
Baru saja Nenny turun dari mobil tiba-tiba,
*Brukkk* Nenny menjatuhkan dirinya.
"Lexxx ..tolonggg" ucapnya memelas.
Abi yang melihat Nenny sengaja menjatuhkan dirinya didepannya hanya bisa menggelengkan kepalanya.
Dia lalu mengulurkan tangannya berniat membantu Nenny berdiri.
*Pakk*
Nenny dengan kasar menepis tangan Abbi.
"Gak usah sok baikk,, kamu kan yang sengaja menjegal kakiku sampai membuatku jatuh!!" tuduhnya.
"hhhhh" aku menghela napas dengan kasar.
Alex yang mendengar ucapan Nenny segera turun untuk melerai perdebatan yang dibuat oleh Nenny.
"Kamu gak malu ribut dipinggir jalan begini" ketus Alex pada Nenny.
Membuat wajah Nenny merah padam, sambil meremas roknya yang kotor, di menundukkan kepalanya,,
"Tapi Lexx dia yang salah,, dia yang membuat aku terjatuh,," ucapnya sambil memelas dan mengulurkan tangannya kearah Alex.
Dengan terpaksa Alex membantu Nenny berdiri,,
"Aku melihat Abii sama sekali tidak bergerak dari tempatnya berdiri,, bagaimana mungkin dia membuatmu terjatuh,, jangan mempermalukan dirimu sendiri,," ucapnya dengan dingin dan segera melepaskan tangannya dari genggaman tangan Nenny.
"Ayo Bii!" sambil meninggalkan Nenny dan berjalan masuk ke mobilnya.
"Lexxx,, " Nenny menghentakkan kakinya dengan kesal.
Abbi hanya tersenyum tipis melihat tingkah manja gadis itu.
Mobil pun mulai melaju perlahan.
Awalnya dalam perjalanan Abbi hanya diam,, karena cukup canggung untuknya memulai pembicaraan.
Tapi akhirnya dia nekat memberanikan diri membuka mulutnya,
"Lain kali Kak Alex jangan ajak jalan aku lagi" ucapku datar.
"Kenapa memangnya??" sedikit terkejut sambil melirikku sekilas.
"Aku gak mau dituduh merebut pacar orang Kak,, Aku lihat tadi Kak Nenny sangat cemburu,, tapi wajar sih pacar mana yang gak cemburu melihat cowoknya berjalan berdua dengan cewek lain" cerocosku.
"Hhhhh,," Alex menghembuskan nafasnya. "Dia bukan pacarku,, dia memang menyukaiku dan selalu bertindak seperti itu,, tapi aku tidak menyukainya" jelasnya.
"Owww" jawabku berusaha sedatar mungkin.
Jam baru menunjukkan pukul 8 malam,, dan Alex menghentikan mobilnya dideretan warung lesehan tak jauh dari tempat kost Abbi.
"Kita makan dulu,, kamu pasti lapar" ajaknya.
"Pak Ayam penyet sama es teh manis satu ya" Alex memesan untuknya sendiri.
"Kamu mau makan apa,, ?? pesan gih!" ucapnya.
"Pak Lele penyet sama es jeruk satu!" aku ikut memesan.
"Siyaappp!" ucap Bapak paruh baya pemilik warung.
__ADS_1
Selesai makan malam,, Alex mengantarkan ku sampai didepan pagar kost.
"Makasih ya Lex buat jalan juga traktirannya!" ucapku sambil memegang handle pintu mobil bersiap untuk membukanya.
Tiba-tiba tangan Alex memegang bahuku dan menahanku untuk turun,
"Ada apa?" tanyaku sambil menoleh kearahnya.
"Emm,, kita.. kita jadian ya!" ucapnya.
Aku menarik pintu mobil yang hampir terbuka dan menutupnya kembali.
"Jadian?" tanyaku dan menatapnya heran.
"Iya,, kamu.., mau kan jadi pacarku?" tanya Alex sambil menatap lembut kearahku.
"deg.. deg.. degg" jantungku berdetak kencang seprti habis lari balap karung.
"Kamu,, serius Kak??"
"Iya aku serius,, Kamu mau kan??"
"Aku,, aku mau Kak,, jawabku sambil tersenyum.
Senyum mengembang segera menghiasi wajahnya,,
"Oke,, sekarang kamu tidur,, besok pagi kita jalan" ucapnya.
"Iya Kak,, Selamat malam,, hati-hati dijalan" ucapku sambil tersenyum manis kearahnya.
"Hmm,, bye Bii,,"
Selepas kepergian Alex,, Abbi segera masuk ke dalam kost tepat saat penjaga akan mengunci pagar.
Senyum bahagia terus tersungging di bibirnya,, Abbi tidak menyangka sosok yang dikaguminya satu bulan yang lalu,, sekarang sudah resmi menjadi pacarnya.
