
Hendri mendengus mendengar jawabanku, sementara aku terus mempelajari dokumen hingga malam gelap aku masih saja berkutat dengan dokumen tersebut
Secara pasti aku mulai memahami semua isinya, dan aku yakin jika Hendri meminta penjelasanku, aku bisa menjelaskan padanya walau tidak semuanya
Ku lirik Hendri bangkit dari kursinya dan berjalan di dekatku
"Pulang!"
Aku diam, melainkan segera mematikan laptop dan meletakkannya di atas meja kerja Hendri lalu berjalan keluar mendahuluinya
Benar saja kantor telah kosong dan di luar telah gelap. Kulihat jam di hp, hampir jam delapan malam
Ketika aku berjalan melewati ruangan mas Marko, kulihat pria itu masih berada di dalam
Aku menoleh kebelakang karena takut jika aku kesana ketahuan Hendri
Kosong.
Dengan cepat aku masuk. Melihatku masuk Marko tampak kaget dan aku segera memberinya kode untuk diam
Aku segera masuk kedalam ruangan tersebut dan bersembunyi di belakang meja kerjanya, bersembunyi di dekat kakinya
Marko yang melihatku bersembunyi wajahnya menegang ketika melihat Hendri lewat
"Kenapa kamu belum pulang?"
Dari tempatku bersembunyi kulihat jika Marko berdiri dan tampak tegang berjalan kearah Hendri
"Sebentar lagi bos"
Hendri hanya menarik alisnya saja lalu membalikkan badannya
Marko segera menarik nafas lega, tapi baru saja dia menarik nafas lega, Hendri kembali membalikkan badannya
"Bilang sama Linda yang bersembunyi di belakang kursimu itu untuk keluar!"
Aku membelalakkan mataku dengan ketakutan
"Mati aku, kenapa Hendri bisa tahu!" batinku dengan menggigit bibirku penuh ketakutan
Aku mendongak kearah wajah Marko yang makin tegang
"Iya bos"
Hanya itu jawaban Marko karena kulihat wajahnya kian tegang
Dan aku segera memejamkan mataku ketika ada langkah kaki masuk dan kian mendekat ketempat persembunyian ku
Aku telah menyembunyikan wajahku diantara lutut ketika langkah kaki itu makin dekat
Dan aku segera mendongak ketika kurasakan ada sentuhan keras di bahuku
Wajah Hendri sangat dingin ketika menatapku, dan aku hanya bisa menelan ludah
"Ngapain kamu disini?"
Aku menggeleng ketakutan
"Mbak Linda tadi hanya bertanya tentang berkas yang dipelajarinya, itu saja bos"
__ADS_1
Hendri memutar kepalanya dan menatap dingin kearah Marko yang menjawab pertanyaannya
Aku segera berdiri di antara mereka berdua dan menatap keduanya dengan bergantian
"Aku yang salah, jangan marahi mas Marko" ucapku cepat kearah Hendri
Marko menatap khawatir ketika didengarnya pengakuan Linda
Dengan dingin Hendri mencekal lenganku lalu membawaku keluar dari dalam ruangan tersebut
Aku hanya menoleh sekilas kearah Marko yang menatap kepergian kami
Sampai di luar, Hendri masih terus mencekal tanganku dan aku hanya bisa menarik nafas panjang
Sampai didekat mobil Hendri melepas cekalannya dan aku segera naik kedalam mobil dan tak berkutik lagi ketika mobil berjalan
"Kita pulang ke rumah pak!"
Aku hanya memejamkan mataku ketika mendengar ucapan Hendri, tak berani lagi membantah
Mobil terus melaju dan akhirnya berhenti di garasi rumah Hendri. Dengan pelan aku turun dan masuk kedalam rumah mewah itu dengan perasaan campur aduk
"Naik keatas!"
Aku segera berjalan cepat ketangga dan hanya menoleh sekilas ketika Khayla menyapaku
"Loh tante kenapa pi?, kok kaya ketakutan gitu?"
Hendri hanya mengusap kepala Khayla lalu naik keatas pula
Khayla yang melihat kearah atas hanya menatap heran sekaligus bertanya-tanya
Degup jantungku kian berpacu cepat ketika pintu terbuka dan muncul Hendri
Aku telah pasrah dengan apa yang akan dilakukan Hendri padaku, karena memang aku bersalah padanya
Kembali Hendri menarik kasar tanganku dan mendudukkan ku di sofa
Aku segera menundukkan kepalaku tanpa berani mengangkat wajahku
"Besok kalian bawa ketiga anak itu padaku!"
