I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Kehamilan yang Tak Terduga 02


__ADS_3

Menahan rasa panas dan sakit dipipi,, terlebih dihatinya,, Abbi berjalan gontai masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.


"Aaagggghhh,,," Abbi berteriak melampiaskan kegalauan dihatinya.


"Hikss,, hikss.." Abbi menangis sepuasnya dengan membenamkan kepalanya di bawah bantal.


Abbi sungguh tidak percaya,, hanya dalam 4 bulan pernikahannya, dia menemukan sosok lain dalam diri suaminya,,


Selama mengenalnya Alex sosok yang lembut dan penyabar,, tapi hari ini tanpa menjelaskan apa-apa Alex menamparnya dua kali dengan begitu keras.


Semalam suntuk Abbi terduduk diam didalam kamarnya,, Alex suami yang ditunggunya pun tidak pulang bahkan Sampai pagi tiba,, pria yang dicintainya tak juga ada kabar beritanya.


Sekali lagi Abbi mengalah,, dia mengambil ponsel dan mencoba menelpon Alex.


Tapi no yang dia tuju sedang tidak aktif.


Menahan rasa sakit di kepalanya,, Abbi keluar dari kamar menuju kedapur. Memasak seperti biasa lalu membuat segelas teh hangat untuknya sendiri.


Masakan yang dia buat sudah matang,, dan sudah tertata rapi di atas meja makan.


Abbi hanya duduk didepan meja makan tanpa berniat untuk sarapan.


Kepalanya semakin berat,, tapi terus ditahannya sekuat tenaga..


terdengar suara mobil masuk kedalam carport rumah,, Alex suaminya baru pulang,, dengan tubuh lemas dan pucat,, Abbi membuka kunci pintu depan,,


Alex tampak berdiri dengan muka muram didepannya,,


"Kak...


Tiba-tiba matanya berkunang-kunang,, dan semuanya terasa gelap,,


"Brugh"


Abbi luruh jatuh pingsan tepat dibelakang pintu rumah.


"Merepotkan!!" Alex mendengus dengan kesal.


Dengan wajah muram menggendong Abbi dan memasukkannya kedalam mobil,, membawa ke tempat praktek dokter yang ada di komplek perumahan.


"Permisi.. dokter!" Panggi Alex sambil membopong tubuh istrinya.


"Iya Mas,, ! seorang perempuan masih muda membukakan pintu dengan cepat,,


"Bawa ke sini Mas!" ucapnya lagi.


Abbi dibaringkan kedalam kamar periksa,, lalu dengan cepat seorang perempuan paruh baya masuk dengan stetoskop menggantung dilehernya.


Memberikan minyak aroma untuk membuat Abbi siuman dari pingsannya.


Setelah Abbi mulai sadar,,


"Mbak tolong air minum" ucap dokter perempuan itu pada perempuan muda yang ternyata adalah asisten rumah tangganya.


"Ini Bu!" sambil memberikan segelas air putih.


"Minum dulu!" ucap dokter perempuan itu pada Abbi sambil membantu Abbi duduk.


Dengan perlahan Abbi segera meminum air pemberian Dokter didepannya.


"Tolong berbaring sebentar,, biar saya periksa ya!" suruhnya.


Abbi pun menurut.


Selesai diperiksa,,


"Tekanan darahmu terlalu rendah,, kamu pasti kecapekan ya??"


Abbi menganggukan kepalanya.


"istirahat yang cukup,, jangan stress,, apalagi kamu sedang hamil muda" ucap dokter itu.


Membuat Abbi dan Alex melotot tak percaya.

__ADS_1


"Apa Dok??" tanya Alex dan Abi serempak.


"Iya Mas,, istrinya sedang hamil muda,, untuk memastikan bisa beli testpack atau langsung periksa ke dokter kandungan" sarannya.


"Baik Dokter, terima kasih" ucap Alex.


Selesai menerima obat dan membayar.


Kami berdua masuk kedalam mobil.


"Kak,, Aku hamil,, apa kamu tidak senang mendengar kabar ini?" tanyaku melihat aura suamiku tetap suram seperti semalam.


"Anak siapa??" tanyanya dengan mata sinis terarah kepadaku.


"Kakk!!" tegurku setengah berteriak.


"Jangan berteriak!!" bentaknya.


"Kamu keterlaluan Kak.. tentu saja ini anakmu!!" marahku.


"Apa kamu pikir aku percaya anak yang kamu kandung itu anakku!! aku bahkan yakin anak yang kamu kandung itu hanya anak haram!!" ucapnya sambil memarkirkan mobilnya didepan halaman rumah kami.


"Plakkk" tanpa sadar aku menampar muka suamiku.


"Berani kamu menamparku dasar perempuan murahan!!" tangannya menarik kuat rambutku belakang membuatku mendongakkan dan merasakan sakit dikepala.


"Argghh,, Kakk,, sakiit" keluhku.


*Dugghh* Alex mendorong kepalaku hingga membentur dashboard mobil.


Saat itu juga hancur hati Abbi mendengar ucapan Alex ditambah perlakuan kasar darinya.


Alex bergegas masuk kedalam rumah,,dan menuju ruang kerja miliknya.


*Brakkk* Alex membanting pintu ruangannya dengan kencang.


Dia masuk ke dalam kamar yang berada disebelah kiri ruang keluarga, Lalu menguncinya dari dalam.


"Kak.. kita harus bicara,, jangan diam.,, aku salah apa??? ini anakmu,, kenapa.. kenapa kamu tega menuduh anak ini anak haram,,,!!" teriakku sambil menggedor pintu kamar kerja suamiku.


