Istri Yang Tergadaikan

Istri Yang Tergadaikan
Mutiara Mengamuk


__ADS_3

"No, papi, pokoknya aku nggak mau!!!!"


Aku yang semenjak tiga hari yang lalu berada di rumah Hendri dan selalu berada di dalam kamar mendengar dengan sangat jelas teriakan marah Mutiara


Brak!!!


Pintu kamar didobrak, dan aku yang sedang menyandarkan tubuh di sandaran ranjang menoleh cepat kearah Mutiara yang masuk dengan wajah marah padaku


"Keluar kamu dari rumah kami!!!" teriak Mutiara marah padaku dengan langsung menarik kasar tanganku yang menyebabkan ku langsung terjatuh kelantai


Aku berteriak tertahan karena rasa sakit akibat tubuhku terhempas keras kelantai, terlebih karena kaki kiriku yang duluan sekali menghantam lantai


"Adek!!!" pekik Khayla yang langsung berlari membantuku duduk


Di belakang menyusul Hendri dan juga dokter Grace, dan Hendri ikut membantuku duduk, baru setelah itu dia menatap tajam kearah Mutiara yang terus menatap marah ke arahku


"Tia, suka atau tidak, menerima atau tidak inilah kenyataan yang harus kamu terima. Tante Linda istri papi sekarang" geram Hendri


"Tidakkkkk....!!!" kembali Mutiara berteriak dan kembali menyerang ku


Aku yang tidak bisa apa-apa hanya mampu berusaha melindungi wajahku dengan mengangkat kedua tanganku


Dengan keras Mutiara berhasil menarik rambutku yang membuatku kembali harus memejamkan mataku menahan sakit


Dokter Grace dan Khayla berusaha menarik tubuh besar Mutiara yang terus menyerang ku


"Tiara!!!" teriak Hendri kencang menarik tubuh anaknya lalu


PLAAAAKKK!!!!


Dokter Grace dan Khayla refleks menutup mulut mereka, sedangkan Mutiara langsung memegang pipinya yang memerah bekas kena tamparan papinya


"Papi sama mami sama gilanya, Tia pikir papi benar-benar sayang sama kami, dan akan selalu bersama kami, tapi apa?"


"Papi sama rendahnya seperti mami!!!" teriak Mutiara sambil berlari meninggal kamar


Sementara aku yang terduduk di lantai hanya bisa diam menahan sedih yang mendera hatiku


Melihat Mutiara lari, Khayla menyusul begitu juga dokter Grace, dan yang tinggal hanya Hendri yang segera menggendongku dan mendudukkan ku di atas ranjang


"Maafkan Tiara ya Lin, dia shock, dia belum mengerti apa-apa"


Aku tak menjawab, hanya mengedipkan mataku saja. Lalu Hendri merapikan rambutku dan mencium dengan dalam pelipis ku


Sementara Tiara yang berlari ke kamarnya segera membanting keras pintu dan segera menelungkupkan wajahnya kedalam bantal, menangis sesenggukan


Khayla dan Dokter Grace yang menyusul segera masuk kedalam kamarnya, dan Khayla langsung melompat naik keatas ranjang, mendekap sang adik yang tengah menangis


"Dek, jangan kaya gitu, tolong ngertiin posisi papi"


Mutiara membalikkan tubuhnya, duduk, wajahnya basah dan sebagian tertutup rambut


"Apa?, apa yang harus aku ngertiin kak?, sejak awal tante Linda dibawa papi ke rumah ini aku sudah curiga, tapi aku selalu positif thinking, papi nggak mungkin nikahin tante Linda"


"Dan sekarang kenyataannya apa?, papi nikahin tante Linda, kenapa papi harus nikahin dia kak?, apa karena papi merasa bersalah karena telah membuat tante Linda cacat?"


