Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Menemui Agung


__ADS_3

"Pokoknya kami mau ketemu mama!!!" teriak ketiga anak Agung


Agung yang sedang berada di kantor menjadi geram ketika anak tertuanya Rihanna menelepon


"Kenapa kalian ada di rumah?, bukannya tadi sudah papa antar sekolah?"


"Pokoknya kami mau bertemu mama....!!!"


Sekali lagi Agung harus menahan nafas mendengar teriakan anaknya


"Kalau papa masih juga tidak mau mempertemukan kami dengan mama, kami akan pergi dari rumah ini!


Agung langsung berdiri dari kursinya


"Jangan membantah papa Rin!"


Terdengar olehnya isakan


"Kami mau mama, pa. Tolong, kami mohon"


Agung menarik nafas dalam mendengar ucapan lirih anaknya, di sudut hatinya ada rasa kasihan, tapi dia tak punya pilihan lain, istrinya telah menjadi milik Hendri dan tak akan pernah kembali lagi pada mereka sampai batas waktu yang telah mereka sepakati


"Sudah papa bilang, mama sudah meninggalkan kita, dan mama tak akan kembali lagi sama kita"


"Tidak, papa bohong!!!"


Lalu panggilan berakhir, dan Agung hanya menarik nafas dalam. Sampai detik ini saja dia tidak tahu dimana keberadaan Linda, sejak malam itu semua akses untuk menghubungi Linda seperti terputus


Sementara di hotel, Hendri yang menatap Linda yang sejak tadi menangis menjadi bingung sendiri


Wanita itu tidak bisa diajak bicara, sejak tadi kerjanya hanya menangis.


Dengan menarik nafas panjang akhirnya Hendri berdiri dari sofa lalu berjalan keluar


Aku menarik nafas panjang ketika menyadari jika Hendri keluar dari kamar, lalu secepat kilat aku berjalan kearah pintu dan membukanya, kulihat jika Hendri berjalan menjauh, mungkin dia akan pergi


Tapi terserahlah, dia mau kemana bukan urusanku, setidaknya aku tidak lagi tertekan olehnya


Lalu aku kembali duduk di pinggir jendela, memandang keluar


Kulihat di arah bawah, Hendri berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobilnya


Aku hanya bisa menarik nafas panjang lalu kembali menatap kosong ke depan


Sementara Hendri yang masuk kedalam mobilnya segera keluar dari area hotel dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi


Dilihatnya perban di tangannya, ada rasa yang tak bisa dia gambarkan ketika melihat perban itu


"Dasar tidak punya hati"


Kembali ucapan Linda ketika dia terisak tadi terngiang di telinganya. Lalu kembali Hendri melajukan mobil dengan cepat karena dadanya bergemuruh


Sampai di sebuah gedung perkantoran, Hendri segera turun. Wajahnya tetap datar


Beberapa karyawan kantor yang melihat Hendri masuk saling toleh keheranan karena Hendri saat ini hanya menggunakan celana jeans dan kaos oblong, jauh sekali dengan pakaian yang biasa dia pakai, ditambah lagi dengan rambut gondrongnya yang sedikit berantakan tidak rapi seperti biasanya


Tapi justru itulah yang membuat karyawan wanita yang melihatnya memandang tak berkedip. Pesona maskulin dan cool nya kian terpancar


Tak bisa dipungkiri, jika Hendri memang bisa membius kaum hawa untuk memujinya


Hendri tak memperdulikan tatapan heran karyawan dia segera berjalan menuju lift dan masuk kesana


Tak lama lift terbuka sesuai dengan lantai yang dipilihnya, dengan segera Hendri berjalan kearah sebuah ruangan


Langkahnya segera dikejar seorang wanita yang berniat menghentikan langkahnya


"Bos anda ada di dalam kan?, saya ingin menemuinya!"


Wanita muda itu menggeleng dengan wajah tegang. Hendri tak memperdulikannya, dia kembali berjalan dan langsung mendorong kasar pintu hingga terbuka lebar


BRAAAAKKKK...!!!


Seorang wanita dan seorang lelaki yang setengah bugil terburu menghentikan aksi mereka

__ADS_1


Wanita muda yang mengekor di belakang Hendri yang tak lain adalah sekretaris Agung langsung memalingkan wajahnya ketika melihat pemandangan vulgar di depan matanya


Secepat kilat dia berlari meninggalkan ruangan itu. Sementara Agung dengan cepat menyambar bajunya dan terburu memakainya, sementara wanita yang bersamanya tadi telah berlari kebelakang sofa


Dan Agung dengan cepat melemparkan pakaian wanita itu kearah belakang sofa


Wajah Hendri yang sejak tadi angker makin menyeramkan. Dengan cepat ditariknya kerah baju Agung yang belum terkancing seluruhnya


Diangkatnya berdiri lalu


BUUUGHH....!!!


Agung meringis ketika sebuah pukulan keras melayang ke rahangnya


"Keluar kamu dari sini pelacur!!!!"


Wanita yang bersama Agung tadi dengan cepat berdiri lalu berlari kearah pintu


Dengan cepat tangannya di cekal Hendri ketika wanita itu berlari di sebelahnya


Wanita itu menunduk ketakutan. Nafas Hendri kian memburu melihatnya, lalu bergantian dia menatap tajam Agung yang masih mengusap rahangnya


"Jangan pernah lagi kau menginjakkan kakimu di sini, sekali lagi saya lihat kau ada disini, saya patahkan kakimu!!!"