"Salahku apa,, salahku dimana?? kenapa kamu sejahat ini sama aku??" tanyaku sambil menangis.


Abi mendengar kursi didorong,, dan suara langkah kaki yang mendekat kearah pintu.


"Aku jahat sama kamu,,!!? itu memang pantas untuk kamu terima,, aku menyesal menikahi perempuan gatal sepertimu!! dasar munafik!!" ucapnya.


"Jelaskan kak,, jelaskan gatal seperti apa,, murahan bagaimana,, apa salahku.. jelaskan kak.. jelaskan!!" teriakku.


"Penggoda sepertimu tidak sadar diri juga!!! Kamu menggoda Kak Farel,, dan aku yakin anak yang kamu kandung itu juga anak Kak Farel!" ucapnya.


"Kak Aleex!!" bentakku.


"Jangan membentakku,, apa yang aku lihat sudah cukup membuktikan kamu berselingkuh dan hamil dengan Farel bangsat satu itu!!" teriaknya.


"Melihat?? Melihat apa.. lihat apa?? aku tidak berselingkuh dengannya Kak,, aku tidak pernah selingkuh!!" ucapku masih sambil menangis menahan sakit dihati mendengar tuduhannya kepadaku.


Alex sesaat menatap jijik kearahku,, lalu berjalan melewatiku begitu saja,,


Lagi-lagi dia pergi dari rumah meninggalkanku sendiri tanpa memberi penjelasan yang Aku harapkan.


Alex melajukan mobilnya dengan kencang meninggalkanku sendiri.


"Hiks.. hikss... ada apa ini Tuhan,, kenapa,, kenapa dia tega menuduhku seperti ini.." tangisku pecah tak tertahankan lagi.


Hatiku benar-benar sakit dan hancur mendengar tuduhannya yang begitu kejam.


Saat aku menangis,, terdengar suara telponku yang berbunyi.


Aku ambil hape dari dalam saku celanaku,,


"Ayah" aku membaca nama yang tertera dilayar ponselku.


Segera aku usap air mataku.. dan mengangkat telpon darinya,

__ADS_1


"Hallo Ayah.."


"Hallo Bii"


"Ibuuu!" seruku setelah mendengar suara di telpon.


"Kamu habis nangis Nak?? kok suaramu lain??" tanya Ibu cemas.


"Iya Bu,, Abbi habis nangis!" jujurku.


"Kenapa,, kamu berantem sama Alex,, atau ada masalah??" panik Ibu.


"He.. He.. Nggak Bu,, bukan karena berantem,, tapi karena Abbi hamil,, makanya Abbi nangis,, Abbi bahagia Bu" jelasku tak semuanya berbohong.


"Kamu hamil nak??" tanya Ibu lagi memastikan dengan nada gembira.


"Iya Bu.."


"Ayah,, Abbi hamil Yahh,, Kita mau jadi Nenek, Kakek!" teriak Ibu memberitahukan pada Ayah.


"Selamat ya Nak,, jangan lupa makan yang banyak biar sehat"


"Iya Bu,," jawabku dengan air mata mengalir lagi dengan deras dipelupuk mataku,, aku mencengkram kuat tanganku..


"Jangan nangis,, punya berita bahagia kok malah nangis,, nanti anakmu besarnya cengeng gimana?" goda Ibu.


"Abbi nangis karena bahagia,, Abbi juga kangen sama Ibu" ucapku terus menutupi keadaanku.


"Ehhmm, Ibu bisa Abbi bicara dengan Ayah,? Abbi juga kangen sama Ayah" ucapku.


"Dasar anak Ayah,, tunggu sebentar Ibu panggilkan ayahmu!" ucapnya sambil mencibirku.


Kupaksakan diriku tertawa agar tidak ketahuan bahwa aku sedang bermasalah.


"Ayahhh,, nih anakmu kangen!" panggil Ibu.


Sesaat kemudian terdengar ponsel sudah berpindah tangan.


"Halo Bii,,"


"Ayah,, gimana kabar Ayah?"


"Ayah baik nak,, kamu juga baik kan?"


"Iya Ayah,, Abi sangat baik,," jawabku.


"Ayah gimana perkembangan kesehatan Ibu,, Yah??"


"Ibu tetap sama,, baik Nak," sambil menghela napas berat.


"Ayah,, tolong jangan bohongi Abbi,,!"


Sejenak Ayah terdiam,,


"Ayahh" panggilku.


"Ibumu menolak untuk Kemo lagi Bii!" ucap Ayah terdengar putus asa.


"Kenapa bisa begitu Yah??" tanyaku terkejut.


"Ibumu menolak merasakan lagi rasa sakit seusai kemo Bii,,"


"Tapi Yah,, Ibu baru 3 kali kemo,, ini tidak boleh dibiarkan Ayah,, apa Abbi sebaiknya pulang untuk ngomong sama Ibu, Yah??"


"Kamu sedang hamil muda,, jangan sampai kamu kecapekan nanti kalau ada apa-apa gimana?? lagi pula kamu tahu sendiri sifat Ibumu,, kalau dia sudah memutuskan sesuatu sulit untuk mengubah keputusannya"


Abbi menggigit bibirnya.


"Secepatnya Abbi akan pulang ya Yah" putusku.


"Ya sudah kamu atur mana yang baik ya,, ingat jangan lupa selau ijin suami kalau mau kemana-mana" ucap Ayah.


"Iya Ayah,, Selamat siang ayah. Abbi sayang Ayah,, juga Ibu" lalu menutup percakapan kami.

__ADS_1


Abbi terduduk lesu diatas lantai,,


"Aku harus bagaimana?? harus bagaimana??" Abbi lagi-lagi menangis meluapkan kesedihannya.


__ADS_2