
Pagi hari seperti biasa,, mual muntah yang cukup parah harus Abbi rasakan karena efek kehamilannya yang baru memasuki bulan ke dua.
"Kamu baik saja Nak??" tanya Ibu menatapku kasihan.
"Iya Bu,, Abbi baik" jawabku lemas sambil melangkah mendekati tempat tidur dan duduk disamping ibunya.
"Buu,, Abi mau bicara sama Ibu" sambil ku sandarkan kepalaku dibahu Ibu yang duduk bersandar diatas tempat tidur.
"Ada apa?"
"Bu,, Ibu besok kemo lagi ya,,, Abbi temani!" pintaku.
Terdengar helaan napas berat dari Ibu.
"Gak mau Bi,, Ibu gak mau kemo lagi,, ibu sudah sembuh ibu baik-baik saja!" tolaknya.
"Buu,, tapi kata dokter kemo yang Ibu jalani masih beberapa kali lagi"
"Nggak Bi,, ibu gak bisa Bu,, lihat kepala ibu,, ibu botak Bi,, bukan hanya ini yang buat ibu gak mau kemo lagi,,. itu menyakitkan Bi,, dan setelah selesai kemo gak ada jaminan kepastian bahwa ibu akan bebas dari kanker,, Kemo memang memperpanjang usia Ibu,, tapi juga memperpanjang penderitaan Ibu.. Nggak Bii,, ibu gak mau..!! kalau memang sudah waktunya pergi biarkan ibu pergi tanpa harus mengalami yang namanya sakit karena alat-alat dokter yang bagi Ibu itu seperti pisau penyiksaan sekaligus eksekusi mati penuh penderitaan dan kesakitan"
"Tapi Bu,, kalau Ibu menyerah begini,, Abbi bagaimana Bu,, Abbi gak mau ditinggal sama Ibu,, Abbi mau Ibu sehat dan main dengan anak Abbi,, cucu Ibu,, Tolong Buu.. hiks . hiks." pintaku sambil menangis dan memeluknya erat.
"Ibu akan pakai cara tradisional,, Ibu percaya bisa melihat anakmu juga main dengan cucu kesayangan ibu ini!" ucapnya sambil mengelus perutku yang masih rata.
"Buu,, tolong pertimbangkan lagi,, demi Ayah,, demi Abbi,, Kak Seno,, kita sayang sama Ibu,, kita tidak mau kehilanganmu Bu!" pintaku memelas.
"Apa kalian senang Ibu berumur panjang tapi terus merasakan penderitaan yang menyiksa dan menyakitkan??" tanya Ibu sambil menatapku tajam.
Dengan lemah aku menggelengkan kepala.
"Aku mau Ibu sehat dan umur panjang" ucapku dengan berlinang air mata.
"Hormati keputusan Ibu,, biarkan Ibu menghabiskan sisa waktu yang ada dengan bahagia,,, menghabiskan waktu kebersamaan dengan baik,, Ibu tahu ini tidak mudah untuk kita semua,, Tapi ibu benar-benar sudah tidak sanggup merasakan rasa sakit itu lagi Bi"
"Ibuu.." aku menangis sesenggukan dalam pelukannya.
"Ayo kita makan siang,, jangan bersedih terus kasihan anakmu,," ajak Ibu sambil mengusap air mataku,, menggenggam tanganku.
"Kamu mau makan apa?? hari ini pasti ibu masakin!" tanyanya dengan lembut.
"Sayur bayam, sambal terasi dengan bakwan jagung Bu! tapi harus masakan Ibu,, gak mau masakan Bibik! ucapku masih memeluknya manja.
"Ya sudah khusus hari ini Ibu masak buat kamu ya! ayo!!" Ibu tersenyum dan mengajakku kedapur.
Ibu dengan semangat memasak untukku,, dan kali ini aku bisa makan tanpa mual muntah seperti biasanya.
"Wahh cucu Nenek ternyata suka sama masakan Nenek ya" ucap Ibu sambil mengelus perutku dan tampak tersenyum senang.
"Iya Bu,, Abbi nambah dua kali dan gak muntah seperti biasanya" jawabku dengan senang.
"Nanti malam mau makan apa?" tanya Ibu.
"Belum tahu Bu,, belum ada selera" Jawabku.
"Kita ke dokter kandungan ya,, kita periksakan kandunganmu.. ibu mau lihat cucu ibu!" ucapnya dengan wajah senang.
"Paling baru sebesar telor Bu!" jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Gak apa-apa,, sore nanti sama Ayah sekalian ya" ucap Ibu.
"Iya Bu.. siapp.. sekarang Abbi kekamar dulu ya" pamitku.
"Hmm.." sambil mengelus kepalaku.
Aku bergegas masuk ke kamarku.
Foto pernikahan ku terpajang didinding kamar,, terselip rasa rindu yang masih tersisa di hati.
Sekalipun luka yang tak berdarah dihati ini masih menganga, menyisakan rasa sesak didada.
Aku ambil hape yang aku tinggalkan diatas tempat tidur,, pesan pamitku tak dibalasnya,, pesan perhatianku juga diabaikanya.
Menekan ego dihati,, Abbi mencoba menelpon suaminya,,
"Hallo Kakk"
"Hmm,,"
"Kak aku dirumah Ibu,, Kak sudah makan?" ucapku..
