
Pagi-pagi sekali Abbi bangun dan membuat sarapan dan bekal untuk dirinya sendiri. Memasak sedikit nasi dengan lauk kering tempe, bakmi goreng, sambal dengan ayam goreng.
Setelah selesai makan dan menyiapkan bekal untuk perjalanan, Abbi mencuci semua peralatan dapur hingga semuanya bersih.
Dia ambil tas baju miliknya dan memasukkan kotak bekal kedalam tas.
Hari ini Abbi begitu semangat dan juga senang, sebentar lagi bisa pulang dan merayakan 7 bulan kandungannya dengan Ini juga Ayahnya.
Abbi duduk diam didepan tv menunggu Alex yang belum bangun dari tidurnya.
Sesekali dia melirik kearah pintu kamar yang ditempati suaminya.
Besar keinginannya untuk membangunkan Alex supaya lekas berangkat, tapi Abbi tidak punya keberanian.
Abbi teringat beberapa hari yang lalu,
tepat di hari Sabtu siang, ada orang dari kantor Papa mertuanya datang untuk menemui Alex..
Tanpa mengetok pintu, Abbi membuka pintu kamarnya yang memang tidak pernah di kunci.
Alex siang itu tertidur dengan pulasnya. Dengan perlahan Abbi membangunkan suaminya,
"Kak, bangunn,, ada tamu suruhan Papa yang mencarimu Kak"
Tidak ada sahutan.
Terpaksa Abi beberapa kali menepuk pelan bahu Alex,
"Kak.. bangun Kak,. ada tamu, orang suruhan Papa!" ucapku sedikit keras.
"Berisik !" bentaknya dengan suara tertahan.
Wajah Alex terlihat begitu marah seolah bangun tidur melihat musuh yang menantangnya.
Alex berdiri dan mendorong bahuku sedikit kasar, hingga membuat Abbi tersentak mundur kebelakang.
Untungnya Abbi sedikit reflek ke arah tembok yang tidak jauh dibelakangnya, dan tangannya yang lain cepat berpegangan hingga dia tidak sampai jatuh .
Perlakuan kasar saat membangunkan Alex tidak hanya terjadi 1 kali,, tapi sudah berkali-kali.
Pekerjaan membangunkan Alex semenjak masalah kesalahpahaman itu terjadi selalu berakhir dengan mendapatkan bentakan atau pukulan dari suaminya yang langsung melayang kearahnya.
Hingga kalau bukan karena terpaksa , Abbi memilih untuk tidak membangunkan suaminya saat tidur.
Perlahan waktu berganti,,, akhirnya tepat jam 8 pagi Alex bangun, dengan santai dia membuat kopi untuk dirinya sendiri.
Mengabaikan Abbi yang duduk menunggunya diruang tv, dan menganggap Abbi tidak ada.
Tak jauh beda dengan Abbi, diapun juga diam tak mengeluarkan sepatah kata pun.
Hingga rumah ini pun begitu hening,, Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok yang dipakai suaminya untuk mengaduk kopi dicangkirnya.
Selesai menikmati kopi dan roti yang memang selalu tersedia diatas kulkas,, Alex ngeloyor masuk kekamar mandi.
__ADS_1
1jam kemudian, tanpa perlu banyak kata kami berdua masuk kedalam mobil dan berangkat pulang kerumah kedua orang tuaku.
Canggung dan dingin itu h yang paling dirasakan keduanya selama 4 jam perjalanan.
1jam sebelum memasuki kota S,, Alex menepikan mobilnya ke sebuah rumah makan untuk makan, mengabaikan istrinya didalam mobil.
Abbi turun dari mobi dan mengambil kotak bekal dari dalam tasnya.
Memakan bekal didalam mobil dalam diam dan tenang sementara dai dalam mobil Alex menatap datar kearah mobilnya, dan melihat istrinya menikmati makanan yang dibawanya.
Hubungan suami seperti ini entah apakah masih bisa dipertahankan lebih lama lagi.
Ada satu sisi Alex merasa bersalah dan yakin bila anak yang tumbuh dirahim Abbi adalah darah dagingnya, tapi mengingat kejadian ciuman didalam mobil yang dilihatnya.
Ditambah kunjungan Farel beberapa kali kerumahnya disaat dia tidak ada, belum lagi beberpa waktu yang lalu dia melihat dengan mata kepalanya sendiri didepan cafe EsCimo Abbi dirangkul bersiap masuk kedalam mobil kakak iparnya itu.
Menambah kuat dugaannya tentang perselingkuhan Abbi dan Farel,Kakak Iparnya.
