Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Luka


__ADS_3

Setelah pesawat landing dengan cepat Hendri memerintahkan Marko mencari taksi


Tak lama sebuah taksi lewat dan keduanya masuk.


Hendri menyebutkan nama sebuah hotel yang membuat Marko kembali dipenuhi tanda tanya


Hendri makin gelisah karena taksi yang membawanya terjebak macet


"Tidak ada jalan lain apa?" geramnya dengan nada berat menahan marah


"Bapak tahu sendiri ibukota kapan tidak macet" bela supir taksi yang membuat Hendri makin geram


Hendri segera menempelkan hp ke telinganya


"Bagaimana keadaannya?"


"Sudah kami amankan bos"


Hendri menarik nafas lega dan kembali mendengus kesal


Setelah satu jam berjibaku dengan kemacetan akhirnya taksi masuk ke kawasan hotel yang tadi disebutkan Hendri


"Kamu silahkan pulang, cek penerbangan ke kota B malam ini ada lagi jam berapa, setelah urusan saya selesai kita kembali lagi ke kota B"


Marko tak berani menolak selain mengiyakan apalagi bertanya.


Hendri segera turun dan langsung berjalan cepat masuk kedalam hotel Dan menaiki tangga setengah berlari agar cepat sampai di kamar Linda


Saat tiba di depan kamar Linda, Hendri tak mengetuk pintu melainkan segera mendorong kasar pintu hingga terbuka lebar


Aku yang tangan dan kakiku diikat dengan anak buah Hendri segera menoleh cepat ketika pintu terbuka


Hendri langsung berjalan ke arahku dengan wajah yang sangat angker, yang otomatis membuatku ketakutan


Sesampainya Hendri di dekatku, dengan kasar Hendri mencekal kuat rahangku yang membuatku otomatis terdongak


Mata Hendri yang merah dan melotot tajam seakan ingin menelanku hidup-hidup


Aku memejamkan mataku ketika wajahnya hanya berjarak beberapa centi dari wajahku


Saking dekatnya, hembusan nafas dari hidungnya bahkan menerpa wajahku


"Mau main-main sama aku kamu, iya?" suara Hendri penuh penekanan


Aku masih memejamkan mataku tak berani membuka sedikitpun


Dan cengkraman tangan Hendri di rahangku kian kuat yang menyebabkan aku meringis kesakitan


"Berani kamu sama aku??!!!!" Hendri membentak ku


Aku membuka mataku ketika dia berteriak keras


Kulihat Hendri makin menatap tajam ke arahku dan aku menggeleng kuat


"Nggak Hen..." rintih ku


Hendri tersenyum menyeringai ke arahku lalu dengan kuat dibuangnya wajahku kesamping


"Mana videonya?"


Seorang lelaki maju kehadapan Hendri dan memberikan handphone miliknya ke tangan Hendri


"Halo mama...."

__ADS_1


Mataku langsung terbelalak ketika aku melihat video yang dipamerkan Hendri padaku


Tampak ketiga anakku melambaikan tangan mereka sambil tertawa bahagia


"Mama cepat pulang ya, kita kangen...."


Tubuhku langsung bergetar hebat ketika kulihat ketiga anakku bersama pria yang tak kukenal sedang bermain di atas kapal


Lalu Hendri menghentikan video dan menatapku dengan tajam


"Kamu lihatkan jika ancaman ku bukan isapan jempol belaka? sekali aku bilang lempar ketiga anakmu kelaut, anak buahku akan dengan senang hati melemparkan mereka, dan bisa dipastikan jika mereka semua tak akan selamat"


Dadaku naik turun menahan marah dan takut yang campur aduk, dengan nanar aku menatap tajam kearah Hendri sambil menggeleng kuat


Air mataku telah mengalir deras sementara Hendri masih tersenyum menyeringai ke arahku.


Kembali Hendri melanjutkan video yang tadi di jedanya. Dan kembali memperlihatkan ke arahku


"Mama, kata oom disini mereka akan bawa kami keliling Pulau, seru deh ma"


Kemudian terdengar teriakan ketiga anakku dan video kembali di jeda oleh Hendri


Aku yang tangan dan kakiku diikat oleh anak buah Hendri dengan susah payah berdiri dan melompat layaknya pocong kearah Hendri


Dengan wajah yang telah basah oleh air mata aku menjatuhkan diriku di kaki Hendri


Dan menangis kencang


"Tolong Hen.... Tolooonggg!!! teriakku


"Jangan sakiti mereka Hen, aku janji, aku tidak akan kabur lagi, sumpah!"


Hendri bergeming dan wajahnya yang dingin masih tak memperdulikan bagaimana aku sudah meletakkan wajahku di sepatunya


"Tolong Hen, jangan sakiti anak-anakku, tolooonggg..."


Kembali dengan santainya Hendri melanjutkan memutar video, dan aku menengadahkan wajahku berusaha melihat kearah hp yang dipegangnya


"Ahhh... Mamaaaa...." terdengar ketiga anakku berteriak


"Jangan Hen, jangan... Aku mohon Hen...."


