Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Bertemu Ketiga Anakku


__ADS_3

"Sejak kapan kau punya hati lembut begini?"


Hendri hanya melirik mendengar ucapan Agung dan tersenyum segaris dengan dingin


"Seperti kubilang aku tidak akan menyerahkan anakku padamu Hen"


"Aku bukan meminta anakmu, aku hanya ingin istriku bertemu dengan anaknya, itu saja"


Agung kembali mendengus kesal ketika Hendri menyebut kata istriku


"Bisa tidak jangan kau sebut Linda Dengan istrimu?"


Hendri terkekeh mengejek


"Memang dia istriku sekarang, apa ada yang salah"


Agung meremas kertas yang ada di hadapannya menahan marah pada Hendri yang masih saja santai


"Cepatlah, aku kesini hanya meminta ijin darimu, boleh atau tidak aku tetap akan mengambil tiga anakmu"


Sambil berkata begitu Hendri telah menempelkan hp ke telinganya


"Sudah kalian bawa?"


Wajah Agung menegang


"Baiklah, tunggu ditempat biasa, aku akan menjemput mereka"


Lalu tanpa basa basi Hendri berdiri


"Kurang ajar kamu Hen!!!"


Hendri yang telah berjalan mendekati pintu menoleh pada Agung yang berjalan terburu kearahnya


Kepalan tangan yang melayang dari Agung dengan mudah dihindari Hendri


Secepat kilat ditangkapnya bahu Agung dan didorongnya kasar hingga terjerembab kelantai


"Stop sok perduli dengan Linda, Agung!"


"Kurang apa kau menyiksa perempuan itu dengan selalu berselingkuh di belakangnya?"


"Dan sekarang kau tambah pula dengan memisahkannya dari anaknya, kurang ajar kamu"


Sebuah tendangan keras mendarat keras ke tubuh Agung


"Sekali lagi kau menghalangiku membawa ketiga anakmu pada Linda, ku habisi nyawamu!"


Agung menyeringai sambil bangkit, dan memandang marah pada Hendri


"Jika kau menyayangi karir dan perusahaanmu, menurut lah padaku" tepuk Hendri pada wajah Agung


Setelah itu Hendri dengan santai keluar dari ruang kerja Agung


Sepeninggal Hendri, Agung menendang kursi dengan kesal


"Aaargghhh..." geramnya sambil menjambak kesal rambutnya


Sementara Hendri yang berjalan keluar dari gedung perusahaan Agung kembali menjadi pusat perhatian


Ketika melihat sekretaris Agung tadi, Hendri berhenti dan menoleh kearahnya


Sekretaris itu menganggukkan kepalanya


"Bisa kesini sebentar?"


Dengan langkah ragu sekretaris itu mendekat, dan Hendri mengeluarkan kartu namanya


"Hubungi saya segera jika Agung membawa perempuan tak beres kekantor ini lagi!"


Sekretaris itu hanya mengangguk dan dengan tangan gemetar diambilnya kartu nama yang diulurkan Hendri


Setelah itu kembali Hendri berjalan dengan angkuhnya keluar menuju parkiran


Kembali dia menjalankannya mobil dengan kecepatan tinggi. Hingga tak lama berselang telah sampai di tempat yang dijanjikannya


"Uncle...." Rihanna dan kedua adiknya berteriak ketika dilihatnya Hendri turun dari mobil


Hendri memasang wajah cerah kearah ketiga ponakannya. Dengan segera ketiganya berlari kearahnya dan merangkulnya

__ADS_1


"Uncle mau ajak kami kemana lagi hari ini?"


Hendri tak menjawab tapi senyum masih menghiasi wajahnya dan menuntun ketiganya masuk kedalam mobil


Sementara anak buah Hendri yang tadi disuruh Hendri menjemput ketiganya, ketika bos mereka berlalu segera pergi meninggalkan tempat itu


"Uncle kita mau kemana?"


"Ketempat yang buat kalian bahagia"


Rihanna dan kedua adiknya hanya saling toleh dan tersenyum polos


"Uncle sudah tahu mama kami ada dimana?"


Hendri menggeleng


Wajah ketiga anak kecil itu langsung mendung, tampak sekali sedih di wajah mereka


"Kalian kenapa tidak sekolah?" Hendri berusaha mengalihkan perhatian


Ketiganya masih berwajah murung


"Tadi sudah diantar papa, tapi begitu papa pergi, kami pulang lagi ke rumah"


Hendri diam dan tampak berpikir


"Apakah begini terguncangnya ketiga anak ini karena jauh dari mamanya?" batinnya


Kembali Hendri melajukan mobil dengan kecepatan tinggi hingga akhirnya mobil sampai di area hotel.


Rihanna dan ketiga adiknya melongokkan kepala mereka keluar jendela ketika mereka melihat bangunan hotel yan asing bagi mereka


"Ayo turun!"


Dengan segera ketiganya turun dan berjalan sambil berpegangan tangan pada Hendri


Hendri dengan pelan menuntun ketiganya ketika menaiki tangga


Sampai di depan pintu kamar Hendri berhenti dan menatap ketiga anak kecil yang mendongak heran kearahnya


"Jangan pernah ceritakan pada siapapun jika uncle ngajak kalian kesini, oke?"


"Termasuk ketika uncle ajak naik kapal pesiar kemarin, ya?"