Tangan Alex mengepal dengan kuat menekan kemarahan yang begitu besar, matanya berkilat menyorotkan kemarahan, luka dan kebencian yang mendalam pada Abbi.
Melirik sinis ke arah Abbi, lalu fokus menghabiskan makanan yang ada didepannya.
Sementara didalam mobil Abbi makan beberapa suap tanpa selera, Lalu menyimpan kembali kotak makanannya kedalam tas.
Bersandar dikursi dan memejamkan matanya untuk tidur.
Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang menuju kota J, sementara Abbi tetap pulas tertidur tanpa menyadari keadaan sekelilingnya.
Hari sudah sore ketika mobil yang ditumpangi keduanya sampai didepan halaman rumah.
"Hoamm,, oh ,, iya,, terima kasih" Abi menguap dan tergagap.
Alex turun dari mobilnya,, dan aku menyusulnya dari belakang.
"Ibu.." panggilku dengan antusias.
Betapa aku terkejut melihat Ibu yang terlihat begitu kurus duduk diatas kursi roda yang kini didorong oleh Bi Narti.
"Buu" panggil Abbi dengan mata berkaca-kaca lalu segera menghambur kepelukan ibunya.
"Kamu sudah sampai??" tanyanya lirih sambil membelai kepala Abigail.
"Jangan menangis,, Ibu baik-baik saja" ucapnya tersenyum dan melepas pelakuanku.
"Bu" terdengar suara Alex dari belakangku dengan lembut dan menyalami Ibu hormat.
"Gimana kabarmu Nak?"
"Alex sehat Bu,," jawabnya tersenyum.
"Syukurlah" balas Ibu tulus.
"Ibu bagaimana kabar Ibu? Abbi bilang Ibu tidak mau kemoterapi lagi, kenapa Bu? Ibu harus sembuh harus bisa menghabiskan waktu bersama cucu Ibu" ucap Alex.
__ADS_1
" Ibu tidak apa-apa,, ibu sehat Nak,, melihat kalian rukun begini Ibu merasa segar kembali" ujarnya dengan senyum lebar.
Abi tersenyum kecut mendengar ucapan Ibunya.
"Kalian istirahatlah,, pasti capek sudah menempuh perjalanan selama 4 jam"
"Iya Bu,, kami permisi kekamar ya Bu" Pamit Alex.
Alex berjalan duluan menuju ke kamarku,
"Bi Narti gimana kabarnya?"
"Sehat Non, Bibi sehat,, Non juga kelihatan segar ya,, bayinya laki-laki apa perempuan Non?" tanyanya.
"Emm,, rahasia " ucapku sambil tersenyum.
"Kok rahasia Ibu juga mau tahu cucu ibu ini cewek apa cowok"
"Hehe maaf Bu,, Abbi memang sengaja gak tanya sama dokter yang periksa kandungan Abbi" jawabku tidak sepenuhnya bohong.
"Wahh ibu malah jadi pengen tahu,, besok sore kita kedokter kandungan ya Ibu mau lihat cucu ibu" ucapnya antusias.
"Demi Ibu Abbi nurut deh" aku bercanda menyenangkan hatinya.
"Bi Narti dengar to? besok Bibi ikut juga ya" ucap Ibu dengan binar semangat dan bahagia terpancar dari matanya.
"Siap Bu,, Bibik juga penasaran" jawab Bi Narti.
"Sudah Bii, kamu istirahat sana, temani suamimu!" tegur Ibu mengingatkanku.
"Eh.. iya Bu.. Abi masuk dulu ya,, Ibu juga istirahat"
"Hmm,, Ibu mau ke teras depan dulu mau main sama anak-anak ibu sebentar"
"Iya tapi jangan lama-lama ya Bu,, Ibu jangan sampai kecapekan"
"Iya cerewet,, bawelnya ibu" ibu tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Abbi kemudian masuk kedalam kamarnya, dia lihat Alex duduk ditepi ranjang dengan mengenakan kaos dan celana pendek selutut dengan tenang.
Seketika suasana menjadi dingin, hening dan canggung.
"Emm,, Kak Alex terima kasih" ucap Abbi memecah kecanggungan.
Abbi merasa tenang melihat Alex masih mau menghargai, perhatian dan menghormati Ibunya.
"Aku melakukannya untuk diriku sendiri, bukan buat kamu,, !" sinisnya.
"Iya apapun itu,, terima kasih" ucapku.
Alex hanya melirik tak menanggapi.
"Tapi darimana kamu tahu Ibuku tidak mau kemoterapi?" tanya Abbi menatap penasaran kearah Alex.
__ADS_1
Karena memang Abbi tidak pernah bercerita tentang keadaan Ibunya pada Alex.