
Sore menyapa ketika Abbi sampai dirumah.
Terlihat Ibu yang sedang menyiram tanaman kesayangannya diteras depan,
"Bu.." sapa Abbi Lalu duduk bangku panjang.
"Hmm, baru pulang jam segini?? ingat kamu hamil muda jangan sampai kecapekan Bi!" tegur Ibu kuatir.
"Iya Bu,, "
Ibu kemudian menaruh perlengkapan tamannya dan menyusulku duduk dibangku taman.
"Bi,, apa kamu ada masalah dengan keluargamu nak?" tanya Ibu.
*deg* Abbi terkejut dengan tebakan ibunya.
Segera Abbi menyembunyikan ekspresi keterkejutannya.
"Nggak ada Bu,, kok Ibu bisa tanya begitu?"
"Kalau memang kamu gak bermasalah kenapa kamu pulang kerumah sampai lebih dari 2minggu?"
"Kan Abbi sudah bilang sama Ibu,, Kak Alex sibuk keluar kota,, lagi pula dua atau tiga hari lagi Abbi juga mau pulang Bu" jawabku menghindari kecurigaannya.
Sementara itu dilain tempat Seno melajukan perlahan motornya menuju kos dengan malas dan hati yang galau.
Tiba-tiba Seno memutar arah dan memilih melajukan kendaraan kearah pinggir kota J.
Menghentikan motornya tepat dipinggir jalan dengan melihat hamparan sawah yang kini ada didepannya.
Dalam diam dia duduk diatas motor.
Teringat siang tadi ketika dia dan tim devisinya makan siang sekaligus merayakan ulang tahun salah satu temannya.
Restoran Joglo menjadi pilihan temannya. Dengan menggunakan motor memakan waktu perjalanan 10 menit dari kantor.
Karena sudah reservasi dan makanan sudah dipesan terlebih dulu oleh sang empunya acara,, Seno dan rombongan pun langsung santap siang tanpa menunggu waktu yang lama.
Selesai makan siang Seno yang akan kembali kekantor,, diseberang jalan depan restoran,,
"Shinta??" gumam Seno.
Istrinya itu terlihat keluar bersama seorang pria dari dalam cafe Exselcio.
Seno bersiap menyeberang jalan dan menghampiri istrinya yang sedang begitu sumringah dirangkul sosok pria dan bersiap masuk kedalam sebuah mobil.
"Shinta!!" panggil Seno sambil berteriak tapi teriakannya tertelan suara kendaraan besar yang melintas di jalan didepannya.
Ketika Seno hendak menyebrang,,. Mobil berwarna hitam yang ditumpangi istrinya bersama seorang pria telah melaju meninggalkan cafe Exselcio.
"Woii,, ayo balik kantor!!" Panggi seorang temannya.
Niat Seno untuk mengejar istrinya pun terpaksa dia urungkan.
__ADS_1
"Kamu yang boncengin ya!" ucap Seno sambil melemparkan kunci motornya pada rekan sejawatnya.
"Siap Broo..!" jawab temannya.
Dengan pikiran kacau Seno terpaksa kembali kekantor.
"Siapa yang bersama Shinta?? Apa mungkin Shinta berselingkuh?? aku harus tanyakan sama Shinta!!" pikirnya.
Sampai dikantor dengan pikiran tidak tenang Seno memutuskan menelpon Shinta,
Berkali-kali Seno menelpon istrinya jawaban operator,
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif" membuat Seno semakin gelisah dan juga kalut.
Seno menghela napasnya dengan berat.
Pernikahannya sudah berjalan hampir 3 tahun,, dan tidak pernah dalam keadaan baik-baik saja.
Manisnya madu pernikahan hanya bisa dia rasakan 3 bulan pertama saja.
Sisa selanjutnya hanya tuntutan demi tuntutan Shinta dan keluarganya yang terus menindih dan membebaninya.
Kondisi keluarganya semakin parah ketika Shinta ketahuan berbohong tentang kehamilan palsunya., belum lagi Ibu mertuanya.
Lagi-lagi dia mengingat masalahnya dengan keluarganya,
"Ibu gak mau tahu ya Sen,, adikmu sudah kurang ajar dan mempermalukan Ibu juga Shinta kamu harus cari uang ganti rugi yang diminta adik sialan mu itu!!" omel Ibu Shinta beberapa hari setelah acara lamaran adiknya, ketika dia menjemput Shinta yang sempat dia usir karena kebohongan yang dibuatnya.
