
Tanganku berusaha bergerak kesana kemari mencari tubuh Hendri yang sangat aku yakini ada di sebelahku
Tak ada.
Aku segera membuka mataku dan duduk, tak ku dapati adanya Hendri di sebelahku
Kulihat di luar masih gelap, itu artinya masih malam, belum siang
Dengan tertatih aku berjongkok di lantai, memungut pakaianku yang berserakan di lantai
Segera pakaian itu aku kenakan kembali dan mulai berjalan pelan menuju pintu
Aku berjalan kearah ruang tengah, berharap ada Hendri di sana. Kosong
Dengan sedikit takut karena luasnya villa ini, aku kembali masuk ke kamar, mengambil hp dan menghubungi kontak Hendri
Tersambung tapi tak diangkat, tapi aku tak putus asa, ku ulangi lagi menelepon nomornya
Dan Hendri yang sedang berada di kamar pribadi yang sedang fokus menatap tablet dan laptop segera mengalihkan perhatiannya pada hpnya yang berdering kembali
"Linda?" desisnya yang segera mengangkat telepon itu
"Ya Lin, kenapa?"
"Kamu dimana mas?, aku takut...."
Hendri langsung terdiam dan menatap layar hpnya
"Benar ini Linda yang menelepon, kok tumben dia memanggilku dengan sebutan mas?"
"Mas?, mas dimana?, aku takut...." kembali di dengarnya suara Linda seperti orang panik
"Tunggu, aku segera kesana"
Hendri langsung memutus panggilan dan berjalan cepat keluar kamar, dan setengah berlari ketika menuruni tangga
Dan aku yang duduk di tepi ranjang terus memandang kearah pintu berharap Hendri segera masuk
Begitu melihat Hendri masuk dengan tergesa aku segera menarik nafas lega
"Kamu kenapa?, ada yang sakit?" Hendri segera berjongkok di kaki kiriku
Aku menggeleng
"Aku takut...." jawabku pelan
Hendri bangkit dan langsung menarik kepalaku. Aku menempelkan kepalaku dengan manja di perutnya
"Takut apa?"
Aku menggeleng seraya mengeratkan pelukanku ke pinggangnya
"Mas dimana tadi? mengapa aku ditinggal"
Hendri kembali tercenung dan memasang telinganya lebar-lebar
"Kamu panggil apa tadi Lin?"
Aku mendongak dan mengerjap-ngerjapkan mataku dengan takut
Lalu aku mulai mengendorkan tanganku di pinggangnya lalu menunduk
"Hei, aku tanya, kok malah diam?"
Aku kembali mengangkat wajahku menatapnya yang masih berdiri di depanku
"Mas...." lirihku dan kembali menunduk
Wajah Hendri langsung berseri mendengar jawaban Linda tapi dia berusaha menutupinya, dia tak ingin Linda tahu jika dia merasa sangat bahagia dipanggil Mas oleh Linda
"Jika kamu keberatan karena aku memanggilmu dengan sebutan mas, aku akan memanggilmu dengan sebutan nama seperti biasanya"
Hendri menggeleng cepat dan duduk di sebelahku
__ADS_1
"Coba ulangi?"
Aku menatapnya dengan bingung
"Ulangi yang mana?"
"Kalimat yang kamu bilang ketika meneleponku tadi"
Aku tersenyum malu dan menutup wajahku lalu menggeleng
Hendri segera berdiri kembali dan aku segera mengangkat kepalaku mendongak kearahnya
"Mas mau kemana?, aku takut...." ucapku cepat menarik tangannya yang telah siap berjalan
Hendri menunduk ke arahku.
"Aku di kamar atas, lembur"
"Aku ikut..."
Hendri kembali menatap ke arahku
"Kamu tidurlah, pekerjaanku banyak"
"Tapi aku takut...."
Hendri menarik nafas lalu mengangguk. Aku langsung memasang wajah cerah dan segera bangkit
Aku yang berjalan tertatih jauh tertinggal dari Hendri yang berjalan cepat
Aku hanya menarik nafas panjang ketika Hendri telah berada di ujung tangga sedangkan aku masih jauh untuk mencapai tangga
"Ya Tuhan, itu laki sepertinya punya kepribadian ganda deh, sebentar manis, tapi detik berikutnya akan berubah menjadi dingin kembali"
Aku kembali menggigit bibirku ketika kurasakan tulang kakiku rasanya ngilu ketika aku memaksa berjalan di tangga dengan berpegangan
"Mas....." panggilku
Tak ada jawaban, kembali aku berusaha menaiki tangga walau baru sampai di tangga nomor lima
Aku menolehkan kepalaku ke atas berharap jika Hendri akan turun karena aku tak juga sampai di tempatnya
Tapi hingga beberapa menit aku duduk, Hendri masih tak juga turun. Akhirnya dengan menelan rasa kecewa aku berdiri dan turun kembali
"Dasar bodoh, ada apa dengan kamu Linda, ingat kamu itu hanya istri kontraknya bukan prioritasnya" gerutuku pada diriku sendiri
Akhirnya aku sampai juga di kamar walau berjalan tertatih dan tentunya membutuhkan waktu yang cukup lama dan juga butuh tenaga ekstra
Sampai di kamar aku segera duduk di tepi ranjang memijit-mijit kaki dan lututku sambil terus tersenyum kecewa
Setelah cukup dirasa kakiku agak reda aku mulai merebahkan tubuhku. Mencoba memejamkan mataku lagi.