Lalu dengan kasar Hendri menyentak tangan wanita itu, dan kembali dengan segera wanita itu berlari tanpa alas kaki


Lalu Hendri berjalan kearah Agung. Tatapannya masih angker dengan kilatan membara di kedua bola matanya


"Jadi ini yang sering kamu lalukan, iya?" geramnya dengan suara penuh penekanan


Agung diam dan hanya menggerakkan kepalanya saja. Kembali dengan cepat Hendri menarik kerah bajunya


"Aku bersumpah tidak akan menyerahkan Linda ke tanganmu lagi"


Agung dengan kuat melepas cengkeraman Hendri dan membenarkan kerah bajunya sambil tersenyum menyeringai


"Perjanjian kita sampai dia memberimu anak lelaki Hen, setelah itu Linda kembali menjadi istriku"


Rahang Hendri mengeras. Kembali matanya berkilat


Agung masih tersenyum sinis


"Mau apa kamu kesini?, bukannya urusan kita sudah selesai?"


Hendri mendengus kesal di sibakkannya rambutnya kebelakang lalu memandang sekeliling ruang kantor


"Sudah berapa banyak perempuan yang kamu bawa kesini?"


Agung masih tersenyum menyeringai


"Bukan urusanmu, urusan kita hanya sebatas bisnis dan hutang, dan semuanya telah lunas"


Sekarang gantian Hendri yang tersenyum menyeringai


"Katakan apa tujuanmu kesini, kulihat tanganmu diperban, apa kau tak bisa menjinakkan Linda?" sambil berkata seperti itu Agung terkekeh mencemooh


Hendri melihat kearah tangannya yang diperban dan kembali terasa nyeri bekas dia memukul keras Agung tadi


Hendri tersenyum segaris


"Justru luka ini karena cakaran Linda karena dia tak kuat menghadapi keganasanku"


Wajah Agung langsung berubah merah dan dia mendengus kesal kearah Hendri


"Kurang ajar!" batinnya


Hendri menangkap perubahan wajah Agung dan dia tersenyum menang


"Saya sibuk, katakan apa tujuanmu kesini" Agung bertanya dengan nada kesal


Hendri masih tersenyum sinis kearah sepupunya yang berubah kesal


"Saya kesini atas permintaan Linda istri saya"

__ADS_1


Dada Agung kian bergemuruh mendengar Hendri mengatakan Linda istrinya


"Apa kata Linda?"


Hendri masih tersenyum sinis


"Dia ingin bertemu dengan ketiga anaknya"


Agung menggeleng cepat dan menatap mata Hendri dengan tajam


"Hampir sebulan ini aku berusaha membuat ketiga anakku lupa pada mama mereka, dan sekarang kamu datang ingin membawa mereka?"


Agung mendengus dan tersenyum mengejek


"Jangan gila kamu Hen, perjanjian kita hanya Linda bukan ketiga anak kami"


"Tapi mereka juga anak Linda"


"Berhenti Hen, jangan melewati batasanmu, sudah aku katakan perjanjian itu atas kita berdua, bukan termasuk dengan ketiga anakku"


"Jika begitu, kita buat kesepakatan baru, atau kalau tidak, perusahaanmu ini aku yakinkan dalam beberapa jam akan tumbang"


Wajah Agung merah padam mendengar ancaman Hendri


"Apa maumu ?" geram Agung


Hendri tersenyum menyeringai, sekali dia menang atas Agung


"Setiap week end, dalam jangka waktu dua bulan ke depan ketiga anakmu akan bersama kami"


Agung kembali menggeleng kuat


"Perjanjian gila apa itu?"


"Ini bukan perjanjian gila, tapi justru aku melakukan ini demi mental istriku dan ketiga anakmu!"


Wajah Agung terkesiap mendengar bentakan Hendri


"Cepat jangan banyak mikir, atau kamu lebih memilih seluruh saham mu anjlok?"


Agung menggeleng cepat dan menyeringai


"Kurang ajar kamu!" bentaknya


Hendri tersenyum menyeringai dan kembali mendekat kearah Agung yang wajahnya menegang


"Perbuatanmu tadi dilihat langsung oleh sekretaris mu , dan bisa ku pastikan jika akan berdampak pada perusahaanmu"


Wajah Agung kian tegang dan dia menatap tajam mata Hendri


"Licik kamu"


Hendri tergelak dan mendorong kasar dada Agung


"Benarkan resleting mu, baru kau melawan aku!"


Refleks Agung membalikkan badannya dan langsung menarik resletingnya yang ternyata memang belum dinaikkannya


"****** !" geramnya


Setelah itu dia kembali berhadapan dengan Hendri


"Pergilah kamu dari sini Hen, saya tidak ingin diganggu"


Hendri hanya tersenyum menyeringai


"Dimana ketiga anakmu?, aku akan memerintahkan anak buahku untuk menjemput mereka"


Kembali Agung menatap tajam mata Hendri


"Aku tidak akan memberikan ketiga anakku padamu"


Hendri menatap tajam mata Agung

__ADS_1


"Jangan egois, aku yakin ketiga anakmu pasti sedih jauh dari mama mereka"


Agung yang telah duduk di kursinya hanya memandang tajam kearah Hendri


__ADS_2