
Sampai di bandara Hendri langsung memesan tiket menuju Jakarta dan langsung melesat ketika pengumuman keberangkatan tujuan Jakarta akan segera take off
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta tak sedetikpun matanya dapat terpejam
Wajah depresi Linda berlompatan di kepalanya, senyumnya ketika dia menyakitinya, diam dan ikhlas nya ketika dia melakukan berbagai penyiksaan
Berkali-kali Hendri mengusap kasar wajahnya dan mengutuk dirinya sendiri
Hingga dua belas jam berikutnya, tepat tengah malam, pesawat yang ditumpangi Hendri landing, dan kembali Hendri berjalan cepat menuruni pesawat
Setelah tiket tujuan kota B berada di tangannya, Hendri segera mengeluarkan hpnya
"Jemput saya di bandara dua jam lagi"
Selesai berkata begitu, Hendri langsung melesat masuk kembali ke landasan pesawat, naik kedalam pesawat yang akan membawanya menuju ketempat Linda, perempuan malang yang saat ini hampir membuatnya setengah gila
Sementara di villa, mengetahui jika tuan besarnya minta dijemput, supir pribadi villa ini langsung bangun dan memanaskan air untuk membuat kopi
Bi Niluh yang haus kaget ketika lampu di ruang dapur menyala, dan lega ketika dilihatnya supir pribadi duduk sembari menyeruput kopi
"Tuan besar akan kesini"
Bibi Niluh yang sedang minum termangu, lalu ikut duduk
"Terus kita harus apa sekarang?"
Supir pribadi itu menggeleng
"Aku takut tuan akan menyiksa nyonya lagi"
"Aku pun berfikiran yang sama, kasihan nyonya jika harus kembali depresi"
Bibi Niluh menarik nafas dengan gelisah
"Ini semua gara-gara saya"
Supir pribadi tersebut langsung menoleh kearah bibi Niluh yang semakin gelisah
"Tadi siang aku yang memberitahu tuan jika nyonya hamil"
Pria yang umurnya di atas Hendri tersebut menarik nafas panjang
"Padahal nyonya sudah meminta padaku untuk tidak memberitahu tuan"
"Semuanya telah terjadi bi, mau bagaimana lagi, toh cepat atau lambat tuan besar pasti akan tahu"
Bibi Niluh mengangguk setuju
"Ya sudah bi, aku harus siap-siap ke bandara, tadi tuan besar bilang dua jam lagi, dan itu tinggal artinya satu jam lagi kemungkinan pesawatnya akan landing, aku tidak ingin bos marah"
Bibi Niluh mengangguk dan mengantarkan lelaki tersebut sampai pintu, baru setelahnya beliau mengunci pintu dan berjalan menuju kamar Linda
Dirapihkan nya selimut yang menutupi tubuh perempuan itu, lalu diusapnya rambut Linda dengan sayang
"Maafkan bibi, Nya...." lirihnya
__ADS_1
Lalu bibi Niluh keluar dari kamar Linda dan masuk kedalam kamarnya, berusaha untuk memejamkan matanya yang tidak mau terpejam
Tubuhnya sudah bolak balik di atas ranjang tapi kantuk itu seakan hilang, akhirnya bibi Niluh bangun kembali dan duduk, menunggu tuannya sampai villa
Nyaris satu setengah jam berikutnya dapat didengar jelas oleh telinga bibi Niluh suara mobil masuk ke halaman villa dan berhenti
Segera perempuan paruh baya tersebut turun dari ranjang lalu berjalan bergegas keluar
Dilihatnya Hendri masuk dengan terburu
"Tuan...." sapa bibi Niluh
Hendri yang sudah akan berjalan ke kamar Linda menghentikan langkahnya, menoleh sebentar kearah bibi Niluh dan menganggukkan kepalanya
Hendri dengan pelan membuka pintu kamar dimana dilihatnya Linda tidur dengan posisi miring
Dadanya langsung bergetar ketika dilihatnya wajah Linda yang terpejam. Tampak jelas di wajah itu guratan kepedihan dan luka yang terpendam
Hendri membuang mukanya ketika menyadari suasana hatinya yang berubah sedih
Diusapnya sebentar wajahnya lalu dengan pelan dia berjalan kearah Linda yang masih terlihat sangat pulas
Disibakkan nya selimut tebal yang menutupi tubuh Linda, dan matanya terpejam seketika ketika dilihatnya jika perut yang dulu ditinggalkannya rata kini telah membesar
Sekali lagi Hendri mengusap kasar wajahnya dan kembali merapikan selimut agar menutupi tubuh Linda kembali
Berkali-kali Hendri menarik nafas panjang dan menoleh kearah Linda yang sekarang bergerak gelisah
Dilihatnya Linda membuka selimutnya dan mengusap-usap perutnya sendiri
Hendri yang mendengar jelas gumaman Linda, menengadahkan wajahnya ke langit-langit kamar. Menahan sesak di dada yang tiba-tiba menyerangnya
Linda masih terlihat gelisah dan terus mengelus perutnya. Melihat ini Hendri segera membaringkan tubuhnya di belakang tubuh Linda, mendekap perempuan itu dari belakang dan mengelus perut besarnya
"Ini papi nak, papi datang....." batinnya sambil menenggelamkan wajahnya di tengkuk Linda
Dapat Hendri rasakan jika janin yang ada di perut Linda menendang, dan hati Hendri kian tersayat ketika merasakan gerakannya
"Maafkan papi nak yang baru sekarang mengelus mu" lirihnya sangat pelan
Tubuh Linda yang tadi bergerak gelisah sekarang telah kembali tenang, begitupun dengan janin yang tadi bergerak juga telah diam. Mungkin keduanya merasakan ketenangan setelah Hendri yang mengelus mereka
...----------------...
