
"Pokoknya kami mau ketemu mama!!!" teriak ketiga anak Agung
Agung yang sedang berada di kantor menjadi geram ketika anak tertuanya Rihanna menelepon
"Kenapa kalian ada di rumah?, bukannya tadi sudah papa antar sekolah?"
"Pokoknya kami mau bertemu mama....!!!"
Sekali lagi Agung harus menahan nafas mendengar teriakan anaknya
"Kalau papa masih juga tidak mau mempertemukan kami dengan mama, kami akan pergi dari rumah ini!
Agung langsung berdiri dari kursinya
"Jangan membantah papa Rin!"
Terdengar olehnya isakan
"Kami mau mama, pa. Tolong, kami mohon"
Agung menarik nafas dalam mendengar ucapan lirih anaknya, di sudut hatinya ada rasa kasihan, tapi dia tak punya pilihan lain, istrinya telah menjadi milik Hendri dan tak akan pernah kembali lagi pada mereka sampai batas waktu yang telah mereka sepakati
"Sudah papa bilang, mama sudah meninggalkan kita, dan mama tak akan kembali lagi sama kita"
"Tidak, papa bohong!!!"
Lalu panggilan berakhir, dan Agung hanya menarik nafas dalam. Sampai detik ini saja dia tidak tahu dimana keberadaan Linda, sejak malam itu semua akses untuk menghubungi Linda seperti terputus
Sementara di hotel, Hendri yang menatap Linda yang sejak tadi menangis menjadi bingung sendiri
Wanita itu tidak bisa diajak bicara, sejak tadi kerjanya hanya menangis.
Dengan menarik nafas panjang akhirnya Hendri berdiri dari sofa lalu berjalan keluar
Aku menarik nafas panjang ketika menyadari jika Hendri keluar dari kamar, lalu secepat kilat aku berjalan kearah pintu dan membukanya, kulihat jika Hendri berjalan menjauh, mungkin dia akan pergi
Tapi terserahlah, dia mau kemana bukan urusanku, setidaknya aku tidak lagi tertekan olehnya
Lalu aku kembali duduk di pinggir jendela, memandang keluar
Kulihat di arah bawah, Hendri berjalan menuju parkiran dan masuk kedalam mobilnya
Aku hanya bisa menarik nafas panjang lalu kembali menatap kosong ke depan
Sementara Hendri yang masuk kedalam mobilnya segera keluar dari area hotel dan melajukan mobil dengan kecepatan tinggi
Dilihatnya perban di tangannya, ada rasa yang tak bisa dia gambarkan ketika melihat perban itu
"Dasar tidak punya hati"
Kembali ucapan Linda ketika dia terisak tadi terngiang di telinganya. Lalu kembali Hendri melajukan mobil dengan cepat karena dadanya bergemuruh
Sampai di sebuah gedung perkantoran, Hendri segera turun. Wajahnya tetap datar
Beberapa karyawan kantor yang melihat Hendri masuk saling toleh keheranan karena Hendri saat ini hanya menggunakan celana jeans dan kaos oblong, jauh sekali dengan pakaian yang biasa dia pakai, ditambah lagi dengan rambut gondrongnya yang sedikit berantakan tidak rapi seperti biasanya
Tapi justru itulah yang membuat karyawan wanita yang melihatnya memandang tak berkedip. Pesona maskulin dan cool nya kian terpancar
Tak bisa dipungkiri, jika Hendri memang bisa membius kaum hawa untuk memujinya
Hendri tak memperdulikan tatapan heran karyawan dia segera berjalan menuju lift dan masuk kesana
Tak lama lift terbuka sesuai dengan lantai yang dipilihnya, dengan segera Hendri berjalan kearah sebuah ruangan
Langkahnya segera dikejar seorang wanita yang berniat menghentikan langkahnya
"Bos anda ada di dalam kan?, saya ingin menemuinya!"
Wanita muda itu menggeleng dengan wajah tegang. Hendri tak memperdulikannya, dia kembali berjalan dan langsung mendorong kasar pintu hingga terbuka lebar
BRAAAAKKKK...!!!
Seorang wanita dan seorang lelaki yang setengah bugil terburu menghentikan aksi mereka
__ADS_1
Wanita muda yang mengekor di belakang Hendri yang tak lain adalah sekretaris Agung langsung memalingkan wajahnya ketika melihat pemandangan vulgar di depan matanya
Secepat kilat dia berlari meninggalkan ruangan itu. Sementara Agung dengan cepat menyambar bajunya dan terburu memakainya, sementara wanita yang bersamanya tadi telah berlari kebelakang sofa
Dan Agung dengan cepat melemparkan pakaian wanita itu kearah belakang sofa
Wajah Hendri yang sejak tadi angker makin menyeramkan. Dengan cepat ditariknya kerah baju Agung yang belum terkancing seluruhnya
Diangkatnya berdiri lalu
BUUUGHH....!!!
Agung meringis ketika sebuah pukulan keras melayang ke rahangnya
"Keluar kamu dari sini pelacur!!!!"
Wanita yang bersama Agung tadi dengan cepat berdiri lalu berlari kearah pintu
Dengan cepat tangannya di cekal Hendri ketika wanita itu berlari di sebelahnya
Wanita itu menunduk ketakutan. Nafas Hendri kian memburu melihatnya, lalu bergantian dia menatap tajam Agung yang masih mengusap rahangnya
"Jangan pernah lagi kau menginjakkan kakimu di sini, sekali lagi saya lihat kau ada disini, saya patahkan kakimu!!!"
