I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Kekecewaan Abbi


__ADS_3

Abbi berjalan menyusuri koridor rumah sakit, ditemani oleh Ahui yang berkeras untuk menengok Ibunya.


Abbi masuk keruang rawat kelas 1 yang satu ruangan berisi dua orang pasien.


"Ayah,, maaf Abbi lama ya?" tanyanya dengan merasa bersalah sambil memberikan kopi pesanan Ayahnya.


Ayah hanya tersenyum.


"Selamat Siang Om!" sapa ramah Ahui yang berdiri di belakangku.


"Oh, ini Ayah dia Ko Ahui teman Abbi saat di SMA"


"Ahui? anaknya Ko Xie An kan?"


"Iya Om,, Om kenal dengan Papa?"


"Memang siapa yang gak kenal dengan Ko Xie An pemilik perusaahan importir Xie yang terkenal dikota J ini?"


"Om terlalu berlebihan" ucapnya merendah.


"Oh ya Om, bagaimana keadaan Tante?" tanyanya mengalihkan.


"Tante baik Hui,, setidaknya Tante sudah berhasil melewati operasi ini dengan baik,, bantu doanya ya!"


"Pasti Om..,!"


"Kamu kuliah dimana Hui?"


"Saya kuliah di luar Om,, biasa perintah Papa kan gak bisa dibantah!"


"Yaa dimaklumi Hui,, namanya orang tua kan pasti menginginkan yang terbaik"


"Iya Om.."


Untuk beberapa lama Ahui, Abbi dan Ayah mengobrol. Hingga akhirnya Ahui berpamitan,


"Oh iya Om saya pamit dulu ya,, salam buat Tante kalau sudah siuman,, Ahui soalnya tugas yang belum selesai!"


"Iya Nak,, gak apa-apa, terimakasih ya sudah mau menjenguk Tante" ucap Ayah dengan tulus.


"Sama- sama Om,, semoga Tante cepat sembuh ya Om".


"Bii, aku pulang dulu ya,, besok aku usahakan kesini!"


"Jangan repot-repot Ko,, terima kasih ya!"


Ahui pun pulang.


"Ehh Yah, ,, jadi Xie company tempat Kak Seno bekerja itu punya Papanya Ko Ahui ya Yah?"


"Hmm"


"Owwhh.."


"Kenapa Bi?"


"Gak apa-apa Yah"


Sore mulai menjelang,, Abbi yang menunggu kedatangan Kakaknya sekali lagi dibuat kesal oleh ulah Kakaknya yang tidak menampakkan batang hidungnya sama sekali.


"Ayah,, Abbi pulang ya,, besok pagi Abbi balik kerumah sakit lagi!"


"Lho kamu pulang naik apa,,, ini sudah sore"


"Tenang saja Yah,, jam segini masih banyak angkot kan Yah, besok pagi Abbi kesini pake motor,, boleh kan Yah?"


"Memangnya kamu gak takut dirumah sendirian?"


"Yaelah Yah,,. takut sama apaan Yah?? Setan? yang ada Setan lihat Abbi juga kabur duluan??" celetukku.

__ADS_1


"Ya sudah ini uang buat naik angkot kamu pakai ya" sambil memberikan selembar uang lima puluh ribuan.


"Iya Ayah siap! Abbi jalan dulu ya Yah"


Abbi pergi kedepan rumah sakit dan menunggu angkot untuk pulang.


Sementara itu sore hari sepulang kerja di tempat kost Seno,,


Dengan penuh semangat Seno segera masuk kedalam kamar kostnya yang berukuran 3x4 meter,


"Shiin!" panggil Seno.


Mendengar suara suaminya yang memanggilnya,, Shinta yang tidur-tiduran ditempat tidur segera mengambil testpack yang dia taruh diatas meja didekat tempat tidurnya.


"Masss!" sambil menggoyang-goyangkan testpack bergaris dua itu pada suaminya.


Senyum sumringah tersungging dibibir Seno.


Dia segera mendekati istrinya dan meluk Shinta dengan hangat dan hati yang meluap-luap karena gembira.


"Setelah dua tahun akhirnya aku akan jadi Ayah!" ucapnya sambil mengusap perut Shinta yang masih rata.


"Mass,, aku pengen sesuatu,, makanya aku mau Mas pulang cepat!" ucapnya sambil memasang wajah sedih.


"Memangnya kamu mau apa?"


"Aku,, aku pengen makan hotpot Mas!"


"Hot pot direstaurant MeiHwa?" tanya Seno.


"Iya Mass,,!" rengeknya.


"Ya sudah Mas jalan dulu ya,, Mas belikan!"


"Gak Mau.."


"Lhoo?? tadi katanya..


" Hahh?"


Seno segera menggaruk kepalanya kebingungan.


Satu porsi sup hotpot yang dibawa pulang saja 150ribu.


Kalau satu keluarga semau diajak makan pasti akan seperti biasanya pasti habis lebih dari 500 ribu untuk sekali makan.


Padahal Seno sudah menyisihkan sedikit uang bonus miliknya, yang akan diberikan untuk membantu sedikit meringankan beban pengobatan Ibunya.


"Mass,, Mas mau anakmu ileran??" tanya Shinta dengan gaya mulai merajuk.


"Eh,, oh.. nggak,, ya sudah ayo kamu siap- siap,, kau sekalian hubungi Ayah sama Ibu ,, aku mandi dulu" jawabnya dengan terpaksa karena tidak tega pada istrinya yang sedang ngidam.


Seno dengan memakai taksi kemudian turun disebuah restauran oriental mewah tempat biasa para pengusaha dan pejabat makan.


