I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Hari Pernikahan


__ADS_3

Akhirnya hari yang mendebarkan itu tiba juga,


Dengan lemas aku memaksakan diri untuk bangun,,


semalam suntuk aku sulit untuk tidur karena jantung yang tak mau berkerja sama.


Nyamannya kamar hotel yang aku tempati tak mampu mengurangi rasa


gugup, cemas, bahagia, dan perasaan lainnya yang bercampur aduk menjadi satu.


Tepat jam 5 pagi para perias datang untuk meriasku,,


Mereka menungguku menyelesaikan ritual kamar mandi pagi.


Tepat jam 8 pagi, aku selesai dirias,, gaun pengantin warna putih sudah aku pakai,, terakhir perias memasangkan veil di kepalaku.


Ayah dan Ibu tak berapa lama masuk kedalam,, Bisa aku lihat mata Ibu dan ayah berkaca-kaca menatapku.


"Kamu cantik sekali Bii" puji Ibu.


"Ibu,, Ayahh,," panggilku lirih,, dengan mata yang juga berkaca-kaca.


Para perias memberikan kami waktu pribadi,, meninggalkan kami bertiga dengan suasana sepi yang syahdu karena rasa haru yang memenuhi rongga dada kami.


"Sebentar lagi kamu sah menjadi istri Alex,, lakukan tugas dan kewajibanmu sebagai istri sebaik mungkin,, jaga nama baik keluarga,, bukan hanya keluarga kita tetapi keluarga suamimu juga,," ucap Ibu sambil menggengam tanganku.


"Ingat selalu nak,, Dalam rumah tangga selalu ada banyak masalah,, Jangan pernah membesarkan masalah kecil,, Dan jangan mengecilkan masalah yang besar, jika kamu bisa mengalah maka, mengalahlah demi kebersamaan dan keutuhan keluarga" nasihat Ayah sambil mengusap punggungku dengan lembut.


"Iya Ayah,, Ibu,, terima kasih,, Abbi.. Abi sayang Ayah,, Abbi sayang Ibu" dengan air mata yang mulai mengalir bak mata air.


Begitu pula dengan Ibu,, sosok kuat dihadapannya ini juga menangis sambil menatapku penuh kasih sayang.


Selesai menerima wejangan Ayah dan Ibu,, Para perias masuk memperbaiki makeup yang terkena air mataku.


Setelah persiapan selesai


Kami berjalan kearah lobby bersiap menuju gereja untuk acara pemberkatan nikah.


Mobil pengantin siap menunggu,, Ibu dan asisten perias membantuku masuk kedalam mobil karena gaun yang aku pakai memang cukup besar,,


Selama dalam perjalanan hanya ada keheningan, Ayah dan Ibu seolah tenggelam dalam pikirannya sendiri,, sedangkan Aku sibuk menata hatiku,,. mengatur nafasku agar jantung yang berdegup dengan kencang ini mau berdetak normal kembali.


Tanganku mulai berkeringat dingin,, rasa takut dan gugup melanda dengan hebat,,,


Detak jantungku pun tak juga mau melambat,, malah semakin berdetak kencang layaknya tabuhan genderang perang.


Tidak butuh waktu lama kami sudah sampai didepan halaman gereja.


Setelah sopir membantu membukakan pintu untukku,, Ayah menyambut tanganku dan membantuku keluar dari mobil.


Ibu berdiri disamping kiriku,, sementara Ayah ada disamping kananku dan menggapit lenganku.


Dengan jantung berdegup kencang kami mulai menaiki tangga menuju pintu masuk gereja,


Pintu gereja terbuka lebar,, suara musik yang syahdu mulai mengalun lembut,, semua mata mulai tertuju kearah pintu menunggu kehadiranku.


Dengan kaki gemetar,, aku melangkah dengan perlahan sambil mengeratkan cengkraman ku pada lengan kekar Ayahku.


"Jangan gugup,, Ayah menemanimu" ucapnya pelan menenangkan.


Akupun mengangguk pelan menanggapinya.


Aku menarik napas panjang menenangkan hati dan dada yang bergemuruh.


Kami bertiga berjalan perlahan melewati tatapan mata yang mengarah padaku, sang pemeran wanita utama.

__ADS_1


Sampai didepan, Ibu kemudian berjalan menuju bangku paling depan dan duduk disana bersama kak Seno dan kerabat.


Sementara Ayah terus membawaku sampai di altar, dimana Kak Alex dengan tuxedo warna putih tampak begitu gagah berkharisma sedang menunggu kedatanganku.


"Nak Alex, Ayah serahkan Abbi kepadamu,, berjanjilah untuk menjaga dan mengasihi Abbi seperti engkau menjaga dan mengasihi dirimu sendiri,, jangan sakiti hatinya,, kelak kalau kamu tak lagi menginginkan Abbi pulangkan dia seperti engkau memintanya hari ini kepada kami" ucap Ayah sambil menyerahkan tanganku pada tangan Alex yang terulur menyambutku.


"Alex berjanji Ayah" jawabnya tanpa keraguan.


Tanganku sudah berada digenggaman tangan Alex yang tak kalah dingin dengan tanganku.


Suasana haru begitu terasa ketika kami berdua mengucapkan sumpah pernikahan kami.


Air mata tak bisa terbendung ketika ku ucapkan terima kasih pada Ayah dan Ibu.


Rasa syukur dan haru memenuhi hatiku ketika doa restu yang tulus mereka berikan padaku lewat sebuah pelukan hangat Ayah dan Ibu.


Selesai acara pemberkatan, Kemi semua segera menuju tempat resepsi.