Lalu dengan kasar Hendri menyentak tangan wanita itu, dan kembali dengan segera wanita itu berlari tanpa alas kaki
Lalu Hendri berjalan kearah Agung. Tatapannya masih angker dengan kilatan membara di kedua bola matanya
"Jadi ini yang sering kamu lalukan, iya?" geramnya dengan suara penuh penekanan
Agung diam dan hanya menggerakkan kepalanya saja. Kembali dengan cepat Hendri menarik kerah bajunya
"Aku bersumpah tidak akan menyerahkan Linda ke tanganmu lagi"
Agung dengan kuat melepas cengkeraman Hendri dan membenarkan kerah bajunya sambil tersenyum menyeringai
"Perjanjian kita sampai dia memberimu anak lelaki Hen, setelah itu Linda kembali menjadi istriku"
Rahang Hendri mengeras. Kembali matanya berkilat
Agung masih tersenyum sinis
"Mau apa kamu kesini?, bukannya urusan kita sudah selesai?"
Hendri mendengus kesal di sibakkannya rambutnya kebelakang lalu memandang sekeliling ruang kantor
"Sudah berapa banyak perempuan yang kamu bawa kesini?"
Agung masih tersenyum menyeringai
"Bukan urusanmu, urusan kita hanya sebatas bisnis dan hutang, dan semuanya telah lunas"
Sekarang gantian Hendri yang tersenyum menyeringai
"Katakan apa tujuanmu kesini, kulihat tanganmu diperban, apa kau tak bisa menjinakkan Linda?" sambil berkata seperti itu Agung terkekeh mencemooh
Hendri melihat kearah tangannya yang diperban dan kembali terasa nyeri bekas dia memukul keras Agung tadi
Hendri tersenyum segaris
"Justru luka ini karena cakaran Linda karena dia tak kuat menghadapi keganasanku"
Wajah Agung langsung berubah merah dan dia mendengus kesal kearah Hendri
"Kurang ajar!" batinnya
Hendri menangkap perubahan wajah Agung dan dia tersenyum menang
"Saya sibuk, katakan apa tujuanmu kesini" Agung bertanya dengan nada kesal
Hendri masih tersenyum sinis kearah sepupunya yang berubah kesal
"Saya kesini atas permintaan Linda istri saya"
__ADS_1
Dada Agung kian bergemuruh mendengar Hendri mengatakan Linda istrinya
"Apa kata Linda?"
Hendri masih tersenyum sinis
"Dia ingin bertemu dengan ketiga anaknya"
Agung menggeleng cepat dan menatap mata Hendri dengan tajam
"Hampir sebulan ini aku berusaha membuat ketiga anakku lupa pada mama mereka, dan sekarang kamu datang ingin membawa mereka?"
Agung mendengus dan tersenyum mengejek
"Jangan gila kamu Hen, perjanjian kita hanya Linda bukan ketiga anak kami"
"Tapi mereka juga anak Linda"
"Berhenti Hen, jangan melewati batasanmu, sudah aku katakan perjanjian itu atas kita berdua, bukan termasuk dengan ketiga anakku"
"Jika begitu, kita buat kesepakatan baru, atau kalau tidak, perusahaanmu ini aku yakinkan dalam beberapa jam akan tumbang"
Wajah Agung merah padam mendengar ancaman Hendri
"Apa maumu ?" geram Agung
Hendri tersenyum menyeringai, sekali dia menang atas Agung
"Setiap week end, dalam jangka waktu dua bulan ke depan ketiga anakmu akan bersama kami"
Agung kembali menggeleng kuat
"Perjanjian gila apa itu?"
"Ini bukan perjanjian gila, tapi justru aku melakukan ini demi mental istriku dan ketiga anakmu!"
Wajah Agung terkesiap mendengar bentakan Hendri
"Cepat jangan banyak mikir, atau kamu lebih memilih seluruh saham mu anjlok?"
Agung menggeleng cepat dan menyeringai
"Kurang ajar kamu!" bentaknya
Hendri tersenyum menyeringai dan kembali mendekat kearah Agung yang wajahnya menegang
"Perbuatanmu tadi dilihat langsung oleh sekretaris mu , dan bisa ku pastikan jika akan berdampak pada perusahaanmu"
Wajah Agung kian tegang dan dia menatap tajam mata Hendri
"Licik kamu"
Hendri tergelak dan mendorong kasar dada Agung
"Benarkan resleting mu, baru kau melawan aku!"
Refleks Agung membalikkan badannya dan langsung menarik resletingnya yang ternyata memang belum dinaikkannya
"****** !" geramnya
Setelah itu dia kembali berhadapan dengan Hendri
"Pergilah kamu dari sini Hen, saya tidak ingin diganggu"
Hendri hanya tersenyum menyeringai
"Dimana ketiga anakmu?, aku akan memerintahkan anak buahku untuk menjemput mereka"
Kembali Agung menatap tajam mata Hendri
"Aku tidak akan memberikan ketiga anakku padamu"
Hendri menatap tajam mata Agung
__ADS_1
"Jangan egois, aku yakin ketiga anakmu pasti sedih jauh dari mama mereka"
Agung yang telah duduk di kursinya hanya memandang tajam kearah Hendri