I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Alex yang Kalap


__ADS_3

Selama dalam perjalanan wajah ramah yang beberapa hari ini menghiasi wajah Alex kembali berubah menjadi wajah dingin dengan sorot mata lebih sinis setia kami melirik kearah Abbi.


Abbi berpura-pura tidak melihat dan menjaga. jarak dengan suaminya, bahkan tidak mengucapkan apa-apa selain kata terimakasih saat diawal mobil mulai melaju meninggalkan halaman rumahnya.


Perlakuan Alex yang sering menggunakan tamparan, dan cacian membuat Abbi memendam rasa takut dan juga trauma yang cukup mendalam hingga memilih duduk lebih menempel didekat pintu mobil daripada duduk tenang, nyaman yang seharusnya.


*drrt,, drrtt* hape Abbi berbunyi.


"Pesan dari Kak Seno" baca Abbi dalam hati.


"Dek kata Ibu gimana kalau nama anakmu Mentari Pratama Madya atau Lovina Pratama Madya?"


"Itu bagus Kak,, coba tanyain ke Ibu kak,, kalau pake Noviana Cinta Pratama Madya boleh gak?" Abi mengirim balasan dengan senyum tersungging dibibirnya.


"Ibu bilang itu juga bagus Dek"


"Okee,, ciumku buat Ibu ya, nanti kalau sudah sampai rumah aku kabari,, Jangan lupa, Kakak tolong jaga Ibu ya, kabari aku kalau butuh sesuatu "


"Siap,, kamu hati-hati dijalan ya Dek,, salam buat Alex"


Abbi memasukkan hapenya kedalam tasnya, tanpa melihat wajah Alex yang semakin tertekuk.


"Dasar pelac*r murahan, perempuan gat*l menjijikkan" Ucap Alex terlihat marah dan melirik tajam kearahku.


Abbi tersentak kaget mendengar gumaman yang menghina dirinya.


Abbi tidak menyangka kata-kata kasar itu lagi-lagi bisa keluar dengan mudah dari mulut suaminya.


Abbi menatap Alex untuk sesaat.


Menutupi rasa sakit dan luka dihatinya. Tidak ada air mata yang sanggup dia keluarkan lagi untuk pria yang menyakitinya.


"Hhh,, terserah lah,, kalau aku ladeni hanya akan ada pertengkaran. sabar.. sabar.." ucap Abbi dalam hati dan mendinginkan emosinya dengan melihat pemandangan dari jendela mobil.


Tapi saat masuk kedalam jalan tol tiba-tiba Kak Alex melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, hal yang tidak pernah dia lakukan selama bepergian denganku.


Kulirik speedometer mobil


"Ya Tuhaaan 110km/jam" pekikku dalam hati.


Tangan Abbi mencengkram kuat seat belt yang dia kenakan,, jantungnya berdebar dengan kencang,, tubuhnya menegang,, karena seumur hidupnya kecepatan mobil yang pernah dia rasakan maksimal hanya sampai 80km/jam.


Tanpa Abbi sadari kini wajahnya pucat seputih kapas.


Bahkan disaat melewati jalan yang bergelombang, Alex sama sekali tidak mengurangi kecepatannya,, membuat tubuh Abbi cukup terguncang ditempat duduknya.

__ADS_1


"Kak pelan Kak,, aku takut" mohon Abbi lirih dengan gemetar ketakutan.


Tapi tidak ada jawaban atau tanggapan dari Alex. Suaminya malah semakin kencang memacu kendaraannya dan kini mencapai 120km/jam.


Perjalanan normal melewati jalan tol degan kecepatan 80km/jam kini hampir terlewati sepenuhnya hanya dalam waktu 1jam.


Abbi terus memegangi perutnya dengan erat takut terjadi sesuatu pada anak yang dikandungnya,, Dia yang terus merasa cemas, tegang, ketakutan, dan tertekan akhirnya terdiam, perlahan Abbi menutup matanya dan larut didalam kegelapan.


Abbi pingsan tidak sadarkan diri tanpa disadari oleh suaminya.


POV ALEX.


Entah kenapa saat melihat Abbi dekat dengan laki-laki aku merasa panas.


Tidak aku pungkiri aku masih sedikit cemburu,, tapi sekaligus harga diriku juga terluka.


Bisa aku lihat,


Abbi bisa tersenyum lepas, tak jarang tertawa riang saat duduk dan bercanda dengan laki-laki berkulit putih bernama Ahui yang katanya teman SMA-nya itu.


