
Flashback On.
Selesai Ibunya dioperasi karena belum sadar dari pengaruh obat bius,, dan keadaan Ibu stabil Ayah menyuruh Abbi untuk pulang dan beristirahat"
Hari sudah gelap ketika Abi sampai dirumah.
Raut wajahnya tampak begitu muram dan juga sangat kesal.
Membuka pintu rumahnya dan langsung menguncinya dari dalam.
Menyalakan lampu depan dan lampu tengah lalu berjalan masuk kedalam kamarnya.
Abbi tengkurap diatas tempat tidur dan menangis sepuasnya hingga dia ketiduran.
Malam semakin larut,, akibat kelelahan Abi tertidur dan melewatkan makan malam.
Tepat jam 10 malam dia terbangun gara-gara perutnya melilit minta diisi.
Dengan malas Abbi bangun dari tempat tidurnya dan berjalan kearah dapur.
Dia buka lemari kitchen set atas tempat penyimpanan mi instan dan bahan makanan lainnya.
Abi memasak Mi instan diatas panci kecil, setelah matang dia langsung memakannya dari dalam panci tanpa memindahkannya kedalam mangkok.
Mengingat adegan sore tadi, Abi yang baru memakan Mie-nya beberapa suap menjadi kehilangan selera makannya. Sambil menangis karena kesal Abi terus memaksakan diri memakan mie yang dimasaknya sampai habis.
Abbi segera mencuci panci kecil bekas makannya, dan kembali masuk kekamarnya.
Mata Abbi kini terang benderang dan tidak bisa tidur lagi.
Abbi mengambil hapenya dan mengirimkan pesan teks pada Alex.
Hampir 1 minggu dia tidak sempat menghubungi kekasihnya itu.
"Hallo, Kak,, sudah tidur?"
Lima menit Abi menunggu balasan SMS dari Alex.
"Belum,, Aku telpon kamu ya!?"
"Iya Kak"
Tak berapa lama Alex menelponnya,
"Gimana kabarmu Kak?"
"Kabarku merindukanmu Bii"
"Yeii,, malam-malam malah ngegombal!"
"Lhaa siapa yang nggombal Bi?"
"Ya Kakak lah memang siapa lagi?"
"Betulan Bii,, aku kangen sama kamu,, satu bulan lebih kita gak ketemu,, telpon sama sms juga bisa dihitung dengan jari!
"Maaf ya Kak!" sesalku.
"Gak apa Bii,, aku bisa maklum kok!"
"Kamu sudah makan Bi?"
"Sudah Kak, barusan aku bikin Mie instan"
"Itu kan gak sehat Bi,,!"
"He.. He.. mau gimana lagi Kak,, ini kan sudah malam gak mungkin kan keluar cari makan diluar,, jadi ya sudah makan apa adanya,, Kalau kakak!?"
"Sudah, aku sudah makan,, ini baru sampai dirumah,, tadi Papa ajak kita makan diluar"
"Oww,,"
"Bii,, kamu ingat permintaanku sebelum kamu pulang kampung kan?"
"Permintaan Kakak?" cicitk sambil mengingat-ingat.
"Bii.." panggil Alex.
"Ohw itu,, maaf Kak,, aku belum sempat ngomong sama Ayah Kak,,!"
__ADS_1
"O.." terdengar helaan nafas kekecewaan dari Alex.
"Maaf Kak,, bukannya apa-apa,, tapi aku belum dapat waktu yang tepat untuk ngomong sama Ayah juga Ibu"
"Gak apa-apa,, aku ngerti" sambil lagi-lagi terdengar helaan napas.
"Ya sudah kamu istirahatlah,, besok pasti kamu sibuk mengurus Ibumu kan?"
"Iya Kak,, Kakak juga istirahat ya,,"
"Hmm"
"Kak maafkan aku ya."
"Hmm"
"Selamat malam Kak"
"Malam" dan percakapan kami pun terputus.
Perasaanku benar-benar bertambah kacau.
Abbi bisa merasakan kekasihnya kecewa kepadanya.
Abi membekap wajahnya dengan bantal lalu,
"Aaaaaaaaaa!!!" dia berteriak sekencang-kencangnya.
Keesokan paginya,, Abbi yang bangun kesiangan segera mandi,, setelah selesai bersiap, dia mengambil tas ransel yang semalam sudah diisi beberapa pakaian miliknya.
Setelah memastikan rumah bersih dan menguncinya kembali,, Abbi pergi membeli dua bungkus nasi pecel di warung sebelah rumahnya.
Menggunakan motor matic miliknya, Abbi segera berangkat ke rumah sakit besar dengan jarak sekitar 21Km. Dia menyetir motornya dengan kecepatan yang lumayan dan sampai di depan rumah sakit 25 menit kemudian.
Dengan langkah cepat setengah berlari di menyusuri koridor rumah sakit menuju kekamar ibunya.
"Pagi Ayah,!" dengan nafas terengah-engah.
"Maaf Ayah,, Abbi kesiangan! Ayah sudah sarapan?" cerocosnya.
"Belum Bi,, "
"Gak apa-apa,, "
"Ayah, Ibu belum sadar dari kemarin?"
"Belum,, kata dokter pagi ini Ibu siuman"
"Syukurlah lah Yah,," sambil bernapas degan lega.
"Ayah kekamar mandi sekalian kedepan ngopi sebentar ya,, kamu jaga Ibumu!"
"Siap Ayah!"