Acara berlangsung dengan meriah,, sekitar 200 tamu undangan hadir memenuhi lantai dua restauran yang sudah di hias dengan dekorasi yang menawan,, didominasi bunga tulip dan mawar putih,, tarian dari penari dan musik romantis yang mengalun membuat pesta yang sederhana ini tetap terasa mewah dan istimewa.


Aku sungguh beruntung,,. Papi mertuaku adalah sosok yang sangat ramah,, dan berpikiran terbuka,,, tak melihat orang lain berdasarkan tinggi rendahnya status sosialnya.


Sekalipun Kak Valencia, Kakak perempuan berwajah dingin dengan ekspresi datar tak terbaca.


Tapi aku percaya mereka menerimaku apa adanya.


Sesaat aku melirik Kak Farrel,, suami dari Kak Valencia,, lelaki gagah tinggi besar itu pria yang humoris dan juga humble.


Terkadang dia menggoda aku dan Kak Alex. Hingga membuat Aku ataupun Kak Alex tersipu malu dibuatnya.


Tampak sekali hubungan Kak Alex dengan kakak iparnya sangatlah baik.


Bersyukurnya aku,, aku tidak salah memilih suami,, sungguh keluarga yang sempurna.


Ibu dan Ayah terlihat tersenyum melihatku bahagia dan berada dipelukan Alex,, pria yang sabar, tampan yang selalu lembut dan memperhatikanku dengan penuh cinta.


Selesai resepsi,, Semua keluarga pulang kerumah masing-masing,, begitu pula dengan Papi mertua dan rombongan.


Kesibukan pekerjaan menjadi alasan mereka langsung kembali kekota S.


Sementara Alex menyetir mobil pengantin yang memang memakai mobil miliknya melaju menuju hotel ShangRa.


Karena kondisi Ibu,, aku meminta pengertiannya untuk tidak berbulan madu kemana-mana.


Syukurlah, Kak Alex mau mengerti.


Dan bulan madu kami hanya di hotel ShangRa,, itupun hanya 1 malam saja.


Jantungku berdebar dengan kencang,, bisa aku rasakan mukaku memerah dan terasa panas selama perjalanan menuju ke hotel.


Aku meremas gaun pengantin yang masih aku kenakan,, menyalurkan kegugupanku.


"Tumben pendiam" ucapnya sambil fokus menyetir.


"Aku lapar" jawabku asal.


"Benerr karena lapaarr??" godanya sambil tangannya meraih tanganku.


"Fokus, nyetir Kak nanti bisa nabrak!" ucapku mengingatkan.


"Biii,, tanganmu berkeringat,, dingin sekali,, kamu gak apa-apa kan?" tanyanya mengabaikan ucapanku.


"Aku,, aku gak apa-apa" jawabku semakin gugup.


Karena hotel yang kami tuju sudah dekat Kak Alex tidak melanjutkan ucapannya.

__ADS_1


Mobil akhirnya berhenti di lobby,, Membantuku keluar dari mobil, dan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas Vallet yang mengambil alih mobilnya dengan cekatan.


Pria tampan yang sah jadi suamiku inipun menggandeng tanganku menuju meja resepsionis untuk mengambil key card kamar kami.


Sesampainya di kamar,


Aku melirik priaku membuka tuxedonya dan melemparkannya ke kursi,, membuka kancing kemeja yang dipakainya dan menyisakan kaos putih polos sebagai baju dalamnya.


"Butuh bantuan?" tanyanya yang melihatku sedikit kesulitan melepas aksesoris rambut dikepalaku.


Aku menganggukkan kepalaku.


"Aku bantu" ucapnya sambil mendekatiku yang duduk didepan meja rias.


"Sudah" ucapnya sambil menaruh jepit hitam terakhir diatas meja.


Selesai dengan rambut,, kini aku berkutat dengan gaun pengantin ku.


"Bagaimana mau mandi,,, cara buka resleting dipunggungku sepanjang ini gimana?" pikirku.


"Masa minta tolong Kak Alex? ishh baru memikirkannya saja suada membuatku jantungku dag.. dig..dug duweerr.."


"Kenapa?" tanyanya melihatku kebingungan.


"Emm.. Anu.. Kak,, .


"Apaan?? kok malah bengong..?!"


"Tolong bantu bukain resleting belakangku" ucapku pelan sambil menundukkan kepalaku.


"Oww,, ya sudah berdiri sebentar" ucapnya.


"I..iya Kak" jawabku dengan jantung dan keringat mulai mengalir.


Resleting baru dibuka setengahnya,


membuat sebagian punggung putihku segera terekspos didepannya,,


Tangan kanannya menyentuh bahuku dan membalikkan badanku dan membuatku berdiri berhadapan dengannya,,


Dengan lembut mulai memelukku, dan membeli punggungku yang terbuka,, sambil terus menurunkan resleting gaun yang tersisa.


Jantungku semakin berdebar dengan kencang,, akupun menundukkan kepalaku menahan malu,,


Kini resleting gaun terbuka sempurna,, membuat gaun ku segera luruh kelantai.


"Ka...Kakk" gugupku sambil menutupi badanku dengan menyilangkan kedua tanganku.


Tiba-tiba suamiku mengangkat dan menggendongku..


"Aku suamimu sekarang, kenapa harus malu,,"


Dengan lembut dia membaringkan aku ditempat tidur dan menyelimutiku,,, lalu menyusul masuk kedalamnya.


Merengkuh tubuhku dan mulai mencium bibirku dengan lembut....


jenkk...jenkkk...jenkkk


Selanjutnya tebak sendiri ya....


Wkwkwk,,


Mohon maklum Author gak ahli dibidang penulisan 21+.


****Terima kasih semuanya masih mau baca seri INSG hingga sekarang..

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya ya..


Terimakasih,, Matur Nuwun,, Thankyou


__ADS_2