
Aku keluar dari kantor Valencia Kakakku dan bergegas menuju basement.
Abbi tidak mau aku ajak naik kekantor Kak Valen karena mengantuk,, dan aku bisa memaklumi alasannya,, karena beberapa hari ini memang kami harus bolak-balik rumah dan kantor cabang 4 yang jaraknya memang cukup jauh,, ditambah lagi semalam aku menggarap Abbi sedikit lama,, entah berapa ronde aku sendiri tidak menghitungnya.
Tubuh mungil istriku itu begitu menggoda,, dan membuatku candu.
Dadanya tidak terlalu besar, namun padat berisi dengan bagian pinggul lebar terlihat menggoda.
Pipinya yang sedikit chuby dengan dua lesung Pipit menambah keimutan istriku.
Aku bergegas menuju kearah parkiran.
Betapa aku terkejut setengah mati melihat Farel, Kakak Iparku duduk dibagian kemudi mobilku,, membungkukkan badannya kearah Abbi yang aku tidak tahu masih tertidur atau sudah bangun.
Namun satu yang bisa aku lihat Farel mencium bibir istriku dengan panas.
Tidak terdengar suara perlawanan atau penolakan dari istriku.
Ingin aku menerjang Farel kakak ipar ku yang tidak tahu diri,, tapi pikiranku manis waras. Kalau aku menghajar Farel bagaimana dengan Valen,, bagaimana perasaan kakaknya?
Apalagi bagi kakaknya, Farel sosok suami yang sempurna. Hampir 3 tahun menikah dan selama 3 kali pula hamil selalu keguguran akibat kandungannya yang lemah, Farel dengan setia selalu mendampingi dan menguatkan Valen.
Aku menyalahkan istriku,, bagaimana mungkin dia membiarkan dirinya dijamah orang lain apalagi itu adalah suami dari kakak iparnya.
Kenapa dia tidak memberontak,, kenapa dia tidak menendang Farel keluar dari mobil.
Dengan kemarahan yang besar Alex pergi meninggalkan mobilnya dan berjalan menuju Cafe kopi lantai satu gedung PM Supermarket.
Sebuah kebodohan Alex yang tidak langsung menyelesaikan masalah saat itu juga.
Dan kelak dikemudian hari Alex akan menyesali keputusan yang dibuatnya hari ini.
Setelah kemarahannya sedikit reda Alex kembali ke mobilnya, dia melihat Abbi masih meringkuk tidur dengan pulasnya.
Hari-hari kemudian dilewati dengan pertengkaran demi pertengkaran.
Aku tidak percaya dengan penjelasan Abbi.
Aku ingin mempercayainya,, tapi melihat adegan ciuman mereka yang terekam diotakku membuat aku muntap.
__ADS_1
Aku jijik dengan istriku,, aku tidak percaya dia membalas ciumannya karena tidak sada.
Semua perkataan istriku ku anggap dusta dan kebohongan.
Apa yang aku lihat denah mata kepalaku sendiri adalah kebenaran.
Sekarang dia hamil,, entah kenapa aku tidak senang, aku merasa yakin anak yang dikandung Abbi adalah anak Farel.
"Gugurkan kandungan mu!" ucapku dengan keras.
Setelah memastikan kehamilannya dirumah sakit
"Anak ini anakmu dia tidak bersalah!!" teriak Abbi.
"Gugurkan,, dia anak haram!!"
*Plakk* Abbi melotot sambil menamparku.
"Dia bukan anak haram,, ini anakmu Kak, ini anak kandungmu, darah dagingmu!!" terima Abi dengan marah
* Plakk* Aku balik menampar Abbi dengan kalap, " Berani kamu menamparku dasar kamu jal*ng" aku emosi dan tidak terkendali.
Aku menyeret Abbi dan membawanya kekamar,, aku lampiaskan kemarahanku dan menggaulinya berkali-kali dengan kasar berharap anak yang dikandungnya gugur.
Tapi Abbi memang sosok kepala batu, dia kuat bertahan dengan sikap kasarku bahkan sampai hari ini.
Pernah terbersit dihatiku untuk mempercayai penjelasannya,
karena jujur hatiku juga sakit melihat Abbi yang menderita,,
Tapi aku juga kecewa Abbi tidak menolak Farel, beberapa kali Farel datang kerumah, dia tetap ramah, dan tersenyum pada Farel, tidak tampak marah karena Farel yang pernah menciumnya dengan tidak pantas.. Tentu saja ini membuatku semakin yakin bahwa Abbi memang bermain api dengan Kakak Iparku itu.
