
Setelah berkata begitu Hendri segera keluar dari dalam rumah lalu kembali masuk kedalam mobil
Pak Puji berlari cepat membuka pagar ketika melihat mobil bos besarnya mundur dengan cepat dari dalam garasi
Ketiga bodyguard kembali berdiri ketika melihat mobil Hendri lewat dan mereka saling pandang setelah mobil keluar pagar
Pak Puji menarik nafas dalam lalu menatap jauh kejalan lengang dimana mobil bos besarnya sudah tak terlihat lagi
Sementara di dalam rumah, Nia yang shock segera berteriak kencang hingga membuat ketiga anaknya dan asisten rumah tangga terbangun
Tak terkecuali pak Paino yang berada di kamar khusus miliknya. Sementara tiga bodyguard dan pak Puji hanya saling toleh dan mengangkat bahu, tanpa berniat berlari masuk melihat apa yang terjadi pada bos perempuan mereka
Karena mereka mendengar bagaimana tadi bos mereka itu bertengkar
"Nyonya kenapa?" asisten rumah tangga langsung merangkul tubuh Nia yang terduduk lemas di lantai
Pak Paino bergeming di tempatnya tanpa berani bergerak
"Ini semua salah kalian, coba kalau kalian tidak mengadukan ini pada suamiku, tentu suamiku tidak akan semarah ini!" bentak Nia kasar sambil mendorong tubuh asisten yang mendekapnya dan memandang tajam kearah pak Paino
Khayla dan kedua adiknya menarik nafas panjang, bahkan Khayla langsung membantu asisten rumah tangga berdiri , karena jatuh terjengkang kebelakang akibat di dorong kasar oleh maminya
"Kamu juga Khe, kamu kenapa malah mendukung papi, bukannya membela mami"
Khayla menatap tak percaya pada maminya
"Mami keterlaluan. Apa mami lebih rela aku diperkosa bajingan selingkuhan mami itu, ketimbang di marahi papi, iya?"
"Iya, mami lebih rela kamu diperkosa nya dari pada mami dicampakkan oleh papi mu!!"
Khayla menggeleng tak percaya, sedangkan pak Paino dan bibi beristighfar
"Mami tega, aku tidak menyangka jika kalimat itu keluar dari mulut mamiku sendiri" ucap Khayla sambil berlari masuk kedalam kamarnya dengan menangis
Mutiara menatap tajam kearah maminya dengan tatapan benci
"Mami jahat, sumpah, aku tidak menyangka jika mami lebih memikirkan posisi mami dibanding keselamatan kakak"
Setelah berkata begitu Mutiara segera berlari menyusul Khayla dan segera menggedor pintu kamar Khayla yang terkunci dari dalam
"Kak?, buka kak?"
Alika menoleh dengan tatapan bingung antara maminya dan juga antara suara kakaknya Mutiara yang terdengar panik
"Kak....?" ulang Mutiara
Sementara di kamar, Khayla menelungkupkan badannya di atas kasur dan menangis terisak
"Kak.... tolong buka kak"
Masih tak ada suara, dan Mutiara yang panik segera berlari dari depan pintu kamar Khayla dan ketika melewati dimana maminya masih ditempatnya tatapan Mutiara kembali berkilat
"Jika sesuatu terjadi sama kakak, mami yang harus bertanggung jawab"
Setelah berkata begitu Mutiara berlari ke depan dan tak lama telah muncul dengan tiga orang bodyguard
Melihat tiga bodyguard masuk, Nia kembali menelan ludahnya dengan khawatir
Terlebih ketiga bodyguard itu melirik dingin kearahnya
"Nona Khe, buka pintunya Non" ucap bodyguard pribadi Khayla dengan suara berat
Khayla masih bergeming dan terus menangis terisak
"Nona Khe?"
__ADS_1
Masih tak ada jawaban
Bodyguard tersebut terus memutar gerendel pintu dan tak hentinya memanggil nama Khayla
"Jika nona Khe tidak mau membuka pintunya, pintu ini akan bapak dobrak"
Khayla masih bergeming tak memperdulikan ancaman bodyguardnya. Sementara Mutiara dan Alika saling berpegangan tangan dengan wajah yang tegang
Asisten rumah tangga ikut mendekat dan mencoba mengetuk pintu, membujuk Khayla agar mau membuka pintu
Bodyguard pribadi Khayla telah siap ancang-ancang hendak mendobrak ketika dihentikan Alika
"Jangan pak, telepon papi dulu, siapa tahu papi bisa bujuk kak Khe"
Mutiara dan asisten rumah tangga mengangguk setuju
Segera bodyguard tersebut mengeluarkan hp dan langsung mengubungi tuan besarnya
Hendri yang sedang mengendarai mobil dengan kencang tak menggubris ketika hpnya berdering, hingga berkali-kali barulah diangkatnya dengan sebuah bentakan
"Kenapa menelepon saya??!"
"Nona Khe tuan, dia mengurung dirinya di kamar dan tidak mau membuka pintu kamar"
Mutiara yang gemas melihat bodyguard kakaknya berkata dengan papinya segera merebut hp tersebut
"Papi pulang pi, kakak Khe pi..."