Aku menggerakkan tubuhku dan merasakan jika di dekatku ada orang lain.
Dengan cepat aku membuka mataku, dan betapa kagetnya aku ketika kulihat jika di belakangku ada sosok Hendri yang tengah tidur pulas
Seketika trauma dan ketakutan ku muncul, dengan cepat aku duduk menatap nanar seisi ruangan
Aku berusaha mati-matian menggeser tubuhku agar menjauh dari tubuh Hendri, dan langsung memeluk kedua kakiku dengan ketakutan
Hendri yang mendengar gumaman aneh langsung membuka matanya dan betapa terkejutnya dia ketika dilihatnya Linda duduk dengan tubuh menggigil sambil menelungkupkan wajahnya di lututnya
"Linda.....?" panggilnya pelan
__ADS_1
Aku kian merapatkan pelukanku pada kedua kakiku dan makin tak berani mengangkat wajahku
Hendri yang melihat Linda sangat ketakutan kembali memejamkan matanya dengan rahang mengeras
"Linda jangan takut, aku tidak akan menyakitimu..."
Aku segera menarik kakiku yang disentuh Hendri dan berusaha menggeser tubuhku lagi
Buggghhh...
Aku yang berada di pinggir tidak menyadari posisiku sehingga aku langsung terjatuh ke lantai
"Aargghh...." hanya itu yang keluar dari mulutku
Hendri yang melihat Linda terjatuh segera melompat berniat hendak mengangkat tubuh perempuan itu
"Jangaaaannnnn....." teriakku kencang ketika Hendri memegang pundakku
Dengan penuh ketakutan aku menatap wajahnya yang melihat ke arahku, aku menggeleng cepat dengan mengangkat kedua tanganku melindungi wajahku
"Jangaaaannn....." gumamku bergetar dengan menggelengkan kepalaku dengan kuat
Hati Hendri makin hancur melihat Linda yang sangat ketakutan melihatnya, dan Hendri yang tadi berjongkok segera berdiri dan menatap Linda dengan sedih
Mataku nanar menatap sekeliling, dan aku segera menyeret tubuhku dengan susah payah, menyeret tubuhku kearah kursi roda
Kembali Hendri memejamkan matanya melihat Linda menyeret tubuhnya dan hatinya kian remuk redam ketika Linda berusaha mati-matian duduk di kursi roda
Setelah aku dapat duduk di kursi roda, aku segera menjalan kursi roda kearah pintu dan membuka dengan cepat pintu lalu aku berteriak keras ketika aku sudah berada di luar
"Bibiii..... Bibi Niluh....." teriakku kencang dan berkali-kali
Aku makin melajukan kursi roda dengan cepat menuju kamar bibi Niluh dan menggedor nya dengan keras ketika aku telah berada di depan pintu kamar
Bibi Niluh yang baru saja terpejam langsung terduduk ketika didengarnya suara ketakutan Linda di depan kamarnya
"Bibi bukaaaa...."
Bini Niluh langsung turun dari ranjang berlari cepat kearah pintu, dan segera membuka pintu tersebut dimana didapatinya aku yang masih menggigil ketakutan
Aku segera masuk dan bibi Niluh dengan cepat mengunci pintu, aku langsung mengulurkan tanganku dan bibi Niluh langsung mendekap ku
"Aku takut bik, aku takut..."
Bibi Niluh terus mengusap-usap lenganku dan menciumi puncak kepalaku
"Jangan takut, ada bibi disini" hiburnya
Aku yang terisak masih saja mengeratkan pelukanku ke pinggangnya
Suara kokok ayam di kejauhan menyadarkan ku jika hari akan pagi dan aku segera melepas dekapanku pada bibi Niluh
Aku mendongak menatapnya yang memandang sayu padaku
"Ada Hendri, aku takut dia akan menyiksaku lagi"
__ADS_1
Bibi Niluh kembali mendekap ku, menempelkan kepalaku ke perutnya dan kembali mengusap-usap lenganku