Sambil senyum-senyum sendiri dia masuk kekamarnya dan langsung terlelap dalam mimpi yang indah.
Keesokan paginya Abbi segera bergegas bangun dengan penuh semangat,,
"Ahhh,, aku mau jalan sama Kak Alex,
aku harus pakai baju yang mana ya?" gumamnya setelah selesai mandi sambil memandangi tumpukan baju didepannya,,
Akhirnya pilihan Abbi jatuh pada celana jeans pendek diatas lutut dengan kaos longgar berwarna biru muda,,
5 menit seusai berdandan,, Alex sudah siap menunggunya didepan pagar kost.
Sambil berlari kecil dengan menenteng slingbagnya,, Abbi keluar menemui sang pacar baru.
"Pagi Kakk!" sapaku dan masuk kedalam mobilnya.
"Pagi,,, kamu cantik banget Bii" pujinya.
"Terima Kasih Kak" jawabku gugup sekaligus tersipu malu..,,,
"Ohh Tuhaannn,, jantungkkuu seperti mau meledak.." batinnya
"Kita mau kemana Kak??" tanyaku.
"Kita sarapan dulu ya,,, aku yakin kamu pasti belum sempat sarapan kan!" ucapnya.
"He..He iya Kak,, "
__ADS_1
Alex kemudian membawaku kesebuah rumah makan dan sarapan berdua dengannya.
Selesai sarapan kami berdua melanjutkan perjalanan,
Ternyata dia membawaku di sebuah tempat wisata di kota M,, sekitar satu setengah jam perjalanan dari kota S.
"Wahhh udaranya segerr bangettt!!" seruku..
Jejeran pohon cemara khas tanaman pegunungan,,. dengan bunga warna-warni yang bertebaran namun tertata dengan rapi.
Beberapa ayunan single dan couple,, dan juga kolam air panas besar dari pancuran mata air dari atas gunung.
Pelukan hangat dari belakang membuatku terkejut,
"Kakk..
"Ssstt,, kita nikmati hari ini,, ya!"
memeluk dengan hangat sambil memandang hijaunya pemandangan didepan kami.
Pemandangan yang tidak mungkin bisa didapatkan dari kota metropolitan sebesar kota S.
Sementara itu dirumah Abbi di kota J,
Sudah hampir 2 tahun usia pernikahan Seno, dan Shinta,
"Minggu depan kita sudah harus pindah dari rumah ini,,"
"Kita mau pindah kemana?"
"Kemarin aku sudah cari-cari kontrakan rumah,, tapi uang kita kurang,, jadi aku memilih rumah petak didekat kantor" jawab Seno.
"Rumah Petakkk???! Nggak aku nggak mau aku mau tetap tinggal disini,, Ini rumah mu kenapa harus keluar!??" tolak Shinta dengan ketus.
"Kamu kan tahu,, rumah ini hanya dipinjamkan saja oleh Ibu,,!!"
"Memang dasarnya Ibumu saja terlalu pelit sama kamu,, Perhitungan sekali!" Omelnya.
" Pelit darimana?? Kamu kan tahu,, sejak awal ibu menentang hubungan kita,, Ibu tidak akan menyetujui pernikahan kita kalau aku tidak memenuhi syarat darinya,,,, masih untung semua biaya lamaran , pernikahan dan juga rumah Ibu dan Ayah ku masih mau membantu kita."
"Aku gak mau tahu,, Pokoknya aku mau tinggal disini,, kamu cari cara buat merayu Ibumu!" jawab Shinta sambil menyilangkan tangan didepan dadanya.
"Lalu gajiku selama ini dimana semua?? Bukankah dari awal aku sudah bilang kalau rumah ini hanya dipinjamkan,, dan aku menyuruhmu menabung!?"
"Gajimu hanya 5 juta buat makan saja tidak cukup! belum lagi kebutuhan yang lain!" ucapnya sambil melotot kearah suaminya.
"5 juta itu besar Shin,, dan tidak sedikitpun kamu bisa menyisihkan!!" tanya Seno.
"Nggak,, semua habiss..!" jawabnya dengan cuek.
Perdebatan terus berlangsung tanpa menyadari kedatangan ayah dan ibunya yang sudah berdiri didepan teras rumah mereka..
Ayah dan Ibu hanya bisa menggelengkan kepala mendengar perdebatan anak dan menantunya.
*Tok..tok..* Ayah mengetuk pintu.
Perdebatan mereka pun seketika berhenti,,
"A,,ayah.., Ibu" Seno tergagap setelah melihat sosok yang berdiri didepan pintu.
"Hmm" jawab Ayah.
"Silahkan masuk Yahh!" ucapnya dengan wajah gelisah.
__ADS_1
"Ibu,,, Ayah.." sapa Shinta sambil tersenyum manis tapi berbanding terbalik dengan sorot matanya yang menyiratkan ketidaksukaan pada kedatangan kedua mertuanya.
Bersambung