Tangisku kian kencang dan aku terus berusaha melepaskan ikatan dengan menggerakkan kaki dan tanganku


"Ampuni ketiga anakku Hen, masalahmu denganku, bukan dengan mereka...." teriakku


Hendri berjongkok dan menarik sepatunya hingga wajahku terjerembab kelantai


Masih dengan kasar Hendri menarik rambutku hingga aku yang terjerembab terpaksa mendongak


Aku kembali meringis ketika jambakan tangan Hendri di rambutku terasa sakit


"Masih mau melawan?"


Aku menggeleng


"Tidak Hen, tidak... sumpah, Argh..." aku menjerit tertahan ketika jambakan di rambutku kian kencang


"Ampuuunnn...." lirihku sambil memejamkan mata menahan sakit


"Sekali lagi kamu berniat kabur dari tanganku, ketiga anakmu akan mati!!"


Sambil berkata begitu Hendri kembali membuang kasar rambutku yang membuat wajahku kembali menyentuh kuat lantai

__ADS_1


Aku memejamkan mataku ketika kurasakan pusing dan sakit ketika keningku menghantam lantai


Dan kurasakan ada cairan dingin mengalir dari hidungku


Dengan susah payah aku memiringkan posisi tubuhku dan dapat kulihat jika lantai bekas wajahku tadi ada darah


"Bos, hidungnya berdarah"


Spontan Hendri menoleh ke arahku, sedangkan aku terus berusaha mengangkat kepalaku agar darah yang mengalir di hidungku berhenti


Dengan cepat Hendri berjongkok dan dapat kulihat jika wajahnya berubah panik


Dengan segera diangkatnya tubuhku. Dan aku yang terikat tak bisa berbuat banyak selain diam ketika dia mengangkat tubuhku


Dengan segera Hendri meletakkan tubuhku di ranjang dan masih kulihat jika dengan panik Hendri melepaskan ikatan pada tangan dan kakiku


Ketika tanganku yang terikat telah terlepas dengan segera aku menghapus darah yang membasahi bawah hidung dan bajuku


Begitu juga ketika kakiku telah terlepas, dengan segera aku duduk dan menekuk kakiku dan membungkukkan badanku agar darah yang mengalir keluar tak banyak lagi


Hendri membentak ketiga anak buahnya yang hanya berdiri panik


"Cepat cari obat!!!" teriaknya


Aku tak memperdulikan bagaimana ketiga anak buah Hendri berhamburan keluar


Karena aku masih sibuk membungkukkan tubuh ku ke depan. Berkali-kali aku mengerjapkan mataku karena aku menahan tangis agar tak pecah yang akan membuat Hendri kembali membentak ku


Melihat ketiga anak buahnya berlari keluar Hendri dengan gusar berdiri dari pinggir ranjang dan sibuk membuka lemari mencari kapas yang beberapa hari lalu dia beli di apotek


Setelah mendapatkan kapas dan menuangkan alkohol di atasnya, Hendri dengan kuat menarik kepalaku dan membersihkan darah yang masih mengalir


Dapat kulihat sinar matanya yang seperti ketakutan ketika membersihkan darah di hidungku


Dan aku meringis ketika kapas yang dipegang Hendri menekan hidungku


Dengan cepat aku menghentikan gerakan tangannya dan mengambil kapas yang ada di tangannya dan menutup lubang hidungku dengan kapas yang berpindah di tanganku


Sepertinya benturan keras tadi telah melukai tulang hidungku sehingga darah yang mengalir hingga saat ini belum juga berhenti


Aku dengan kaget menoleh kearah pintu ketika kulihat ketiga anak buah Hendri yang tadi menyekap ku masuk kembali dengan membawa dokter


Hendri menyingkir ketika dokter mendekat kearah ranjang dan dokter mulai melakukan treatment dengan menakan kedua sisi hidungku dengan cukup lama


Hendri yang melihat apa yang sedang dilakukan dokter hanya terpaku dengan degup jantung yang berdetak kencang


"Apa ada es batu?" tanya dokter


Hendri dan ketiga anak buahnya menggeleng, tapi kembali dengan gesit seorang anak buah Hendri turun kebawah dan tak lama telah kembali dengan membawa segelas es batu lalu memberikannya pada dokter


Lalu dokter mengambil kain kasa yang ada di dalam tasnya, membungkus beberapa es batu dengan kain kasa yang cukup banyak lalu mulai mengompresnya ke hidungku


"Sudah tak sakit lagi?"


Aku mengangguk pelan kearah dokter


"Bagaimana ini bisa terjadi?" tanya dokter curiga melihat kearah Hendri dan ketiga anak buahnya


"Istri saya tadi terjatuh dokter" jawab Hendri cepat


Aku melengos mendengar jawabannya dan dokter masih memandang kearah Hendri seakan dia tak percaya


Dan ketika dokter menoleh ke arahku, aku segera membuang mukaku, tak berani menatap mata dokter, karena aku yakin dokter tahu jika Hendri berbohong

__ADS_1


"Istirahat lah yang cukup, dan hubungi saya jika terjadi kecelakaan lagi" dokter itu berkata padaku sambil menatap wajahku dengan serius


Aku mengangguk dan buru-buru menunduk karena aku takut Hendri bakal mengancam ku lagi setelah dokter itu pergi


__ADS_2