Dengan cepat aku mengangkat kepalaku dan menatap Hendri dengan ketakutan
"Jika kamu berani macam-macam pada ketiga anakku maka aku tidak akan memaafkan mu seumur hidupku Hen" ucapku bergetar
Hendri hanya melirik sekilas tanpa mengalihkan hp dari telinganya
"Kalian isi pistol kalian dengan peluru banyak-banyak"
Tubuhku bergetar mendengar ucapannya. Lemas sudah rasanya seluruh persendian ku
Refleks aku berteriak sekuat yang ku bisa
"Jangan bunuh ketiga anakku Hen....!!!"
Hendri bergeming, dia masih memandang dingin padaku
"Aku hanya menghindari kemarahan mu tadi Hen, makanya aku masuk keruangan Mas Marko, hanya itu nggak ada yang lain"
__ADS_1
Tapi permohonanku di kaki Hendri sepertinya tak menarik perhatiannya
"Aku akan membunuh ketiga anakmu!"
Aku menggeleng dengan frustasi, air mata telah membanjiri seluruh wajahku
"Tolong jangan Hen..."
Hendri tersenyum sinis dan itu sangat mengerikan dan menyakitkan untukku
"Bunuh aku saja Hen, karena aku yang bersalah"
Tapi Hendri masih bergeming, aku yang telah menangis meraung meminta ampunan padanya masih tak digubrisnya
"Baik Hen, jika itu mau kamu. Tapi sebelum kamu membunuh ketiga anakku, lebih baik aku duluan yang mati"
Sambil berkata begitu aku segera bangkit dan berlari kencang kearah jendela yang daunnya tertutup rapat
Dengan cepat aku membuka jendela, dan langsung melompat
Hendri yang tak menyangka perbuatan nekad Linda hanya bisa berteriak kencang ketika tubuh itu meluncur cepat kebawah
Aku hanya merasakan sakit di sekujur tubuhku ketika menghantam tanah, lalu semuanya gelap
Hendri yang panik karena Linda melompat kebawah tak bisa melakukan apa-apa selain berteriak
Pak Puji dan tiga bodyguard hanya memandang keatas mendengar teriakan kencang tuan mereka
Lalu ketiganya segera berhamburan ketika mereka melihat ada sesuatu yang melayang cepat kebawah
Dan makin panik ketika mereka mengetahui jika itu adalah tubuh perempuan yang masuk bersama bos mereka tadi
Pak Puji segera berlari kedalam dengan berteriak panik, sehingga seisi rumah keluar
Hendri yang turun segera berlari keluar dan berdiri dengan jantung berdegup kencang ketika dilihatnya banyak darah di bagian tanah tepat di bawah kepala Linda dan tubuh itu tak bergerak
Sementara tiga bodyguard segera mengangkat tubuh Linda kedalam mobil yang telah dibawa mendekat oleh pak Paino
"Cepat pak!" teriak pak David yang bajunya telah penuh darah
Berdua dengan pak Yohannes dia memangku tubuh Linda yang sudah tak bergerak
Sementara Hendri yang shock, tubuhnya mendadak limbung dan segera ditangkap pak Ibram
Khayla dan kedua adiknya hanya bisa menangis melihat Linda yang terluka parah
"Kenapa tante bunuh diri pi?, papi apakan tante?"
Hendri seperti orang linglung mendapati pertanyaan Alika, dan dia hanya bisa terhenyak di halaman, di dekat darah yang sangat banyak
Sementara bik Ning yang juga panik berusaha menenangkan ketiga anak majikannya
"Apa tante meninggal bik?" tanya Alika lagi
Hendri makin terhenyak mendengar ucapan Alika. Dia tak menyangka jika ancamannya akan berakibat fatal untuk jiwa Linda
"Kita berdoa saja semoga tante selamat ya nak..." lirih bik Ning sambil mengusap wajahnya
"Lukanya parah bik, bibi lihat sendirikan tadi tante Linda nggak bergerak lagi dan ada begitu banyak darah keluar dari tubuhnya"
__ADS_1
Hendri mengusap wajahnya dengan frustasi, segala pikiran buruk berkelebat di kepalanya