu untuk membantu Abbi, ingat dia sedang hamil anakmu jaga dia baik-baik " Kak Valen menasehati.


"Hmm"


"Ya sudah Kakak pulang yaa, jaga baik-baik istrimu" ucapnya lalu berdiri dan berjalan keluar.


"Aku temani ke bawah Kak " ucap Alex.


"Ga usah, kasihan istrimu sendiri"


"Oww, ya sudah terserah"


Aku mendengar suara langkah kaki keduanya keluar dari kamarku,,


Baru saja aku berniat membuka mataku,, ketika terdengar kembali suara handle pintu dibuka oleh seseorang.


Ku urungkan niatku untuk membuka mata,, dan aku memilih untuk memejamkan mata.


"Abii" panggilnya lembut


*deg* seketika jantungku berdebar kencang, bukan karena jatuh cinta atau gembira,, tapi karena menahan kemarahan besar sekaligus rasa takut yang besar pada sosok pria gila yang sekarang duduk ditepi tempat tidurku.


"Bangun sayang,,!" panggilnya lalu tangannya menyentuh perut buncitku.


"Brengs3k!! sebenarnya apa maunya orang ini!!" marahku dalam hati.


"Bangun Bii,, kamu kenapa bisa sakit? siang tadi kamu masih terlihat garang saat di cafe kenapa tiba-tiba lemah begini,," ucapnya lalu mendekapku dari belakang.


"Kamu tahu Bii,, senyum ceriamu yang membuat ku jatuh cinta sejak pertama aku melihatmu,, kamu terlihat begitu polos,, hangat,, membuat suasana di sekitarmu jadi begitu cerah,, tidak membosankan,, kamu mencuri hatiku Bii, bisa mendekapku seperti ini benar-benar jadi mimpiku sejak mengenalmu,, tapi kenapa begitu sulit untuk mendapatkanmu, aku rela bercerai dari Valen, demi bisa bersamamu Bi,, aku bersumpah akan mendapatkan kamu apapun caranya" ucapnya lagi.


"Kak Alexx cepatlah datang aku mohon,, najis rasanya dipeluk pria ini,, ini menjijikkan" ucapku dalam hati sangat putus asa.

__ADS_1


*klek*


Farel melompat dari tempat tidurku saat mendengar handle pintu dibuka.


"Permisi,, selamat malam,, kita periksa pasien dulu ya Pak" ucap seseorang.


"Ahh,, untung Dokter datang, aku terlepas dari mahkluk aneh ini" ucapku dalam hati dengan lega.


"Bapak suaminya?"


"Bukan Dokter saya,. saudaranya" jawab Farel.


"Oww,,"


Aku merasakan gerakan seseorang, mengambil lenganku dan memeriksa tekanan darahku.


Aku pun tidak lagi berpura-pura tidur,, dan membuka mataku.


"Apa dia keluhan yang dirasakan Bu?" tanya dokter perempuan yang masih muda.


"Tidak ada dok" jawabku.


"Jangan stress,, juga jangan terlalu capek, itu tidak baik untuk pertumbuhan janin dikandungan Ibu" ucapnya.


"Tekanan darahnya 80/70 dok" ucap perawat.


" Untuk orang normal saja tekanan darah 80/70 itu rendah, apa lagi ibu sedang hamil, normalnya 110/80. Coba untuk istirahat, dan jangan sampai lupa makan yan bergizi ya" ucapnya.


"Baik Ibu silahkan istirahat lagi ya,, saya permisi dulu" ucap dokter.


"Kalau dokter sama perawat ini keluar aku bisa-bisa hanya berdua sama manusia semprul ini,, aku harus cari cara untuk menahan dokter ini sampai Kak Alex kembali" pikirku


"Emm dokter tunggu sebentar" pintaku.


"Ada apa Bu?" tanyanya.


"Apa keadaan bayi saya baik-baik saja dokter?" tanyaku dengan wajah cemas.


"Dari hasil USG yang kita lakukan tadi sore semuanya baik-baik saja Bu, bayinya cukup sehat juga aktif" jawabnya.


"Apa besok saya boleh pulang dokter?"


"Sudah bisa Bu,, asal dirumah Ibu beristirahat dengan baik ya,, jangan kecapekan dulu,, lakukan bedrest untuk beberapa hari" jawabnya.


"Apa masih ada yang mau ditanyakan lagi Bu?" tanyanya dengan ramah.


"Emm,, tidak dokter,, terimakasih" ucapku kehilangan ide pertanyaan untuk menahan keberadaannya.


"Baik, selamat beristirahat, saya permisi dulu"


"Terima kasih dokter"

__ADS_1


Dokter itu pun keluar.


Menyisakan aku berdua dengan Farel.


__ADS_2