Kembali ketiganya mengangguk pelan


Hendri lalu mengelus kepala ketiganya lalu mengambil kunci dan membuka pintu


Aku yang sedang berbaring di sofa begitu mendengar kunci dibuka segera bangun dan menoleh dengan wajah tegang


Dengan pelan Hendri membuka pintu, dan dapat aku lihat wajahnya yang muncul


Lalu hal yang tak pernah kuduga terjadi. Tampaklah wajah ketiga anakku saat Hendri menyingkir dari depan pintu


"Mamaaaaa....." teriak Rihanna spontan diikuti teriakan dari kedua adiknya juga ketika mereka melihat ke arahku


Aku segera berlari kearah ketiga anakku yang juga berlari ke arahku, segera kupeluk ketiganya dengan berurai air mata


Kami berempat langsung bertangisan. Kupeluk erat ketiganya seakan ini sebuah mimpi


Hendri membuang mukanya ketika melihat Linda dan ketiga anaknya menangis


Dan aku yang menyadari jika Hendri masih memandang kearah kami segera melepas dekapanku pada ketiga anakku


"Ayo nak sini duduk dekat mama" ucapku sambil menuntun tangan mereka menuju sofa


Kembali kami berempat berpelukan. Rindu di hatiku yang hampir sebulan ini tak bertemu mereka lenyap sudah rasanya


Tak lama kembali terdengar pintu diketuk, dan muncul dua orang pelayan membawa dua meja troli


"Letakkan di sana!" ucap Hendri


Aku hanya melirik sekilas kearah Hendri yang berjalan kearah sofa dan duduk di depanku dan anak-anak


"Terima kasih" lirihku pada dua pelayan yang selesai meletakkan meja troli


"Ayo anak-anak, dimakan"


Mataku kembali melirik cepat kearah Hendri yang bersuara lembut pada ketiga anakku

__ADS_1


"Ayo ma kita makan" ajak ketiga anakku yang langsung menarik makanan mereka masing-masing


Air mataku kembali mengalir ketika kulihat mereka makan dengan lahap


"Selama mama nggak di rumah, kalian makannya bagaimana?"


"Kan ada bibi ma, jadi bibi yang masakin kami makanan sekarang. Tapi nggak enak"


Aku hanya tersenyum getir mendengar jawaban mereka


"Mama nggak makan?"


Aku menggeleng


"Makanlah, kurang apa lagi sekarang?" ucap Hendri dingin


Aku langsung menelan ludahku mendengar suara dinginnya, dan segera mengambil makanan untukku dengan degup jantung berdebar keras


Hendri yang ikut makan mencuri-curi pandang padaku dan ketiga anakku, aku berpura-pura tak melihatnya


"Oh iya uncle, kata uncle, uncle nggak tahu mama ada di mana, kok ini tahu?"


Aku menahan nafas mendengar pertanyaan Rayhan


Kulihat Hendri tersenyum sekilas menatap Rayhan


"Tadi di luar uncle bilang apa?"


Rayhan menepuk keningnya sambil tertawa


"Ray lupa uncle" jawabnya


Aku menatap penuh selidik pada anak bungsuku itu, menebak kira-kira apa yang dikatakan Hendri padanya


"Ayo cepat habiskan makannya, setelah ini habiskan waktu kalian sama mama kalian, ya?"


Ketiga anakku mengangguk lalu kembali makan dengan lahap.


Hendri memperhatikan semua gerak gerik Linda dari mulai mengelap mulut anak-anaknya, memberi makanan yang mereka inginkan, mengambilkan dan memberikan minum sampai membereskan sisa makan anaknya


Setelah selesai makan, dan menyingkirkan dua meja troli aku mengajak ketiga anakku duduk di atas ranjang dan menyalakan televisi


Kembali berempat kami menyandarkan punggung kami ke sandaran ranjang lalu menarik selimut ke tubuh kami


Hendri terus memperhatikan dari tempatnya duduk. Dapat dilihatnya jika Linda bisa tertawa lepas sambil sesekali menciumi ketiga anaknya secara bergantian


Suara tawa berderai dari mulut Linda begitu menenangkan dadanya yang sejak beberapa hari ini serasa terbakar


Diliriknya kearah televisi yang menempel di tembok, melirik acara apa yang sedang mereka tonton sampai tawa tak berhenti dari mulut mereka


Mata Hendri membulat tak percaya ketika melihat wajah Linda yang bahagia sambil tertawa melihat ke layar televisi


"Apanya yang lucu sampai dia tertawa begitu gelinya?" Hendri membatin ketika kembali melihat layar televisi yang menampilkan gambar kartun antara kucing, tikus dan anjing yang berkejaran


Hingga nyaris satu jam kami tertawa dan menonton seperti kebiasaan kami di rumah, sampai akhirnya aku tak mendengar suara ketiga anakku lagi


Aku menoleh cepat kearah Hendri yang tampak meringis ketika membuka perban di tangannya


Ku toleh kearah ketiga anakku yang telah terpejam. Dengan pelan aku melepaskan tangan mereka yang menempel di perutku. Lalu aku turun dari ranjang


Mengambil obat yang ditinggalkan dokter tadi pagi yang kutemukan berserakan di lantai


Aku yakin obat itu di lempar Hendri karena dia kesal padaku


Lalu aku membawa obat tersebut kearah Hendri dan aku duduk di dekatnya


Hendri hanya memperhatikanku yang duduk di sebelahnya dan tak menolak ketika tangannya kuambil


Dengan pelan aku membuka perban, lalu membersihkan luka di tangan Hendri dengan alkohol


Kulihat Hendri kembali meringis ketika alkohol mengenai lukanya


"Nggak usah cengeng, tahan" ucapku ketus


Hendri kembali menatap dalam ke arahku yang mengolesi lukanya dengan salep


"Nggak usah di perban lagi, biar cepat kering" ucapku masih dengan nada ketus, lalu berdiri dari dekatnya


Hendri kembali menatap kearah Linda yang berjalan kembali keatas ranjang dan membaringkan tubuhnya di dekat anak-anaknya

__ADS_1


__ADS_2