I Never Say Goodbye

I Never Say Goodbye
Dijemput Pulang


__ADS_3

Mata Abbi memanas, deretan pesan romantis antara suaminya dengan nama kontak A3 terpampang nyata dihadapannya.


bahkan sederet puisi romantis ala pujangga tersemat didalam pesan yang di kirim suaminya untuk kontak bernama A3.


Jantung Abbi berdebar dengan kencang, tubuhnya gemetar dengan hebat, lututnya juga lemas melihat bukti kemesraan Alex bersama perempuan lain didepannya.


Mendengar bunyi air dari kamar mandi masih belum berhenti, Abbi buru-buru mengambil ponselnya dan menyimpan nomor A3 kedalam ponsel miliknya.


Tekanan besar dari sms mesra suaminya dan A3 mulai membuat perut Abbi terasa ngilu.


'Ya Tuhan, tolong kuatkan hambaMu,, kuatkan anak yang ada dalam kandunganku Tuhan, hamba memohon' Abbi menunduk sementara tangan kanannya memegangi perutnya.


Abbi yang fokus pada rasa sakit diperutnya sama sekali tidak menyadari Alex sudah keluar dan menatap dirinya dengan tatapan yang rumit,


Alex berjalan mendekat kearah istrinya,


*srett*


"lancang, berani kamu mengambil hapeku tanpa ijin!!" Alex berteriak marah dan mengambil dengan kasar poselnya yang masih ditangan Abbi.


Abbi yang kini pucat menarik napas dalam-dalam, sambil menahan rasa sakit diperutnya,


"aku hanya memegang hapemu dan kamu begitu marah, apa kamu takut aku tahu rahasia yang kamu sembunyikan di hapemu itu!"


Tangan Abbi meremas sprei tempat tidurnya dengan kuat.


"Omong kosong! kamu yang selingkuh sama Farel, sekarang kamu mau menuduhku berbuat bejat seperti mu!" elaknya dengan tatapan menghina


"Aku hanya bertanya apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan di hapemu? Apa ada kalimat ku yang menuduh mu berlaku bejat?" tanyaku berusaha setenang mungkin.


"Kamuu!"


"Heh,, luar biasa" sinisku.


"Apa maksudmu!!" teriaknya.


"Maksud? Maksud apa memangnya? kamu begitu perasa membuat aku yakin kalau kamu memang menyembunyikan sesuatu" aku langsung menatap mata suamiku.


"Jangan bilang kamu membuka hapeku!" bentaknya lagi.


"Hhh, sudahlah Kak, kamu sudah ada wanita lain dan aku yakin kamu akan bahagia bersamanya daripada tetap bertahan bersamaku. Sekarang tinggal menceraikan aku apa susahnya?" aku mendesah lelah didepannya.


"Brengs3k!" umpatnya lalu pergi meninggalkanku begitu saja.


*Brakkk* terdengar suara pintu depan dibanting dengan kasar. Dan suara khas mobil suaminya melaju dan menjauh.


Sudah menjadi kebiasaan setiap selesai bertengkar, Alex langsung pergi dengan mobilnya entah kemana.


Bahkan tanpa pikir panjang tega meninggalkan Abbi yang sedang hamil tua, dan sewaktu-waktu bisa melahirkan.


Pertengkaran hampir setiap saat selalu terjadi, hati Abbi mendingin. Entah mulai mati rasa atau sudah sepenuhnya menyerah.


Meski rasa sakit di hati masih terasa tapi air mata tak lagi keluar untuk menangisi drama rumah tangga yang tak juga berakhir ini


Abbi perlahan turun dari tempat tidur, Sekai lagi hati Abbi berdenyut mengingat isi pesan suaminya.


"Tidak ada air mata lagi,, tidak boleh, dia tidak pantas mendapatkan air mataku lagi" Abbi bergumam menguatkan dirinya.


"Semangat,,Semangat! demi si kucrit di perutku aku harus semangat! " tekad Abbi mengelus perutnya dengan lembut lalu berjalan mengunci semua pintu.


Berjalan kembali menuju dapur, menyiapkan segelas susu hamil dan meminumnya sambil duduk di ruang makan.

__ADS_1


"Maafkan Mama ya nak, kalau nanti saat lahir kita hanya tinggal berdua saja. Tapi yakinlah kita pasti baik-baik saja meski hanya berdua" ucapku sambil tersenyum tipis mulai merencanakan sesuatu untuk diriku dan si kecil yang dalam hitungan hari akan lahir.


Selesai meminum susu, Abbi kembali kedalam kamar untuk mengambil ponselnya dan membawa benda hitam kecil itu keruang keluarga yang tepat berada disamping kamar utama.


Menyalakan TV dan menonton sendirian.


*drrt.. drrt* ponselnya bergetar.


"Kak Seno" gumamku membaca nama kontak yang menghubungiku.


"Hallo Kak"


"Hallo Bi, kamu sibuk Dek?"