Cahaya kilat yang tampak terang lewat pantulan kaca jendela membuatku menarik selimutku dengan cepat dan memejamkan mataku dengan kuat
Tak lama terdengarlah suara hujan di atas atap yang membuatku makin ketakutan
Mataku nanar melirik ke sekeliling kamar dan kembali menarik selimut menutupi seluruh tubuhku
Dan hujan kian lama kian deras dan aku yang bersembunyi di balik selimut merasa kepanasan dan kesulitan bernafas
Segera aku menyibakkan selimut dan duduk bersandar
Pintu kamar yang terbuka tiba-tiba nyaris membuatku berteriak karena kaget
Aku segera membuang wajahku ketika kulihat Hendri masuk dengan membawa laptop di tangannya
"Kok nggak jadi nyusul?"
Aku diam dan memilih membaringkan tubuhku membelakangi Hendri yang sekarang duduk di atas ranjang
Hendri bukannya minta maaf atau memberi penjelasan mengapa meninggalkanku malah lebih memilih fokus menatap layar laptopnya. Dan hal itu makin membuatku jengkel
Aku menggeser tubuhku agar tidak terlalu dekat dengan Hendri dan kembali mencoba memejamkan mataku
__ADS_1
Hendri yang melihat Linda membelakanginya tersenyum segaris dan kembali fokus menatap layar laptop
Saking kesal dan jengkelnya, aku akhirnya tertidur dengan terus membelakanginya
Hendri berkali-kali menoleh kearah Linda yang tidur membelakanginya bahkan ketika dia bertanya tadi, Linda tidak menjawab sama sekali
Dan sekarang ketika wanita itu tidur dengan gelisah Hendri merasa bersalah dan segera menutup laptopnya
Hendri membenarkan posisi berbaringnya, memiringkan tubuhnya dan mendekat kearah tubuh Linda. Segera dipeluknya tubuh wanita itu dan mengusap-usap perutnya
Aku yang merasa ada sentuhan di perutku segera membuang dengan kasar tangan Hendri dan kian merapatkan selimut ke tubuhku
Hendri yang merasa jika Linda memang marah padanya tak putus asa, dipeluknya ulang tubuh Linda dan kali ini lebih erat
Karena tak ingin berdebat, aku membiarkan saja tangan Hendri yang mendekap perutku dan hal itu malah membuatku merasa jauh lebih nyaman dan bisa terlelap
Hendri yang sadar jika sekarang Linda telah tenang dan tidak gelisah lagi, masih saja memeluk erat tubuh wanita itu dan menciumi tengkuknya dengan dalam
Suara petir dan guruh serta hujan yang kian lebat makin membuatku tidur lelap dan tidak tahu apa-apa lagi
Begitupun dengan Hendri, rasa nyaman langsung memenuhi dadanya ketika mendekap tubuh Linda dan mencium dalam-dalam aroma rambut dan tubuh wanita itu
"Aku menyayangimu Lin...." bisiknya sambil kembali menciumi dengan dalam rambut wanita itu
...----------------...
Kembali aku terbangun dengan posisi memeluk Hendri. Dengan cepat aku menarik tanganku dari atas pinggangnya lalu bergegas duduk
Aku kembali menatapnya dengan kesal karena teringat dengan kelakuannya yang meninggalkanku
Segera aku menurunkan kakiku dan berjalan pelan kearah kamar mandi dan segera mandi dan membasuh rambutku
Bahkan ketika aku telah selesai berganti baju Hendri belum juga bangun. Dan aku tak berani membangunkannya takut dia marah
Masih dengan tertatih aku berjalan kearah dapur, mencari minuman serbuk jahe instant di dalam kulkas
Lumayan untuk menghangatkan tubuhku di pagi yang masih juga hujan
Selesai menyeduh kopi jahe, aku membawanya keatas meja dan duduk menyeruputnya dengan dalam
Dinginnya hembusan angin yang masuk lewat fentilasi memaksaku untuk melipat kedua tanganku di depan dada
Masih dengan celingak celinguk aku menoleh kanan kiri ke seluruh ruang dapur
Berfikir apa yang harus aku kerjakan di pagi yang basah ini
Kembali aku berdiri dan membuka kulkas, memeriksa bahan makanan menimbang-nimbang kira-kira aku masak apa
Setelah menemukan bahan makanan yang akan aku olah, masih dengan gerakan lambat aku mulai masak hingga akhirnya tiga jenis lauk sudah aku siapkan di atas meja
"Semoga Hendri suka" gumamku sambil tersenyum
"Eh em...." suara deheman dari Hendri membuatku mengangkat kepalaku dengan cepat
Rambut gondrong sebahunya yang terurai sedikit berantakan sangat menarik perhatianku
"Mau aku buatkan kopi jahe, mas?" tanya ku ragu
Hendri kembali menatap mata Linda yang memandang ragu padanya
"Mas?" ulang Hendri seperti heran
"Maaf....." lirihku
"Aku sudah masak jika kamu mau makan" lanjut ku cepat dan segera berjalan meninggalkan dapur
Aku tak berani menoleh lagi kearah Hendri yang terus menatap langkahku yang kian menjauhi dapur, lalu aku kembali masuk ke kamar, menarik sprei yang sudah dua hari ini kotor karena dipakai tempur oleh kami, menggantinya dengan yang baru lalu membawa yang kotor kebelakang
Dan aku tidak menghiraukan Hendri yang terus menatap ke arahku yang menyeret seprai di lantai dengan berjalan tertatih
Selesai dengan itu aku duduk di ruang tivi, menyalakan tivi dan menatap layar tivi dengan fokus
Hujan yang masih turun di luar semakin membuat villa besar ini terasa sunyi dan mencekam
__ADS_1
Aku menolehkan kepalaku berharap jika Hendri akan menemaniku nonton agar aku tidak bengong dan merasa kesepian
Tapi lagi-lagi aku harus menelan kecewa dan sadar diri jika itu semua adalah mimpi yang tak kan mungkin jadi kenyataan