
Pada dasarnya mencari jodoh, sama dengan mencari buku yang masih bersegel,, sampul yang terlihat bagus tidak menjamin isinya juga bagus.
Itu sebabnya ada pepatah mengatakan, don't judge the book just by the cover.
Abbi melihat sosok Alex terlihat begitu luar biasa, kalem, lembut, humble, romantis penyayang dan berjiwa sosial yang tinggi,, begitu sempurna.
Begitupun kesan Abbi pada Farel, sosok suami yang humble, bisa menghidupkan suasana, sangat romantis dengan istrinya yang memiliki wajah dingin dan angkuh, mudah bergaul dengan banyak orang, tapi ternyata dibalik itu semua dia tidak lebih dari orang yang sakit jiwa.
Abbi sudah terlanjur masuk dalam lingkaran gelap keluarga Pratama, keluarga yang dipandang sempurna dan sangat diinginkan oleh semua mata yang memandangnya.
Pagi menjelang Abbi terbangun dari tidurnya,, perutnya terasa berat dengan segera Abbi menatap perutnya yang sudah membuncit.
Tampak tangan Alex melingkar diatas perutnya, sementara dia tertidur sambil duduk dengan menelungkupkan wajahnya diatas tepi kanan tempat tidur.
Abbi terdiam melihat pemandangan didepannya.
Tidak mungkin Alex menerima bayi yang dikandungnya,,. sementara selama ini Alex tetap menuntutnya untuk menggugurkan kandungannya,, dan tidak pernah mengakui janin yang dikandungnya adalah anak kandungnya sendiri.
Abbi berharap untuk tidak bergerak supaya Alex tidak terbangun, tapi panggilan alam tidak bisa ditahannya,, dengan perlahan dia mengambil tangan Alex, Lalu sedikit menggeser tubuhnya untuk turun dari atas tempat tidur.
"Kamu sudah bangun?" tanya Alex dengan suara lembut, membuat Abbi berdiri terkesiap.
"Kamu aku kemana?" tanya nya lagi dengan lembut.
Sejenak Abbi menatap suaminya,, tidak percaya jika Alex bisa bicara dengan lembut lagi dengannya.
"Kamu mau ke kamar mandi?? aku bantu?" ucapnya menawarkan diri.
"Tidak terima kasih" jawabku datar.
Tidak ingin berharap lebih dan tertipu sikap lembutnya yang berujung menyakitkan, Abbi berjalan menuju kekamar mandi tanpa memperdulikan sosok pria yang masih berstatus suaminya itu.
Sambil mendorong tiang infusnya Abbi masuk kekamar mandi.
Keluar dari kamar mandi Abbi berniat naik keatas tempat tidur,
Alex memegang bahunya bersiap membantunya naik keatas tempat tidur,
__ADS_1
"Tidak perlu membantuku lagi, terima kasih aku bisa sendiri" ucapku dengan datar sambil menepis halus tangan Alex yang masih merangkulku.
Aku lihat Alex memicingkan matanya dengan wajah tidak senang.
Alex kemudian berjalan kearah meja kecil disamping kanan ku, nampan makanan ruang sakit sudah tersedia disitu.
"Tidak perlu repot Tuan,, terima kasih biar saya urus sendiri makanan saya. jangan mengotori tangan anda Tuan" ucapku.
Lalu aku mengambil nampan makanan ruang sakit disebelah kananku,, dengan sedikit susah payah aku berhasil membuka penutup makanan.
Melahap makanan dengan terpaksa demi bayi yang aku kandung.
Satu porsi nasi, cha brokoli daging sapi, sup wortel, dengan lauk ayam, tahu dan tempe goreng, sudah aku lahap tak bersisa.
Terakhir aku ambil buah potong dan segelas air kacang hijau yang disediakan dan menghabiskannya.
Aku lihat infus ditanganku sudah hampir habis.
Badannya juga terasa lebih segar daripada kemarin.
Sejenak Abbi menghela napas.
"Kamu jangan bertindak sembarangan, cukup kamu menyusahkanmu seperti tadi malam!!" ucap Alex yang memegangi tanganku dan menghentikan niatku untuk mencabut jarum infus dari tanganku.
"Maaf Tuan, saya tidak berniat merepotkan Anda, itu sebabnya sekarang saya mencabut infus ini, saya tidak mau gara-gara saya, Anda harus repot mengeluarkan waktu, tenaga, dan uang untuk perempuan murahan seperti saya" ucap Abbi sambil menahan perih yang teramat sangat dihatinya.