"Mau apa menelponku?? butuh uang?" tanyanya dengan nada sinis.
"Nggak Kak,, aku,, aku mau minta ijin tinggal dirumah agak lama" ucapku takut sekaligus kecewa dengan tanggapannya.
"Terserah,,! gak pulang juga gak masalah!" ketusnya.
"Aku sibuk,, jangan ganggu!! Ucapnya lagi dengan nada tak bersahabat.
Tapi Alex lupa atau memang sengaja tidak menekan tombol off diponselnya, hingga Abbi bisa mendengar percakapan Alex dengan seseorang.
"Biasa,, perempuan Bangs*t,, jal*Ng tidak tahu diri!" jawab Alex.
"Ha,,, ha.. segitunya Lex!" sahut sepupunya yang lain.
"Ya sudah Lex perempuan begitu buang saja,,. kamu ceraikan,,, ganti sama yang baru,, masih banyak perempuan lain kan,,!" ucap sepupu laki-laki Alex.
"Iya Lex tenang saja kita punya stock wanita cantik banyak" ucapnya.
"Ha... ha.. ada-ada saja!" jawab Alex.
"Degg" jantung Abbi berdebar kencang,, kakinya begitu lemas dan gemetar mendengar percakapan mereka.
Abbi tidak menyangka Alex menghina dirinya terang-terangan didepan keluarga besar Alex sendiri.
Lagi-lagi Abbi menangis merasakan sakit untuk kesekian kalinya.
Abbi kembali menelan bulat-bulat rasa sakit yang ditorehkan suaminya.
Abbi ingin mengadu,,
Dia ingin mencurahkan isi hatinya, dan menceritakan semuanya pada Ayah dan Ibunya, tapi melihat keadaan keduanya yang kurang baik,, Abbi hanya bisa diam dan terus berpura-pura didepan kedua orang tuanya bahwa semuanya baik-baik saja.
"Tuhann kuatkan hatiku,, kuatkan hambamu Tuhann tolong hambaMu iya ya Tuhan,,. Engkau maha mengetahui segala kebenarannya,," ucapku dalam hati.
"Hiks.. hikss"
__ADS_1
Abbi kemudian membenamkan kepalanya dan menangis sesenggukan,, hingga tanpa sadar dia akhirnya ketiduran karena kelelahan.
Sore menjelang,
*tok,, tokk"
"Non Abbi,, bangun Non!"
Abbi terpaksa bangun karena ketikan pintu dan suara Bik Narti.
"Bikk,, ada apa?" tanyaku masih mengantuk.
"Itu Ibu Non Abbi, minta Non siap-siap kan mau pergi dokter kandungan" ucapnya.
"Iya Bikk,, aku lupa,, makasih ya Bik"
"Iya Non"
Segera Abbi bersiap,, memakai celana jeans dan kaos oblong putih favoritnya.
"Kamu ini hamil kok ya masih pakai celana jeans begitu Bii!" tegur Ibu.
"Gak apa Bu,, lagian celana ini masih agak longgar,, "
"Ya sudah terserah kamu" ucapnya.
Menggunakan mobil kantor inventaris ayahnya,, Abbi beserta Ayah dan Ibunya pergi ke dokter kandungan.
Sekeluarnya dari ruang periksa dokter kandungan, wajah ibu terlihat begitu sumringah.
"Lihat Yah,, calon cucu kita ini Yah" ucap Ibu sambil menunjukkan foto USG ku pada Ayah.
"Bii nanti kalau pas mau belanja baju buat cucu Ibu,, Ibu di ajak ya,, kabari ibu ya!" ucapnya dengan semangat dan tampak sangat bahagia.
"Siap Bu,, Ibu mang harus temani Abbi belanja,, bersalin,, bahkan sampai merawat sikecil,, jadi Ibu sehat terus ya" ucapku.
"Beress,, Ayah,, hari ini Ibu seneng banget ayok kita makan malam suara ya Yah" ucap Ibu.
"Siap,, ratuku sayang mau makan apa?" goda Ayah sambil tersenyum pada Ibu.
"Isshh Ayah,, dilarang manis-manis sama Ibu,, Abbi cemburu nih" ucapku pura-pura merajuk.
"Ya sudah minta sama Alex buat manis-manis kayak Ayah!" jawab Ibu sambil tersenyum lebar kearah Ayah yang sedang menyetir.
"Yeii kan Kak Alex gak ada disini,,,!" jawabku sambil tersenyum getir melihat kearah luar jendela mobil.
"Ayahh,, itu ada yang cemburu Yah,," Ibu semakin menggodaku.
"Ha.. ha.. kasihan anak Ayah" ejek Ayah bercanda.
"Ayahhh" cebikku.
"Ha.. ha.." Ayah dan Ibu tertawa melihatku manja.
Aku terus menatap Ayah dan Ibu yang duduk dikursi depan dengan perasaan yang tidak bisa aku ungkapkan,, Di satu sisi aku bahagia melihat kedua orang tuaku begitu rukun dan romantis,, tapi disisi lain hatiku hancur melihat nasib rumah tanggaku yang tidak jelas ujung pangkalnya.
Lagi-lagi aku tidak bisa menahan tangis,,
__ADS_1
"Hikss.. hiks,, Ibu, Ayah bahagia selalu ya" aku menangis sesenggukan sambil memeluk Ibuku dari belakang dan menutupi kesedihanku.