Tak berapa lama setelah Ayah pergi, Ibu pun siuman,,
Setelah kesadaran ibu pulih seutuhnya, Ibu mencari keberadaan Ayah dan juga Kak Seno yang tak menampakkan hidungnya Hinga pagi ini.
Dengan terpaksa Abbi membohongi Ibunya,, supaya Ibunya gak kepikiran.
Flashback Off.
Sore harinya Abbi dengan setia membantu menyeka tubuh ibunya dibantu seorang perawat.
Tak lama berselang sang Ayah juga datang dengan menenteng tas berisi pakaian miliknya dan juga thermos berisi air panas.
"Ayah,,!" panggil Abi sambil menatap wajah Ayahnya.
"Obat ibumu sudah diminum Bii?"
"Sudah Yah,, tenang aja kan ada ini" sambil menunjukkan ponselnya.
"Anak pintar" puji Ayah yang melihat putrinya mengatur alarm untuk mengingatkan jadwal minum obat Ibunya.
Abii tersenyum mendapat pujian Ayahnya.
"Abii,, terima kasih ya Nak" ucap Ibu sambil menggenggam tangan putrinya.
"Bu,, jangan berterima kasih,, ini bakti kecilku untuk Ibu,, Abbi kan sayang Ibu" sambil mencium punggung tangan ibunya.
__ADS_1
"Semoga selalu diberkati ya Nak!"
"Amin"
"Sore Ayah,, Ibu,," terdengar suara Kak Seno masuk kedalam.
Ayah hanya diam dengan wajah datar.
"Ibu,, ibu gimana??"
"Kamu baru pulang kerja?" ibu balik tanya.
"Iya Bu,, !"
"Ibu, Seno bawa buah kesukaan ibu,, ini!" sambil menunjukkan buah Jeruk juga jambu kristal yang di bawanya.
"Mukamu kelihatan bahagia,, pasti habis dapat bonus besar ya,?" goda Ibu.
"He,, he,, keluhatan ya Bu?" sambil duduk disamping kanan tempat tidur.
Sementara Abi memilih berdiri disamping ayahnya yang duduk disisi kiri tempat tidur ibunya, sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Awas kamu Kak!" ancam Abbi dalam hati.
"Bukan bonus uang Bu,, tapi itu, Shinta sekarang sedang hamil muda Bu!" jawabnya dengan mata berbinar.
"Wahh, selamat ya,, kamu sebentar lagi jadi Ayah!" ucap ibunya sambil tersenyum.
"Ayah,, Ibu, ini Seno ada sedikit berkat untuk membantu pengobatan Ibu!" sambil memberikan amplop yang dilipatnya pada Ibunya.
Novia melirik kearah suaminya yang tetap diam semenjak kedatangan Seno.
"Shinta sedang hamil muda,, kamu bawa saja dan pakai untuk memeriksakan kandungan istrimu,, Ibu yakin kalian lebih membutuhkan dari pada Ibu. Lagi pula biaya rumah sakit Ibu juga sudah lunas dibayar sama Ayahmu!" tolak Ibu.
"Tapi Bu,,"
"Bawalah Nak,, Ibu tahu kebutuhanmu sangat banyak, Ibu tidak mau menambahi beban mu!" jelas Ibu dengan lembut.
"Bawa saja Kak, gak usah malu-malu,, kalau nanti Kak Shinta ngidam makan di restoran kakak kan bisa nurutin,, atau kalau Kak Shinta minta istana Kan Kak Seno bisa buatin!" sindir Abbi.
"Istana pasir tapi ya!" lanjut Abi dalam hati.
"Bii!" tegur Ibu.
"Bercanda Bu,, !" ucapnya sambil tersenyum tapi tak sejalan dengan sorot mata Abbi yang berkilat marah.
Abbi memalingkan wajahnya kearah lain, menghindari tatapan Ibunya.
"Bu,, Abbi mau keluar sebentar ya Bu,, Ayah,,!" pamitnya
"Mau kemana ini sudah senja,, !'" tanya Ayah.
"Mau cari nasi bungkus buat kita makan malam Yah,, Maaf ya Ayah kalau Abbi hanya bisa belikan nasi bungkus bukan masakan Res-To-Ran!" ucap Abbi.
Sementara Seno hanya bisa menundukkan kepalanya mendengar sindiran pedas adik perempuannya.
"Ya sudah kamu hati-hati dijalan, jangan jauh-jauh belinya!"
"Iya Ayah..!"
Abbi segera keluar dari kamar rawat Ibunya.
Hatinya begitu panas melihat Kakaknya.
Kemarahan yang ditahannya sudah sampai diubun-ubun.
Abbi sengaja keluar dari rumah sakit dan menunggu kakaknya diparkiran motor rumah sakit.
Tepat 15 menit kemudian,, Kakak yang ditunggunya pun muncul juga,,
*Pletakk* Abbi melemparkan sepatu flat yang dipakainya kearah Seno.
"Apa-apaan kamu Bi!" marah Seno.
"Kakak yang apa- apaan!! Ibu sedang berjuang bertahan hidup,, tapi Kakak?? Kakak ini anak kandung Ibu,, bagaimana bisa kakak makan direstaurant mewah, pesta-pesta bersama para benalu itu sementara Kakak mengabaikan Ibu yang sedang bertaruh nyawa!! Dimana otakmu!!! Dimana hatimu!!" teriak Abbi dengan emosi.
"Kamu.. kamu tahu dari mana itu fitnah!" bantah Seno mengelak.
"Hey setannn!!! jangan pancing emosiku!!" teriak Abbi.
__ADS_1
"Yang sopan kamu Dek!!" bentak Seno.