Senyum dan tawa ceria yang lama tidak aku lihat dan aku dengar lagi dari istriku. Tawa ceria tanpa jaim, yang sebenarnya masih aku rindukan yang mampu membuat aku jatuh cinta kepadanya.


Tapi bayangan Abbi yang berciuman dangan Farel, membuat aku kembali dikuasai amarah.


Apalagi aku bisa melihat Ahui menatap istriku dengan tatapan yang penuh perhatian dan bisa aku lihat ada rasa kagum dan cinta terselip dipandangan mata pria itu saat menatap wajah istriku yang tertawa karena candaan yang dia lontarkan.


Jelas aku terbakar amarah hingga aku mendekati Abbi dan melontarkan kalimat yang pasti menyakiti hatinya.


Tapi aku masa bodoh,, bagiku dia pantas mendapatkannya.


Kali ini saat perjalanan pulang aku melihat dia terus tersenyum dan terlihat begitu senang saat membaca dan membalas pesan yang entah dari siapa.


Mungkin SMS mesra dari Farel,, atau mungkin dari Ahui.


Membayangkannya membuat darahku kembali mendidih, aku mencengkram kuat setir yang aku pegang menyalurkan amarahku.


"Dasar pelac*r murahan,, perempuan gat*l menjijikkan" hina ku sambil melirik tajam kearah Abbi.


Sekilas aku lihat Abbi menatapku sekilas.


Lalu mengacuhkanku dan memilih melihat keluar jendela mobil tanpa menanggapi cibiran atau hinaan ku.


Melihat dia mengabaikan dan mengacuhkanku hatiku semakin panas membara.


Tanpa berpikir panjang , begitu masuk kedalam jalan tol aku pacu mobilku dengan kecepatan hampir 120km/jam.

__ADS_1


Dadaku sesak dikuasai amarah, Pikiranku benar-benar kalap.


Tidak aku perdulikan wajah pucat istriku yang ketakutan setengah mati karena kecepatan mobil yang aku kendarai.


Hingga dari kejauhan loket pembayaran tol didepan mata aku baru mengurangi kecepatan mobilku,, setelah membayar, aku melajukan kembali mobilku dengan kecepatan sedang.


Aku lirik Abbi yang masih pucat dan duduk dengan mata terpejam sambil memegangi perutnya yang buncit.


Perjalanan masuk kedalam kota aku pacu mobilku masih dengan kecepatan sedang, hingga dilampu lalulintas, lampu merah menyala, aku menghentikan mobilku.


Aku sempatkan untuk melihat Abbi yang duduk terpejam, tapi kali ini membuatku terkejut setengah mati peluh membasahi wajahnya yang pucat bagai mayat,, kepalanya bersandar dan lunglai kearah kiri hampir bersandar dijendela,, aku mencoba memeriksa dengan memegang tangannya,


Dan aku terkejut dibuatnya , tangan Abbi basah berkeringat dan sangat dingin sedingin es.


"Bii,, Abbi!!" aku menepuk tangannya.


"Biii,, jangan menakuti!!" bentakku sambil menepuk pipinya sedikit keras.


Tidak ada respon dari istriku.


"Abii,, Bii" aku terus berusaha membangunkannya.


"Argggghhh,,, brengs3k.. sialaann!!" umpat Alex dengan panik sambil memukul setirnya dengan kuat.


Begitu lampu berganti warna menjadi hijau, dengan sedikit menaikkan kecepatan Alex langsung melajukan mobilnya kearah rumah sakit.


Sampai didepan lobi UGD rumah sakit Alex segera menggendong Abbi sambil berteriak meminta bantuan.


Beberapa perawat yang berjaga dengan sigap membawa brangkar, Alex membaringkan istrinya, dan segera brangkar itupun segera didorong dan masuk kedalam ruang UGD,


"Maaf Pak,, anda tolong tunggu diluar" ucap seorang perawat mencegahku masuk.


Alex terpaksa menganggukkan kepalanya, meski gusar.


"Ceroboh, ceroboh,, dasar Bodoh!! bagaimana aku bisa aku kalap dan lupa dengan kehamilan Abbi" rutuk Alex pada diri sendiri.


Alex melihat tangan kanannya, dan betapa terkejutnya Aku bercak darah ditelapak tangannya.


"Jangan.. jangan..,, Abii,,?!? Argggh,, tidak... tidak..." panik Alex sambil berjalan mondar-mandir didepan pintu ruang UGD.


"Keluarga Ibu Abbigail" Panggil seorang perawat yang muncul dari dalam ruang UGD.


"Saya suster" Alex berjalan cepat menghampiri perawat muda itu.


"Bagaimana keadaannya suster?"

__ADS_1


__ADS_2