"Tante Linda sendiri yang salah mengapa dia loncat dari kamar kerja papi"


"Aku tahu, ini semua telah perempuan itu rencanakan. Dia sengaja melompat dan kakinya patah lalu meminta tanggung jawab papi untuk menikahinya"


Khayla langsung mendekap adiknya yang masih tersulut emosinya, mengusap-usap punggungnya


"Pokoknya aku nggak mau ada perempuan itu di rumah ini!!" teriak Mutiara kencang


"Tia nggak boleh gitu nak, ini tidak seperti yang kamu lihat"


"Aunty selalu belain papi, harusnya aunty itu marahin papi, bukannya malah diam kaya gini"


Dokter Grace menarik nafas dalam karena sekarang diapun kena semprot oleh Mutiara


"Dan papi malah belain perempuan cacat itu ketimbang aku kak....." kembali Mutiara menangis dan memeluk Khayla

__ADS_1


Khayla kembali mengelus-elus punggung adiknya


"Ststst, sudah jangan nangis terus. Papi pasti punya alasan kuat dek kenapa papi nikahin tante Linda. Kita tahu bagaimana papi"


Mutiara tak mendengarkan nasihat kakaknya, dia terus saja terisak


...----------------...


Hendri yang kembali fokus mengerjakan mega proyeknya yang telah berjalan hampir delapan puluh persen itu semakin tertekan pikirannya


Beban pikirannya yang semula terbagi antara proyek dan Linda sekarang ditambah lagi dengan Mutiara


Dan Marko sebagai orang kepercayaannya bisa menangkap bagaimana gelisah nya bos besarnya itu


Tapi untuk bertanya Marko tidak berani, terlebih ketika pertama kali melihat Linda di bandara, bagaimana wanita itu seperti mayat hidup, tak bereaksi apapun


Berkali-kali di dengarnya tarikan nafas berat Hendri yang menatap layar laptop, sampai akhirnya


PRANGGGG.....!


Marko dengan kaget menoleh ketika Hendri melempar gelas ke tembok yang mengakibatkan gelas hancur berkeping-keping


Marko menarik nafas dalam dan hanya bisa menatap bosnya dari tempat duduknya


Hendri memutar kebelakang kursi kerjanya membelakangi Marko yang duduk di sofa


Dan Marko yakin, kali ini bos besarnya sedang tidak baik-baik saja. Bukan sebentar dia menjadi anak buah Hendri, belum pernah dia melihat bos besarnya begini kacaunya, bahkan jauh lebih kacau ketika ditinggal Nia kabur dengan kekasih brondongnya


Hembusan nafas panjang yang keluar dari mulut Hendri cukup mewakili betapa pelik masalah yang sedang dihadapinya saat ini


Hendri menundukkan kepalanya sebentar, mengusap wajahnya lalu memutar kembali kursinya


Marko yang sejak tadi memperhatikannya langsung mengalihkan wajahnya dengan menatap layar laptop kembali


"Marko?"


Marko mengangkat wajahnya melihat kearah Hendri yang memanggilnya


"Kemari sebentar!"


Kembali Hendri menghembus nafas berat dan Marko terus memperhatikan guratan tegang di wajah bos besarnya itu


"Bisa kita ngobrol sebagai teman?"


Marko diam sedetik lalu mengangguk cepat


"Mutiara murka ketika mengetahui jika Linda sekarang adalah istriku" buka Hendri


Marko diam, terus menantikan lanjutan cerita Hendri


"Kemarin Linda ditariknya hingga jatuh kelantai, dan dipukulinya"


Mulut Marko ternganga, tak menyangka jika gadis cantik berbadan besar itu akan begitu brutalnya


"Terus bos, reaksi mbak Linda bagaimana?"


Hendri menarik nafas panjang


"Linda sekarang tak lebih dari mayat hidup"


Hendri menyandarkan tubuhnya, menatap kosong keatas. Jawaban Hendri makin membuat Marko penasaran dengan keadaan Linda yang sebenarnya


"Apa begitu fatal akibat retak kakinya bos?"