"Saya orang miskin yang hanya bisa hidup dengan menjual tubuh saya, kalau saya terus tinggal diruang VIP ini bagaimana saya harus membayar semua hutang-hutang saya pada anda Tuan Alex " ucapku lagi.
"Cukup bermain-mainnya!! dalam hal ini aku yang kamu sakiti,, Jadi sudah seharusnya aku marah dan membalas semua pengkhianatan mu!!" ucapnya dengan suara tertahan.
"Silahkan lakukan sesuai yang anda inginkan Tuan,, saya tidak perduli!" jawab Abbi.
Hatinya sudah tercabik-cabik tak bersisa,, meski terkadang perih itu menghampiri, tapi Abbi mulai mati rasa,, cinta yang baru seumur jagung itu kini mulai terkikis dengan perlahan, menyisakan luka dalam yang menganga.
Perlahan Abbi menutup hatinya, dan menjadikan dirinya membatu,, mengacuhkan Alex dan Farel yang katanya mencintainya tapi justru menyakiti dan menghancurkannya secara perlahan.
Entah cinta macam apa yang mereka punya.
__ADS_1
Selesai mengatakan apa yang ingin Dia katakan, Abbi turun dari tempat tidur dan berjalan kearah pintu keluar.
"Berhenti!!" tegur Alex.
Abbi berhenti dan diam ditempat tanpa menoleh.
"Kita harus bicara!! Sekarang katakan apa maumu?? dan apa maksud ucapanmu semalam,, kata-kata kalian,, kalian siapa yang kamu maksud?? Jelaskan sekarang!??" tanya Alex bertubi-tubi sambil meraih tanganku dan menuntunku berjalan mendekati sebuah sofa panjag.
Lalu menarik Abbi duduk di sofa tepat disamping kiri tempat tidur.
Aku menatap lekat wajah pria tampan yang terlihat kelelahan didepanku.
"Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi Tuan, aku juga tidak menginginkan apapun dari anda, lagi pula apapun ucapanku, apapun penjelasanku akan tetap sia-sia karena tidak ada kepercayaan dari anda Tuan" ucapku datar.
Ekspresi datar Alex langsung berubah mendengar jawaban istrinya,, mukanya memerah karena menahan marah.
"Kamu memanggilku Tuan,, apakah kamu masih berani memanggilku Tuan saat didepan kedua orang tuamu!" sinisnya.
"Tidak ada masalah Tuan,, saya akan memanggil anda Tuan sekalipun didepan kedua orang tua saya" jawabku datar.
"Heh,, bagus besok kita pulang kekota J,, dan teruslah memanggilku Tuan" sinisnya.
Mendengar ucapannya Abbi menggigit kecil bibirnya.
"Aku yakin kamu tidak punya keberanian dan membiarkan Ibumu tersakiti,, atau bahkan kamu bisa kehilangannya karena masalah ini" ucapnya meremehkan.
"Takdir hidup dan mati ditentukan oleh Tuhan, kalau memang saya harus kehilangan dengan cara seperti itu, apa yang bisa saya lakukan? mungkin saya harus menanggung rasa bersalah seumur hidup saya? Tetapi Anda?? hanya satu hal yang harus Anda tahu Tuan, setiap kebenaran pasti terungkap tepat pada waktunya,, Dan saya berdoa,, ketika saat itu tiba Anda tidak terlambat untuk menyesalinya" jawabku sambil menguatkan hati.
Ancaman yang sama dari dua orang yang katanya mencintainya,, membuat Abbi benar-benar merasakan tekanan yang luar biasa.
Tangannya mengepal kuat,, menatap perutnya yang membuncit, dan membayangkan wajah kedua orang tuanya membuat Abbi kembali diingatkan untuk tetap berdiri, dan tidak menyerah.
Mendengar jawaban istrinya yang panjang lebar, Alex hanya bisa terdiam seolah kehabisan kata.
"Kalau sudah tidak ada yang dibicarakan saya permisi pulang Tuan" Ucapku sambil berdiri.
Berjalan dengan tegak,, tak lagi lemah seperti kemarin.
__ADS_1
Ibarat rumput liar, 10 kali kalian menginjakku, makan 11 kali aku akan bangun kembali.
Aku akan berhenti dan menyerah dengan sepenuh hati jika napas ini berhenti.