Hendri langsung memutar mobilnya dengan cepat begitu mendengar suara panik Tia
"Papi pulang sekarang nak, dobrak pintu itu bila perlu"
"Iya pi"
Hendri seperti kesetanan mengendarai mobil, pikirannya cuma ingin secepatnya sampai di rumah, berkecamuk segala kekhawatiran di kepalanya mengenai anak sulungnya itu
"Tunggu papi nak...." lirihnya panik
Hendri semakin melajukan mobilnya dengan ngebut dan langsung memberi klakson panjang ketika sampai di depan pagar
Pak Puji kembali berlari kencang membuka pagar dengan tergopoh. Dan Hendri langsung memasukkan mobilnya dengan cepat kedalam garasi
Setelah itu dia melesat masuk kedalam rumah dan sedikitpun tak menoleh pada Nia yang berwajah tegang
Tiga bodyguard segera menyingkir ketika Hendri berjalan kearah mereka.
Begitu juga dengan Mutiara dan Alika, mereka segera menepi ketika papi mereka berdiri di depan pintu kamar
Wajah Hendri sangat tegang dengan dada turun naik
Rambut sebahunya terlihat berantakan
"Khe?, ini papi nak, buka nak?"
Khayla mengangkat wajahnya dan berhenti terisak
"Khe, buka nak, ini papi"
Khayla segera turun dari ranjang dan berlari kearah pintu
Ketegangan di wajah Hendri sedikit mengendur ketika mendengar suara kunci di buka
Ketika wajah Khayla muncul dengan cepat Hendri memeluknya dengan erat
Khayla langsung menangis kencang di pelukan papinya, dengan sayang Hendri membimbingnya masuk kembali kedalam kamar diikuti Mutiara dan Alika
__ADS_1
Sementara asisten rumah tangga langsung kebelakang mengambilkan air putih
Masih dengan terisak Khayla menempelkan kepalanya ke dada papinya
Dan Hendri mengusap sayang kepala anak sulungnya itu dengan berkali-kali mengencangkan rahangnya
"Bilang sama papi apa yang terjadi?"
Khayla tak menjawab melainkan terus terisak, dan Hendri segera meraih gelas yang dibawa bibi lalu memberikan pada anak gadisnya
Khayla minum sedikit lalu kembali menempelkan kepalanya ke dada papinya
"Bilang sama papi apa yang terjadi nak..."
Khayla masih tak mau menjawab, dan Mutiara yang sejak tadi memandang sedih kearah kakaknya akhirnya menjawab
"Mami bilang, bahwa mami lebih rela kakak diperkosa selingkuhannya ketimbang papi mencampakkan mami"
Rahang Hendri mengeras dengan kuat sampai wajahnya menggigil menahan marah
Kedua tangannya mengepal kuat dan giginya gemeletuk
"Tidak akan terjadi apapun sama kamu sayang, ada papi. Dan ada pak Ibram yang akan menjaga kemanapun kamu pergi" jawabnya susah payah karena menahan amarahnya yang sudah di ubun-ubun
Khayla memeluk pinggang papinya sambil masih terus terisak
"Sudah, tenang ya..., jangan nangis lagi, Papi ada disini jagain kamu"
Khayla mengangguk. Lalu dibelainya terus kepala Khayla sambil sesekali mencium kening dan kepala Khayla
"Tia sama Alika kembali ke kamar kalian ya nak, sudah larut, besok harus sekolah kan?"
Mutiara dan Alika mengangguk pelan. Hendri lalu memajukan tangannya kearah kedua anak gadisnya yang sejak tadi berdiri
Memeluk mereka sebentar sambil mencium kening mereka dengan dalam
"Papi ada di rumah, jadi kalian jangan khawatir"
Alika dan Mutiara mengangguk, lalu keduanya mencium sayang pipi Khayla yang basah
"Kami sayang kakak...." lirih keduanya
Hendri menarik nafas dalam melihat kasih sayang antara ketiga anaknya
Lalu Mutiara dan Alika keluar dari dalam kamar Khayla, berjalan menuju kamar mereka masing-masing
"Khe tidur ya nak, papi yang akan jagain kamu malam ini"
Khayla menatap dalam wajah papinya dengan mata berkaca-kaca
Hendri tersenyum getir kearah Khayla yang kembali hendak menangis
Lalu Khayla membaringkan tubuhnya, Hendri segera menyelimutinya. Khayla kembali menarik tangan papinya ketika papinya membalikkan tubuhnya
"Papi cuma ambil kursi, papi nggak akan pergi dari sini"
Air mata Khayla langsung lolos ketika papinya mengambil kursi dan duduk di dekat tempat tidurnya sambil mengusap-usap kepalanya
Dada Hendri rasanya akan pecah menahan marah pada Nia. Tapi demi ketentraman dan kedamaian ketiga anaknya, Hendri mengalahkan amarah itu
Berkali-kali ditatapnya wajah Khayla yang terlelap dengan menghembus nafas kasar
"Kamu punya anak perempuan Hen, jangan sampai ketiga anakmu merasakan seperti yang kurasakan"
Hendri mengusap kasar wajahnya ketika kata-kata Linda terngiang di telinganya
__ADS_1