"Tapi dari mana Seno bisa dapat uang segitu banyak Bu,, Seno sudah banyak hutang di kantor?"
"Lagian kamu juga Shinta ngapain pakai acara nyolong perhiasan adikku!" kesal Seno pada Shinta.
"Itu.. itu karena kamu kere Mas,, aku juga mau perhiasan seperti Abbi,, apa kamu mampu membelinya buat aku!!" balas Shinta tidak merasa bersalah.
"Sudah tahu kamu gak becus jadi laki-laki makanya sampai istrimu nekat nyolong masih juga gak sadar diri!" Lagi-lagi ibu mertuanya menghina dan memojokkannya.
"Kalian saja yang tidak bersyukur,, terlalu banyak maunya tapi gak sadar kemampuan!" lawan Seno yang sudah mulai lelah menghadapi kelakuan Shinta dan Ibu mertuanya.
"Dasar mantu kurang ajar,, mantu gak berguna!!" teriak Ibu mertuanya sambil jarinya menunjuk ke mukaku.
Seno yang terpancing emosi segera berdiri,
"Permisi Bu!!"
Seno mengabaikan makian Ibu Shinta dan bersiap keluar dari rumah keluarga istrinya untuk kembali ke kost.
"Mau kemana kamu!! Ibu belum selesai!!" teriaknya semakin murka.
"Seno kesini hanya mau menjemput Shinta,, bukan untuk mendengar hinaan Ibu,, kalau Ibu mau uang cari sendiri Seno gak bisa cari!!" tolak Seno.
"Kamu gak carikan uang itu!!, lebih baik Kamu ceraikan Shinta!" lagi-lagi ancaman cerai dilayangkan ibu mertuanya.
"Baik,, Seno akan ceraikan Shinta!" jawab Seno dengan emosi.
__ADS_1
Kedua orang didepan terkejut membelalakkan matanya,,
"Mas..!!" seru Shinta tidak percaya.
"Kalian selalu mengancam dengan kata cerai,, baik Seno besok akan urus perceraian sesuai keinginan kalian!" ucap Seno dengan emosi.
"Mas kamu gak cinta lagi sama aku,, kamu jahat Mas!!" teriak Shinta dengan mata berkaca-kaca mulai bermain peran.
Seno mengabaikan teriakan Shinta dan menaiki motornya.
Keesokan harinya Shinta kembali ke kost,, bermanis muka,, tapi ujung-ujungnya tetap meminta uang 50 juta.
Tanpa sepengetahuan istrinya,
Seno memohon pada Abbi untuk melupakan semuanya,, hutang lama dikantor belum terlunasi bagaimana dia memenuhi tuntutan mertuanya.
Abbi menolak permintaan kakaknya,, Abbi bertekad memberi pelajaran pada Kakak dan juga kakak iparnya.
Seno pun kalang kabut dibuatnya..
Jalan terakhir Seno meminta bantuan Ibu dan ayahnya.
Dengan terpaksa Abbi menuruti kedua orang tuanya.
Masalah satu selesai.
Kini Seno harus kembali menelan pil pahit, saat melihat istrinya berjalan berdua dengan laki-laki lain.
Senja mulai turun, Seno melajukan motornya kembali ke kost.
Dengan kunci cadangan dia membuka pintu kamar kostnya.
Kamar kost yang berantakan membuat emosi Seno naik sampai ke ubun-ubun.
Meski badannya terasa capek, Seno membersihkan kamar kosnya,, dan menuggu istrinya dengan perasaan berkecamuk.
Tepat jam 9 malam, Shinta masuk kekamar,
"Darimana kamu?" tanya Seno dengan dingin.
"Habis belanja sekalian jalan sama Ibu!"
"Jangan bohong kamu!!" ucap Seno dengan suara keras.
"Apa sih Mas, memang aku habis pergi sama Ibu kok!!" sangkal Shinta.
"Siap Pria itu!!" Seno tidak mau basa-basi lagi.
"Pria?? Pria apa?? pria mana??" teriak Shinta terus mengelak.
"Jangan bohong lagi,, aku lihat sendiri siang tadi kamu keluar dengan laki-laki di cafe Exselcio!" geram Seno.
"Siapaa!!??" bentak Seno lagi.
__ADS_1
***** Readers jangan lupa votenya ya.., jadiin favoritnya kalian juga ya.. Terimakasih 🙏🏻