
Begitu dia membuka pintu kamar Ibunya, Abbi melihat sang Ibu yang semakin kurus, badannya yang segar berisi tidak lagi terlihat.
Benar-benar kurus kering, dengan selang infus terpasang ditangan kanannya.
Sementara sang Ayah duduk di dekat tempat tidur sambil memijit kaki Ibunya.
Seketika matanya mengembun,
"Ayah, Ibu" Abi memanggil dengan suara bergetar.
"Kemari Bi" sahut Ayah dengan suara pelan.
"Ibu?"
"Ibumu tidur" jawab Ayah.
"Ini kenapa, kenapa Ibu jadi begini Yah?" tanyaku terbata-bata dengan suara lirih tertahan.
"Kanker Ibumu menyebar dengan cepat Bi, terakhir sudah sampai diginjal dan sekarang naik keparu- paru" Ayah menjawab dengan tatapan sendu.
"Tapi,, tapi kata Kakak"
"Maaf Bi, Kakak hanya tidak mau kamu tidak tenang selama perjalanan" sela Seno yang kini berdiri dibelakangku.
"Ini, Ayah.." aku tidak bisa melanjutkan ucapanku. Tenggorokanku seakan tercekat seperti tercekik menghadapi kenyataan pahit di depanku.
Sesaat aku merasa limbung, kakiku pun terasa lemas. Mataku langsung memanas, dan air mata inipun lirih tak terkendali.
Aku merasakan tangan hangat Kak Seno menahan badanku agar tidak terjatuh.
"Dekk" dia memegangi bahuku.
Ayah menatapku iba lalu, perlahan berdiri, dan memelukku,
"Jangan menangis Nak,, kita harus kuat" Ayah mengusap pelan punggungku dan menguatkanku.
"Tapi Yah,,," kembali aku sesenggukan di pelukannya.
Dengan perlahan sambil masih dalam pelukannya, Ayah menuntun ku keluar dari kamar.
Lalu Kak Seno yang berada didalam kamar Ibu menutup pintu.
"Hiks,, hiks Ayah, kenapa Ibu,, Ayah Abbi tidak mau kehilangan Ibu, Ayahh" Aku menangis tidak terkendali didalam pelukannya.
"Tidak ada satupun dari kita yang ingin Ibumu pergi Nak, tapi ini sudah pilihan Ibumu, juga takdir Tuhan yang harus kita hadapi bersama" Ucap Ayah dengan suara yang bergetar.
Aku mendongakkan kepalaku dan menatap wajah Ayah yang terlihat lebih kurus dengan lingkaran hitam di bawah matanya.
Aku lihat mata Ayah berkaca-kaca menahan rasa sedih dan ketidak relaan yang begitu besar.
"Ayahh.." Aku memeluk erat Ayahku, dan menangis untuk beberapa lama dalam pelukannya.
"Ayah tahu ini tidak mudah, sekarang hapus air matamu, kasihan kan kalau sampai ibumu tahu kita menangisinya, Dia pasti akan kepikiran sama kita" sambil mengelus punggungku.
"Iya,, Iya Yah" jawabku sambil menarik napas dalam-dalam.
"Ayah, Kakak bilang Ibu memintaku pulang apa itu benar Yah?"
"Hmm, semalam tiba-tiba Ibumu bangun langsung marah-marah dan minta Ayah menjemputmu pulang, makanya pagi-pagi buta kakakmu langsung berangkat menjemputmu"
"Kamu baru sampai, sekarang istirahat dulu, nanti kalau Ibumu bangun Ayah panggil kamu"
"Abbi mau jaga Ibu yah" tolakku.
"Kamu juga harus jaga kondisimu, kamu ini lagi hamil tua, juga baru sampai setelah perjalanan jauh, jangan sampai terjadi apa-apa sama kandunganmu. Istirahat saja dulu, ibumu juga tidur dan ada Ayah juga Kakakmu yang menjaganya" Ayah mengingatkan.
"Iya Ayah" Lalu aku ijin masuk kedalam kamarku, setelah mengeluarkan baju dari dalam tas aku langsung mandi dan kemudian istirahat.
Malam pun tiba, saat aku terbangun aku lihat jam meja di sampingku menunjukkan waktu pukul 8 malam.
__ADS_1
Perlahan aku turun dari tempat tidur,
melihat sekilas ponsel yang tadi aku taruh disamping jam meja.
Tidak ada pesan balasan apapun dari suamiku tercinta, Akupun hanya tersenyum sinis melihat perlakuannya.
Lagi-lagi bayangan perempuan yang bersama Alex siang tadi, kembali terlintas di benakku.
"Hahh" Aku menghela napas berat.
' Setidak perduli itukah kamu terhadapku juga anakmu Kak' gumamku.
Aku memejamkan mataku berusaha meredam rasa sakit dan sesak di dadaku.
*Tok,, tok* suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku.
"Dekk!" terdengar suara Kak Seno dari depan pintu.
"Masuk Kak!"
Pintu kamarku terbuka perlahan,
"Dek ayo makan malam dulu, dari tadi kamu dipanggil-panggil gak bangun juga,, nyenyak banget kamu tidurnya!" omelnya.
"He, He, ya maaf Kak, namanya juga kecapekan" jawabku sambil nyengir.
"Ibu sudah bangun Kak?" tanyaku.
"Belum"
"Owhh"aku menunduk dan merasa sedih mengingat kondisinya.