Farel yang menggoda istriku,,? atau Istriku yang menggoda Farel? atau memang dua-duanya sama-sama mau? kenapa Abbi tega,, kenapa mereka tega menyakitiku,, kenapa kalian tega mengkhianatiku dan juga Kakakku?" pertanyaan ini selalu hinggap dan memenuhi dikepalaku.
Malam ini pikiranku kalut,, aku pergi ke Club, sedikit menghibur diri sambil minum ditemani Sonny dan juga Annala.
Sonny kemudian pergi bersama teman wanitanya, meninggalkanku berdua dengan Annala.
Pikiran yang kalut sedikit teralihkan ketika Annala menceritakan kisah lucu yang menghibur hatiku,, tanpa kami sadari bibir ini saling bertaut dan saling menyesap dibawah remang cahaya club dibarengi suara hentakan musik yang menghentak.
__ADS_1
"Maaf,, anggap pernah terjadi,, maaf" Aku tersadar dan segera berdiri,, lalu meninggalkan ibu dengan pikiran bertambah kacau.
Sampai dirumah aku masuk kedalam kamar baruku,,. aku membeli springbed untuk menghindari Abbi,, aku ingin menyiksanya dalam kesunyian dan kesepian.
Aku dengar Abbi keluar dari kamarnya dan membuka pintu kulkas.
Entah setan apa yang merasukiku,, aku tanpa sadar berjalan kearah Abbi yang sedang berjongkok menata makanan didalam kulkas.
Efek kehamilannya membuat dua gundukan didadanya menyembul tampak kenyal menggoda, buah pinggangnya yang padat berisi seolah merayuku.
Mengingat adegan ciuman yang ku lakukan dengan annala membuatku merasa bersalah padanya,, tapi juga marah pada istriku karena adegan ciumannya dengan Farel melintas bersamaan.
Ku cengkram kedua lengannya,, amarah dan nafsuku seolah sudah ada diujung kepala.
Kulampiaskan amarah, gairahku,, ku ucapkan kata-kata kasar untuk menyakitinya. Awalnya dia memberontak,, membuat gairahku semakin menggebu.
Namun lama-kelamaan,, aku lihat Abbi tidak lagi memberontak, dia terdiam,, mematung,, tatapan matanya kosong meski air matanya masih mengalir dengan deras,, tatapan matanya kosong tak bersemangat bahkan seperti tanpa kehidupan.
Bahkan ketika aku merasakan nikmatnya pelepasan,, dia tetap diam tak bergeming dari tempatnya terlentang.
10 menit, 15 menit,, bahkan hampir setengah jam,, Abbi tetap terdiam tidak bergerak sedikitpun, dengan tatapan kosong membiarkan tubuhnya tetap terbaring telanjang tanpa berusaha menutupinya dengan selimut, sedangkan suhu udara karena AC yang menyala mulai terasa sangat dingin.
Aku segera bangun, mengenakan celana dan kaosku.
lalu ku selimuti tubuh Abbi dengan selimut tebal.
"Jangan pura-pura" aku sengaja membentaknya dengan tiba-tiba untuk mengejutkannya.
Tapi bukannya dia yang terkejut, tapi aku yang malah dibuatnya terkejut melihat istriku tidak bereaksi sama sekali dengan bentakanku.
Dia tetap menatap kearah plafon dengan mata kosong.
Terbersit rasa bersalah dihatiku sudah kasar dan keterlaluan kepadanya.
Tapi mengingat hubungannya dengan Farel lagi-lagi membuat hatiku memanas. Aku menguatkan hatiku untuk membalas perselingkuhan istriku.
Aku memanggilnya beberapa kali, menamparnya dengan keras supaya dia tersadar,, aku mengguncangkan bahunya tapi semua sia-sia,, Abbi tetap diam tak bereaksi bahkan sama sekali tidak berkedip.
Aku pun panik dibuatnya,, Aku dudukkan dia dan kusandarkan kepalanya dibahuku,, Aku memanggilnya dengan lembut.
__ADS_1
Tapi Istriku tiba-tiba terkulai lemas, jatuh pingsan tidak sadarkan diri.
Panik, takut dan merasa bersalah menghantuiku,, aku segera mengambil baju milik Abbi, dan memakaikannya. Menggendong tubuh istrinya dan membawanya ke rumah sakit.