Tak berapa lama keluarga mertuanya juga turun dari taksi yang berbeda.


Seno dan keluarga istrinya pun makan dengan gembira merayakan kehamilan pertama Shinta.


Selesai makan Seno membayar di kasir. cukup lama dia tertegun 1juta rupiah untuk sekali makan.


Tanpa Seno sadari, Istrinya mengerlingkan mata pada Ibunya sambil tersenyum senang dan puas terlihat di wajah keduanya.


Di rumah sakit,


Keesokan paginya Ibu mulai tersadar dari pengaruh obat bius yang disuntikkan.


Ketika kesadaran Ibu sepenuhnya pulih,


Abbi pun terlihat gelisah, ketika dia melihat Ibunya yang melirik kekanan dan kekiri seolah- olah sedang mencari sesuatu.

__ADS_1


"Bu!" Panggi Abbi.


"Emm Ayahmu mana? Ayah ada dikamar mandi Bu!"


"Kenapa Bu? Ibu butuh sesuatu??"


"Em Kalau Kakakmu? perasaan dari ibu masuk rumah sakit Samapi sekarang, Kakakmu kok gak datang sama sekali ya Bi?"


"Oh,, kalau Kakak kemarin Dia datang,, tapi Ibu belum siuman makanya Ibu gak ketemu sama Kakak,, nanti sore pasti Kakak datang lagi!" jawab Abbi berbohong.


"Ibu istirahat lagi saja ya,, jangan mikir yang enggak-enggak" ucap Abbi.


"Hemm,,iya,, ibu tidur lagi ya!" ucapnya sambil menguap.


Efek obat yang diminum ibu 2 jam setelah dia siuman membuat Ibunya kembali mengantuk dan tertidur.


Sambil menunggu Ibunya tertidur, Abi mengetik pesan dan dikirimkan pada Ayahnya,


"Ayah, tadi ibu menanyakan Kakak,, maaf Yah Abi tadi terpaksa membohongi Ibu,, Abbi bilang sama Ibu,, kalau Kakak kemarin datang saat Ibu belum sadar dari operasinya"


"Hmm Ayah mengerti" balas Ayah.


Setelah berkirim pesan dengan Ayahnya, dia kemudian melihat Ibunya benar-benar sudah tertidur nyenyak.


Abbi keluar dari kamar rawat.


"Hallo Kakak!"


"Hmm,, apa?? mau ngomel lagi?" tanya Seno dengan ketus.


"Kakak ini benar-benar gak punya hati ya!! ibu terus menanyakan kakak,, tapi Kakak,, oh Tuhaannn,,,!!" Abbi tidak mampu melanjutkan ucapannya,, dengan mengepalkan tangannya dia berusaha menekan amarahnya.


"Sabar,, sabarr,, demi Ibu,, kalau enggak sudah ku cekik kakakku satu ini!" ucap Abi dalam hati.


"Aku ga bisa datang,, Shinta sedang hamil muda, Kakak gak tega meninggalkannya sendirian" jawabnya beralasan.


"Kakak, istrimu itu hamil muda bukan manusia lumpuh atau sedang bertaruh nyawa,, Sementara Ibu?? Ibu kita Kak,, dia sedang berjuang melawan Kanker,,!! Kanker Kaakkk!!! kamu ngerti gak sihhh!! lagi pula menemani Ibu gak butuh waktu lama, Ibu juga pasti mengerti! yang penting kamu muncul, ibu butuh semangat, ibu butuh kita!!" serunya dengan suara tertahan.


Abi benar-benar frustasi menghadapi Kakak lelakinya yang terlalu lugu, atau lebih tepatnya terlalu bodoh.


"Kakak benar-benar bodoh!! Apa kalau Ibu pergi,, kakak baru datang haaa!!" mulai kehilangan kesabarannya.


"Mulutmu dijaga Bi!!"


"Aku gak bisa jaga mulut untuk orang seperti Kakak,, benar-benar Kakak keterlaluan,, aku,, aku kecewa sama Kakak!"


Abi segera menutup telponnya.


didepan kamar rawat ibunya dia duduk di bangku tunggu sambil menangkupkan kedua tangannya diwajahnya.


"Hikss,, hikss,, Bodoh,, bodohh!! kenapa kamu tidak perduli pada Ibu,, kenapa tidak ada rasa kuatir sedikitpun di hatimu untuk Ibu!" Abbi menangis penuh emosi.


Melihat sekelilingnya sepi,


Dia mengepalkan tangannya, dan memukul tembok dibelakangnya dengan cukup kuat untuk melampiaskan kemarahannya.


Membuat buku-buku tangannya memerah dan terluka.


Abbi sebisa mungkin menyembunyikan kekecewaan dan emosinya.


Dia menyeka airmatanya dan mencoba tersenyum kembali sebelum masuk kekamar Ibunya.


Sementara Seno yang mendengar ucapan adiknya pun merasa tertohok.


Seno kali ini benar-benar kebingungan,, dia ingin berubah dan berbuat adil pada Ibunya,, tapi lagi-lagi dengan alasan demi membahagiakan istrinya Seno melakukan kesalahan fatal.


Kesalahannya karena menggadaikan mobil ayahnya belum dimaafkan oleh sang Ayah,, kini dia tidak meluangkan waktu untuk sekedar menemani, dan memberi dukungan pada ibunya.


Memikirkan reaksi Ayah dan juga Abigail membuatnya sakit kepala.

__ADS_1


Masihkan ada muka untuk muncul didepan Ayah, Ibu dan Adiknya..?"


__ADS_2