"Sudah, kita harus kuat ya,, sekarang ayo kita makan dulu, kasihan Ayah sudah nungguin kamu dari tadi"
"Ehh,, iya ayo Kak!" Aku segera bergegas bangun dan keluar dengan sedikit tergesa-gesa.
"Pelan dek! ingat kamu ini lagi hamil!" tegur Kak Seno.
Kak Seno hanya menggelengkan kepalanya. Lalu merangkul pundak ku dan berjalan bersama kearah ruang makan.
Hatiku pun terasa hangat merasakan perhatian Kak Seno yang sudah lama tidak aku dapatkan semenjak dia menikah dengan Kak Shinta.
Seusai makan malam, kami bertiga langsung masuk kedalam kamar Ibu.
Ayah naik ketempat tidur dan duduk disamping Ibu disisi dalam tempat tidur, sementara aku dan Kakak duduk didekat tepi tempat tidur.
Sementara Kak Seno memijit kaki Ibu, aku memilih mengelus tangan Ibu yang tidak terpasang infus.
Tidak berapa lama Ibu perlahan terbangun,
"Bii!" Ibu menatapku lalu menatap perutku yang membuncit.
"Iya Bu"
"Kamu gak sayang ya sama Ibu, kamu hanya telpon gak mau pulang menengok Ibumu sendiri, Ibu kan kangen sama kamu, ibu juga kangen sama cucu Ibu yang cantik ini!" Tiba-tiba ibu mengomel dan merajuk.
Satu hal yang tidak pernah dilakukan oleh Ibu, karena meski cerewet tapi ibu adalah sosok yang sangat pengertian.
Sesaat aku melihat kearah Ayah, Ayah pun mengedipkan matanya memberiku tanda untuk bersabar.
Akupun tersenyum,
"Buu, Abbi ini sayang kok sama Ibu, maaf ya kalau Abbi baru bisa pulang sekarang, maklum Kak Alex sibuk, Abbi juga hamil besar jadi takut kalau harus pulang pake travel sendirian" jawabku perlahan.
"Hhh.. ya sudahlah" Jawab ibu sambil mendesah terlihat masih tidak terima.
"Ibuku sayang, Ibu belum makan malam kan? kemarin Kakak bilang Ibu pengen disuapi Abbi?" tanyaku sambil menghiburnya.
"Iya, Ibu mau, mau kamu suapin" Jawab Ibu cepat.
__ADS_1
"Ibu mau makan apa? apa mau bubur ayam?" tawarku.
"Nggak,, kayak orang sakit aja makan bubur" tolak Ibu.
"Ha, ha.. iya, iya Abbi salah. Ibu mau makan apa? Apa perlu Abbi pergi ke restoran buat beli capcay goreng kesukaan Ibu?" tawarku.
"Nggak,, nggak ini sudah malam kamu kan lagi hamil, jangan sembrono!" tegur Ibu.
"Sudah bawakan saja makanan yang dimasak Bibik!" ucap Ibu.
"Iya Bu, sebentar ya Abbi ambilkan" Aku mengusap lembut tangan Ibu.
Aku bergegas kedapur dan mengambilkan makanan untuk Ibu.
Semangkuk nasi sayur sop ayam dengan lauk perkedel kentang juga segelas air putih aku taruh diatas nampan, dan segera membawanya kekamar.
"Bu, ayo makan dulu" ucapku.
Ayah pun membantu Ibu duduk bersandar diatas tempat tidurnya.
Akupun mulai menyuapinya,
"Sudah Bi, Ibu sudah kenyang!" tolaknya.
"Lha ini baru dua suap Bu, satu lagi ya?" tawar ku.
"Nggak,, sudah gak muat. kamu minta Bibik buatin es teh manis" ucapnya. Dan sontak membuatku ternganga.
"Bii,!" tegur Ibu yang melihatku tidak beranjak dari tempat dudukku.
"Eh tapi..?" aku memandang
wajah ayah meminta pendapatnya.
Ayah menganggukkan kepalanya perlahan memberikan persetujuannya.
"Iya Bu, Abbi buatkan ya" jawabku.
Dengan membawa mangkuk bekas makan Ibu, aku kembali kedapur.
"Nonn, Non lagi ngapain?" tegur Bibik
"Eh Bik, ini Ibu minta dibuatkan es teh"
"Sudah Non duduk, biar Bibik yang buatin"
"Gak usah Bik, lagipula ini sudah malam, Bibik Istirahat saja" tolakku.
"Tapi Non"
"Sudah Bi, lagian hanya bikin es teh kan gak susah"
"Ya sudah, tapi kalau butuh apa-apa Non panggil Bibik ya"
"Iya Bik, pasti." jawabku sambil menuang air mendidik kedalam gelas berisi teh celup dan juga gula.
Setelah itu aku lihat Bi Narti berjalan menuju kamar yang ada disamping ruang makan.
Dan akupun selesai membuat es teh dan membawanya kekamar.
"Bu ini es tehnya" ucapku.
Ibu yang masih duduk sambil bersandar ditempat tidur pun tersenyum.
"Bawa sini" jawabnya.
Akupun membantunya meminum es teh manis. Minuman favoritnya.
Setelah dua teguk Ibu pun tidak lagi mau meminumnya.
__ADS_1
"Sayang, cantiknya Oma sehat selalu ya, jadi anak hebat yang membanggakan seperti Mamamu, maaf kalau Oma nanti tidak bisa menemanimu" ucapnya pelan sambil mengelus perut ku dengan lembut.
"Buuu" air mataku menetes mendengar ucapannya.