Hendri menggeleng dan menarik nafas panjang kembali


"Selama saya di kota B kemarin Linda sudah mulai berjalan walau masih pincang, setidaknya dia tidak memakai kursi roda lagi"


Wajah Marko kian serius mendengarkan cerita Hendri


"Tapi hari kelima saya di sana, semuanya berubah"

__ADS_1


"Maksudnya bos?"


"Linda lumpuh"


Mulut Marko ternganga tak percaya mendengar jawaban Hendri


"Bagaimana mungkin bisa bos?, bos bilang dia sudah bisa berjalan sendiri, apa karena dia memaksakan diri untuk sembuh akhirnya patah tulang kakinya makin parah?"


Hendri menggeleng, mengusap kasar wajahnya


"Tulang betis Linda remuk"


"Hah.....???!"


Mata Marko membelalak dan kembali mulutnya ternganga


"Aku menganiayanya" ucap Hendri pelan nyaris tak terdengar


"Ya Tuhan...." desis Marko


"Aku marah karena Linda main jet ski dengan seorang bule"


Degup jantung Marko berdetak kencang ketika dia mendengar seluruh cerita Hendri, bagaimana selama di sana Hendri sering meninggalkan Linda hingga akhirnya Linda nekad menyusul rombongan karyawan villa ke Heaven Resort


Sampai akhirnya dia mengetahui jika Linda tengah bermain jet ski dengan seorang bule di tengah laut, dan ketika Linda membilas tubuhnya disaat itulah Hendri kembali menganiayanya


Marko menggeleng tak percaya mendengar semua cerita Hendri, dia tak menyangka jika bos besarnya akan sangat kejam memperlakukan Linda


"Tragisnya nasib wanita itu...." lirih Marko sambil mengusap wajahnya


"Suami pertamanya berkali-kali berniat menjualnya dengan para investor, dan sekarang suami keduanya malah jauh lebih kejam, ya Tuhan...."


Kembali Marko mengusap wajahnya


"Aku tidak bisa membayangkan jika itu terjadi pada kita bos, apakah kita akan sekuat mbak Linda"


Hendri terdiam mendengar ucapan telak Marko yang pas mengenai hatinya


...----------------...


Dokter Grace mendorong kursi rodaku keluar dari kamar, dan sekarang membawaku ketengah ruang tamu dimana telah ada Hendri dan ketiga anaknya


Dokter Grace memeluk erat Hendri yang juga membalasnya dengan pelukan erat


Aku hanya menatap keduanya dengan diam dan pandangan kosong, dan hanya mampu mengedip-ngedipkan mataku


Lalu dokter Grace berpindah memeluk ketiga anak Hendri yang tampak sekali begitu berat ditinggalkannya


Kemudian Khayla berjongkok di depanku, memelukku dan mengusap-usap punggungku


"Maafin kami ya tante jika tante tidak nyaman disini"


Aku mengangguk, lalu Khayla melepas dekapannya berpindah menggenggam erat tanganku


"Khe yakin tante kuat"


Tessss.....


Buliran bening mengalir di pipiku tanpa bisa ku cegah. Khayla menghapusnya lalu kembali mendekap ku


Lalu datang Alika, menatapku dengan dalam


"Tante baik-baik ya di sana, nanti ketika kita bertemu, Alika harap tante sudah bisa jalan"


Aku mengangguk pelan menatapnya yang tersenyum manis padaku


Lalu dokter Grace segera memutar kursi rodaku karena Mutiara sama sekali tak mendekat ke arahku, bahkan dia terus memasang wajah masam


Marko membukakan pintu untukku dan dokter Grace, lalu kulihat dia menoleh kearah Hendri yang berdiri tak jauh dari mobil


"Maaf ya mbak?" ucap Marko yang segera berjongkok di depanku.

__ADS_1


Saat Marko mengangkat tubuhku kembali air mataku mengalir, begitu pun ketika meletakkan ku di dalam mobil air mataku masih mengalir deras


Perlahan mobil bergerak meninggalkan rumah Hendri, dan aku segera menyandarkan tubuhku, menutup mataku dan menghembuskan nafas panjang


__ADS_2