"Nggak Kak, ini lagi santai"


"Ada apa Kak?"


"Itu Dek,, emm Ibu katanya kangen sama kamu, Ibu minta kamu pulang bisa Dek?" terdengar suara serius dari Kak Seno.


"Tapi Ibu baik-baik saja kan Kak" tanyaku dengan cemas.


Tiba-tiba terselip perasan yang tidak enak.


"Ibu baik Dek, hanya kangen sama kamu, Emm ini Kak sebenarnya sudah dalam perjalanan ke rumahmu Dek"


"Hahh?"


"Kenapa gak ngabari dari awal? Kenapa mendadak?"


"Yaa, Biar surprise Dek" Kak Seno setengah bercanda.


"Sekarang posisi Kak dimana?"


"Oww, ya sudah Kakak hati-hati ya, aku telpon Kak Alex buat minta ijin"


"Hmm"


Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan sang Kakak, Abbi kemudian mencoba menghubungi Alex.


*Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan, cobalah beberapa saat lagi, the number you are calling....*


"Ponsel Kak Alex gak aktif" gumamku setelah mendengar suara operator .


'Biar aku kirim pesan saja' pikirku.


"Kak, aku ijin pulang ke kota J. Ibu minta aku pulang"


Abbi mengirimkan pesan yang diketiknya ke nomor Alex.


Lalu bergegas bangun sambil mematikan TV, masuk ke dalam kamar untuk mengemasi beberapa pakaian yang akan dibawanya.


Selang beberapa menit, terdengar suara mobil berhenti didepan rumah.


"Pasti Kakak sudah sampai, ihh jahilnya katanya satu jam lagi baru sampai! ini baru 25 menit tapi sudah didepan rumah" Omelku sambil tersenyum.


Aku berjalan menuju kedepan, dan benar saja Kakakku yang tampan dan konyol itu turun dari mobil Inova hitam yang entah milik siapa.


"Kak" panggilku dengan suara seceria mungkin.


Kak Seno menoleh dan tersenyum.

__ADS_1


"Kamu sendiri Dek, Alex mana?" cerocosnya setelah dia berdiri di dekatku.


"Ini masih siang Kak, ya pasti dia dikantor lah" jawabku menutupi yang sebenarnya.


"Lahh, kok kekantor ini kan Sabtu Dek?"


"Kalau gak salah, kayaknya ada masalah di kantor cabang Kak" lagi-lagi aku menjawab asal.


"Oww.."


"Sudah Kak ayo masuk dulu, Kak Seno pasti capek kan, Istirahat dulu gihh!" aku menggandeng tangannya dan membawanya masuk kedalam.


Seno duduk disofa ruang tamu dan bersandar sambil selonjoran.


"Minum Kak" Aku menyodorkan sebotol air mineral dingin yang aku ambil dari kulkas.


"Thanks Dek" Kak Seno mengambil dan segera meminumnya.


"Kak sudah makan siang?"


"Belum sempat, kamu masak apa dek?"


"Aku gak masak Kak"


"Lha terus pagi kamu sarapan apa kalau gak masak?"


"Aku minum susu hamil"


"Memangnya kenyang?" tanyanya dengan tatapan cemas.


"Cukup, gak cukup Kak, aku juga lagi malas masak" jawabku acuh.


"Kalau kamu malas kan bisa pesan makanan atau catering berlangganan, jangan sampai gak makan kasihan keponakanku nanti bisa kelaparan" omelnya.


"Ish, kumat,, kambuh deh cerewetnya!" cebikku sambil menggodanya.


"Laahh, malah ngatain Kakak cerewet" sambil melotot dengan senyum tipis tersungging dibibirnya.


"Emang kenyataannya kaan!?"


"Iya.. iya aku cerewet, puasss?" jawabnya sambil menyentil hidungku.


"Kak sakit tauu" teriakku berpura-pura marah.


Kak Seno malah tersenyum semakin lebar.


"Sudah ahh, aku mau beresin bajuku dulu"


Abbi berdiri dan menuju kekamarnya.


"Biii!" terdengar suara teriakan Kak Seno.


"Iya Kak, bentar,, dikit lagi selesai" jawabku dari dalam kamar.


Seno yang duduk di sofa memiringkan kepalanya kearah kanan lalu menatap satu persatu foto yang berjajar rapi di meja marmer disamping sofa tempat dia duduk.


Matanya menatap tajam kearah foto yang dipegangnya.


Diantara serta orang yang dia kenal difoto itu, satu orang yang ada difoto itu berhasil menarik perhatiannya.


***** Hallo Readers. Ketemu lagi ya🙏 Maaf kalau baru bisa Up. Mohon maklum pekerjaan didunia nyata menumpuk, jadi novel agak sedikit terbengkalai..🙏

__ADS_1


Buat yang punya masukan/ Saran, atau kritik yang membangun jangan lupa langsung ketik di komentar ya.


Terimakasih 🙏


__ADS_2